Dia Lumayan Juga

1287 Words
Sejak pulang dari Lombok  dan mendapati Sasha yang tega melukai hatinya, Yudis memilih mengurung diri dan menenangkan diri di villa nya di Puncak Bogor.Theo menemani sahabat sekaligus atasannya itu ke sana. “Theo,  Kakekku hanya memberiku waktu satu minggu lagi, menurutmu aku harus bagaimana?” tanya Yudis pada Theo. Malam ini mereka berdua sedang duduk berdua di halaman villa sambil membuat api unggun agar bisa mengurangi hawa dingin di sana. Theo terlihat ikut memikirkan masalah Yudis. Memang kalau dirinya berada di tempat Yudis, dia akan bingung dan merasa ingin melarikan diri. “Bahkan aku tidak tahu wajah dan seperti apa rupa gadis itu. Aku tidak ingin tahu dan tidak peduli.” Keluh kesah Yudis pada Theo. Tanpa sedikit ragu, Yudis mencurahkan segala isi hati dan pikirannya pada Theo. “Kalau begitu, apa perlu aku cari tahu tentang gadis itu?” tanya Theo menawarkan diri. “Huh.” Yudis hanya menjawab dengan tawa sinis. “Kenapa. Apa kamu tidak ingin tahu. Seperti apa gadis yang akan dijodohkan kakekmu?”  tanya Theo. “Aku bahkan pesimis dengan gadis itu. Dia tidak mungkin bisa lebih baik dan lebih cantik dari Sasha,” jawab Yudis masih dengan nada yang skeptis. “Kalau perkiraanmu salah bagaimana?” tanya Theo membuat kedua alis tebal milik Yudis terangkat. “Kau belum tahu kan? Dan apa tadi kau bilang. Dia tidak mungkin lebih baik dan lebih cantik dari Sasha. Kau lupa kalau kau baru dicampakkan oleh Sasha.” Mendengar komentar pedas Theo. Yudis mengambil batang besi yang digunakan untuk mengatur api unggun. Lalu dia menusuk-nusuk bara api dengan penuh kekesalan. “Apa kau sedang kesal?” tanya Theo terkekeh melihat sikap Yudis seperti itu. “Kenapa kau mengungkit-ungkit itu lagi. Kau jadi mengingatkanku dengan kejadian menyebalkan itu,” ucap Yudis  dengan tatapan yang marah. Dan tangannya masih menusuk-nusuk bara dan kayu yang terbakar api. “M-maaf, tapi seharusnya kau bersyukur, dengan kejadian itu. Kau bisa tahu lebih cepat seperti apa Sasha itu,” kata Theo mencoba mengambil hikmah dan positif dari kejadian itu. Yudis melempar batang besi itu ke tanah. Dengan wajah yang kesal dia pun berdiri hendak pergi dari tempat itu. “Kau mau kemana?” tanya Theo ikut berdiri mengikuti langkah Yudis yang berjalan meningggalkan tempat mereka membuat api unggun. “Aku mau tidur, apa kau mau ikut tidur denganku?” tanya Yudis menghentikan langkah kakinya. “A-ah tidak lah, aku masih waras Yud. “ “Hmmm.”   Yudis kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke dalam villa. Dia ingin melampiaskan rasa kesalnya di dalam kamar. Untuk saat ini , kehadiran Theo malah membuat pikiran dan hatinya semakin tidak keruan. Di dalam kamar, Yudis merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang. Dengan posisi telentang dia menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya bercabang kemana-mana. ‘Apa yang harus aku lakukan sekarang? Melamar dan menikahi Sasha sudah tidak mungkin lagi. Sementara aku tidak siap jika harus menikahi dengan gadis piliha Kakek.’ Yudis kemudian memiringkan tubuhnya kea rah kanan. Ponselnya berada tepat di sampingnya. Sampai saat ini Sasha belum menghubunginya. ‘Eh, kenapa aku masih mengharap kalau Sasha menghubungiku?’ batin Yudis mencoba membuang jauh-jauh harapan yang tidak mungkin terjadi itu. Yudis kembali menelan pil pahit bernama kekecewaan.  Saat ini rasa kecewanya menjadi berlipat saat Yudis memutar kembali memori bersama Sasha selama sepuluh tahun ini. Yudis merasa kalau selama ini Sasha hanya memanfaatkan kebaikannya. Dan selama ini Sasha sama sekali tidak pernah menganggap Yudis spesial padahal seharusnya dia peka akan perasaan dan perhatian yang Yudis berikan selama ini. Yudis sakit hati dan merasa kecewa dengan perlakuan Sasha padanya.  Sepintas Yudis memikirkan bagaimana cara dia membalaskan rasa sakitnya itu Sasha. Tring. Sebuah chat masuk ke ponselnya. Buru-buru Yudis meraih ponselnya dan berharap kalau itu dari Sasha. Namun kembali Yudis mengerucutkan bibir rasa kecewanya ketika tahu dari siapa chat itu. Dengan perasaan yang  malas, Yudis membuka pesan dari kakeknya itu.   [Namanya Arabella Astrianingsih, usianya 20 tahun, kuliah di fakultas seni di kampus J. Temui dia dulu. Aku sudah tahu kau sudah gagal melamar Sasha. Jadi mau tidak mau kau harus mengikuti Kakek!] Yudis menarik napas dan menghirupnya dengan kesal. Dia sudah semaki terdesak. [Yudis, temui dia secepatnya. Kalau tidak Kakek akan menghapus namamu dari daftar ahli waris!] ‘Apa. Kakek sudah tega mengancamku seperti ini?’  ucap Yudis menggerutu. Yudis hanya membaca pesan itu tanpa niat untuk membalasnya. Lalu Yudis melemparkan ponselnya sampai hancur karena saking kesalnya. Lalu tanpa memedulikan ponselnya yang hancur. Yudis menelungkupkan tubuhnya. Dia merasa kesal sekali. *** *** Damian, menatap layar ponselnya dan melihat kalau pesannya sudah dibaca Yudis, tapi tidak satu kata pun Yudis membalasnya. “Dasar keras kepala,  padahal dia sudah dicampakkan oleh gadis itu. Lalu kenapa dia tidak mau menikah dengan putrinya Jaya. O-ya, aku punya foto gadis itu. “ Damian kemudian mencari foto Arabella. Dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan gadis itu. Bahkan orang suruhannya mengirimnya sebuah foto. “Kalau dia sudah melihat wajah Ara, dia pasti akan berubah pikiran,” ucap Damian kemudian mengirimkan foto Arabella.  Namun Damian tidak tahu kalau cucunya itu sudah membanting ponselnya sampai rusak. Dan Damian langsung kecewa begitu tahu kalau nomor Yudis tidak aktif. ‘Arrrgh, susahnya mengatur anak itu.  Mau sampai kapan dia mengharapkan gadis yang sudah mencampakkan dan menolak cintanya mentah-mentah?’ gerutu Damian. Segala informasi mengenai kejadian yang menimpa Yudis di Lombok sudah sampai ke telinganya. Dan tentu saja Damian merasa di atas angin. Dengan begini, Yudis tidak akan menolak permintaannya untuk menikahi Arabella. Damian kemudian menatap foto Arabella.  Sambil tersenyum membayangkan Yudis bersanding dengan gadis cantik putri dari Jaya. “Tapi, tidakkah ini sudah keterlaluan?” Damian merasa suara hatinya ikut berbisik. “Gadis itu apa mungkin dia akan menerima lamaran dan perjodohan ini. Apakah ini tidak terlalu aneh dan terkesan memaksa keduanya?” pikir Damian.   Damian nampak berpikir, dia sedang memikirkan bagaimana caranya supaya dia bisa menikahkan cucu satu-satunya dengan putri Jaya. “Mungkin sementara waktu, aku tidak akan mencampuri dulu. Biarkan Yudis yang mendekatinya secara perlahan.” Damian kemudian manggut-manggut kareana dia menemukan cara supaya  Yudis dan Arabella bisa menikah.   *** **** Theo terkejut begitu mendapati Yudis di kamarnya dengan kondisi berantakan. Barang-barang terlihat jatuh berserakan. Seakan-akan kalau telah terjadi bencana gempa bumi yang menyebabkan kekacauan di dalam kamar. Theo melihat Yudis masih meringkuk di dalam selimut. Perlahan Theo kemudian membereskan semua barang-barang yang berceceran di lantai. Dan dia menemukan ponsel Yudis yang sudah hancur karena sepertinya sengaja dibanting. Theo hanya berdecak menahan kesal, karena seharusnya Yudis harus segera bangun untuk segera pergi dari tempat ini. Mereka harus segera kembali ke Jakarta. Sudah banyak pekerjaan-pekerjaan mereka yang menunggu. “Yudis, bangunlah!” kata Theo mencoba membangunkanYudis. Kalau bukan di perusahaan dan dalam acara yang berhubungan pekerjaan Theo akan memanggil Yudis dengan Pak Presdir karena dia adalah atasannya di perusahaan. Sementara ini, Theo memanggilnya dengan nama. Karena sesuai permintaan Yudis, kalau di luar perusahaan dan urusan pekerjaan Theo cukup memanggil namanya saja. “Yudis, kalau kau tidak bangun sekarang juga. Pak Damian sudah memesan satu pasukan  buser untuk membawamu ke Jakarta!”  ancam Theo sambil menguncang-guncangkan tubuh Yudis. “Aku tidak mau pulang.  Aku ingin disini beberapa hari lagi,” jawab Yudis dengan suara yang jelas. Sepertinya dia memang sudah terbangun. Namun karena terlampau malas, dia jadi tidak mau bangun. “Pak Damian menyuruhku untuk memaksamu bangun,” ucap Theo sambil menarik tubuh Yudis sampai dia pun terjatuh dari ranjang. Namun rasa sakit dan patah hatinya lebih terasa dibandingkan seluruh tubuhnya yang terhempas  ke lantai. Yudis tidak meringis sakit. Dia hanya menatap wajah Theo dengan tatapan kosong. “Yudis, Pak Damian mengirimkan ini padaku. Dan menyuruhku untuk menunjukkannya  padamu,” kata Theo sambil menunjukkan layar ponselnya. Dengan penuh rasa malas, Yudis pun kemudian manut melihatnya. Seorang gadis berpose imut dengan memakai kostus ala teatrikal. Gadis itu cukup manis dan imut. “Siapa dia?” tanya Yudis. “Calon istrimu.” “Apaaaa?” teriak Yudis tidak percaya. “Arabella Astrianingsih.” “Namanya saja aneh, terus apa dia seorang pemain sirkus?” tanya Yudis terlihat tidak tertarik. “Kurang tahu sih Yud, ini kan foto kiriman dari Pak Damian,” jawab Theo. “Yang benar saja aku harus menikahi gadis sirkus itu,” lirih Yudis merasa lemah tak berdaya. “Tapi kalau diperhatikan dengan teliti, dia cantik juga lho Yud,” imbuh Theo. “Apa? Cantik? Kalau begitu kau saja yang menikahinya!” seru Yudis sinis. “Tapi kan dia itu jodohmu,” tandas Theo. Yudis mendengus kesal mendengar ucapan Theo. Sementara Theo hanya tertawa kecil menatap Yudis yang sepertinya kesal sekali. “Huuft, aku benci melakukannya tapi … bisakah kau cari tahu tentang gadis itu. Cari sedetail dan sebanyak-banyaknya tentangnya!” Yudis baru saja memberi Theo sebuah tugas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD