Di sebuah gedung lantai 18 di salah satu ruangan tampak seorang laki laki usia muda sedang sibuk membolak balik sebuah laporan di meja kerjanya. Di samping mejanya ada seorang laki laki seumurannya juga sedang menunggu sambil mengotak atik sebuah tablet. Sepertinya itu adalah seorang sekretarisnya.
"Theo, hari ini jadwal setelah makan siang apa?" tanya pria yang sebagai CEO perusahaan Endaru Grup itu menanyakan schedule hariannya kepada sekretarisnya.
"Sebenarnya Anda sudah janji bertemu dengan Pak Damian jam 1 pak!" jawab sekretarisnya itu yang bernama Theo mengingatkan bosnya.
"Setelah ketemu dengan Kakek, terus jadwal selanjutnya apa?" tanyanya lagi.
"Tidak ada jadwal rapat dan tidak ada janji dengan klien Pak Yudis," jawab Theo.
"Baguslah, saya bisa bertemu dengan Sasha!"katanya tersenyum senang.
"Iya pak, apa saya harus pesenkan bunga lagi seperti biasa untuk Nona Sasha Pak?" tawar Theo.
"Tidak usah, biar saya sendiri yang beli langsung ke toko bunga," jawab Yudis.
"Theo, tolong siapkan mobil kamu ikut saya ketemu kakek!" perintah Yudis sambil hendak menelepon seseorang.
"Baik Pak." Theo langsung permisi keluar ruangan Yudis.
"Halo Sha, hari ini bisa ketemu nggak, aku punya waktu sore ini," ucap Yudis menelepon seseorang bernama Sasha.
"Okay, see you soon," kata Yudis menutup teleponnya. Setelah itu dia tampak senyum senyum sendiri. Nampak aura bahagia dia akan bertemu perempuan itu. Perempuan yang sudah bertahun tahun dia kagumi semenjak masih kuliah di Amerika. Sasha Aura mantan Miss Indonesia yang juga sekarang menjadi artis tenar di Indonesia. Yudis sangat tergila gila sejak dulu, namun dia berapa kali ditolak oleh Sasha. Alasannya Sasha tidak mau karirnya terbagi dengan hubungan asmara. Tetapi alih alih menolak Yudis, Sasha selalu memberi harapan kalau suatu saat dia akan menerima cintanya.
"Pak, mobilnya sudah ada di depan lobby," ucap Theo sudah datang kembali dan mengajak Yudis segera berangkat bertemu dengan Pak Damian kakeknya. Pemilik dari Endaru Grup. Perusahaan yang bergerak di bidang properti besar, pendiri Super Mall, dan pemilik Taman Hiburan terbesar di Bandung, bahkan resort resort di Bali. Dengan asset sebanyak itu menjadikannya orang terkaya nomor 3 se Indonesia.
"Ayo kita berangkat!” Ajak Yudis merangkul Theo. Sekretarisnya sekaligus teman SMA nya, teman kampusnya juga di Amerika. Hubungan mereka bukan hanya sebagai bos dengan bawahannya, tetapi juga teman dekatnya, dan sudah seperti saudara.
*** **** ****
"Kenapa kakek mengajak bertemu di tempat pemakaman sih?"tanya Yudis ketika mobil mereka sampai di gerbang pintu sebuah Tempat Pemakaman Umum.
"Pak Damian sekalian mengajak Pak Yudis untuk ziarah ke makam seseorang," jawab Theo sopan.
"Theo, sudah aku bilang berapa kali kan, kalo bukan di kantor nggak usah panggil Bapak," rajuk Yudis kepada sahabatnya itu.
"Maaf Yud, kebiasaan," jawab Theo tertawa pelan.
Yudis memukul bahu Theo dengan tinjunya. Mencerminkan persahabatan dekat mereka. Keduanya pun turun dari mobil. Kemudian mereka melihat beberapa anak buah kakeknya berjaga di depan pintu masuk TPU.
"Aku tunggu disini aja ya," kata Theo.
"Oke."
Yudis pun masuk ke dalam komplek pemakaman itu dan melihat kakeknya sedang duduk di depan sebuah makam yang nampaknya masih baru. Kemudian Yudis pun menghampiri kakeknya. Tampak wajah kakeknya yang dia kenal tak pernah menampilkan raut sedih apalagi menangis. Kali ini tampak wajah kakeknya basah oleh air mata.
Yudis melihat batu nisan makam itu bertuliskan nama Sanjaya. Yudis merasa familiar dengan nama itu.
"Kamu sudah datang Yud?" tanya kakek suaranya tercekat karena habis menangis.
"Ya Kek, ada apa Kakek minta bertemu disini, dan siapa yang meninggal ini sehingga Kakek sedih seperti ini?"
"Jay, dia sudah datang Nak, kamu masih ingat kan Yudis. Anak yang kamu pernah urus dan yang pernah kamu besarkan." Kakek berbicara kepada batu nisan tanpa menghiraukan pertanyaan Yudis.
"Yud, kamu ingat kan Papah Jaya, yang dulu pernah ngurus kamu waktu kamu umur 10 tahun, waktu itu mamah papahmu meninggal karena kecelakaan, dialah yang ngurus kamu, sampe kamu masuk SMP dia kan yang ngurus kamu, waktu itu kakek tidak bisa mengurusmu karena kakek terlalu berduka karena kehilangan mamah papahmu. Sekarang papah Jaya mu sudah gak ada," kata Kakek terisak.
" Ya Kek, Yudis inget sedikit tentang Papah Jaya, dia baik banget pernah ngurusin Yudis seperti anaknya sendiri," jawab Yudis terbawa suasana sedih. Meski memorinya tidak terlalu ingat banyak tentang Papah Jaya, dia ikut merasakan kesedihan kakek.
"Kakek sudah mencari dia dua tahun ini, dan kakek terlambat menemukannya. Sekarang dia sudah meninggalkan kakek juga." Kakek kembali tersedu sedu memanggil manggil nama Jaya.
Yudis mencoba menguatkan kakeknya dengan mengelus elus punggung kakeknya itu.
"Kalau saja Ana tidak berbuat kejam kepadamu, mungkin kamu sekarang masih hidup."
"Si ... siapa Ana itu kek?" tanya Yudis penasaran. Yudis memang sudah lama tidak mengingat masa kecilnya itu. Yudis tidak bisa mengingat kejadian-kejadiannya waktu kecil.
"Istri pertama papamu."
"Istri pertama papa, apa maksud kakek?"
Papahmu sebelum menikah dengan mamahmu, dia menikah dengan Ana, tapi karena Ana hanya menikahi papamu karena harta. Papamu menceraikannya. Tapi Papamu dan Ana tidak mempunyai anak. Setelah itu barulah papamu menikah dengan mamahmu. Dan lahirlah kamu Yudis." Kakek berhenti berkisah sejenak dia mengusap usap kedua matanya yang keriput itu. Yudis sabar menunggu kelanjutan cerita kakeknya itu.
"Dengan tipu muslihatnya Ana mencoba merayu Jaya yang saat itu adalah orang kepercayaan papamu. Dan akhirnya entah mengapa Jaya menikah dengan wanita itu. Ana mungkin mencoba membalas dendam kepada papamu melalui menikahi Jaya."
"Dan hari naas itu pun, terjadi papa mamahmu kecelakaan mobil saat kamu masih berumur 10 tahun." Kakek kembali lagi menangis. Mungkin karena dia harus mengingat kembali kejadian kecelakaan anaknya dan menantunya.
"Sejak itu lah kamu diurus olehnya dan wanita itu. Kamu diurus dan dibesarkan olehnya dengan kasih sayang. Tapi tidak dengan Ana, mungkin kamu pernah mengalami perlakuan buruk dari nenek sihir itu. Sampai akhirnya kakek memutuskan kakek sendirilah yang mengurusmu. Tapi Ana sudah melancarkan usahanya untuk membalas dendam pada kakek dan almarhum papamu dan almarhum mamahmu. Dia meminta tunjangan cerai sebagai mantan istri papahmu. Dan meminta balas jasa sudah mengurusmu dia meminta anak perusahaan Endaru Grup di Bekasi. Kalau kakek tidak menurutinya dia mengancam kakek akan menyebarkan gosip kalau kakek terlibat skandal pencucian uang hasil korupsi para pejabat. Waktu itu kakek berani memberikan perusahaan itu dengan satu syarat. Jaya harus dapat mengelola perusahaan itu dengan baik. Dan hasilnya memang Jaya luar biasa dia sudah mengembangkan perusahaan itu sampai maju. Tapi ternyata Ana itu telah mengusirnya dan membuang Jaya begitu aja. Itulah yang terakhir kakek tahu tentang kabarnya Yud."
"Kasihan Papah Jaya, mungkin selama hidupnya dia menderita karena wanita itu," ucap Yudis.
"Yud, kakek dapat kabar kalau papah Jaya mu itu sebelum meninggal dia mempunyai istri dan anak perempuan," kata kakek.
"Apa?"tanya Yudis.
"Ternyata sebenarnya Jaya tidak mencintai Ana, dia hanya bertahan dengannya karena alasan ingin mempertahankan perusahaan papamu, dia menikah siri dengan seorang perempuan yang dia cintai. Dan akhirnya dia pun ketahuan dan Ana pun mengusirnya tanpa memberikan uang dan aset perusahaannya."
Kakek sudah berusaha mencarinya kemana mana. Namun sepertinya dia ingin menghapus jejaknya supaya kakek tidak bisa menemukannya. Dan kakek baru tahu kalau dia sudah meninggal." Kakek pun kembali terisak. Sepertinya penyesalannya begitu dalam.
"Kakek sudah menganggapnya anak kedua kakek setelah papamu Yud!"
"Kakek yang ikhlas ya, semoga Papa Jaya sudah tenang di alamnya, kita doakan yang terbaik untuk almarhum?" kata Yudis.
"Jaya, maafin saya , saya sudah banyak salah padamu, saya sudah banyak menyusahkanmu, kamu sudah banyak menderita!" isak kakek semakin kencang. Tak lama kemudian badan kakek kejang kejang.
"Kakek, kakek kenapa?" teriak Yudis.
"Theo, tolong kakek!" teriak Yudis memanggil Theo. Begitu mendengar suara teriakan Yudis Theo langsung menghampiri dan membopong kakek ke mobil. Yudis teriak teriak panik melihat kakeknya yang tiba tiba collapse seperti itu. Mereka pun segera membawanya ke rumah sakit.
*** **** ****