Theo memenuhi permintaan dan tugas dari Yudis. Yaitu mencari tahu informasi gadis yang bernama Arabella itu. Suatu hal yang mudah unntuknya mencari tahu informasi tentang seseorang gadis seperti Arabella.
Theo mengerahkan semua orang-orang kepercayaan mencari tahu. Dan dengan cepat dia mendapatkan apa yang bosnya inginkan.
Yudis sedang menatap kosong jendela ruangannya. Menatap wajah ibukota dari gedung Endaru Grup. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana. Kedatangan Theo tak disadarinya.
Kakeknya sudah ke sekian kalinya meminta dirinya untuk segera menemui gadis itu. Yudis enggan dan malas. Hatinya yang masih terluka oleh perlakuan Shasa padanya masih terasa sampai saat ini. Bayangan Sasha berduaan dengan seorang laki-laki di dalam kamar hotel sukses membuat Yudis menjadi tidak bisa konsentrasi dan bekerja dengan baik.
Beep Beep
Yudis meraih ponselnya yang bergetar di saku celananya. Kemudian menatap layar ponselnya dengan raut wajah yang sedih.
[Yud, apa kau sudah menemui gadis itu?]
Yudis menghela napas panjang membaca pesan singkat dari kakeknya. Itu adalah pesan yang ke sepuluh kalinya yang dia kirimkan hari ini. Selain diteror bayangan Sasha dengan pacarnya, hari-harinya sekarang ditambah terror dari kakeknya.
Pesan singkat yang terus mengingatkan dan menanyakan tentang permintaannya untuk menemui gadis itu. Yudis menatap layar ponselnya yang baru sebagai pengganti ponselnya yang ia banting di villa. Dia ingin sekali membanting ponsel baru itu lagi. Tapi Yudis urung karena dia melihat bayangan Theo di layar ponsel.
“Theo, sejak kapan kau datang?” tanya Yudis kemudian berjalan menuju kursi kebesaran Presdir Endaru Grup.
“Sejak sepuluh menit yang lalu,” jawab Theo kemudian perlahan mendekati Yudis yang sekarang sudah duduk di kursinya.
“Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?” tanya Yudis.
Theo kemudian menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Dan Yudis langsung menerima dengan tatapan puas.
Yudis membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Beberapa lembar foto dan beberapa catatan yang dikumpulkan olehTheo.
“Arabella Astrianingsih, saat ini tinggal dengan bundanya di rumah kontrakan di jalan Angsa Putih.“
“Apa dia benar-benar anak Papa Jaya?” potong Yudis.
“Ah, i-iya. Aku sudah memastikannya kalau dia memang benar putra dari Bapak Sanjaya Darmawan.”
Yudis mengerutkan alisnya, karena Theo rupanya tahu nama lengkap Papa Jaya dengan baik.
“Terus?” tanya Yudis sambil menatap lembaran foto milik Arabella yang diambil dengan diam-diam oleh orang-orang suruhan Theo.
“Ara dengan bundanya sering berpindah-pindah kontrakan karena sering dikejar-kejar debt collector,” ucap Theo melanjutkan penyampaian informasinya.
“Apa? Debt collector?” Belum apa-apa Yudis sudah merasa kalau satu hal tentang Arabella ini membuatnya sedikit bergidik.
“Mendiang ayahnya meningggalkan hutang yang sangat banyak, dan Arabella serta bundanya sering pindah-pindah karena ancaman debt collector itu. Mereka sangat menderita karena itu.”
“Apa kau tahu seberapa banyak hutang Papa Jaya itu?” tanya Yudis penasaran.
“Salah satu orang yang memiliki piutang dengan Pak Jaya adalah salah satu klien kita juga. Aku mendapat informasi kalau hutangnya Pak Jaya itu sekitar ratusan juta.”
“Waah, pantas saja mereka kalau sering pindah,”
Yudis menatap foto Ara dan bundanya. Ada sesuatu terlintas di pikirannya.Sesuatu yang mungkin bisa menjawab semua kegalauannya.
Theo yang melihat Yudis yang terlihat serius dan manggut-manggut menatap foto Arabella menjadi curiga padanya.
“Dia cantik kan Pak?” tanya Theo menyadarkan Yudis yang sedang memikirkan sebuah rencana.
“Apa kau bilang barusan?” tanya Yudis.
“Cantik, dia cantik kan Pak?”
Yudis kemudian mengibaskan tangannya, “Theo, aku punya rencana, agar aku bisa selamat.”
“M-maksud Bapak?” tanya Theo tidak mengerti dengan arah pembicaraan Yudis.
“Apa kau pikir aku akan menerima perjodohan ini begitu saja. Aku masih belum tahu gadis ini seperti apa. Bagaimana kalau dia adalah gadis yang tidak seperti kakekku bayangkan. Mana mungkin gadis itu akan menikah denganku kalau aku bukan penerus Endaru Grup. Aku tidak mungkin menikahi gadis seperti itu. “
Theo sedikit terbata-bata mendengar ucapan Yudis.
“Bagaimana kalau gadis itu hanya akan mengincar materi, sama seperti istri Papaku yang pertama. Aku tidak mau mengalami hal yang sama dengan almarhum Papaku,” jawab Yudis melankolis.
Theo terlihat sedih mendengar itu semua.
“Jadi apa rencana Bapak sebenarnya?” tanya Theo ingin tahu.
“Aku akan menemui Arabella, dan menawarkan sebuah pernikahan kontrak dengannya,” jawab Yudis.
“Apa, pernikahan kontrak?” Theo tidak percaya kalau ide itu terlintas di jalan pikiran Yudis.
“Aku akan menikahinya dengan memanfaatkan kondisinya saat ini. Dengan begitu, bukankah tiga orang ini akan selamat. Kakek akan merasa puas menebus rasa bersalahnya pada Papa Jaya, aku akan aman karena sudah memenuhi permintaan Kakek, dan gadis itu ….”
“Jadi Bapak akan membantunya terbebas dari debt collector?”
“Kau benar,”
Theo menghela napas panjang. Sungguh disayangkan memang.Tapi , mau bagaimana lagi.
“Jadi Bapak akan menemuinya?”
Yudis mengangguk dengan pelan. Meskipun ada sedikit gurat kekhawatiran di wajah tampannya. Namun Theo hanya bisa mengikuti dan menuruti apa yang diinginkan oleh Yudis.
“Aku akan membantumu Pak.”
Yudis menatap wajah Arabella. Ada segurat senyum tersungging dari bibir tipis Yudis. Dan Theo hanya bisa mengawasi gerik Yudis yang sedang melihat-lihat foto Arabella dan bundanya.
*** ***
Yudis tersenyum puas saat dia berhasil membuat Arabella menandatangani surat perjanjian kontrak itu.
“Kalau begitu, sekarang kau bisa pergi denganku untuk menemui kakekku,” ucap Yudis menghentikan Arabella yang sedang menerawang lembaran cek yang baru saja dia berikan pada Arabella.
Gadis itu terlihat kaget mendengar ucapannya.
“S-sekarang?” Arabella nampak lucu dan polos menjawab.
“Theo, bawa dia ke butik dan salon langganan Sasha. Dandani dia agar tidak seperti alien.Setelah itu bawa dia ke tempatku dan kakek!” perintah Yudis yang langsung dibalas anggukan cepat dari Theo.
“A-apa? Alien,” jawab Arabella dengan alis terangkat.
“Kau tidak mungkin bertemu dengan kakekku dengan pakaian seperti itu kan?” tanya Yudis merendahkan Arabella yang sepertinya tidak terima disebut alien oleh Yudis.
“Pokoknya nanti Theo yang urus kamu,” jawab Yudis tidak menghiraukan wajah kecewa Ara.
“T-tapi, aku belum memberi tahu Bunda,” jawab Arabella keberatan.
“Itu jangan dipikirkan, Bundamu akan aku beritahu,” jawab Yudis sambil meraih ponsel di meja café itu.
“Aku harus mengumpulkan tugas kuliah ke-“
“Theo, kau perintahkan anak buahmu untuk mengantarkan tugas kuliahnya ke kampus.”
“A-aku harus pergi ke rumah, karena Bunda pasti didatangi oleh o-“
“Theo, apa kau sudah menghubungi Pak Jaka, orang yang menagih itu?”
“Sudah Pak, dan sesuai perintah Bapak, aku sudah membayar seluruh hutangnya.”
Arabella mengernyitkan dahinya. Jadi hutangnya sudah dibayar. Dan cek yang baru dia terima untuk membayar hutang itu.
“Kau jangan banyak alasan, apa kau mau melarikan diri setelah kau tandatangani kontrak ini?” tanya Yudis membuat Arabella menjadi terlihat gugup.
“T-tentu saja, aku tidak akan melarikan diri.”
Arabella nampak pucat.
“Jadi, tunggu apa lagi?” tanya Yudis dengan wajah yang terlihat galak.
“A- i-tu.”Arabella terlihat kebingungan.
“Nona Arabella, kau bisa ikut aku sekarang untuk ke salon!”
Yudis tidak memedulikan wajah Arabella yang terlihat kikuk dan sedikit kebingungan. Yudis hanya melihat ponselnya. Dia sedang terlihat serius dengan ponselnya.
Sekali lagi Theo memanggil dan mengajak Arabella untuk segera meninggalkan kafe. Lalu Arabella berdiri dari kursinya dan terpaksa mengikuti Theo. Sesuai permintaan Yudis dia harus merubah penampilan aliennya.
Setelah Arabella dan Theo pergi, barulah Yudis menampilkan raut sedihnya ketika dia sedang melihat akun media social Sasha. Dengan akun palsu Yudis memantau perkembangan Sasha di media social.
Hari ini dia melihat postingan Sasha. Dia merasa sakit dan cemburu begitu melihat postingan foto Sasha yang sedang menghabiskan waktu di Singapura dengan seorang laki-laki yang diblur sengaja oleh Sasha.
‘Kau terlihat bahagia Sha, apa yang kurang dariku Sha. Kenapa kau setega ini padaku setelah sepuluh tahun ini,’batinYudis sedih sambil menatap foto-foto Sasha.
‘Entah kenapa, aku yakin kalau sebenarnya kau hanya bahagia bersamaku. Aku yakin kau tidak akan menemukan laki-laki sepertiku yang memahamimu. Hanya aku yang bisa memahamimu,’ ucap Yudis dalam hati.
‘Apa kau akan merasakan hal yang sama ketika aku nanti menikah dengan gadis itu. Kalau kau juga akan merasakan sakit dan terluka sepertiku?’
Beep
Sebuah pesan teks masuk datang ke ponselnya. Dan Yudis langsung memeriksanya.
[Bawa gadis itu, aku ingin menemuinya malam ini!]