Keesokan harinya, Perl menunggu hingga kelas Rena selesai. Ia butuh memuaskan rasa penasarannya setelah yang terjadi semalam. Perl yakin, ada lebih dari sekadar obsesi, melainkan trauma masa lalu yang juga tidak pernah diselesaikan oleh Rena. Perl mengenakan topi dan masker, menyamarkan sebagian besar wajahnya. Setelah sekitar dua puluh menit menunggu, Perl melihatnya. Rena keluar, kali ini mengenakan kemeja longgar yang menutupi hoodie, tetapi ia masih memakai beanie gelap. Ia berjalan cepat, matanya lurus ke depan, menghindari kontak mata dengan siapa pun yang tersisa di area kampus. Perl mulai membuntuti. Rena berjalan kaki meninggalkan gerbang kampus. Perl mengikuti, memastikan jarak yang cukup agar tidak terdeteksi. Ia tidak menggunakan kendaraan umum, khawatir Rena akan lebih muda

