Menjelang Pernikahan

1391 Words
Setelah menerima jawaban kesediaan Arabella untuk menikah dengan Yudis. Kakek Damian pun akhirnya menemui bunda Arabella secara resmi untuk melamar Arabella untuk Yudis. Tak ada ceremonial apa pun itu dalam prosesi lamaran. Karena Arabella dengan bundanya tak punya kerabat dekat. Jadi untuk lamaran Arabella, dia hanya meminta Romeo sebagai pihak keluarga Ara. Awalnya memang Romeo menolak, tapi ketika bunda Arabella memintanya langsung. Romeo pun akhirnya menyetujui. Untuk kedua kalinya Romeo dan Yudis akhirya bertemu. Romeo menatap wajah Yudis yang terlihat tidak begitu antusias dengan lamaran ini. Dia melihat wajah Yudis seperti terpaksa. Dan itu pun sama dengan wajah Arabella. Romeo menatap kedua calon pengantin dengan pikiran bertanya-tanya. Dan Romeo pun akhirnya paham dan sadar.Kalau sebenarnya rencana pernikahan ini adalah kehendak dari Kakek Damian. Dan dalam hati Romeo hanya bisa bersyukur dalam hati kalau setidaknya mereka menikah, tidak ada kata saling mencintai. Selama Ara dan Yudis tidak saling mencintai, itu tidak akan menjadi masalah bagi Romeo. Masih ada kesempatan untuknya mencuri kembali Arabella. Romeo sadar, kalau ada sesuatu yang disembunyikan Arabella. Tapi Romeo tidak mau menanyakan itu langsung padanya. Biarlah nanti akan terungkap sendiri apa yang sebenarnya Arabella sembunyikan darinya. Acara lamaran itu pun sekaligus untuk menetapkan tanggal pernikahan. Pihak keluarga Yudis ingin melangsungkan pernikahan Yudis dan Arabella dalam waktu dekat. Dan Nayya , bunda Ara pun terlihat tidak keberatan dengan permintaan mereka. “Kakek, aku tidak keberatan jika harus menikah cepat-cepat, tapi bisakah hanya akad nikah saja?” tanya Arabella. Damian mengerutkan kening mendengar permintaan Arabella seperti itu. Yudis hanya menyeringai sinis meresponnya. “Kenapa hanya akad nikah? Biasanya orang yang akan menikah itu ingin pesta pernikahan meriah dan mewah?” tanya Damian menanyakan alasan Arabella. “Aku tidak mau nanti di kampus jadi bahan gosip. Apa Mas Yudis keberatan dengan permintaanku ini?” tanya Ara pada Yudis yang sedari tadi hanya diam tidak bersuara. “Tidak masalah, kalau kamu hanya ingin akad nikah saja. Tapi mungkin Kakek yang kecewa, bukankah begitu?” tanya Yudis melirik kakeknya yang memang memimpikan membuat pesta pernikahan meriah untuk cucu satu-satunya. “Hmmm, kalau itu memang keinginan Ara, itu tidak masalah buat Kakek, yang penting kalian berdua menikah.” Romeo melihat gelagat yang aneh, Yudis terlihat bukan seperti orang yang ingin menikah. Bukankah seharusnya keduanya,atau minimal salah satu dari mereka akan terlihat antusias dan bersemangat untuk menikah. “Kalau begitu, pernikahan ini bagaimana kalau dilangsungkan minggu depan saja?” seru Kakek Damian membuat semua orang terkejut. Yudis dan Arabella khususnya. “I-itu---“ Arabella tidak bisa berkata apa-apa. “Ok!” jawab Yudis. Arabella menghela napas panjang. Sepertinya Yudis ingin segera ini cepat berakhir. Begitu nanti mereka menikah. Yudis akan cepat mendapatkan apa yang dia inginkan dari kakeknya. Dan setelah itu, dia akan menceraikan Arabella secepatnya. ‘Mungkin ini yang terbaik. Lebih cepat lebih baik. Cepat menikah tentu akan mempercepat waktu untuk melepaskan diri dari kontrak itu,’ pikir Arabella. Sementara Romeo dari tadi sedang memperhatikan raut wajah dan gelagat Arabella. Dia sepertinya menangkap sesuatu yang ganjil dari Arabella. Romeo melihat kalau Arabella sepertinya sangat tertekan.   *** *** Dan akhirnya hari itu telah tiba. Arabella akan menikah dengan Yudis. Akad nikah akan dilangsungkan di kediaman Kakek Damian. Arabella dan bundanya pada malam harinya dijemput oleh Theo. “Bangte, kenapa kamu yang menjemput kami?” tanya Arabella. “Memangnya kamu berharap Pak Yudis yang akan menjemputmu?” tanya Theo. Tentunya percakapan  mereka tidak bisa didengar oleh bundanya. Mereka tidak ingin kalau bunda Nayya sampai tahu kalau pernikahan putrinya hanya pernikahan kontrak. Sebenarnya Arabella juga tidak mengharapkan Yudis yang menjemputnya. Hanya saja dia tidak ingin bundanya nanti sampai curiga. “Ara, siapa dia?” tanya Bunda saat Theo mempersilakan bunda masuk ke dalam mobil jemputan. “Dia Bang Theo Bun, asisten dan sekretaris pribadi Mas Yudis,” jawab Arabella. “Oh,”sahut Bunda. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Theo pun segera menjalankan mobilnya menuju kediaman keluarga Damian. Di dalam mobil Arabella mencoba mengirimkan chat  untuk Romeo. Sejak kemarin Arabella tidak bisa menghubungi Romeo. Walau bagaimana pun Romeo adalah salah satu orang penting. Ara ingin Romeo menghadiri akad nikahnya sebagai sahabat dekat. [Rom, ada di mana loe? Kok susah dihubungi?] Arabella berharap kali ini chatnya akan dibalas Romeo. Sekali lagi Arabella menatap layar ponselnya. Dia melihat kalau chat-nya sudah dibaca. Namun Romeo tidak membalas. Arabella kemudian mengetik lagi pesan chat untuknya. Namun sebelum dia menulis ada chat masuk dan refleks Ara langsung membukanya. Dan itu dari Mas Yudis. [Apa Theo sudah datang menjemputmu?] Ara kemudian mengabaikan chat dari Yudis. Dia mengetik pesan untuk Romeo lagi. [Rom, gue tahu loe kesel sama gue. Tapi please jangan bikin gue nggak enak hati!!!!] Arabella kemudian mengalihkan pandangannya ke depan jalan. Sedikit melirik Theo di sampingnya yang sedang menyetir dengan serius tanpa sedikit pun bicara. Beeep. Ada notifikasi chat  masuk. Arabella langsung memeriksa ponselnya. Berharap itu adalah balasan chat  dari Romeo. [Siapa Rom, eh kamu udah punya pacar? Besok kita menikah! Kamu yakin ini bukan salah kirim?] “Astaga!” pekik Arabella yang baru sadar kalau chat  nya untuk Romeo malah terkirim ke Yudis. “Ada apa?” tanya Theo yang terkejut mendengar teriakan Arabella. “Oh, ah eng- enggak ada apa-apa,” jawab Arabella berbohong. ‘Waduh, gimana ini? Mas Yudis pasti salah sangka kalau aku sudah punya pacar,’ batin Arabella. Beeep. Terdengar suara notifikasi chat masuk lagi. Dengan tangan bergetar Arabella kemudian memeriksa ponselnya kembali. [Kalau kau sudah punya pacar. Jadi aku tidak usah khawatir berlebihan. Baguslah! Jadi yang kau maksud itu Romeo, orang yang sering ngikutin kamu kemana-mana?] Arabella langsung membalas chat dari Yudis.   [Romeo itu adalah sobatku. Dan kami tidak pacaran. Apa maksud Mas Yudis tidak khawatir berlebihan?] Tak lama kemudian, datang kembali balasan chat  dari Yudis. [Tidak ada sobat antara cewek dan cowok. Entah siapa dari kalian yang suka. Yang jelas aku tidak percaya persahabatan antara cowok dan cewek.!!!] Arabella kesal membaca balasan chat darinya. Karena selama ini persahabatannya dengan Romeo bukan seperti apa yang dipikirkan Yudis. [Kalau kalian pacaran. Aku tidak usah khawatir kalau nanti kamu akan suka sama aku]   Arabella mendengus kesal membaca chat selanjutnya dari Yudis. “Siapa yang akan suka sama dia?” dengus Arabella kesal dan terdengar oleh Theo dan Bunda Nayya. “Ara, kamu ngomong apa?” tanya Bunda keheranan. “Ah, enggak Bun, Ara Cuma lagi baca artikel artis yang nyebelin,” jawab Arabella memberikan alasan. “Oh!” Arabella kemudian mencoba untuk menenangkan diri dan melemaskan syarafnya yang tegang karena membaca pesan dari Yudis yang membuatnya kesal. Arabella tidak ingin membuat bundanya menjadi curiga. Kemudian sambil mengatur napasnya agar kembali tenang. Arabella kemudian mengetik balasan untuk Yudis. [Mas Yudis enggak usah khawatir, aku tidak bakalan suka sama orang macam Mas Yudis. Kalau aku sampai suka, iris saja kupingku!!!!]   Arabella kemudian menghembuskan napasnya dengan teratur setelah dia mengirimkan balasan yang telak bagi Yudis yang tengil itu. Mana mungkin dia suka dengan laki-laki yang menyebalkan seperti dia. Entah terbuat dari apa rasa percaya dirinya itu sampai mengira dirinya bakalan suka sama dia. “Kita sudah sampai!” Theo kemudian menghentikan mobilnya persis di depan sebuah rumah besar yang mewah. “Nona Ara, ini adalah kediaman Tuan Damian. Silakan masuk!” Theo pun mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah. Bunda Nayya dan Arabella nampak takjub melihat kemegahan dan kemewahan rumah Kakek Damian. “Ara, kau akan menjadi menantu keluarga kaya. Bunda merasa kalau kau memang ditakdirkan menjadi Nyonya besar dari keluarga kaya!” bisik bunda di telinga Ara. Dan Ara hanya bergidik ngeri mendengar ucapan bundanya. Bunda tidak tahu, kalau sebenarnya Ara akan masuk perangkap singa. Dan Ara butuh waktu setahun atau dua tahun untuk lepas dari perangkap itu. “Ara kau sudah datang!” Kakek Damian datang menyambut mereka. “Iya Kek, padahal seharusnya kami datang besok saja pas acara,” jawab Arabella. “Sengaja aku menyuruh Theo untuk menjemput kalian malam ini. Karena Kakek sudah ingin ketemu dengan calon menantu dan besan.” Arabella hanya tersenyum kecut. Kemudian dia melihat Theo sedang berdiri di sampingnya sambil memegang ponselnya. Sepertinya dia sedang mengirimkan pesan laporan pada Yudis kalau dia sudah menjalankan tugasnya. “Ayo, Kakek antarkan ke kamar kalian untuk istirahat!” “Tuan, kok Yudis tidak terlihat?” tanya Bunda Nayya membuat Arabella menjadi kikuk. “Oh, Yudis tidak tinggal di sini. Dia ada di apartemennya sendiri. Ckkk, anak itu meman tidak mau tinggal dengan kakeknya sendiri. Dia lebih memilih tinggal di apartemen.” “Oh begitu rupanya. Jadi, nanti setelah mereka menikah. Mereka akan tinggal di mana?” tanya Bunda penasaran. “Aku harap mereka akan tinggal di sini. Tapi itu terserah Yudis. Hehe.” Bunda kemudian manggut-manggut. Sementara Arabella hanya berharap kalau setelah menikah, dia akan tetap tinggal bersama bundanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD