Romeo : Ada yang retak tapi bukan gelas

1097 Words
“Apa! Apa gue nggak salah denger Ra?” Romeo begitu terkejut ketika mendengar kabar Arabella akan segera menikah. Ceeess. Ada bunyi retak di dasar hati Romeo. Ara menyeruput es jeruknya dengan santai berbalik dengan reaksi Romeo saat ini yang terlihat shock. “Ra, apa loe yakin mau married, loe masih muda lho. Apa loe siap jadi ibu muda, terus hamil dan …” “BBbrhh.” Ara menyemburkan es jeruknya yang separuh sudah ia telan. Hamil, dia belum memikirkan itu. Dan komentar Romeo yang menyinggung masalah hamil segala membuat Arabella menjadi teringat kalau yang namanya menikah memang harus siap melayani suami di ranjang, lalu mengandung anaknya, melahirkan dan segala macam. Tapi, rasanya itu tidak mungkin kalau pernikahannya dengan Mas Yudis hanyalah sebuah kontrak belaka. “Ra, kenapa loe enggak jawab, loe dipaksa kawin ya sama Bunda?” tanya Romeo yang penasaran. Ara diam untuk sesaat. Dia tidak  mungkin mengatakan kalau dia menikah hanya untuk melunasi hutang ayahnya dan menerima perjanjian kontrak menikah dengan Mas Yudis.  Kalau dia ceritakan itu pada Romeo, dia hanya akan membuat sahabatnya itu menjadi tambah khawatir. “Tuh bener kan, loe dipaksa sama Bunda untuk menikah,” sahut Romeo menyimpulkan sendiri karena Ara tak kunjung menjawab pertanyaannya. “B-bukan begitu Rom, sebenarnya ini memang murni mau gue. Gue pikir dengan menikah, gue bisa sedikit mengurangi beban Bunda. Kalau gue menikah. Kan otomatis gue jadi tanggung jawab suami gue. Biaya kuliah kita kan enggak murah Rom. Bunda gue Cuma punya salon kecil yang enggak mungkin bisa menopang biaya kuliah gue dan juga biaya hidup gue. Jadi, ya aku menerima lamaran laki-laki itu.” Romeo terhenyak mendengar penjelasan dari Arabella. Ada sedikit gurat kekecewaan di wajahnya. Namun Romeo hanya bisa mendukung keputusan Ara tersebut. Padahal, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, Romeo menangis. Dia tidak rela kalau Ara menikah. Lebih tepatnya, Romeo tidak mau Ara menjadi milik laki-laki lain. Ya, Romeo sebenarnya mencintai Arabella sejak dulu. Persahabatannya dengan Ara hanya topeng. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada Arabella begitu dia pernah mendengar kalau Ara tidak mau pacaran sebelum lulus kuliah. Jadi dia menunggu dan menahan perasaan cintanya untuk Ara. Tapi sekarang, Ara justru akan menikah. Dan itu membuat hatinya sekarang seakan berlubang. “Jadi siapa laki-laki yang akan menjadi calon suamimu itu?” tanya Romeo dengan suara yang berat. Dia berusaha menutup rasa cemburu dan kecewa di depan Arabella. “Loe inget enggak laki-laki yang pernah nyamperin gue di kampus?” tanya Ara mendekatkan wajahnya sedekat mungkin pada Romeo. Sebenarnya Ara tidak ingin rencana pernikahannya diketahui oleh siapa pun di kampus. Hanya pada Romeo lah dia menceritakannya. Romeo merasa penasaran, kenapa Arabella menanyakan ingatannya tentang laki-laki yang datang ke kampus untuk menagih hutang ayahnya. “Ingat, tentu saja, kenapa? Jangan bilang kalau dia yang akan menjadi calon suamimu?” tanya Romeo mulai curiga. Karena sejak kejadian itu,  tiba-tiba saja Ara mau menikah. Arabella kemudian menjauhkan lagi wajahnya. Melihat gelagat Ara yang sedemikian rupa.Romeo pun menarik napas panjang. Dan dia seketika menjadi paham. Kalau pernikahan Ara hanya untuk melunasi hutang ayahnya. Mirip cerita Siti Nurbaya.  “Ra, dia kan …. Jadi loe terpaksa menikah dengannya untuk melunasi hutang almarhum ayah loe?” Romeo pun bertanya dengan suara yang sengaja dipelankan. Arabella kemudian menatap wajah Romeo yang kini tengah serius menatapnya. Menanti jawaban atas pertanyaannya. Ara menelan salivanya karena dia belum siap untuk berterus terang pada Romeo. Namun, sepertinya sahabatnya itu tidak akan berhenti mencari tahu dan bertanya padanya. “Rom, anggap saja begitu. Toh ini demi kebaikan gue dan juga Bunda.” Braaak.   Romeo menggebrak meja karena saking marahnya. Dan itu membuat Arabella dan orang-orang di kantin kampus itu langsung menoleh ke arah Romeo. “Gue enggak setuju. “ Romeo kemudian meninggalkan Arabella yang bengong karena sikap Romeo yang tiba-tiba marah seperti itu. Romeo kemudian pergi meningggalkan kantin. Hatinya hancur dan sekaligus marah.  Hanya demi melunasi hutang ayahnya. Arabella sampai begitu nekat untuk menikah muda. Romeo tidak bisa menerima itu semua. ‘Kenapa dia tiba-tiba marah, kok dia bilang enggak setuju. Apa dia saudara gue atau seorang ayah yang tidak menyetujui kalau gue menikah?’ pikir Arabella. Sepeninggal Romeo dari kantin. Arabella sedikit termenung memikirkan sikap Romeo tadi. Sebenarnya bukan dia tidak peka dengan perasaannya sahabat itu. Dia hanya terlalu nyaman dengan zona sahabat. Romeo itu cocok menjadi sahabatnya. Arabella sebenarnya mencoba pura-pura tidak peka dan tidak perlu memikirkan perasaan Romeo selama ini padanya. Dia tidak ingin kehilangan Romeo. Selama Romeo tidak mengungkapkan perasaan cinta padanya, selama itu dia akan terus menganggap Romeo adalah sahabatnya. Beeep Beeep Suara notifikasi chat masuk ke dalam ponselnya. Arabella kemudian meraih ponselnya yang dia letakkan di meja. Sebuah chat dari Mas Yudis. [Jam berapa pulang dari kampus?] Arabella membaca chat itu, tapi kemudian dia segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Dia enggan untuk membalas chat itu. Arabella lebih memilih menghabiskan es jeruknya lalu meninggalkan kantin untuk mencari Romeo. Sudah diputuskan oleh Ara. Kalau Ara akan menjelaskan alasannya. Dan Romeo harus menerima apa pun keputusannya. Dia tidak ingin kehilangan sahabat terbaiknya itu. *** Ara menemukan Romeo sedang berada di sebuah atap salah satu gedung kampus. Tempat itu biasa dipakai untuk anak jurusan Seni untuk sekedar mengerjakan tugas kuliah, atau untuk mengobrol saling tukar ide pikira di sana. Cukup luas dan nyaman, karena pihak kampus sengaja menjadikan atap itu seperti taman di atap  gedung. Romeo sedang menyandarkan tubuhnya duduk di atas kursi kayu panjang menghadap ke arah gedung utama kampus itu. Gedung kantor para dosen dan Rektor kampusnya. “Dicari-cari ternyata loe ada di sini!” Arabella kemudian menghempaskan tubuhnya duduk di samping Romeo. Romeo menarik napas berat begitu Arabella duduk di sampingnya. “Kenapa loe pergi ninggalin gue tadi di kantin?” tanya Arabella pura-pura tidak paham dengan apa yang dirasakan oleh Romeo. “Gue sebel dengernya. Loe mau nikah. Dan itu artinya loe akan ninggalin gue. Kita akan susah sekali jalan bareng lagi dan bersama.” Arabella kemudian tersenyum mendengar jawaban Romeo. “Jadi itu yang eloe khawatirkan. Bukan masalah nanti gue akan menjadi seperti apa kalau sudah menjadi istri orang?” tanya Arabella. “Waktu loe nanti akan banyak sama suami loe. Loe tau sendiri, gue cuma punya temen deket loe doang. Gue bakal kesepian.” “Loe tenang saja, enggak akan ada yang berubah kok. Gue masih bisa temanan dan jalan sama loe. Gue juga masih harus lanjutin kuliah gue sampai lulus. Jadi kita masih bisa kayak gini terus,” jawab Ara sambil menepuk pundak Romeo pelan. Romeo mencoba tersenyum meskipun pahit. Bukan karena itu masalahnya. Akan tetapi, dia tidak rela melepaskan wanita yang dia cintai jatuh ke pelukan orang lain.  Dia merasakan hatinya retak kalau Arabella akan menyandang sebagai istri orang. Ara tidak mau mengatakan masalah perjanjian kontrak itu pada Romeo. Dia merasa kalau dia mengatakan itu padanya. Takutnya, Romeo akan bertambah khawatir dan cemas dengan segala konsekuensi yang harus Arabella hadapi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD