Keputusan itu terus bergaung di kepala Ayana sepanjang hari.
Dia harus bertemu Lucas.
Namun, keberanian tidak datang begitu saja.
Malam itu Ayana duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangannya. Layar menyala memperlihatkan nomor baru yang ditulis Lucas di balik suratnya. Jemarinya melayang di atas layar, ragu menekan satu sentuhan sederhana yang bisa mengubah segalanya.
Menghubungi Lucas berarti membuka kembali pintu yang selama ini dia tutup rapat.
Ayana menghela napas panjang, lalu mengunci layar ponsel. Dia belum siap—setidaknya belum malam ini.
Keesokan paginya, kondisi Nyonya Jonathan sedikit membaik meski tubuhnya masih lemah. Ayana menyiapkan sarapan sederhana, memastikan ibunya minum madu dan air hangat sebelum akhirnya berpamitan untuk berangkat kerja.
“Jangan pulang terlalu malam,” pesan Nyonya Jonathan.
Ayana mengangguk. “Istirahat yang cukup. Jangan bandel.”
Nyonya Jonathan tersenyum tipis. “Kau mirip ayahmu saat menasehati.”
Ayana terdiam sejenak, lalu membalas senyum itu sebelum menutup pintu rumah.
*
Di kantor, waktu berjalan lambat. Fokus Ayana buyar berkali-kali. Matanya terpaku pada layar komputer, tetapi pikirannya melayang jauh—ke alamat yang tertulis di balik surat Lucas.
Tak terlalu jauh, tapi cukup untuk menjauh.
Saat jam istirahat, Kelly muncul di hadapan Ayana dengan wajah penuh selidik.
“Kau melamun sejak pagi. Jangan bilang kau masih memikirkan Lucas.”
Ayana memutar bola mata. “Apa di keningku ada tulisannya sampai kau tahu betul isi pikiranku.”
Kelly terkekeh, lalu menyipitkan mata. “Kangen?”
Ayana terdiam. Tak menyangkal.
Kelly menarik kursi dan duduk di hadapannya. “Kau sudah baca suratnya, ya?” Dia masih ingat saat Ayana mengatakan kalau Lucas mengiriminya sepucuk surat.
Ayana mengangguk pelan.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku… ingin menemuinya.”
Kelly tersenyum kecil, bukan senyum menggoda, melainkan senyum tipis, “Itu artinya kau menerimanya.”
“Tapi aku takut, Kel.”
“Takut apa?”
“Takut aku berharap terlalu banyak. Takut aku mengecewakannya lagi. Takut… jika ternyata aku tetap tidak bisa memberinya apa yang dia pantas dapatkan. Kau tahu aku mandul.”
Kelly menggenggam tangan Ayana. “Cinta bukan soal apa yang bisa kau berikan secara fisik. Lucas tahu itu. Sekarang tinggal kau yakini perasaan sendiri, apa kau mau mempercayainya?”
Pertanyaan itu menggantung lama di udara.
*
Ayana pulang lebih cepat dari biasanya, dia ingat ibunya masih belum begitu pulih, namun sudah lebih baik dari sebelumnya.
Tiba di rumah tubuh Ayana membeku, dilihatnya Ben sudah menunggunya berdiri di teras rumah dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
“Akhirnya kau pulang, Ay. Aku datang untuk meminta maaf.” Ben berdiri tepat di hadapan Ayana, menghalangi langkah mantan istrinya itu menuju pintu rumah.
Ayana menarik napas dalam. Pria di hadapannya membuatnya jijik dan mual.
“Sudah aku maafkan. Kau bisa pulang sekarang dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini agi,” desis Ayana, dia sebenarnya ingin berteriak, memaki Ben sekuat yang dia bisa tapi tertahan, dia tak ingin terlalu menguras energi, lagipula suaranya akan terdengar kemana-mana.
Ben semakin berani, dia mengusap dagunya sebentar kemudian jarinya menyentuh bahu Ayana.
Ayana menggeliat, menepis tangan Ben, kakinya mundur beberapa langkah. “Aku akan berteriak jika kau berani menyentuhku!” Gigi-gigi Ayana mengunci, tatapannya penuh awas.
Ben melihat kanan-kiri, lalu kembali fokus pada wajah pucat Ayana.
“Ay, dengar, aku tidak akan menyakitimu, aku bukan orang jahat. Pernahkah selama kebersamaan kita aku memukulmu sekali saja? Tidak. Aku selalu menyayangimu, mencintaimu setulus hati. Salahku adalah, aku pernah meninggalkanmu, itu saja.”
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pelipis Ben, pria itu mengerang tertahan. Alisnya terangkat, ditatapnya Ayana penuh emosi.
“Keterlaluan! Dasar wanita mandul!”
Plak!
Sekali lagi jari Ayana mencetak di pipi Ben.
“AKU TIDAK MANDUL!”
Ben tertawa keras sambil mengusap pipinya, sudut bibir Ben sedikit berdarah akibat tamparan kuat Ayana sebanyak dua kali itu. Sudah cukup panas wajah Ben dibuatnya.
“Harusnya kau senang aku kembali setelah mencampakkanmu, Ayana. Aku tidak menginginkan wanita lain, dan aku tidak keberatan jika kau mandul.”
“Pergi!” usir Ayana, “atau aku memanggil polisi!”
Ben terdiam, rahangnya mengeras. Dia gagal membuat Ayana kembali padanya, untuk keduakalinya.
Tubuh Ayana gemetar, lirih dia memohon sambil terisak. “Kumohon, menjauhlah dariku ....”
Ben bergeming.
Ayana tak dapat menunggu lagi, cepat dia berjalan melewati Ben menuju pintu rumahnya. Sebelum masuk rumah, dilihatnya rumah Nyonya Ef, sekilas Ayana melihat bayangan seseorang dengan cepat menutup tirai jendela yang setengah terbuka.
Ayana menoleh, Ben juga menoleh padanya.
“Aku akan datang setiap hari sampai kau mau kembali dalam pelukanku, Ay,” ucap Ben, memalingkan wajah lalu gegas meninggalkan rumah Ayana.
*
Malam terus beranjak setelah mengurus Nyonya Jonathan dan memastikannya tertidur, Ayana ke kamarnya duduk di tepi ranjang. Ditatapnya layar ponsel yang menampilkan kontak nomor seseorang.
Dengan napas yang bergetar, Ayana menekan nomor itu. Cukup lama Ayana menunggu, dia hampir mematikannya ketika suara yang begitu dia kenal menjawab.
“Halo?”
Suara itu sedikit lebih berat dan dalam, suara yang Ayana rindukan hingga degup jantungnya serasa berhenti berdetak.
“Lucas ....” Suaranya nyaris tak keluar.
Hening sejenak di seberang sana.
“Ay?” Suara itu terdengar tak percaya. “Ini … Ayana?”
“Ini aku,” lirih Ayana. “Maaf. Aku … aku hanya ingin memastikan ini nomor ponselmu.”
Napas Lucas terdengar jelas. “Haha, aku tak mungkin memberikan nomor ponsel pria lain. Hey, apa kabarmu?”
Ayana memejamkan mata, Lucas selalu seperti itu, terlalu baik dan selalu ingin membuatnya tersenyum. “Aku lebih baik setelah membaca suratmu.”
Lucas terdiam, hanya terdengar helaan napasnya yang teratur.
Ayana terdiam. “Aku ingin bertemu.” Ayana kembali berucap, nada suaranya dingin.
Hening kembali menyelimuti.
“Kau yakin?” tanya Lucas pelan, nyaris tak percaya apa yang dia dengar. “Aku tidak ingin kau merasa terpaksa.”
“Aku datang karena aku mau,” jawab Ayana jujur. “Bukan karena ibuku. Bukan karena siapa pun.”
“Baik,” kata Lucas akhirnya. “Aku tunggu.”
*
Malam turun dengan cara yang tidak ramah.
Langit menggelap lebih cepat dari biasanya, seolah ikut menelan kekacauan di kepala Ayana. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantul di aspal basah sisa hujan sore. Ayana berjalan tanpa benar-benar sadar ke mana kakinya melangkah—hanya satu alamat yang berdenyut di pikirannya.
Dia berdiri di depan rumah itu cukup lama sebelum akhirnya menekan bel. Napasnya pendek, dadanya naik turun tak beraturan. Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya malam ini—bukan mabuk alkohol, tapi mabuk emosi, mabuk rindu, mabuk luka yang terlalu lama dikurung.
Pintu terbuka.
Lucas berdiri di sana, mengenakan kaus gelap dan celana santai, tampak lebih tampan dan mengagumkan. Rambutnya sedikit basah, seolah baru saja mandi. Matanya membesar sesaat melihat Ayana di ambang pintu—wajah pucat, mata terlalu terang, bibir sedikit gemetar.
“Ay?” suaranya rendah, waspada. “Ada apa? Kenapa malam-malam--.”
Ayana melangkah masuk tanpa menunggu diundang. Tubuhnya melewati Lucas begitu saja, meninggalkan hawa dingin dan kegelisahan.
“Aku tidak baik-baik saja,” ucapnya pelan, seolah mengakui dosa. “Dan aku tidak tahu harus ke mana lagi.”
Lucas menutup pintu perlahan. “Ayana, kau terlihat—”
“Berantakan?” Ayana terkekeh kecil, tawa yang tidak punya kegembiraan. “Ya. Aku tahu.”
Dia menoleh, menatap Lucas dengan mata basah namun berani. Tatapan itu bukan tatapan perempuan yang meminta perlindungan—melainkan seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu hingga akhirnya pecah.
“Aku tidak datang untuk bicara panjang,” katanya. “Aku datang karena aku ingin merasa hidup. Sekali saja.”
Lucas menegang. Ada firasat buruk yang menyelinap, dan dia tidak menyukainya.
“Ay,” ucapnya pelan namun tegas, “kalau kau di sini karena kesepian, aku bisa menemanimu. Kita bicara. Kau bisa menginap. Tapi kalau kau datang karena hal lain—”
“Aku ingin tidur denganmu.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu ke lantai sunyi.