Pukul 02.00 dini hari. Senna masih terjaga di depan laptopnya. Angin malam yang menyelusup di celah-celah jendela, sedikit menerbangkan korden putihnya. Bersamaan bau anggrek menyeruak. Tengkuk Senna bergidik kemudian. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka perlahan. Senna menoleh dengan cepat.
“Bu.. Kau kah itu?”
Tidak ada jawaban dari luar. Senna yang takut, namun, merasa penasaran—akhirnya berjalan mendekati pintu dengan langkah sangat pelan.
Begitu di dekat pintu, ia menggelak ludah. Melongokkan kepala ke kanan. Tidak ada orang. Ke kiri. Juga tidak. Senna bernapas lega kemudian. Menutup pintu. Dan, terlihat sosok gadis dengan mulut yang sangat lebar di samping Senna.
Senna terkesiap. Tak dapat berteriak. Langsung naik ke atas ranjang. Bersembunyi di balik selimut.
**
Seperti perintah Grace—Senna ikut ke kantor hari ini. Sekalipun, hanya rebahan dan bermain ponsel. Karena, tidak ada yang bisa ia lakukan di sini. Menunggu Grace selesai rapat.
Sosok gadis dengan mulut lebar masih saja mengikuti Senna. Meski, agak terbiasa—tetap saja melihat wajahnya, Senna merasa ngeri.
Hari ini, ia sengaja membawa kemeja Billy ke kantor, agar segera mengembalikannya. Senna yang sebelumnya merebahkan diri di sofa merah, dalam ruangan Grace—kini duduk dan mencoba untuk menelepon Billy.
“Halo.”
"Billy , di mana kau sekarang?"
"Aku? Ada di tempat parkir. Baru saja selesai kuliah , ada apa ? Tidak biasanya kau menelepon?"
"Apa, hari ini kita bisa bertemu ?"
"Sekarang ? Di mana kau?"
"Aku berada di kantor ibuku."
"Apa perlu aku menjemputmu ?"
"Tidak perlu , kita bertemu di Cafe Latanza, setelah ini.”
"Baiklah.”
Setelah menutup ia meletakkan telepon kembali di atas meja. Menggigit kuku. Dan, menggoyangkan kaki dengan cepat. Aroma anggrek yang kini tidak begitu menyengat, membuatnya terganggu.
“Bisakah, kau tinggalkan aku sendiri?!” seru Senna, tanpa melihat sosok itu.
Sementara di kampus, terlihat beberapa mahasiswa berkerumun di sudut tempat parkir. Tepatnya, di dekat bak sampah tinggi berwarna biru dengan semburat garis-garis warna yang menetes hingga tanah. Clara yang kebetulan sedang lewat, merasa penasaran dengan mereka yang bergerombol. Melangkahkan kaki ke arah keramaian. Dan, bertanya pada salah satu mahasiswa yang ada di situ.
"Ada apa?"
Gadis yang ditanyai itu tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah tempat sampah di sampingnya. Clara perlahan mendekati, segera matanya terbuka lebar dan menangkup mulutnya. Perutnya bergejolak. Mual segera dirasakannya. Ia berlari menjauh, dsn mengambil ponsel dari tasnya. Menelepon Senna.
"Oh, ada apa?”
“Apa, kau ingat gadis yang merundung mu waktu itu?”
"Temannya Cecilia yang kau maksud? Ada apa memang?”
“Dia mati!"
Senna tertegun.
"Apa?"
"Sepertinya, dia juga menjadi korban pembunuh berantai itu!”
"Kau, jangan bercanda!"
"Hei, untuk apa aku bercanda soal kematian seseorang?! Aku, melihatnya baru saja. Mayatnya, ada di dalam tong sampah.”
"Tong sampah? Kapan dia di temukan?”
"Baru saja. Senna.. Aku Jadi tak betah kuliah di sini. Aku, ingin Keluar dari kampus ini."
"Clara.. Apa cara terbunuhnya sama dengan korban sebelumnya? Di tikam di bagian d**a?"
"Tidak. Kali ini lebih mengerikan. Mulutnya robek hingga telinga. Melihatnya saja, perutku rasanya mual!"
Senna berdiri dengan rasa terkejut. Menatap sosok gadis dengan mulut lebar itu. Memicingkan mata, dan, melihat dahinya yang terukir sebuah tanda.
"Clara.. Apa.. Di dahinya, ada tanda itu? Segitiga dengan huruf S dan I?”
“Iya, benar. Ada.”
“Clara.. Terima kasih informasinya.”
Senna terperangah. Kali ini, ia tak takut memandang sosok gadis itu.
“Jadi.. Kau, gadis itu? Kau, juga mati? Siapa yang membunuhmu? Apa... Dia?”
Sosok gadis itu tentu saja hanya diam. Dan, perlahan menghilang.
Terbesit di benak Senna sosok Billy. Entah, kenapa ia berpikir jika pelakunya adalah Billy. Dan saat ini, Senna ingin segera menemuinya. Ingin memastikan benar dia pelakunya atau tidak.
Senna segera menyelempangkan tas hitamnya. Menutupi wajah dengan tudung jaket, seperti biasa. Berjalan ke luar dan melihat sekitar. Mencari di mana keberadaan Grace. Kemudian berjalan ke ruang rapat, yang ternyata sudah tidak ada orang. Ia pun kembali ke ruangan Grace. Mendekati meja sekretaris, yang ada di samping pintu.
"Mmm.. Permisi, apa, kau tahu ibuku ada di mana? Maksudku, Ibu Grace.”
"Direktur, 1 jam yang lalu pergi ke luar kantor Nona, katanya ada urusan pribadi.”
Senna memutar bola matanya perlahan. Kesempatan bagus, pikirnya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Dia merogoh tas untuk mengambilnya. Ada satu pesan masuk dari Billy.
"Aku Sudah di kafe Latanza. Cepat datang."
Tanpa Berpikir terlalu lama, Senna segera berlari ke depan gedung untuk mencari taksi.
S I
Di dalam taksi, Senna tidak bisa lagi berpikir rasional. Matanya menatap langit melalui kaca. Otaknya, terus memikirkan—siapa dalang di balik ini semua.
"Apa, benar pelakunya adalah Billy? Tapi, apa alasan Billy menghabisi nyawa mereka?” katanya dalam hati. “Pertama. Tara dan Cecilia yang tewas di ruangan kosong. Tempat di mana ia memergoki Tara berselingkuh darinya. Kedua. Gadis yang merundung Senna. Hari ini, ditemukan tewas. Dan, mayatnya di letakkan di tempat sampah. Kemarin, Billy terkena siraman air sampah. Saat, melindungi ku.”
Senna berusaha menggabungkan dua kejadian itu. Mengetuk jari telunjuknya pada paha. Tanda, ia berpikir. Ketukan yang sebelumnya cepat, kini melambat. Kemudian berhenti. Bersamaan dengan dirinya terkesiap. Melebarkan mata.
“Akulah alasannya. Dia, melakukan itu demi aku. Dia.. Tak ingin aku disakiti oleh siapa pun,” gumamnya. Diselingi desahan berat.
**
Padatnya lalu lintas karena ini adalah jam di mana anak-anak pulang sekolah, juga, jam di mana para pekerja istirahat—menyita waktu Senna agak lama. Padahal, jarak antara kantor Grace dan kafe itu tidak begitu jauh.
Sekitar 25 menit kemudian, ia tiba di depan kafe. Bergegas turun dari taksi, setelah membayarnya. Lalu, masuk ke dalam kafe. Melihat Billy, duduk di kursi dekat jendela. Segelas jus dingin sudah ada di meja.
Senna mendorong udara keluar dari mulut. Gugup dirasanya. Berjalan mendekati Billy kemudian. Duduk di depannya. Mengeluarkan baju Billy dari dalam tasnya.
"Ma-maaf, aku tidak membungkusnya. Ta-tapi, aku sudah mencucinya.”
"Oh, jadi kau ingin bertemu denganku untuk mengembalikan ini?” katanya, sambil menerima bajunya. “Terima kasih. Tapi, kenapa terlihat gugup?”
“Mmm.. Tidak. Tidak apa-apa.”
“Ah, kau, mau minum apa? Aku, tidak tahu apa kesukaanmu. Makanya, tidak aku pesankan.”
“Apa pun.”
“Dingin?”
“Ya.”
“Oke. Tunggu sebentar.”
Billy pergi ke meja kasir. Memesan minuman untuk Senna. Di kafe ini di terapkan pesan langsung bayar.
Setelahnya, Billy kembali.
"Billy, aku bisa mengajukan beberapa pertanyaan?" ucap Senna, setelah Billy duduk.
“Oh, iya. Apa?”
“Mmm.. Sa-saat Tara tewas, kau ada di mana?”
"Aku? Aku berada di kantin dengan Clara. Kenapa?"
"Apa, kau tahu gadis yang merundung ku tempo hari, sudah mati hari ini?”
"Gadis itu.. Mati? Bagaimana bisa?" nada bicara Billy terdengar terkejut.
Senna mengerutkan kening mendengar jawabannya.
"Apa, bukan dia pembunuhnya?" katanya dalam hati.
“Tunggu sebentar, Senna. Kenapa, kau menanyakan hal itu padaku?”
“Oh.. Itu-“
Kau, tidak sedang menuduhku sebagai pelakunya, kan?”
“Billy, aku-“
PRAK!
Seorang anak kecil yang tadinya berdiri membawa gelas, di mana mejanya orang tuanya ada di sebelah Senna dan Billy, memecahkan gelas. Dan, menangis. Kakinya terkena pecahan kaca dan berdarah. Billy mendesis takut. Jemarinya mencengkeram meja. Keringat dingin muncul seketika di dahi dan pelipisnya. Senna yang mengetahui itu, segera mengernyit heran.
“Billy.. Kau, baik-baik saja?”
Billy tak merespon. Terus melihat anak kecil itu.
“Billy... Billy!”
Senna menggenggam tangan Billy.
“Oh.. Se-Senna.. Ki-kita keluar dari sini dulu.”
Billy berdiri. Dan, berjalan keluar. Senna mengikuti kemudian.
Begitu di luar, Billy membungkukkan badan. Wajahnya memerah. Rasa mual membuatnya ingin muntah. Namun, tak ada yang bisa keluar.
“Kau, benar-benar tidak apa-apa?”
Billy mengangguk.
“Tunggu. Aku, belikan kau teh hangat.”
“Tidak usah. Aku, sudah tidak apa-apa.”
“Kalau begitu, kau, bisa jalan sebentar, kan?” tanya Senna. “Di ujung jalan sana, ada toserba. Kita bisa duduk di depannya.”
Billy mengangguk.
**
Keduanya duduk di kursi depan toserba. Senna tak mengajukan pertanyaan apa pun.
“Aku.. Takut kalau melihat anak kecil berdarah,” kata Billy. Tiba-tiba menjelaskan. “Itu semua, karena, kejadian di masa kecilku.”
Saat Billy masih kecil, ia sangat senang bermain lempar tangkap bola di halaman. Pada saat itu, Jad—adiknya berusia 3 tahun. Biasanya, mereka bermain bersama, namun, di hari itu Jad sakit. Dan, tidak di perbolehkan ibunya untuk bermain di luar.
Akhirnya, Billy bermain sendiri di halaman. Jad hanya bisa melihat dari balik tembok yang digantikan oleh kaca besar. Kadang-kadang, Billy menatapnya dan melambaikan tangan. Sambil tersenyum. Jad membalas senyum sang kakak, dengan kedua tangannya menempel pada kaca.
Billy semakin asik bermain. Ia ingin menunjukkan pada Jad, jika bisa melakukan tendangan kencang.
Billy menendang bola ke arah Jad. Karena, tendangannya yang kuat, kaca pecah seketika. Menimpa tubuh Jad yang masih kecil. Billy terperangah sesaat. Melebarkan matanya. Jad sudah tergeletak. Tak sadarkan diri. Darah menghiasi beberapa titik tubuhnya. Terutama, wajah. Setelah Billy berlari mendekati Jad, tak lama, ibunya datang dan berteriak histeris. Menggendong Jad yang sudah lemas dengan mata terpejam. Ibunya berlari keluar dengan terus memanggil Jad. Sementara, Billy hanya bisa menangis terisak.
“Ketika itu, aku pikir jika Jad sudah tak dapat tertolong. Tapi, sungguh keajaiban Tuhan mendatangi Jad. Ia sadar setelah koma berhari-hari. Hanya saja, beberapa jari tangan kanannya harus di amputasi, karena pecahan kaca yang memutus otot syaraf jarinya. Sampai sekarang, aku masih sangat merasa bersalah pada Jad. Karena aku, dia menjadi cacat.”
Senna dan Billy menghembuskan napas berat. Dan, tuduhan Senna kepada Billy terhapus kan begitu saja. Justru, sekarang ia menjadi merasa bersalah.
“Maaf, Billy.”
“Huh? Untuk apa?”
“Aku.. Sudah menuduh mu sebagai pelaku kejahatan di kampus kita.”
Billy menyunggingkan senyum. “Apa, yang membuatmu berpikir seperti itu?”
“Karena, aku tak mengenalmu lebih dalam. Aku, terlalu percaya diri dengan persepsi ku.”
“Karena itu, Senna.. Kau, harus mencoba untuk membuka diri pada orang lain. Jangan menyimpulkan segala sesuatu hanya berdasarkan sudut pandang mu.”
“Ya. Maaf. Memang, aku salah.”
“Tidak apa-apa.”
“Kau, tidak marah?”
“Tidak. Hanya sedikit kecewa.”
“Maaf. Sungguh. Bagaimana, caranya agar kau tak kecewa lagi?”
“Mmm.. Ada 3 cara agar aku tidak kecewa lagi denganmu.”
“Apa itu?”
“Yang pertama.. Saat, masuk kuliah nanti, kau, jangan lagi memakai jaket hitam mu ini. Jangan menyembunyikan wajahmu lagi. Kau, harus memakai pakaian yang berwarna cerah. Seperti, gadis pada umumnya.”
Senna diam.
“Kenapa? Kau, tak mau? Baiklah. Aku akan kecewa selamanya.”
“I-iya. Akan aku coba.”
“Sungguh?”
“Y-ya. Lalu, yang kedua dan ketiga?”
“Akan aku beritahu, saat, kau sudah melakukan yang pertama.”
**
Pukul 21.30. Senna baru saja tiba di rumahnya, yang saat ini terlihat sepi dan gelap. Bahkan, saat mengucap salam saja, tidak ada jawaban dari ibunya.
Senna segera mengedarkan pandangan. Menyalakan lampu ruang TV. Mencari Grace.
"Apa, ibu belum pulang ? Tapi, mobilnya ada di garasi."
Lalu, Senna menuju ke kamar Grace, tapi tidak ada seorang pun di sana . Hanya pakaian putih milik Grace yang tergeletak di lantai. Senna mengambilnya. Berniat untuk merapikan kamar Grace. Namun, kernyitan di dahinya nampak. Saat ia, melihat bercak merah pada pakaian Grace.
"Bercak apa ini? Apa, mungkin.. Darah? Tapi, darah siapa? Apa, darah ibu? Dia, terluka?” gumamnya pelan.
Di detik selanjutnya , Knop pintu kamar mandi di dalam kamar Grace berputar pelan. Senna mulai takut. Perlahan-lahan, ia melangkah mundur sambil menatap pintu.
PRAAK!
Suara benda jatuh dari belakang Senna, mengejutkannya. Ia tak sengaja menyenggol vas bunga yang ada di belakangnya. Senna membalik badan, melihat kepingan vas yang berserakan di lantai.
Untuk satu alasan, yaitu takut. Jantung Senna berdegup kencang. Ia melirik ke samping, dan terlihat bayangan putih ada di belakangnya. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia menggelak ludah gugup.
"Senna.."
Ada yang memanggil namanya dan menepuk bahunya. Senna terpaku, seakan tidak ingin melihat ke arah suara tersebut. Tapi, dia harus melihatnya. Harus. Perlahan, ia berbalik dan melihat sosok wanita dengan rambut panjang menutupi wajahnya. Senna menjerit dan berlari agak menjauh.
"Aaaa!"
Senna dan Grace kompak menjerit.
"Mengapa kau berteriak?! Ibu kaget sekali!" Grace memakai piyama handuk berwarna merah.
"Bu.. Ternyata kau. Aku, hampir mati ketakutan," katanya, memegang dadanya.
"Ck. Ck. Ck. Kau, ini sudah besar. Tapi, masih takut saja dengan hantu. Apa yang kau lakukan di kamarku?"
"I-itu, aku mencari ibu. Karena, rumah terlihat sepi. Jadi, aku masuk ke dalam kamar saja. Apa .. Ibu, baik-baik saja?"
"Aku? Kenapa kau menanyakan hal itu?”
"T-tidak .. Hanya bertanya saja. Kalau begitu, Aku naik dulu.”
Senna kemudian berbalik. Ketika akan berjalan, Grace kembali berbicara.
"Kau.. mengapa tidak bercerita di kampus ada yang merundung mu?"
Senna berbalik dan menghadap Grace.
"Bagaimana ibu tahu?"
"Temanmu datang pagi ini, ketika kau masih tidur. Dia mengatakan kepadaku, jika kau di rundung habis-habisan oleh seorang gadis. Katanya, di teman Cecilia. Mengapa, kau tak memberi tahuku?"
" Aku hanya tidak ingin membuat ibu cemas. Selain itu, aku baik-baik saja."
"Anak seperti itu patutnya diberi pelajaran. Tidak tahu sopan santun."
“Bu.. Hari ini, ia ditemukan mati."
"Ibu tahu. Well .. dia layak mendapatkannya."
Untuk alasan itu, Senna menatap curiga pada Grace.
"Kenapa, kau menatapku seperti itu?"
"Tidak.. Memangnya siapa temanku yang datang?"
"Namanya Leo."
" Leo?"
“Ya. Dia satu jurusan denganmu, kan?”
Senna mengangguk. “Dia tak menghubungiku, kalau mau ke sini.”
“Mungkin, ia hanya ingin tahu keadaanmu saja.”
“Kami tidak sedekat itu, bu. Untuk apa dia ingin tahu keadaanku?”
“Well.. Kau, tebak sendiri saja. Tapi, ngomong-ngomong, dari mana saja kau? Ibu mencari mu di kantor tadi.”
“Ah, maaf. Tadi, temanku mengajak untuk makan siang bersama.”
“Siapa? Clara?”
“Mmm.. Iya.”
“Lain kali, beritahu ibu. Telepon atau kirim pesan. Paham?”
Senna mengangguk. “Lalu, dari mana ibu siang tadi? Ibu, juga tak memberitahuku waktu keluar kantor.”
“Ada urusan pribadi.”
“Urusan pribadi?”
“Ya. Kau, tak perlu tahu. Cepat keluar. Ibu, mau istirahat.
**
Senna sudah mengenakan kaos putih dengan celana pendek. Duduk di kursi depan meja laptopnya. Masih berpikir, bercak merah di pakaian Grace itu darah sungguhan atau bukan.
"Ibu, tampak baik-baik saja. Tapi, ada bercak darah di bajunya. Jika, itu bukan darahnya.. lalu darah siapa?" gumamnya. “Sebenarnya.. apa yang terjadi? Kenapa ini harus melibatkan ku? Siapa, pembunuh yang sebenarnya? Jika itu bukan Billy, apakah ibu?”
Semua pertanyaan itu, berdesakan di kepala Senna. Dia meyakinkan diri. Akan segera mengungkap pembunuh yang sebenarnya dan membersihkan namanya dengan segera.