Bab. 3 - Satu Kelompok

1610 Words
Ratna menghela napas pendek. Dadanya kerap berdebar mengikuti kata setiap kata dari Bu Mega. Namun, ucapan tanpa intonasi itu sama datarnya dengan sepatu yang ia kenakan. Tidak ada poin menarik dan berujung masuk kiri keluar kanan. Seluruh tubuhnya kaku sekali demi bisa mendengarkan head training ini. Pada akhirnya semua orang bergerak dengan cepat menghadap satu sama lain. Kursi depan bergeser ke samping dan belakang. Tergantung gerak refleks peserta training. Ratna gelagapan. Bisa-bisanya dia melamun di momen terpentingnya. Padahal mencapai posisi sekarang bukanlah hal paling mudah. Ayolah, sudah setahun Ratna menganggur setelah lulus kuliah dan kini menemukan peluang besar. Kendati tahap training, Ratna tidak bisa main-main dalam hidupnya. Ia tidak boleh menyentuh tiket pemecatan dibanding yang lain. Ratna ingin bertahan paling lama. Perusahaan yang menerimanya tidak bisa dibilang remeh. Be Right atau biasa dikenal BR oleh kalangan literasi digital dan dunia perfilman itu menjadi idaman. Tahapan masuk sangat ketat. Satu kursi direbut oleh seratus kandidat. Demikian dengan 16 kursi dikali seribu pelamar yang dibuka oleh BR tahun ini. Beruntungnya sebagian memilih hengkang karena sudah dapat pekerjaan lain, setidaknya saingannya jadi makin berkurang. Kemeja kotak-kotak Ratna ditarik paksa dari belakang. Leher Ratna tercekik oleh bajunya sendiri kala sepasang tangan merenggutnya. Joy adalah tersangka utama yang tidak bisa dibantah alibinya. Sebab posisinya persis di belakang Ratna. "Aku gak mau mati muda. Gajian aja belum nyicipin, masa dibunuhnya dengan cekik tangan. Gah!" Ratna memejamkan mata secara dramatis, tidak kuasa pada imajinasinya sendiri. Joy dengan cepat melonggarkan seluruh jarinya. Dia menyesal harus menarik Ratna sebagai bagian kelompok yang akan dipilih. Seluruh ruangan gaduh akan kekonyolan Ratna. Memang anak yang udik, cibir Joy tidak habis pikir. Joy menoleh ke samping, tetapi orang di samping Joy sudah punya kelompoknya sendiri. Di samping satunya tidak ada siapapun karena posisi mereka paling ujung. Hanya Ratna dan Joy yang kalah gerak menyusun kelompok. Oke, Joylah yang bergerak. Ratna malah pasif sedari tadi. Barangkali sedang mendengkur. "Oke, trainee nomor enam dan delapan belum punya kelompok, ya. Kalau gitu, yang belum dapat siapa nih?" Bu Mega mendongakkan leher. Kedua tangan teracung ke atas. Baik Ratna dan Joy kompak melebarkan kelopak matanya. Tidak lain dan tidak bukan, si pendiam jalur online dan si pengendara motor itulah orangnya. Keduanya menggelengkan kepala. Setuju bahwa Ravi dan Elang tidak diinginkan menjadi bagian kelompok latihan kali ini. Mereka belum membentuk kelompok bukan karena para gadis tidak berminat bergabung, justru sangking malasnya menghadapi keributan dan pertengkaran yang menjengkelkan, alhasil keduanya memilih tidak ikut bagian dari mereka yang mengharap satu kelompok dengan dua pria tampan ini. Sekarang, ujungnya Ravi dan Elang harus menerima kenyataan agak pahit. Mau bagaimana lagi, tinggal dua gadis itu yang tersisa dan terlihat merana. Walau Ratna dan Joy juga tidak begitu mengharapkan pilihan ini sebelumnya. Semua menjadi keterpaksaan belaka. "Eh, Joy. Kelompok apa sih?" Ratna menggaruk hidungnya. Dia menelaah situasi. Kalau dengan Elang ia tidak masalah. Karena Ratna sudah kenal dan setidaknya Elang cukup bersahabat. Namun, dengan sosok pendiam yang ditengarai masuk jalur nepotisme itu amat meragukan. Ratna tidak akan pernah mau percaya tes satu ini. Pasalnya waktu Ratna mengajukan portofolio miliknya, pontang-panting mencari mas-mas fotokopian demi menggandakan ijazahnya. Sebaliknya dengan Joy, ia lebih kesal melihat muka Elang ketimbang Ravi. Mungkin masih terpatri dalam ingatan bagaimana insiden sebelumnya antara mereka berdua. Ratna menggeserkan kursi, berjejalan dengan Joy menghadap kedua pria di belakangnya. Mereka membentuk lingkaran diskusi. Meski enggan, mereka harus menerima tugas dari Bu Mega. Mustahil melawan atau mencoba protes di hari pertama training. Hanya akan buang energi atau bikin malu saja kalau sampai dicap tidak profesional. "Bedah naskah. Kita harus membuat tim presentasi." Ajaib. Joy yang aslinya tidak menyimak, bisa menyimak di akhir. "Aku ahlinya." Ratna tersenyum. Berikut dengan kernyitan di hidung. Ratna paling suka menganalisis cerita. Pasalnya itu sesuai dengan job side-nya sebagai editor pemula di BR. "Oh, ya?" Elang tersenyum ramah ke Ratna. "Syukurlah kalo ketemu ahlinya. Kalian aja yang bedahin naskah. Gue terima jadi. Ntar giliran presentasi, gue yang maju." "Emang lo bisa ngomong? Paling-paling main kabur kayak tadi," balas Joy semakin sinis. Lengkap dengan bibir miring mirip Bu Hajat versi kerudung pink. "Iyalah. Kalo nggak, ngapain gue duduk di sini kalo nggak sebagai…." "Oh, ya? gak yakin gue." Joy melipat kedua tangan ke d**a. Terlalu malas menanggapi ucapan Elang. Dia tidak akan bisa memaafkan pria di belakangnya itu. Apalagi tidak mau mengaku salah setelah menyerempetnya dan membuat blousenya basah sebagian, sampai jadi bahan plototan sekitarnya karena pakaian dalam hitam yang agak kentara. Untung Joy tidak mengalami luka di tubuhnya. Akan tetapi, luka batin masih membakar mata, hati, otak dan mulut Joy. Dia akan mengibarkan bendera perang kepada Elang. Baguslah ada pelampiasan patah hati, bukan? Begitu emosinya membatin. "Aduh… teruskan aja berantemnya. Sejarah hidup kalian bisa dijadikan bahan cerita. Joy dan Elang, kalian kaya nggak? Aku butuh peran si miskin. Siapa yang mlarat?" seloroh Ratna. "Gue!" Kedua orang itu menyahut bersamaan. Sama-sama saling menolak disebut mlarat. "Sekaya apa lo?" tanya Joy ketus. Tangannya mengibaskan anak rambutnya ke belakang telinga. Bermaksud memamerkan kilauan batu permata cincin di jemari telunjuk. "Gue…. Beli Iphone Promax 14 tunai bulan kemarin." Elang langsung menyambar. Bangga bahwa sebelum pindah kerjaan ke BR, Elang aktif sebagai sales peralatan elektronik. "Gitu doang. Gue udah bosen sama iPhone. Sekarang coba ke Samsung 23 Ultra." Joy bersikukuh. Tunggu, kenapa jadi begini? Joy berperang dalam hati. Bukankah ia punya misi khusus sekarang? Untuk apa memamerkan kekayaan hanya demi menang melawan pria menyebalkan ini? Sontak Joy menghela napas dalam. Ia harus bisa menahan diri agar niatnya tidak terbongkar. "Eh, kamu…." Ratna mengalihkan perhatiannya ke Elang. Semakin frustrasi karena tidak tahu cara melerai cekcok di antara dua anggotanya. "Rav, tolong suruh mereka fokus dong." Bukannya menyuruh Joy dan Elang diam, Ravi malah menyalakan laptop. Dia tidak tertarik untuk bicara dengan siapapun. Benar-benar manusia bermuka sedingin es di Antartika. Ratna membatin hiperbola. Ratna cemberut. Dia tidak suka diabaikan oleh sosok pendiam itu. Tingkat kegantengan Ravi meroket ke minus dua. Ratna benci cowok cuek. Padahal, kalau saja ia bisa sekali mendayung ke dua pulau sekaligus, kan lumayan? Dapat pekerjaan impian, sekaligus pacar idaman. Pikirannya mulai melantur tidak jelas. Semoga, aku kalo nemu jodoh jangan tipikal cuek bebek kwek-kwek. Di rumah ketemu bebek, masa di sini juga ada bebek rese. Cuma nggak ngoceh sama sekali. Gak suka ih, modelan irit omong. Batin Ratna semakin tersiksa. Pada akhirnya dia menahan bahu Joy dan Elang agar tutup mulut. "Stop, gaes! Please. Tadi kita diminta konsep cerita enggak?" tanya Ratna penuh harap. "Bebas katanya." Elang memamerkan senyuman paling manis, ramah dan bikin betah dipandang. Ratna ketularan senyuman itu. Diam-diam dia berharap Elang melakukan hal yang sama. Bersikap lebih ramah, karena mereka akan menjadi rekan kerja di BR. "Cinderella, Juliet, Ariel, Elsa, Putri Diana atau gimana nih yang mau diambil?" Ratna menjentikkan bolpoin di udara. Joy tersentak. Dia ingat bolpoin itu miliknya dan belum dikembalikan oleh Ratna. "El, thriller." Seluruh anggota itu menoleh ke Elang. Sama sekali tidak menduga akan pilihan genre yang diajukan. Ravi mengangguk takzim. Dia membentuk gestur menjauhkan jari dari pelipis. Ratna mengedikkan bahu. Tidak kaget kalau sifat pendiam Ravi setipe dengan genre pilihan itu. "O… ow….. mau ambil apa nih? Noir, criminal, horor, fantasi, legal, Suspence, legal, psikologi, action atau…" Ratna mengejar. Kedua bola matanya penuh cahaya. Tidak sabar untuk diskusi mendalam. Elang kembali menatap laptopnya. Jemarinya sibuk berdansa di atas keyboard warna-warni khas milik atlet e-sport. "Kamu setuju, Joy?" tanya Ratna semakin bingung. "Terserah kalian deh. Aku nggak tahu soal cerita-ceritaan. Film terakhir yang kutonton pun isinya sebagian adegan anu-anu." Joy semakin malas berpikir dan malah keceplosan. Ucapannya berhasil membuat Elang berdecak mengejek. Joy juga enggan kalau ada romansa yang harus dikisahkan, ia jelas menolak. Dirinya sedang berada di fase benci percintaan setelah hubungannya kandas. Dicampakkan seseorang itu tidak mengenakkan. Karena itulah, Joy mengirim mata laser ke Elang. Lagi asyik-asyiknya melepas duka, pakai diserempet lagi. Menyebalkan! "Loh, El. Kamu setuju?" "Yaps." "Nggak ada yang kontra sama aku? Ada banyak genre yang bisa dilakukan. Komedi, romance, drama, horor dan…." "Buang-buang waktu." Tatapan tajam itu menghunjam telak. Ratna terkesiap sebelum akhirnya tenggelam dalam suasana yang dingin. Dia tidak menyangka kalau Elang berbintang satu. Tidak ramah pelanggan, eh, teman. Bukan ini yang dia inginkan di hari pertama training. Ratna tidak mau memiliki hubungan yang buruk. Akan tetapi, Elang si jalur istimewa itu pastinya berjiwa sosiopat. Tidak mau mendengar saran orang lain. Padahal Ratna punya banyak ide yang beterbangan untuk dijadikan rujukan. Ratna menggerakkan gigi. Rasanya tidak suka Elang sebagai rekan kerja. Susah diajak kerja sama. "Joy, kayaknya aku mau tukar kelompok deh. Ada 1 orang yang absen, biar dia join sama kalian. Aku pindah ke…." Ratna meringis. Semakin tidak nyaman dengan pemandangan di depan mata. Tidak layak diberikan senyuman. "Ngapain? Sini aja!" Joy keberatan. Susah payah dia mencekik leher Ratna tadi, masa harus dilepaskan begitu saja. Lebih baik Ravi yang walk out dari kelompoknya. "Eh…. Kata Bu Mega tadi, nggak boleh tuker anggota?" Elang meringis. "Harap diingat, kita harus profesional." Lagi-lagi dia menekankan. Ratna menyandarkan punggungnya ke kursi. Andai kelompoknya menyenangkan. Diskusi soal cerita-cerita menarik sebelum dipresentasikan. Dia jadi ingat momen kala kuliah. Diskusi mata kuliah dan biasanya dirinya yang menjadi pemimpin. Kali ini, Ratna malah terintimidasi kebekuan Ravi. Benar-benar pria sedingin Antartika. Tatapan itu seperti nama burung. Siap memburu Ratna dan mengoyak tanpa ampun. Pilihan terbaiknya adalah mengalah untuk sementara, walau jelas sekali Ratna bukan penggemar genre-genre gelap. "Yakin mau pilih genre dark?" tanyanya sekali lagi. Berharap Ravi melunak dan mau mendengarkan saran yang lain. "Ehm.. gimana kalo kita bikin genre nano-nano," Elang memberi usulan sekaligus jadi penengah. "Maksudnya mau digabungin semua genre dalam satu cerita." Akhirnya Ratna dan Joy setuju. Ketiganya menatap Ravi bersamaan, menuntut persetujuan tanpa embel-embel lain tentunya. "Setuju nggak?!" seru Ratna makin kesal. ♥️==BR==♥️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD