Kantor Polisi
“Heh? Aku, membunuh siapa?”
“Kau, membunuh pemilik toko buku itu! Karena itu, kau, kembali ke sana!”
“Haha! Ini benar-benar gila! Untuk apa aku membunuhnya?! Aku saja tidak mengenalnya!”
“Kau, jangan membohongiku! Jaket mu itu menjadi bukti kuat!”
“Tunggu sebentar. Hanya karena, aku memakai jaket ini—kalian menuduhku membunuh? Kalian gila?!”
CID menggebrak meja. “Beraninya kau membentak kami?!”
“Senna.. Apa benar baunya sama?” tanya CID.
Senna yang duduk di sebelah penjahat itu mengangguk.
“Nona! Kau, tidak salah? Kau, melihatku waktu membunuhnya?!”
Senna meliriknya. “Aroma di jaket mu itu.. Bau almond pahit.”
“Apa maksudmu?”
“Itu.. Aroma sianida.”
“Heh? Jadi, maksudmu.. Pemilik jaket ini benar-benar membunuh orang?”
“Apa yang kau katakan? Jadi, jaket itu bukan milikmu?”
“Ya. Ada seseorang yang memberikannya padaku. Dan, menyuruhku untuk berdiri di toko buku itu.”
“Kau, yakin?”
“Sungguh!”
“Lepaskan jaket mu,” pinta Senna.
“Heh?”
“Lepaskan jaket mu sekarang.”
“Haish, kau ini sungguh merepotkan ku.”
Si pria terduga itu melepas jaketnya.
“Paman.. Bawa menjauh jaket itu dariku,” pinta Senna pada CID.
Senna memajukan kepalanya. Mengendus pria itu.
“Bagaimana?” tanya CID.
“Bukan dia. Aku tidak mencium aromanya setelah dia melepas jaket.”
“Lihat! Memang, bukan aku!”
Di detik selanjutnya, El datang.
“Bukan dia, CID. Sidik jarinya tidak cocok dengan barang bukti.”
CID mendesah singkat.
“Lalu, kenapa kau tadi berusaha membunuh Senna?”
“Aku, tidak ingin membunuhnya. Tapi-“
“Dia tahanan kota. Dia di bebaskan bersyarat,” kata El.
“Apa kejahatannya?”
“Pemerkosaan.”
CID menatap geram pada pria itu, yang kini menunduk takut.
“Lanjutkan kata-katamu. Kenapa kau menyerang Senna?”
“Karena dia membuntuti ku. Aku, kira dia mengetahui kejahatan ku.”
“Apa maksudmu?”
Pria itu membeku. Mendesis kesal. Tahu betul, jika ia salah berucap.
“Aaah, kau baru saja memperkosa lagi, eh?”
Pria itu mendesah berat.
“Well, sekali b******n. Selamanya, akan menjadi b******n,” kata El.
**
Keesokan Hari
Alarm di kamar Senna menggema nyaring pagi ini. Cukup lama, hingga akhirnya tangan kanan Senna menyelinap keluar dari selimut. Lalu meraba-raba nakas di samping ranjang, mencari jam wekernya. Dia kembali tidur, setelah mematikan jam weker.
Beberapa detik kemudian, berganti ponselnya yang berdering. Dia segera meraih ponsel yang berada di bawah bantal dan menatap layarnya. Satu pesan masuk dari Leo.
"Selamat pagi, kawan."
"Pagi. Ada apa?"
"Masih tidur?"
"Ya."
"Kenapa, kau tak terlihat beberapa hari ini? Kau, sakit?”
“Kau, mengejekku atau apa?”
“Apa maksudmu?”
"Kau, tahu, kan? Ada dua orang mati minggu lalu."
“Lalu, apa hubungannya denganmu?”
“Dia adalah mantan kekasihku.”
“Apa?”
“Ya. Dan, mereka menuduhku yang melakukannya.”
“Gila sekali mereka! Siapa, yang melakukannya?”
“Tentu saja, Rektor.”
Setelahnya, Leo tak lagi membalas pesannya. Senna kembali memejamkan mata. Dan, berganti pekikan suara Grace terdengar di depan kamar.
"Senna! Senna!"
Senna menggeliat. Menendang udara kosong dengan kesal. Menyibakkan selimut.
“Astaga! Aku, hanya ingin tidur. Kenapa banyak sekali yang menggangguku!” gumamnya.
Dia turun dari ranjang. Membuka pintu.
“Ada apa?” tanya Senna, dengan malas.
"Ada seorang laki-laki mencari mu," kata Grace.
"Huh? Siapa?"
Grace hanya mengangkat bahu.
Setelah mengenakan kardigan, Senna bergegas turun untuk menemui laki-laki yang datang sepagi itu ke rumahnya. Sementara di teras rumah, seseorang yang tinggi, berkulit putih, memakai kemeja berwarna putih hitam dan bermotif garis-garis sedang bersandar di pilar. Membuat Senna memiringkan kepala serta memicingkan mata untuk mencari tahu siapa dia.
"Billy?" kata Senna, dengan nada sedikit terkejut.
Dia menoleh dan tersenyum ringan.
"Ada apa? Sepagi ini kau datang ke rumahku?"
"Mmm? A-aku ingin mengembalikan bajumu yang kotor kemarin," katanya, menyerahkan sebuah kantung kertas.
"Aaaah, kau bisa memberikannya di kampus. Tak peru repot datang kemari.”
"Bagaimana bisa kita bertemu di kampus? Sedangkan, masa skorsing mu masih 3 minggu lagi, kan?”
Senna hanya diam. Tanpa ia sadari, Grace mengintip mereka dari balik pintu. Bukan tak ada alasan, dia melakukan itu. Hanya merasa penasaran dengan pemuda yang datang mencari putrinya sepagi ini. Karena setelah Senna mengakhiri hubungannya dengan Tara, tak ada lagi laki-laki yang datang untuk menemuinya.
Alih-alih mengembangkan senyum, melihat sosok tampan Billy, justru ia terkejut karena mendengar,
"Skorsing?"
"Tapi— terima kasih kau sudah membawakannya untukku," kata Senna.
"Yap. Sama-sama. Bagaimana keadaanmu?"
"Aku? Aku baik-baik saja.. mengapa memang?"
"Tidak— kau kemarin terlihat sangat terpukul karena perbuatan mereka padamu."
"Ah, bukan masalah besar. Aku akan buktikan pada mereka jika bukan aku pembunuhnya," jelasnya, sembari tersenyum kecil.
Sebenarnya, Senna hanya berpura-pura baik-baik saja. Insiden kemarin membuatnya terjaga beberapa malam. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar seperti itu sebelumnya. Terlebih, di depan umum.
"Kau, tak ke kampus? Bukannya hari ini ada kelas pagi?" lanjut Senna.
Yang akhirnya membuat Billy menilik jam berwarna hitam yang melingkar di tangan kirinya.
"Astaga! Aku hampir telat! Senna.. aku pergi dulu, nanti aku akan menghubungimu!"
“O-oh, iya.”
Billy bergegas menuju motor besar berwarna silver nya, setelah mengatakan itu. Derum motornya pun terdengar dan perlahan menghilang. Dan tanpa sadar, Senna melambai samar saat melihat Billy keluar dari gerbang.
"Heh? Kenapa dia harus menghubungiku?”
Sementara di dalam rumah, Grace tampak sedang kesal, dengan duduk di sofa dan melipat tangannya di d**a. Sedang menunggu anak semata wayangnya, masuk ke dalam rumah. Bahkan kekesalannya melebihi ketika Senna pulang menjelang pagi, beberapa minggu kemarin. Grace memang tak pernah membuat peraturan di dalam rumah, yang di mana menetapkan jam malam untuk Senna. Pemikirannya cukup modern. Dan, cukup mempercayai Senna tak akan berbuat hal yang memalukan nama keluarga. Tapi, dia akan sangat ketat dalam soal pendidikan.
Sepersekian detik kemudian, Senna berjalan masuk. Segera dua mata beningnya menatap Senna.
Tatap matanya bagaikan elang yang siap menerkam mangsanya. Suasana pun berubah menjadi mencekam, meskipun cahaya mentari menyelusup masuk diantara celah-celah di berbagai sudut rumah. Dan berhasil membuat Senna merasa gugup secara tiba-tiba.
“B-bu? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Senna.
"Kau— apa benar di skorsing dari kampus? Kenapa? Kau melakukan apa sehingga kau bisa di suspensi begitu?!" tanya Grace yang lebih terdengar membentak.
Grace segera bangkit dari tempat duduknya, seusai mengatakan itu. Melangkah di antara kekesalan yang luar biasa. Jarinya mengepal, seakan siap akan menerbangkan pukulan pada Senna.
"B-bagaimana kau tahu? B-bu, tenang dulu. Biarkan aku jelaskan," tutur Senna, dengan melangkah mundur.
"Kau— benar-benar membuatku malu!" serunya di antara gigi yang di gemeretakkan.
Puncak amarahnya pun tak dapat terbendung lagi. Ia segera berlari ke arah Senna seraya berteriak. Tentu saja membuat Senna membelalakkan mata, sebelum akhirnya dengan tangkas menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintu, begitu berada di dalam. Napasnya tersengal, seolah selesai melakukan olahraga pagi. Sedangkan Grace, mengetuk pintu dengan keras sembari berteriak dengan penuh amarah.
"Senna! Buka pintu! Jelaskan pada ibu sekarang!"
"Aku, pasti menjelaskannya! Tapi.. redam dulu emosi ibu!"
"Baik— sekarang buka pintunya dan jelaskan padaku.” nada bicaranya berganti lembut.
Sedangkan di balik pintu, jantung Senna sudah berdegup kencang. Gugup tak karuan. Mengacak-acak rambut yang panjangnya sebahu. Sementara Grace menautkan jemari serta meregangkan nya, seperti seorang petinju yang bersiap akan menyerang lawan. Perlahan Senna membuka pintu, melihat Grace berdiri dengan senyum manis. Namun, tetap membuatnya tersenyum canggung.
"Bu, itu.. sebenarnya a-"
Grace menarik telinganya dengan kencang, sebelum Senna sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Argh! Lepaskan! Sakit!” Senna merintih kesakitan, memegang telinganya.
"Kau— dasar gadis bodoh! Mengapa kau sampai di skorsing? Hah?!"
"Aku tak melakukan kesalahan apa-apa. Itu hanya salah paham!"
Grace hanya mengerutkan kening, mendengarkan itu dengan tetap menarik telinga Senna.
"Salah paham?"
**
Senna berhasil lolos dari amukan singa cantik itu. Setelah membuat perjanjian untuk Senna tidak kembali menyembunyikan apa pun dari Grace, kini mereka duduk di sofa lantai bawah. Grace tengah duduk bersandar pada bahu sofa dengan menyilang kan kakinya. Grace masih terlihat sangat cantik dan memiliki tubuh ramping di usianya yang tak lagi muda itu.
Senna duduk sofa tunggal. Di sebelah kanan Grace.
"Apa, ibu masih ingat? Aku pernah bercerita tentang adanya pembunuh berantai di kampusku?"
"Iya. Lalu, apa hubungannya denganmu?"
"Tara juga menjadi korbannya."
"Tara? Kekasihmu itu? Yang berselingkuh dengan teman sekelasnya?"
Senna meyakinkan dengan anggukan.
"Well, itu patut dia terima. Karena dia telah menyakitimu."
"Bu, Jangan bicara seperti itu! Kejam sekali."
"Lantas, kenap kau di skorsing? Ibu sejak tadi bertanya soal itu. Mengapa kau membicarakan Tara?"
"Dengarkan dulu. Ini ada kaitannya. Sebelum Tara ditemukan terbunuh, mereka mengatakan jika aku mengirim pesan pada Tara. Dan, isi pesan tersebut mengatakan jika aku ingin menemui Tara di ruang kosong. Cecilia mengetahui hal itu dan kemudian menyusul Tara ke ruang kosong tersebut, lalu ikut terbunuh."
"Memang kau yang mengirim pesan?"
"Tentu saja tidak. Aku, memang membenci mereka, tapi aku tak mungkin berbuat seperti itu. Melihat darah saja aku sudah mual, apalagi menyayat tubuh seseorang!" Senna menjelaskan.
"Lalu, apa ada bukti jika kau yang mengirim pesan?"
Senna mengangguk pelan. "Karena itu— aku di skorsing," ucapnya, lesu.
"Bagaimana bisa? Apa kau kehilangan ponselmu waktu itu?"
"Tidak.. waktu itu aku sedang tidur di kelas dan ponselku juga berada di dalam tas."
"Aneh sekali.. bagaimana bisa ponselmu mengirim pesan itu sendiri? Dan juga, jika memang mereka menuduh mu yang membunuh Tara, seharusnya mereka melaporkanmu kepada polisi. Bukan hanya men-skorsing mu saja.”
"Aku sendiri sedang memikirkan itu."
"Apa perlu ibu urus? Ini menyangkut nama baikmu.”
“Tidak, bu. Biar aku yang menyelesaikannya sendiri.”
“Kau, yakin?”
“Iya.”
“Baiklah. Kalau membutuhkan bantuan ibu, langsung bicara saja.”
“Ya, Bu.”
Baik, jika seperti itu— selama diskors kau harus ikut ibu ke kantor. Kau, akan belajar tentang pekerjaan ibu di sana."
"Tak, bisakah aku di rumah saja?"
"Tidak boleh! Selama kau tak kuliah.. harus ada kegiatan yang mengisi waktumu!"
Desahan berat pun terdengar dari Senna. Jika, Grace telah membuat keputusan, maka Senna tak dapat menolaknya. Karena, Grace sangat keras kepala dan berpegang teguh dengan apa yang ia katakan.
***
Semburat oranye kini nampak menghiasi langit. Burung senja pun berdendang seraya menari di atas awan, menyambut malam yang di harapkan penuh dengan damai dan sukacita.
Senna sedang duduk menatap laptop silver nya, yang berada di meja kecil dekat jendela. Mungkin kurang lebih 40 menit, ia bertahan pada posisinya. Sejak tadi, ia tengah mencari informasi di internet penjelasan tentang pembunuh psikopat.
"Seseorang yang membunuh korbannya dengan cara tak wajar atau meninggalkan tanda, kemungkinan si pembunuh mempunyai kelainan jiwa atau sedang ingin menyampaikan sesuatu lewat tanda tersebut," gumamnya, membaca yang tertera di layar laptopnya.
Yang kemudian di susul dengan desahan lirih. Menyandarkan diri pada bahu kursi.
"Lalu, pesan apa yang ingin dia sampaikan? Tanda itu.. Haaah! Sungguh membingungkan,” racau nya. "Mengapa juga dia selalu menancapkan sebilah pisau pada d**a korban? Dan, Tara terbunuh di ruang kosong. Tempat di mana aku memergokinya sedang bermesraan dengan Cecilia?" lanjutnya. "Kenapa dia memakai ponselku untuk memancing Tara? Lalu— bagaimana caranya ia dapat mengirim pesan itu dari ponselku?"
Senna berpikir keras untuk memecahkan ini semua. Ingin mengetahui siapa pembunuh berdarah dingin itu. Matanya pun melihat tak tentu arah. Seolah menyadari sesuatu, ia menjengitkan tubuhnya secara tiba-tiba.
"Tunggu sebentar.. apa mungkin dia mengetahui tentang hubunganku dengan Tara? Dan, dia juga tahu jika di ruang kosong itu aku melihat Tara dan Cecilia?" Senna berasumsi. Di detik selanjutnya, ia melebarkan mata. "Tak mungkin-"
Tiba-tiba tepukan ringan mendarat di bahunya, membuat kata-katanya menggantung di udara. Dia, pun kembali berjengit, namun kali ini sungguh terkejut bercampur gugup. Perlahan menengok ke belakang dan mendapati seseorang sedang berdiri.
"Bu! Haish, kau mengagetkan ku saja. Ada apa?"
"Apa yang sedang kau pikirkan? Sampai terkejut seperti itu."
"Tidak ada. Ada apa mencari ku?"
"Ini kemeja siapa?" katanya sambil menyerahkan kemeja yang di pegang nya pada Senna.
"Ah, itu kemeja temanku. Nanti akan aku kembalikan," katanya seraya mengambil kemeja.
"Teman? Laki-laki?"
Senna hanya menjawab dengan anggukan. Itu membuat Grace memukul kepalanya dengan keras.
"Kau, jangan berbuat sesuatu yang membuatku malu lagi!"
"Sakit, bu! Aku berbuat apa, memangnya?" jawabnya, mengusap kepala dan menatap Grace kesal.
"Bagaimana bisa kemeja laki-laki ada padamu?"
"Bu, jangan berpikiran buruk soal itu. Ada kejadian yang menimpaku. Dan, akhirnya, aku harus memakai kemeja itu. Di samping itu—jika tak ada laki-laki itu, mungkin aku sudah babak belur!"
"Kejadian apa memang?"
"Ibu, tak perlu tahu!"
Jawaban ketus dari Senna pun membuat Grace keluar dari kamar dengan menekuk wajah cerahnya, sedangkan Senna kini memandangi kemeja itu. Teringat kejadian memalukan hari kemarin, yang menimpanya. Jika saja, saat itu tak ada Billy, mungkin saja, dia sudah berakhir di rumah sakit.