Sementara itu, di ruangan rektorat—para dosen juga Brian—sang rektor sedang berdebat, karena kasus ini semakin kacau. Brian duduk di kursinya dengan meremas rambut. Bernapas berat. Mendesah berulang.
"Keadaannya semakin kacau. Lalu, apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.
Sebelumnya, Brian sudah memanggil teman dekat Tara— untuk meminta penjelasan kronologi sebelum dia terbunuh. Tak butuh waktu lama, untuk Axel—yang dikenal sebagai kaki kanan Tara, masuk ke dalam ruangan.
"Anda memanggil saya?"
Brian mengangguk. Tanpa basa-basi, ia langsung melontarkan pertanyaan.
"Apa.. Tara mempunyai musuh? Atau.. Dia sedang ada masalah dengan seseorang?"
Axel mengerutkan kening, berpikir. "Selama menjadi temannya, saya tidak pernah melihat ia berdebat atau bertengkar dengan mahasiswa lain. Dia, cukup baik. Dan, tidak pernah membuat masalah."
"Lalu, apa kau tahu mengapa dia pergi ke ruang kosong itu?"
"Mmm.. Sebelumnya, Tara mendapatkan pesan dari seseorang. Kemudian dia pergi ke tempat itu."
**
Beberapa Jam Sebelum Tara Terbunuh
Tara dan Axel berada di kantin saat ini. Mereka selalu berangkat ke kampus bersama. Mengendarai motor Axel. Rutinitas paginya adalah sarapan mi instan dan segelas kopi di kantin.
Karena, mereka tak pernah sarapan di rumah.
Semangkuk mi rebus dengan telur mata sapi untuk Tara sudah tersaji. Pun, mi goreng dengan potongan cabe dan telur puyuh kecap milik Axel.
Saat, Tara masih meniup-niup mi yang di angkatnya dengan garpu—ponselnya berdenting. Ia kembali meletakkan garpu. Dan, mengambil ponsel yang sebelumnya tergeletak di samping mangkuk.
“Datanglah ke ruang kosong, tempatmu mengkhianati ku dulu. Aku menunggu.”
“Siapa?” tanya Axel. “Cecilia sudah mencari mu sepagi ini?”
“Bukan. Senna yang mengirim pesan.”
“Senna? Mantan kekasihmu dulu?”
“Ya.”
“Untuk apa dia menghubungimu lagi?”
“Entahlah. Dia mengajakku bertemu.”
“Hah? Dia mengajakmu bertemu? Hei.. Dia masih suka padamu rupanya.”
“Aku rasa tidak. Aku pergi dulu, ya.”
“Kau, tak habiskan sarapan mu dulu?”
“Nanti saja.”
Tara berjalan pergi. Meninggalkan ponselnya. Di saat yang sama Cecilia datang. Menghampiri Axel.
“Mau ke mana Tara?”
“Oh, Hai.. Selamat pagi,” sapa Axel dengan gugup.
“Jawab.. Di mau ke mana?”
“Mmmm... Itu...”
“AXEL!"
“Dia akan bertemu Senna.”
Cecilia mengernyitkan kening. Bernapas cepat kemudian. “Awas saja, kau!” gumamnya. Lalu, berlari pergi. Menyusul Tara.
**
"Tapi, kenapa Cecilia ada di sana?"
"Itu—karena Cecilia menaruh curiga pada Tara— sehingga ia mengikuti Tara."
"Jadi, Tara dan Cecilia berpacaran?"
Axel mengangguk. Kemudian merogoh kantong. Mengeluarkan ponsel. Dan, memberikannya kepada Brian.
"Itu adalah ponsel Tara, ia meninggalkannya, ketika pergi ke ruang kosong."
Brian segera memeriksa pesan. Panggilan keluar. Juga panggilan masuk. Untuk mengetahui siapa yang memanggil dia untuk pergi ke ruang kosong. Membaca satu pesan yang mampu membuatnya mendesah singkat. Dia meletakkan ponsel, kemudian berbicara kepada dosen yang berdiri di samping Axel.
"Panggil mahasiswa yang bernama Senna kemari!"
**
Senna berada di ruang rektorat, saat ini. Beberapa dosen juga berada di sana. Tampak wajah mereka menjadi tegang. Sementara Senna berdiri. Ingin tahu, apa mereka juga percaya, jika dirinya yang mengirim pesan pada mendiang Tara. Sedikit banyak Senna gugup.
"Senna Rosemary, apakah benar sekitar pukul 07.30 pagi ini, kau mengirim pesan kepada Tara Putra?"
"Tidak," jawabnya santai.
"Jadi.. sedang apa dan di mana kau?"
"Saya sedang di dalam kelas.
"082233xxx.. apakah itu nomormu?"
"Iya, itu benar— sebenarnya apa yang terjadi?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Senna, justru Brian mengambil sebuah ponsel dari laci yang berwarna perak dan terdapat stiker S di belakangnya.
"Ponsel Tara. Jadi.. mereka percaya rumor itu?” kata Senna dalam hati.
Setelahnya, Brian memberikan ponsel pada Senna. "Baca ini."
“Datanglah ke ruang kosong, tempatmu mengkhianati ku dulu. Aku menunggu,” katanya, dengan nada pelan.
Senna terkejut. Berakhir sangat gugup. Membaca isi pesan itu. Jadi, itu bukan hanya rumor yang mereka buat. Itu benar-benar nomor Senna. Napasnya menjadi berat, punggungnya menegang, rasa gugup terus menyerang dengan ganas.
"I-ini bukan saya yang mengirim pesan! Saya bersumpah!"
"Kau Senna Rosemary, kan? Dan itu nomor mu?"
"Iya, itu saya— tapi saya bersumpah, saya tidak mengirim pesan ini."
"Senna, karena ini, kau di skors selama 30 hari!"
Senna diam. Bola matanya membeku.
“Kau, benar-benar percaya jika aku yang melakukannya?”
“Nona Senna! Bicara yang sopan!” sahut, salah satu dosen laki-laki.
“Untuk apa aku sopan pada kalian yang menuduh orang tanpa bukti.”
“Bukti? Kau, ingin bukti apalagi? Pesan itu tidak cukup untukmu?” kata Brian.
“Bukan aku yang mengirim pesan itu.”
“Lalu, apa ponselmu mengetik sendiri? Dan, mengirimnya pada Tara? Begitu?”
Senna mendesah singkat. “Kalau begitu, laporkan aku.”
“Apa?”
“Laporkan aku pada polisi. Jika, kau memang yakin aku pembunuhnya.”
Brian diam.
“Kenapa? Kau, takut? Jika, bukan aku pembunuhnya?”
Brian membuang muka.
“Apa, suspensi 30 hari akan setimpal untuk hukuman pembunuh sepertiku? Bagaimana, nanti kalau aku kembali masuk dan membunuh yang lain?”
“Jadi, kau mengakui jika membunuh Tara?”
“Untuk apa aku membunuhnya?”
“Bisa saja kau cemburu dengannya. Bukannya, kau pernah berkencan dengan Tara?”
Senna mendengus. “Itu satu tahun yang lalu! Lantas, kenapa aku baru membunuhnya sekarang? Logika macam apa itu?!”
“Sakit hati itu susah sembuhnya. Bisa jadi, kau sekarang masih sangat membencinya.”
“Kau, seorang dukun? Kau, bisa tahu isi hatiku?”
“Nona Senna.. Aku sudah tak ingin berdebat denganmu. Lebih baik, kau keluar dari ruangan ku sekarang. Masih untung kau tidak DO.”
“Lebih baik, aku di keluarkan sekalian!”
Alasan Brian tak mengeluarkan Senna dari kampus adalah ketakutannya akan kasus ini terungkap media. Dia takut, orang tua Senna tidak terima dan mengurus permasalahan ini hingga tuntas.
Senna keluar dari ruangan dengan langkah penuh kemuakan. Hatinya penuh dengan rutukan kebencian kepada Brian. Bagaimana, orang tidak kompeten seperti itu menjadi pemimpin.
Beberapa mahasiswa yang penasaran dengan masalah ini, terlihat berkumpul di beberapa titik. Mencibir Senna.
“HOI, JALANG!”
Pekik seorang gadis dari arah belakang Senna. Membawa seember air. Di siramkan pada Senna yang hanya bisa tertegun dengan menundukkan kepala. Ia mengusap wajahnya dengan cepat. Menatap marah gadis berambut blonde itu.
“Apa yang kau lakukan?!”
“Kau! Kau, pembunuh! Kenapa kau membunuh Cecilia?! HAH?!”
Senna mendengus. “Masalah itu lagi?”
“Apa? Mudah sekali kau mengatakan itu.”
“Lalu? Apa aku harus menangis? Itu yang kau inginkan?”
"Kau— iblis! Kenapa kau membunuhnya?! Kenapa?!" bentak gadis itu.
"Aku tak membunuh siapa pun!" geramnya di antara gigi yang di gemeretakkan.
Gadis itu pun mendengus kesal. "Kau— apa sejak ayahmu mati, ibumu mengajarkanmu untuk membunuh seseorang yang kau benci?"
Untuk pertama kalinya, Senna membuka tudung jaketnya. Melotot ke arah gadis itu. Mendekatinya.
"Tutup mulutmu! Kau boleh mengolok-olok ku. Tapi.. jangan pernah sekalipun kau berkata buruk tentang orang tuaku! Kau, paham? Jalang!”
"Hei.. kau!"
Saat sedang berdebat dengan gadis itu, tiba-tiba Billy yang entah sejak kapan ia memperhatikan, segera berlari ke arah Senna. Kemudian memeluknya erat. Di detik selanjutnya, guyuran air dari tong yang bercampur sampah tepat mengenai punggung Billy.
Senna bernapas cepat. Billy melepas pelukannya. Memutar tubuh Senna. Memperhatikan Senna dari atas sampai bawah.
"Senna.. kau, baik-baik saja?"
Yang hanya dijawab dengan anggukan pasrah dan tetap menundukkan kepala. Billy melepaskan tangannya, kemudian membalik badan.
"Kalian tak punya otak?! Kenapa kalian memperlakukan seseorang seperti ini?! Apa kalian yakin jika Senna pembunuhnya?!"
"Tapi, pesan itu sudah memberikan bukti yang sangat kuat!" jawab gadis yang berdebat dengan Senna.
"Bagaimana jika memang Senna yang mengirim pesan itu, tapi bukan Senna pembunuhnya? Kalian jangan menghakimi seseorang seperti ini!"
"Masih baik kita memperlakukan dia seperti ini. Daripada kita melaporkannya ke polisi?"
"Kau—tutup mulutmu, jika tidak kau yang akan aku laporkan pada polisi atas tindakanmu ini!" seru Billy sembari menunjuk gadis tersebut.
Billy segera menarik tangan Senna dan mengajaknya pergi dari kerumunan mahasiswa yang menghujatnya, setelah itu. Teriakan ledekan yang saling bersahutan pun menggema di koridor kampus.
**
Pukul 19.00 saat ini. Billy sedang melamun di depan mesin cuci, di rumahnya. Satu tangannya bertumpu pada mesin cuci. Mengingat kembali kejadian tadi siang yang menimpa Senna. Membuatnya mendesah berat.
**
Senna berada di kamar mandi kampus. Membersihkan wajah dari cipratan air sampah yang mereka siramkan tadi. Kemudian, berganti kemeja yang Billy pinjamkan padanya. Memandang wajahnya di cermin, setelah itu. Kristal lunaknya berlarian di pipi, tanpa permisi. Kejadian sangat buruk tiba-tiba saja menghampiri dirinya. Selama sepersekian menit, ia berdiri di antara kaki yang penuh dengan kegetiran.
Desahan berat terus dilakukannya, seraya berjalan keluar. Sementara Billy dengan sabar menunggu di luar, bersandar pada dinding.
"Terima kasih, aku akan mengembalikan bajumu nanti."
"Kau, baik-baik saja?"
Senna hanya menjawab dengan anggukan.
"Aku, yakin tidak. Aku, akan mengantarkan mu pulang."
Keduanya berjalan menuju tempat parkir dan segera menunggangi kuda besi milik Billy.
“Bisa kau mengebut?” kata Senna, dengan sedikit berteriak.
Dijawab anggukan oleh Billy.
“Pegangan yang erat!”
Senna memeluk perut Billy. Bahunya mulai berguncang. Menangis semampunya. Semakin terdengar berderum suara mesin dari motor Billy, semakin deras pula kristal lunaknya bercucuran. Senna sangat malu atas kejadian itu, mengapa mereka tidak bisa mempercayainya. Mengapa ia harus dihukum karena kesalahan yang tidak ia lakukan? Senna mungkin terlihat baik-baik saja di luar, tapi sebenarnya dia sangat terluka dan rapuh di dalam.
Untuk pertama kalinya lagi, ia menangis. Setidaknya, setelah kejadian kecelakaan bersama ayahnya waktu kecil.
**
"Tidak biasanya kau mencuci baju?" tanya ibu Billy yang sedang melintas.
Alih-alih menjawab pertanyaan ibunya, justru Billy memberikan lirikan datar seraya mengambil satu pakaian dari dalam mesin cuci, lalu menjemurnya.
Dia kembali ke kamar, setelah itu. Mengambil sebuah buku dari dalam laci. Di halaman pertama terlihat foto Senna tertempel. Yang berhasil membuatnya menyunggingkan senyum.
"Gadis yang malang, kau harus terkena imbasnya."
**
Satu Minggu Kemudian
Senna yang masih di skorsing dari kampus, hanya mampu mondar-mandir di depan kampus tiap ada jadwal kuliah. Dia tak ingin ibunya tahu. Jika, ia terkena suspensi karena di tuduh membunuh mantan kekasihnya itu. Gayanya tetap saja. Menyembunyikan wajahnya, di balik tudung jaket itu. Bersandar pads tembok di sebelah gerbang kampus. Menatap toko buku di seberang yang masih terpasang garis polisi. Dengan seseorang yang berjaket hitam berdiri di depannya. Merasa curiga, Senna segera menyeberang.
Begitu tiba di ujung yang lain, Senna melangkah perlahan. Mendekati toko buku. Seseorang itu segera berjalan pergi, setelah mengetahui Senna memperhatikannya.
Senna sengaja menabrakkan diri pada seseorang itu.
“Maaf,” kata seseorang itu, yang memiliki suara pria.
Senna segera menengok pada pria itu.
“Aroma ini... Almond pahit.”
Dia mengingat kata-kata Leo, jika bau dari sianida adalah seperti almond pahit. Dengan inisiatif sendiri, Senna membuntuti pria itu.
Hingga, lama-kelamaan pria itu menyadari—kalau Senna tengah mengekor padanya. Dan, ia sengaja belok ke gang sepi. Di mana, ia bisa menyapa Senna.
Senna yang memakan umpannya, kehilangan jejak si pria. Ia celingukan mencari targetnya.
“Kau, mencari ku?”
Senna membeku seketika. Mendengar suara si pria dari arah belakangnya. Jemari yang bersembunyi di saku jaket segera berkeringat dingin.
“Kenapa kau membuntuti ku?”
“Kau, kan orangnya?”
“Apa?”
“Kau yang membunuh paman toko buku itu.”
Si pria menyeringai. “Aku? Kenapa kau menuduhku?”
“Jaket itu.. Jaket yang kau pakai saat membunuhnya. Kau, tidak mencucinya.”
“Hei, gadis brengsek.. Jangan, bicara yang tidak-tidak. Cepat pergi, atau kau akan habis di tanganku.”
“Bau almond pahit.”
Pria itu terbelalak.
“Kau, tahu, kan? Bau dari apa itu?”
Si pria terkekeh ngeri. “Kau, cari mati rupanya.”
Si pria tiba-tiba menatap tangan Senna yang tersembunyi di balik jaket.
“Keluarkan tanganmu.”
Senna menggelak ludah gugup. “Tidak mau.”
“Apa yang kau sembunyikan di situ?”
“Tidak ada.”
“Cepat keluarkan!”
Senna memutar bola mata. Melihat sekitar. Sisi kanan-kirinya adalah tembok. Dan, di belakangnya juga tembok. Ia terpojok.
“Kau, tak mendengarkan ku? Cepat! KELUARKAN TANGANMU!”
Senna perlahan mengeluarkan tangannya. Ponsel yang menyala segera terlihat. Ia dengan cepat mengarahkan ponsel ke telinganya.
“Paman! Pembunuh itu kembali ke toko buku! Cepat cari aku!”
Senna mengatakan itu dengan cepat. Sejak terpojok tadi, Senna sudah menekan nomor CID yang sengaja ia simpan di nomor 1 untuk panggilan cepat. Si pria mendesis kesal. Meraih ponsel Senna. Dan, segera membantingnya.
“Itu ide yang buruk!” kata Senna.
“Lebih buruk lagi, jika setelah ini nyawamu melayang!”
Si pria mencekik Senna. Menyandarkan punggung Senna pada tembok dengan kasar. Urat tangan si pria terlihat menonjol. Yang berarti, ia mencekik Senna dengan sekuat tenaga. Wajah Senna memerah. Air matanya terbit seketika. Ia mencengkeram tangan si pria. Namun, justru itu yang membuat si pria semakin beringas.
“MATI KAU!”
Pekikan kesal pria itu terdengar bersamaan dengan sirene mobil polisi menyalak buas. Si pria kebingungan. Kini, ia dalam posisi terpojok.
Sementara CID dan tim-nya segera keluar dari mobil. Mengedarkan pandangan. Dengan membawa ponsel di tangan. Di mana layarnya menunjukkan titik koordinat Senna yang semakin dekat.
Jaraknya hanya 1 meter sekarang. CID menatap gang kecil di depannya. Ia melangkah maju perlahan. Memanggil tim-nya dengan gerakan tangan.
CID mengantongi ponsel, dan mengeluarkan pistol. Bergerak sangat hati-hati. Beberapa pejalan kaki yang melihat, di paksa mundur oleh petugas.
“Mundur!” kata si pria. Mendekap leher Senna dengan satu tangan. Sementara, tangan yang lain menggenggam pecahan botol yang di temukan-nya. Di arahkan pada leher Senna.
“Lepaskan gadis itu!” seru CID.
“Tidak! Kau, akan menangkap ku jika aku melepaskannya!”
“Tidak ada celah untuk kabur, kawan. Kau, sudah dikepung oleh polisi.”
CID mengacungkan senjatanya ke arah si pria.
“Kau, bisa menemukanku dengan cepat, eh? Hebat sekali.”
“Mmm.. Dia tak sehebat itu,” kata Senna.
“Kau mengatakan petugas itu bodoh?”
“Memang. Aku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Kau, pasti bisa lolos. Meski, aku tak menjadi tawanan mu. Detektif itu.. Tidak sekeren mereka yang di film.”
“Oh, ayolah, Senna! Apa ini saat yang tepat untuk mengolok-olok ku?”
“Yap!”
“Aaah.. Kalian sudah saling kenal? Apa kau juga detektif?! Kau, sengaja menjebak ku?”
“Aku hanya mahasiswi kampus seberang. Yang di suspensi karena di tuduh membunuh mantan kekasihku.”
Si pria terkejut dengan kata-kata Senna.
“Huh?”
“Ironi, bukan? Hanya karena yang mati mantan kekasihku, aku menjadi tersangkanya.”
“Tutup mulutmu! Kau, pikir aku akan takut?”
“Untuk apa aku menakuti mu?"
“HOI! Cepat lepaskan gadis itu! Maka, kami akan melepaskan mu.”
“Kau, pikir aku bodoh?! Kalian pasti akan menangkap ku! Kalau, kau ingin kekasihmu selamat—letakkan pistol mu.”
“Sekedar informasi saja. Dia, bukan kekasihku.”
“Jangan membodohi ku! Kau, dengan cepat datang kemari dan menemukannya. Apalagi, kalau tidak kau sengaja membuntutinya.”
“Aaah.. Soal itu? Bagaimana, kalau aku melacak keberadaannya? Kau, tahu, kan? Sekarang banyak sekali aplikasi pelacak. Tinggal unduh di ponsel. Dan, sambungkan dengan ponsel teman. Lalu, BOOM! Kau, bisa dengan mudah menemukannya.”
“Mustahil! Aku, sudah menghancurkan ponselnya!”
“Kau, pikir aku hanya memiliki 1 ponsel?” timpal Senna. “Bodoh!”
Si pria mulai kesal. Semakin mempererat dekapannya. Membuat Senna sedikit kesulitan bernapas.
“Hei, kau tahu bagaimana rasanya jika di gigit kucing?” tanya Senna.
“Kau tidak waras? Kau, menanyakan hal itu di situasi begini?”
“Kau, belum pernah di gigit oleh kucing liar?”
“Kenapa kau ingin menggigitku seperti kucing gila?”
“Tidak. Bukan aku.”
Si pria mengernyit bingung. Sementara Senna membuat siulan dengan dua jari yang dimasukkan mulut. Begitu siulan terdengar nyaring, seekor kucing berlari kencang dari arah samping CID. Melompat ke arah si pria yang terbelalak. Terkejut bukan main. Kucing berwarna hitam putih itu menggigit lengannya. Si pria menjerit kesakitan. Melangkah mundur. Senna lepas dari jeratannya. Dan, lari ke arah CID.
**
Si pria tersangka pembunuhan paman toko buku dan p*********n Senna itu berhasil di borgol. Bekas gigitan kucing liar terlihat membekas dan sedikit berdarah. Dia di giring ke kantor polisi saat ini.
CID masih tinggal di lokasi dengan Senna yang tengah menggendong kucing hitam putih itu.
“Namanya Max,” kata Senna.
“Kucing ini?”
“Ya.”
“Bagaimana bisa dia datang saat kau bersiul?”
“Kucing dan anjing itu sangat mudah di latih.”
“Kau, melatihnya?”
“Ya.”
“Bagaimana caranya?”
Senna meletakkan Max. Mengambil sekantung kecil makanan kucing dari tas ranselnya. Menyobek kantungnya. Dan, memberikan makanan pada Max yang langsung melahapnya.
“Seperti kau melatih manusia. Beri dia contoh. Dan, lakukan hal itu berulang. Jika kau memberinya nama. Panggil dia dengan nama itu setiap hari. Dan, dia akan tahu kalau itu adalah namanya. Hanya saja, kau harus memberi penghargaan setiap dia melakukan kerja yang bagus. Yah, seperti memberikan makanan ini. Juga, membelainya dengan kasih sayang.”
CID mendengus sembari menyunggingkan senyum. “Kau, benar-benar unik, Senna.”
Senna hanya diam. Jongkok di samping Max. Sambil membelai bulu halus Max.
“Kau, harus ikut aku ke kantor polisi Senna. Aku membutuhkanmu sebagai saksi.”
“Ya, aku tahu. Tunggu, sampai Max selesai makan.”