Rena duduk di kursi empuk berwarna abu, punggungnya tidak pernah benar-benar menempel pada sandaran. Bahunya menegang. Tangan kanannya meremas ujung celana. Kakinya bergoyang pelan. Ia tampak letih. Dokter hanya mengamati dari balik meja kayu yang rapi. Tidak terburu-buru. Tidak langsung bertanya. Ia memperhatikan d**a Rena yang naik turun lebih cepat dari normal, tatapan yang terus bergerak dari lantai ke dinding lalu kembali jatuh ke lantai, dan caranya menelan ludah setiap beberapa detik seolah ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Jam dinding berdetak pelan. Rena tidak berani menatap dokter secara langsung. Ia hanya mendengar napasnya sendiri yang tidak stabil. Dokter akhirnya bersandar ke depan, kedua tangannya menyatu di atas meja. "Seb

