PERDEBATAN SINGKAT

1136 Words
Tangan Ayana gemetar saat amplop berwarna krem itu dia pandangi. Surat itu terasa jauh lebih berat daripada sekadar selembar kertas. Ada jarak, rindu, dan luka yang belum sembuh sepenuhnya di dalamnya. Nama Lucas seolah tercetak tebal di benaknya, meski tak tertulis di bagian luar amplop. Ayana duduk di tepi ranjang, menegakkan punggungnya, lalu menarik napas panjang. Jantungnya berdebar terlalu cepat, seolah tahu bahwa apa pun isi surat itu, hidupnya tak akan kembali sama setelah membacanya. Perlahan, Ayana membuka segel amplop. Tulisan tangan Lucas langsung menyambut matanya—rapi, sedikit miring, seperti dirinya yang selalu berhati-hati dalam segala hal. ‘Ayana, Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah benar-benar pergi. Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu. Justru karena aku mencintaimu terlalu dalam. Aku tahu caraku melamarmu waktu itu salah. Aku egois, memaksamu menghadapi ketakutan terbesarmu tanpa persiapan. Maafkan aku. Aku terlalu yakin bahwa cintaku cukup kuat untuk menutupi luka yang bahkan kau sendiri takut menyentuhnya.’ Ayana menggigit bibir bawahnya. Nafasnya mulai terasa sesak. ‘Ay, dengarkan aku sekali ini saja. Aku tidak pernah—tidak akan pernah—memandangmu sebagai wanita yang ‘kurang’. Bagiku, kau adalah perempuan paling utuh yang pernah aku kenal. Aku tidak menginginkan rahimmu. Aku menginginkan hatimu.’ Tiba-tiba tangis Ayana pecah. Dadanya sesak, seolah seseorang mencengkeram jantungnya dari dalam. ‘Aku pergi karena aku tahu kau membutuhkan waktu. Dan aku takut… jika aku tetap di sana, aku akan terus berharap, terus menunggu, dan itu akan menyakitkan kita berdua. Aku pergi ke luar kota untuk sementara. Jika suatu hari kau butuh bantuan, aku tidak menolak, aku siap untukmu. Dan ... Aku akan selalu menunggumu, Ay. Tidak sebagai tuntutan, tapi sebagai pilihan. Di belakang surat aku sudah menuliskan nomor ponselku yang baru serta alamatku.’ —Lucas Ayana segera membalik surat itu untuk melihat nomor ponsel Lucas yang baru serta alamat tempat Lucas saat ini, kemudian disalinnya cepat di ponsel miliknya. Surat itu Ayana taruh begitu saja di atas meja, lalu mulai terisak yang tak bisa lagi ditahan. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis tanpa suara, seperti yang selalu dia lakukan setiap kali luka lamanya kembali terkuak. Ternyata Lucas tidak meninggalkannya. Lucas memilih menjauh agar tidak melukainya. Siang itu, Ayana duduk di dekat jendela kamarnya, memandangi rumah sebelah yang kini ditempati keluarga baru. Angin berembus menyentuh wajahnya lembut, membawa satu kesadaran yang selama ini ia hindari. Ayana tidak takut mencintai. Dia takut kehilangan dirinya sendiri. Di tangannya, surat Lucas kembali digenggam erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ayana berbisik pada dirinya sendiri, bahwa dia siap membuka hati. * “Ay?” Nyonya Jonathan muncul di balik pintu, dilihatnya Ayana duduk di depan jendela kamar, putrinya itu buru-buru mengusap matanya sesaat setelah mengetahui kehadiran ibunya. “Ya, aku di sini, Nyonya.” Ayana tersenyum dipaksakan, dia tak ingin dilihat ibunya sedang terisak sendirian tapi mata sembab Ayana terlanjur diperhatikan oleh Nyonya Jonathan. “Kau menangis? Apa Nyonya Ef membuatmu tersinggung?” Wanita itu menatap Ayana lekat. Ayana menggeleng kuat-kuat. “Lalu?” “Aku ingin sendirian.” Nyonya Jonathan terdiam, dia tahu Ayana sedang tidak baik-baik saja perasaannya sebelum akhirnya dia menangkap sepucuk surat di atas meja. Tangan Nyonya Jonathan terulur meraih surat itu penuh kehati-hatian. Ayana diam, tatapannya kembali tertuju ke luar jendela kamar di mana Lucas pernah berdiri di sana dengan sebuah cincin lamaran. “Lucas sangat mencintaimu.” Hanya itu yang keluar dari mulut Nyonya Jonathan. Lalu meletakkan kembali surat itu di atas meja dengan tarikan napas panjang. Dilihatnya Ayana masih dengan pikirannya sendiri. Nyonya Jonathan tak ingin menganggu–tidak untuk saat ini—dia keluar kamar menuju ruangan tamu, duduk di sofa dan kembali melanjutkan kegiatan merajutnya seperti biasa. Kali ini pikiran Nyonya Jonathan tidak fokus pada pekerjaan seninya, dia terus memikirkan Ayana. Kapan putrinya yang keras kepala itu mau kembali menikah sementara pria yang menerimanya dengan tulus sudah di depan mata. Nyonya Jonathan menghela napas berat. Dia pikir sedikit lebih keras tak masalah meminta Ayana memikirkan tentang pernikahan. Dia hanya ingin melihat Ayana bahagia dan dia tidak mandul! * Pagi hari saat Ayana siap berangkat kerja, Nyonya Jonathan terlihat pucat, tubuhnya panas, dan mengeluh sakit kepala sepanjang malam. Melihat kondisi ibunya, Ayana segera menghubungi atasannya untuk minta izin tidak bisa masuk kerja. Beruntung Ayana mendapat izin, tidak menunggu lama Ayana segera ingin membawa Nyonya Jonathan ke Rumah Sakit. “Aku tidak akan pergi ke Rumah Sakit.” Mendadak Nyonya Jonathan menahan keinginan Ayana membawanya ke Rumah Sakit. “Apa maksudmu, Nyonya. Kau sakit.” Ayana memelas menatap ibunya. “Tidak, aku hanya demam biasa,” ucapnya lirih, “beri aku madu herbal saja,” lanjutnya. Ayana memutar bola mata, bagaimana bisa ibunya menolak berobat sedangkan kondisi tubuhnya lemah. “Jangan khawatirkan aku, ayolah!” “Jangan membuatku takut,” lirih Ayana. “Kau sudah tidak lagi muda, Nyonya. Aku takut sendirian.” Ayana bicara seraya beranjak ke dapur, mengambil botol madu herbal obat andalan ibunya itu. Kebiasaan Nyonya Jonathan memang agak aneh menurut Ayana, tetapi masuk akal. Ibunya tak ingin mengkonsumsi obat-obatan kimia, dia lebih menyukai pengobatan secara herbal meski kerjanya tidak instan. “Ay, aku ingin kau menikah, entah dengan siapa saja pria pilihanmu jika dengan Lucas kau tidak menginginkannya,” ucap Nyonya Jonathan serak dan lemah sekembalinya Ayana dari dapur membawa madu. Tubuh Ayana menegang, ibunya kembali membicarakan tentang pernikahan itu lagi. “Minum madunya dulu.” Ayana menyuapkan sesendok madu lalu memberinya segelas air hangat. “Semoga lekas sembuh, Nyonya,” bisiknya. “Kau tidak mandul, Ay. Jangan percaya kata-kata dokter.” “Dokter bicara bukan asal, Bu. Dia hanya menyampaikan hasil dari serangkaian pemeriksaan!” Suara Ayana sedikit meninggi, lalu seketika dengan suara paling rendah dia berucap, “Jika aku bisa hamil itu adalah keajaiban dari tuhan.” “Tidak ada keajaiban jika hanya berdiam diri, Ayana. Aku ingin membuktikan bahwa kau tidak mandul seperti tuduhan mereka.” Kedua mata Nyonya Jonathan memerah, napasnya tersengal. “Tidak perlu membuktikan apapun pada siapapun, Nyonya. Bahkan untuk diriku sendiri. Aku tak menginginkan apapun selain bersamamu, meski kau seorang ibu yang cerewet.” “Jika aku mati maka kau akan sendiri.” Nyonya Jonathan menyentuh pipi Ayana, diusapnya lembut seperti dia mengusap punggung bayi. “Kau harus memiliki banyak anak, tinggal di rumah besar yang hangat, penuh keceriaan, penuh canda tawa, penuh kasih sayang dan cinta. Carilah, kau berhak bahagia, Ay, hidup sebatang kara bukan sesuatu yang menyenangkan. Kau putriku satu-satunya, dan kau jangan menjadi diriku.” Sinar matahari terus beranjak, cahayanya memasuki celah-celah ruangan hingga udara terasa hangat. Ayana memilih diam, tidak ingin berlarut melanjutkan percakapan sensitif yang membuat tenggorokannya sakit menahan ledakan emosional dalam diri. Ibunya benar, dia adalah putri semata wayang. Jika sesuatu terjadi, dia akan sepi memeluk diri sendiri. Seketika Ayana mengingat surat dari Lucas, dan kegilaan itu datang secara tiba-tiba dalam pikirannya yang tengah kacau. Dia harus bertemu dengan Lucas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD