Lucas membeku. “Ayana,” katanya, suara kini lebih dalam, menahan sesuatu yang berbahaya. “Tidak. Kau sedang tidak stabil. Aku tidak akan memanfaatkan kondisimu.” “Memanfaatkan?” Ayana mendekat satu langkah. “Lucas, aku bukan anak kecil. Aku tahu apa yang aku inginkan.” “Kau menginginkannya karena kau terluka,” balas Lucas. “Dan besok pagi kau akan menyesal.” Ayana tersenyum miring. “Aku sudah terlalu sering menyesal dalam hidupku. Itu sudah biasa bagiku.” Dia semakin dekat. Terlalu dekat. Jarak di antara mereka menyempit hingga Lucas bisa merasakan napas Ayana, hangat dan tidak teratur. “Aku lelah menjadi perempuan yang selalu kuat,” bisiknya. “Lelah menjadi yang ditinggalkan. Lelah menjadi yang dianggap kurang.” Tangannya terangkat, menyentuh d**a bidang Lucas—bukan dengan gerakan

