Pagi-pagi sekali Ayana mencium aroma brownies panggang yang lezat dari arah dapur membuatnya terasa lapar. Sejak kemarin siang dia tidak nafsu makan hingga pagi ini perutnya terus merongrong minta diisi.
Ayana beranjak dari kasur, rambutnya yang panjang bergelombang kemerahan sedikit acak-acakan. Tanpa menggelung rambutnya seperti biasa Ayana gegas keluar kamar menuju dapur, namun sebelum melangkah keluar tak sengaja dilihatnya sebuah piring di atas meja. Ayana ingat kalau belum mengembalikan piring milik Lucas. Diraihnya piring itu lalu membawanya ke dapur.
Nyonya Jonathan menatap Ayana yang mendekati meja makan dan mencomot sepotong brownies panggang yang masih hangat, menyunyah dengan cepat, putrinya itu benar-benar kelaparan. Namun yang jadi perhatian Nyonya Jonathan adalah sebuah piring yang Ayana letakkan di atas meja barusan.
“Kenapa piring itu masih ada di sini? Kau belum mengembalikannya?” Nyonya Lucas menyerbu putrinya dengan pertanyaan.
Ayana masih mengunyah brownies dengan lahap, masakan ibunya sangat lezat.
“Nanti akan aku kembalikan, Nyonya. Tenanglah,” jawab Ayana setelah menelan semua makanan dalam mulut. Segelas air berhasil dia tenggak sampai habis. Dia merasa cukup kenyang pagi ini.
Nyonya Jonathan mengelap tangannya dengan celemek yang dia kenakan setelah mencuci tangannya byang berlumur tepung. Wanita itu mendekati Ayana, menatap wajah putrinya lekat.
“Lucas sudah tidak tinggak di sini, Ay. Kau terlambat.”
Mendengar ucapan Nyonya Jonathan seketika Ayana memucat, dia mengingat seseorang yang dilihatnya tadi malam berada di kamar Lucas.
“Keluarga Tuan dan Nyonya Ef yang kini menempati rumah itu, mereka datang siang kemarin. Ketiga anak-anak perempuan Nyonya Ef sangat menggemaskan.”
“Apa Nyonya Ef memiliki anak laki-laki?” tanya Ayana spontan.
“Maksudmu?”
Kening Nyonya Jonathan mengerut, dan Ayana ragu untuk mengatakannya. Tetapi sosok itu membuatnya penasaran, tidak mungkin itu hantu, pikir Ayana.
“Tadi malam aku melihat sosok pria berada di kamar Lucas, emm ... maksudku, aku tak sengaja melihatnya berdiri di balik tirai jendela.” Akhirnya Ayana menceritakan apa yang terjadi tadi malam.
Nyonya Jonathan meraih piring milik Lucas di atas meja, lalu mengisinya dengan satu loyang brownies yang baru keluar dari oven yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian.
“Yang kau lihat itu adik laki-laki Nyonya Ef, dia ikut membantu pindahan, hanya menginap sementara waktu mungkin beberapa hari. Apa kau pikir itu Lucas?” Kalimat terakhir Nyonya Jonathan membuat degup jantung Ayana berdetak lebih cepat. Tebakan ibunya itu tak pernah meleset seakan dia memiliki kemampuan dapat membaca pikiran seseorang, Ayana pikir ibunya dulu memiliki leluhur seorang dukun.
“Lucas sudah tidak tinggal di sini, apa kau merindukannya? Jika benar kau datangilah tetangga baru kita dan berilah sepiring brownies ini sebagai perkenalan.” Nyonya Jonathan menyodorkan piring yang tadi dia isi dengan brownies.
“Apa hubungannya Lucas dengan keluarga itu?” tanya Ayana, ibunya mulai mengajaknya bermain teka-teki.
“Kau tidak pernah tahu jika masih terus bertanya di sini, Ay, cepatlah mandi!” perintah Nyonya Jonathan seperti memerintah seorang gadis kecil yang nakal.
Ayana bersungut meninggalkan dapur kembali ke kamarnya. Dia pikir tak ada salahnya jika dia mengunjungi tetangga barunya itu, ibunya bilang Nyonya Ef memiliki tiga anak perempuan menggemaskan, apa mereka suka kue brownies?
*
Piring berisi brownies sudah di tangan Ayana, dia sudah siap untuk bertemu tetangga baru. Ayana sangat cantik mengenakan blues berlengan pendek berwarna biru muda yang dipadukan dengan jins warna senada. Rambutnya digerai begitu saja sedikit aksesoris jepitan rambut kecil di bagian depan.
Tiba di halaman rumah Lucas, Nyonya Ef tersenyum ramah melihat Ayana datang dengan sepiring brownies di tangan.
“Ibu selalu bilang kalau kue buatannya sangat lezat, dan aku membawanya untuk tetangga barunya.”
Nyonya Ef terkekeh, segera diambilnya piring yang Ayana sodorkan padanya. “Aku beruntung memiliki tetangga seperti Nyonya Jonathan dan putrinya. Apa kau Ayana? Ibumu selalu mengatakan kalau kau sangat cantik dan ternyata ucapannya benar.” Nyonya Ef menatap Ayana penuh kekaguman.
“Ibu hanya berlelucon, nyatanya dia sering mengataiku gadis keras kepala.” Ayana memasang tampang cemberut berpura tak suka, lalu dia dan Nyonya Ef tertawa bersamaan.
“Ah, kalian ini. Ayo, masuk dulu, nanti kita ngobrol lebih banyak di dalam,” ajak Nyonya Ef. Ayana mengikuti langkahnya dari belakang.
*
Sudah lama sekali Ayana tidak masuk ke rumah yang dulu membuatnya merasa betah dan begitu nyaman. Rumah itu meninggalkan banyak kenangan akan kebersamaannya dengan Lucas.
“Aku anggap kau ratu dan aku pelayanmu di rumah ini, bagaimana?” tanya Lucas kala itu memasang tampang lucu.
Ayana tergelak. “Bagaimana kalau aku pelayan dan kau pengawal?”
“Itu konyol!” Giliran Lucas terbahak, lalu dia berpura-pura menjadi pengawal yang menggoda pelayan. Ayana senang bertingkah absurd bersama Lucas seperti dia anak kecil yang polos dan bertingkah konyol.
Bersama Lucas Ayana tidak memikirkan persoalan hidup begitu rumit dan menyakitkan. Lucas membawanya ke dunia di mana dia kembali seperti anak-anak ceria dan bahagia. Terkadang, bersama Lucas hal sulit menjadi begitu mudah. Lucas bukan tipe pria kaku yang egois, hidupnya lebih santai meski beberapa momen dia bertindak serius. Bagi Ayana, Lucas memiliki tempatnya sendiri di hati. Tanpa Lucas, kini rumah itu tak lagi sama baginya.
Nyonya Ef membuyarkan lamunan Ayana, wanita berusia 50 tahun itu memperkenalkan ketiga putrinya. Laura, Maura, dan Kiara yang berusia 5 tahun. Betapa terkejutnya Ayana ternyata ketiga putri Nyonya Ef itu kembar.
Anak-anak Nyonya Ef menyapa Ayana ramah dengan sikap lucu mereka. Lalu ketiganya sibuk mengelilingi sepiring kue brownies, memakannya lahap.
“Mereka anugerah dari Tuhan,” ucap Nyonya Ef. “Aku menikah sudah puluhan tahun, dan atas kesabaran kami akhirnya aku hamil bayi kembar tiga.”
“Kau wanita hebat, Nyonya.” Hanya itu yang keluar dari mulut Ayana.
“Kau juga gadis yang hebat, Ay. Aku menyukaimu, dan aku harap suatu hari kau memiliki banyak anak,” ucap Nyonya Ef.
“Semoga,” desis Ayana nyaris tak terdengar.
Tidak lama Ayana pamit pulang, dia menyampaikan senang berkenalan dengan keluarga Nyonya Ef, meski belum sempat bertemu suaminya, Tuan Ef. Nyonya Ef mengatakan kalau Tuan Ef sering keluar kota.
Sebelum Ayana pulang, Nyonya Ef memberikan sebuah amplop surat di tangan Ayana. Lalu bicara sepelan mungkin
“Aku sudah lama tahu tentangmu, Ay. Aku kakak kandung Lucas, dia menitipkan surat ini untukmu. Jika kau perlu bantuan, datanglah padaku kapan saja kau perlu.”
Pengakuan Nyonya Ef seketika mengingatkannya pada obralannya tadi pagi bersama ibunya. Jadi, inikah tujuan Nyonya Jonathan memintanya pergi mengunjungi tetangga baru?
Ayana menerima surat itu ragu-ragu. Dia tidak tahu harus merasa apa. Rindu, takut, atau marah. Lucas pergi begitu saja setelah mencoba melamarnya di waktu yang salah. Kemudian pria itu pergi tanpa berita.
Tiba di rumah Ayana langsung masuk kamar, sebuah surat di tangannya yang tak sabar untuk dia baca.