Alice melanjutkan pekerjaan seperti biasa, berkutat dengan dokumen, komputer, dan panggilan klien. hari ini ada jadwal bertemu dengan Louis Pratama, seorang arsitek yang bertahun-tahun bekerja sma dengan Radiawan corp, pertemuan itu hanya untuk mengambil Desain Louis yang akan di serahkan kepada Calvin , biasanya Louis selalu bertemu langsung dengan Calvin untuk menyerahkan Desainnya itu, tapi tidak untuk sekarang karena Calvin sedang berada di Jepang jadi Calvin menyuruh sekertarisnya menemui Louis menggantikannya.
Drrrrttttt, ponsel Alice bergetar terlihat no tidak dikenal memanggil.
"halo" Alice masih sibuk dengan komputernya.
"halo Miss, aku Louis Pratama" Louis memperkenalkan diri.
"ah pak Louis, saya Alice sekertaris pak Calvin" Alice langsung menghentikan kegiatannya di depan komputer
"oke Miss langsung saja, jam berapa kita akan bertemu dan dimana?" Louis tanpa basa-basi..
"saya akan menunggu anda di restoran x jam 12 siang ini" jawab alice tegas.
"baiklah," ucap Louis langsung menutup panggilannya, Louis memang orang yang tegas dan to the poin tidak suka basa-basi. "pria dingin lainnya, apa orang kaya selalu seperti itu? bagaimana bisa mereka tetap memiliki banyak gadis cantik dengan sikap yang menjengkelkan itu," gumam Alice.
di tempat berbeda Calvin dan Raka sudah tiba di Indonesia tanpa memberitahu Alice, jika sebelumnya saat mereka kembali pasti akan memberi tahu Alice, dan Alice akan menjemput mereka di bandara, baik Calvin maupun Raka langsung menuju apartemen untuk istirahat setelah penerbangan melelahkan.
tok tok, ceklek, Alice masuk keruangan rianty.
"hari ini aku makan siang di luar sekalian bertemu klien" ucap Alice
"baiklah" jawab rianty dan menatap sahabatnya itu.
"aku pergi sekarang, aku tak ingin membuat klien menunggu" Alice bergegas meninggalkan ruangan rianty, rianty hanya menggeleng dan mengucapkan "hati-hati" alice hanya melambai mengangkat tangannya seraya tetap berjalan meninggalkan ruangan itu.
Alice tiba lebih cepat di restoran, masih kurang 10 menit dari waktu yang di tentukan, ia memutuskan memesan minum terlebih dahulu, ia kembali mengecek ponselnya berharap Calvin menghubungi atau sekedar mengirim pesan, nyata nya nihil, ia menghembuskan nafasnya kasar. pukul 12.10 wib, tapi Louis belum juga terlihat ia akan menunggu 20menit lagi jika tidak ada tanda kehadiran Alice akan coba menghubunginya, tak berselang lama Louis pun datang menghampiri meja yang Alice pesan.
"Alice right?" tanya Louis
"yes i'm Alice, siang Mr Louis" mereka berjabat tangan.
"maaf membuatmu menunggu, kau tau kan Jakarta seperti apa" ucap Louis dan langsung duduk berhadapan dengan Alice.
"no problem Mr, aku juga baru sampai" bohong Alice.
" ini desain yang aku buat sesuai permintaan bos mu itu, tolong berikan dan bilang padanya untuk segera menghubungiku" ucap Calvin dengan kedua matanya yang terus menatap kecantikan alice, alice masih melihat membolak-balik kertas di tangannya, hingga tak menyadari Louis menatapnya terpesona.
"you are beautiful Miss Alice" Louis memuji dengan senyum terpancar di wajahnya, Louis memang tampan dengan wajah kebule-bulean nya.
"aku akan segera menyerahkan ini ke pak bos, tapi aku tidak yakin akan cepat, jadwal kepulangannya pun aku tidak tau, ku harap anda bisa bersabar sedikit Mr." ucap Alice sopan, "dan terimakasih atas pujian anda" Alice tersenyum membuat Louis ikut tersenyum.
"bolehkah aku menghubungi diluar pekerjaan, aku hanya ingin berteman"
"tentu" Alice menyesap minumannya.
merekapun melanjutkan dengan makan siang dan berbincang Santai.
Alice kembali kekantor, lanjut mengirim email kepada Calvin ia hanya bisa mengubungi Calvin lewat email dan itu pun untuk urusan pekerjaan agar Calvin tetap bisa memantau urusan disini, Alice berfikir Calvin masih berada di Jepang saat ini.
setibanya di apartemen Alice merebahkan diri si sofa, matanya menatap kosong langit-langit ruangan itu, tak ada yang di pikirkan tak bisa berfikir, terlalu lelah. Alice memutuskan untuk mandi dan memesan makanan setelahnya.
pukul 07.00 bel apartemennya berbunyi, Alice hanya memakai kaos kebesaran yang hanya menutupi setengah pahanya, ia selalu seperti itu setiap hari mengenakan pakaian yang menurutnya nyaman. ia pun bergegas membuka pintu betapa kaget melihat sosok yang berdiri di hadapannya saat ini, tapi berusaha bersikap biasa saja.
"pak cal.. hmm.. Calvin, kamu udh pulang? koq gak ngabarin aku" Calvin langsung masuk dan memeluk Alice, "i Miss you so bad" ucap Calvin. "i Miss you too" Alice mengeratkan pelukannya.
"maaf aku tak sempat menghubungimu"
"hmm aku tau kamu sibuk" Alice menuju ke dapur menyiapkan minuman.
"aku akan segera membawamu ke London bertemu orangtuaku" ucap Calvin tegas
"hah, are you sure? apa tidak terlalu cepat" Alice kaget dengan ucapan Calvin
"tidak! lebih cepat lebih baik"
Alice duduk di samping Calvin, Calvin bisa melihat Alice dengan kaos kebesarannya itu terlihat sexy wangi tubuh Alice yang beberapa hari ini ia rindukan, Calvin ingin cepat memperkenalkan Alice kepada keluarganya di London ia sangat yakin dengan keputusannya itu. Calvin sudah jatuh cinta pada Alice saat pertemuan pertama mereka malam itu, ia ingin segera memiliki Alice seutuhnya dengan ikatan pernikahan.
"apa kau sudah makan? biar aku pesankan makanan?"
"tidak, aku sudah makan, tapi aku ingin memakan yang lain." goda Calvin lalu mencium bibir Alice singkat. "kau tau, aku sangat frustasi saat jauh darimu, aku ingin kau selalu ada di sisiku, aku sudah yakin dengan keputusan yang aku ambil, kita akan secepatnya menemui kedua orang tuaku di London." Alice hanya mengiyakan sambil terus menatap kekasih yang di rindukannya itu.
"aku akan menginap disini" ucap Calvin tegas, Alice tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu
Rianty POV.
aku mulai merasa gelisah, benar yang orang lain katakan, rindu itu berat. aku tidak bisa diam lebih lama lagi, aku ingin segera menghubungi dan menanyakan kabarnya. tiba-tiba ponsel ku bergetar kulihat nama Raka disana, kau sangat senang, tapi aku mencoba bersikap biasa saja. aku tak ingin dia besar kepala.
drrrtttt... ponsel Rianty bergetar.
"halo"
"i Miss you" ucap Raka
"ku kira kau tak akan menghubungiku lagi"
"mana mungkin, aku hanya tidak punya kesempatan untuk menghubungimu, aku dan Calvin sangat sibuk" Raka membela diri
"benarkah?" rianty tak percaya..
"apa calon istriku ini sedang marah?" goda Raka.
"tidak! aku berniat mengubah kembali keputusanku jika sampai saat ini kau tak juga menghubungiku." ketus rianty
"no please, tetaplah pada keputusan mu jangan merubahnya" Raka memelas
"memang apa keputusanku, aku bahkan tidak memberi tahu siapapun"
"aku tau kamu akan menyetujui perjodohan kita, dan mulai menaruh cinta padaku" tebakan Raka tepat, seperti memiliki telepati ia tau apa yang dirasakan dan di pikirkan rianty. rianty diam tak menyangka Raka bisa semudah itu membaca dirinya.
"ayo makan diluar, aku sudah lapar" ajak Raka
"tidak, aku sudah makan"
"kalau begitu temani aku makan, aku benci makan sendiri." rianty membuang nafasnya kasar percuma menolak ajakan Raka, pria itu selalu punya seribu alasan agar rianty berkata iya. Raka pun bergegas menjemput calon istrinya itu.
udara malam yang menyejukkan, rianty dan Raka memilih makan di pinggir jalan selain karena sudah larut restoran pada tutup makan di pinggir jalan mempunyai sensasi yang berbeda, meski mereka dari kalangan orang kaya, sikap rendah diri sudah tertanam orang tua mereka sejak kecil.
di rasa sudah kenyang dan menyelesaikan makan malamnya, Raka bergegas mengantar rianty pulang.
" terimakasih sudah mengantarku, sebaiknya kau cepat pulang dan beristirahat, ini sudah larut" sambil menekan sandi pintu apartemen, setelah pintu terbuka Raka langsung menerobos masuk kedalam, rianty menghembuskan nafas kasar melihat tingkah Raka.
*hari demi hari aku terus melihat sisi lain dari seorang Raka, selain tampan dan baik, dia juga punya sisi menggemaskan dan keras kepala, aku tidak pernah melihat sisi itu dalam persahabatan kita. ia mulai menunjukan dirinya yang sebenarnya, aku sangat senang, di menerobos ke apartemen ku padahal aku sudah menyuruhnya pulang, aku pun menutup pintu dan menyuruhnya duduk di sofa, aku bergegas kedapur untuk membuatkan minuman, tiba-tiba dia memelukku dari belakang mencium bahu ku, hingga nafasnya bisa aku rasakan, aku sangat gugup jantungku berdetak kencang, lalu dia berkata persis di telingaku " aku sangat merindukan ciuman singkat kita dulu" wajahku merona badanku memanas aku tidak bisa menjawab, lalu dia memutar tubuhku, membelai anak rambut yang menutupi wajahku, aku memejamkan mata menikmati sentuhannya, hingga aku merasa ada yg menempel di bibirku, ya Raka mencium ku lembut sangat lembut, aku terbuai dan membalas ciumannya, ku lingkarkan tangan ku di lehernya dia mulai mengeratkan pelukannya membuat tubuh kami saling bersentuhan.
ciuman Raka berubah semakin menggebu aku bisa merasakan deru nafas gairahnya, aku pun mendesah kala ciuman itu berpindah ke leherku, hampir saja dia akan membuat kiss Mark di leherku, aku cepat mendorongnya dan menghentikan aktifitasnya, Raka terlihat kaget dengan mata sayu dan nafas yang memburu, terlhat sangat tampan. "aku tak ingin jadi bahan omongan saat mereka melihat leherku penuh tanda merah yg kau buat" ucapku lembut, dia tersenyum dan mencium ku lagi sebelum akhirnya meninggalkan apartemen... (dalam hati rianty), stelah mengingat kejadian itu rianty memutuskan untuk memejamkan mata mengistirahatkan tubuhnya.