Praaaaang. Braaak.
Terdengar suara gaduh di pagi hari membuat Arabella terlonjak bangun. Terasa pusing sekali kepalanya. Semalaman dia kurang pulas tidur karena memikirkan masalah itu. Tapi suara ribut itu membuat dirinya jadi teringat bunda. Apa yang terjadi? Arabella langsung berlari keluar kamar dan di ruang tamu dia melihat bundanya terduduk menangis sementara ada 3 orang lelaki yang sedang memarahi bunda.
Sekejap langsung Arabella tahu kalau mereka adalah penagih hutang. Orang orang yang dibayar si pemilik piutang sudah kurang ajar sama bundanya.
"Hei stop, kalian apakan bundaku?" teriak Arabella segera menghampiri bunda dan memeluknya.
"Arabella, bagaimana ini, Pak Jaka sudah mengancam Bunda akan dilaporkan ke polisi," tangis bunda pecah membuat Arabella sakit hati.
"Bunda tenang ya, Arabella sama Bunda kok, kita hadapin ini bareng bareng," hibur Arabella kepada bunda.
"Hei, Pak Jaka minta kalau sore ini kalian tidak segera melunasi hutangnya, dia bakal memasukkan kalian ke dalam penjara,” ancam orang-orang itu lagi.
"Baik, katakan sama Bos loe itu, nanti sore kami bayar lunas hutang kami, kalo tidak, mungkin penjara lebih baik," teriak Arabella kepada mereka sambil terisak menangis.
"Arabella." Tangis bunda pecah memeluknya. Kemudian orang orang itu pergi sambil menendang kursi tamu. Membuat bunda kembali kaget dan jatuh pingsan. Arabella berteriak memanggil bunda.
"Bundaaa, banguun," panggil Arabella sambil menggoncang goncang badan bunda. Dia berteriak minta tolong agar tetangga membantu.
***
Dengan bantuan tetangga akhirnya bunda sudah sadarkan diri. Sekarang bunda sedang beristirahat di kamarnya. Sementara Arabella mondar mandir di kamar gelisah dan bingung. Beberapa kali Arabella lihat kembali kartu nama Mas Yudis yang ada nomor teleponnya. Hatinya bingung dan ragu untuk menghubunginya.
Dan setelah beberapa kali dia pikirkan dengan membayangkan resiko terburuk Arabella pun mencoba menelepon Mas Yudis siang itu.
Dengan penuh was was dan jantung berdebar Arabella pun menahan napas ketika ada suara nada sambung telepon. Dan ...
"Halooo!" terdengar suara laki laki itu di ujung telepon.
"Mas, ini aku Arabella."
Akhirnya Arabella pun dengan terpaksa menyetujui kontrak itu. Karena Arabella tak mungkin membiarkan Bunda menderita jika terus-terusan di teror oleh penagih hutang.
Biarkan Arabella hadapi resiko apa pun itu asal bunda tidak berhadapan dengan penagih hutang yang seseram seperti penjahat itu.
Arabella mungkin mengambil tindakan ini terlalu terburu-buru. Dan masa bodo Mas Yudis akan mencapnya sebagai gadis yang matrealis. Ini bukan maunya. Keadaanlah yang membuat dirinya pasang muka badak di depan laki-laki asing yang baru tadi siang dia kenal.
Arabella pun segera pergi setelah menelepon Yudis dan menuju tempat yang sudah ditentukan Yudis. Tanpa sepengetahuan bunda dia pergi meninggalkan bunda yang tertidur kelelahan karena seharian bunda kambuh darah tingginya.
****
Arabella sudah sampai di sebuah cafe yang ditentukan Mas Yudis. Langkahnya langsung mengarah ke lantai dua di mana Mas Yudis katanya sudah berada di sana.
Arabella melihat situasi kafe ini kosong tanpa pengunjung. Dia kira dirinya salah tempat. Namun Arabella melihat sosok laki-laki itu melambaikan tangannya dan memberi kode agar dia segera menuju ke tempat nya dia duduk.
Ternyata dia tidak sendiri. Ada seorang laki laki juga seusianya berpakaian jas yang formal lengkap membawa sebuah tablet berukuran 10 inch. Mereka berdua pun langsung menyapanya.
Dia menundukkan kepala dan mencoba setenang mungkin di hadapan mereka. Karena dia tak mau gegabah bersikap. Jadi dia akan mencoba memahami proses pembicaraan kontrak ini.
Laki-laki yang rapi ber jas itu pun kemudian menyodorkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas padaku.
Dan Arabella membaca judul kertas itu yang tertulis besar. "PERJANJIAN KONTRAK MENIKAH".
Arabella kaget dengan sodoran kertas itu. Karena sudah disiapkan sedemikian cepat dan detail.
"Baca itu!" Yudis meminta Arabella membacanya. Ya tentu saja Arabella akan membacanya.
[Perjanjian Kontrak Menikah]
[Yudistira Lee, nama ini kemudian di sebut dengan Pihak Ke Satu]
[Arabella, nama ini kemudian disebut dengan Pihak Ke Dua]
[Pihak Ke Dua akan mendapatkan nilai kontrak sebesar 5 Miliyar Rupiah dari Pihak ke Satu]
[Pihak Ke Dua harus mentaati semua poin poin yang ada di Kontrak ini]
[Jika Pihak Ke Dua Melanggar poin poin tersebut maka Pihak Ke Satu berhak untuk meminta kembali nilai kontrak sejumlah nilai yang terkontrak]
[Kontrak nikah akan berlangsung selama satu tahun].
Adapun poin poin yang harus ditaati oleh Pihak Ke Dua antara lain :
[Tidak ikut campur dalam urusan pribadi pihak ke Satu]
[Pihak Ke Satu harus berpura-pura menjadi seorang istri yang baik di depan kakek pihak ke Satu]
[Dilarang untuk jatuh cinta pada Pihak ke Satu]
[Jangan membocorkan isi kontrak ke pihak ke tiga atau orang lain]
[Jika Pihak ke Dua melanggar poin poin tersebut]
[Maka perjannjian kontrak batal dan Pihak ke Dua harus membayar segala resiko yang ditimbulkan oleh Pihak ke Dua termasuk harus mau diceraikan]
Arabella merasa perjanjian itu terasa berat sebelah.
"Maaf Mas, di sini tidak tercantum konsekuensi jika pihak ke satu yang melanggar." Protes Arabella langsung membuat Mas Yudis tersenyum terkekeh.
"Aku rasa itu tidak perlu, karena kalau aku yang melanggar itu tidak akan berpengaruh juga buat mu." Jawabannya sungguh membuat Arabella ingin menarik dasinya itu lalu mencelupkannya ke mangkok soto yang di hadapannya lalu mengelapnya ke wajahnya.
"Maksud Mas gimana, kok aku disini jadi seperti jadi pihak yang seolah-olah aku satu satunya kalau aku melanggar itu menyebabkan kerugian."
"Padahal coba Mas Yudis pikir, kalau sampai aku yang melanggar bukan Mas saja yang rugi. Aku juga rugi Mas. Dengan usia ku yang masih muda aku akan jadi janda muda. Mas tidak tahu seberapa menyedihkannya omongan orang sama janda. Dan oh iya, disitu tertulis juga pihak ke dua jangan jatuh cinta dengan pihak ke satu. Maaf Mas itu juga terlalu tidak masuk akal. Harus ditambah kalimatnya kedua belah pihak jangan sampai jatuh cinta."
"Ppfffft."
Terdengar oleh Arabella Mas Yudis malah menertawakannya.
"Maaf kalau urusan itu aku yakin aku tidak akan jatuh cinta sama kamu, aku sudah punya kekasih."
Merah telinga Arabella saat dia menyebutkan punya kekasih. Memang b******k orang itu. Dia hanya memikirkan keuntungan dan diri sendiri. Kenapa kalau dia punya kekasih harus bersikap manis di depan bunda dan dia waktu kemarin.
"Kamu jangan merasa tidak adil, karena hubungan kita adalah hubungan bisnis, simbiosis mutualisme, aku butuh kamu untuk menuruti keinginan kakek. Dan kamu butuh uang".
Senyum seringai jahatnya itu sungguh menganggu. Andai saja Arabella tidak kepepet seperti ini. Tak sudi aku harus berurusan dengan manusia berjubah malaikat namun berhati iblis.
"Baiklah, aku setuju, tapi aku ingin menegaskan juga, aku masih kuliah dan aku minta ditambahkan poin di surat perjanjian ini kalau Pihak ke Satu tidak boleh melarang Pihak ke Dua untuk kuliah sampai lulus," ucap Arabella.
“Baiklah, itu tidak masalah. Theo kau urus itu!” perintah Yudis pada laki-laki yang sedari tadi hanya duduk kaku mengawasi mereka berdua.
Pada akhirnya pun Arabella harus menyetujui di saat dia tidak punya pilihan lain. Dan mereka pun memintanya untuk segera menandatangani perjanjian itu di atas materai setelah poin yang ditambahkan Arabella dimasukkan.
Arabella pun memantapkan hatinya kalau ini adalah demi hidupnya yang lebih baik. Lalu kemudian dia tandatangani perjanjian itu disaksikan oleh kedua orang itu.
Dan sesuai janji Mas Yudis, Arabella langsung diberi dua lembar cek masing-masing bernilai 1 Miliyar. Sisanya sesuai perjanjian akan diberikan bertahap. Setelah menikah dan saat bercerai.
Arabella pun menerawang cek itu. Apakah harga diri dan kebebasan hidup mudanya sudah terjual oleh dua lembar cek ini.