"Selamat siang Miss" sapa seorang wanita pada Alice.
"Sia..." Alice menoleh ke arah suara itu, dan mengehentikan ucapan saat melihat wanita yang menyapanya. "Dasar rese, aku kira tamu dari mana lagi" grutu Alice
"Hahaha! bos lagi ada tamu yah? Tanya rianty.
"Iya" Alice fokus lagi pada komputernya.
"Anterin yuk, aku ada perlu sama bos dingin itu"
"Ada perlu apa?" Tanah alice serius.
"Nanti aku kasih tau kalo udah di ACC" Alice hanya menggelengkan kepala nya tak heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
"gak mau, kasih tau dulu" ledek Alice.
"iiihh gak ah, nanti juga kamu tau" ucap rianty manja.
"aku maunya Sekarang" lagi dan lagi Alice meledek sahabat nya itu.
"gak mau, pokoknya ayo anterin" rengek Rianty.
"iya sabar donx, masih ada tamu kali" ucapan Alice membuat rianty senyum memperlihatkan semua gigi nya,
Di dalam ruangan, Calvin terlihat serius melihat setiap detail desain yang di buat Louis, Louis duduk santai dan menyesap kopinya.
"Kau akan berangkat besok?" Louis bertanya.
"Iya" Calvin masih memperhatikan desain.
"Bagaimana situasi di sana?"
"lebih baik! Raka sudah menyingkirkan orang-orang yang merugikan perusahaan"
"Aku bangga, kau selalu memiliki orang-orang yang bisa di andalkan" puji Louis menatap Calvin
"Ya! dan kau salah satunya, aku suka semua desain ini kau selalu bisa di andalkan" ucap calvin
"Ya, ya, kau harus bayar mahal untuk itu kawan" ledek Louis
"Terserah kau saja" Calvin merapikan kembali kertas-kertas itu.
"Kau sudah selesai, kalau begitu aku akan pergi" Louis berdiri dari duduknya.
"Ah, aku ingin kau melakukan satu hal pribadi untuk ku!" Calvin meminta bantuan.
"Apa lagi?"
"Buatlah desain rumah bergaya Eropa modern untuk ku"
"Kau akan membangun rumah lagi?" Tanya Louis serius.
"Iya, ini untuk calon istriku nanti" Calvin tersenyum cerah membayangkan tinggal satu rumah dengan Alice nanti.
"Wow, kemajuan pesat, siapa calon istrimu itu, beritahu aku"
"Tunggu saja undangannya" ucap Calvin datar
"Baiklah, kau tahu karya ku tidaklah murah, aku akan menyelesaikan nya semaksimal mungkin" ucap Louis bangga. "Aku pergi" Louis hendak meninggalkan ruangan Calvin saat tiba di pintu ia melihat dua wanita cantik yang hendak mengetuk pintu ruangan Calvin, siapa lagi kalau bukan Alice dan rianty. Louis masih mematung santai menatap Alice dan rianty bergantian.
"Masuklah nona-nona jangan menghiraukan tatapan nakal pria itu" Calvin menginterupsi Alice dan rianty.
"Aku benar-benar iri padamu kawan, selain bisa di andalkan, mereka juga enak di pandang" Louis menampilkan senyum devil nya. Lalu pergi begitu saja dengan langkah kakinya yang terlihat sangat berwibawa.
"Siang Mr. Calvin" sapa rianty yang sudah di dalam ruangan Calvin. Sedangkan Alice sudah kembali ke mejanya.
"Ada perlu apa" tanya Calvin santai menatap rianty yang berdiri di depan mejanya.
"Saya ingin mengambil cuti" rianty menyerahkan map berisi surat keterangan cuti selama seminggu, tentu saja harus di setujui dan di tanda tangani bos nya terlebih dulu.
Tanpa banyak tanya Calvin langsung mendatangani surat itu dan menyerahkan kembali ke rianty.
"Ada lagi?" Tanya Calvin.
"Ah, tidak ada terimakasih Mr, saya permisi" rianty tak menyangka akan semudah itu, ia bergegas meninggalkan ruangan Calvin.
"Di ACC gak? Tanya Alice pada rianty.
"Of course beb, bos kesayangan mu itu memmang paling baik" rianty mencubit pipi Alice.
"Emang ngajuin apa sih, coba liat" Alice mengambil paksa Map yang di pegang rianty lalu membacanya. "What?, Seminggu? Kok lama banget cutinya?"
"Iya, aku mau nyusul calon suami ku di Jepang" rianty exited.
"Jahat kalian ninggalin aku sendiri" rengek rianty melas.
"Gak sendiri sayang, kan masih ada pacar kamu disini"
"Dia juga berangkat ke Jepang besok" ucap Alice lesu.
"Hah, kok bisa pas banget" rianty heran.
"Apa Raka tau kau akan menyusulnya?" Tanya Alice penasaran.
"Of course not, aku ingin membuat kejutan" jawab rianty senang.
"Kenapa kalian gak berangkat bareng aja" Alice memberi usul.
"Besok aku balik kerumah orang tuaku dulu Lis pamit, aku ambil penerbangan yang sore paling, lagi pula aku tak ingin berdekatan dengan bos dingin itu, pasti sangat canggung" rianty menjelaskan.
"Ya udah take care ya kalian" ucap
Alice.
"Always" jawab rianty.
"Sorry juga, aku gak bisa anter ke bandara, kalian semua pergi dan pasti menyisakan segudang pekerjaan untukku" Alice merentangkan tanganya
"Iya, yaudh aku balik keruangan dulu" rianty meninggalkan Alice, dan menuju lift.
Tok tok tok Alice mengetuk ruangan Calvin. Calvin pun langsung mempersilahkan masuk.
"Aku sudah menghubungi Jason, kau tau dia bukan orang yang mudah untuk di bujuk, dia ingin kau yang mengambil sendiri mobil mu" ucap Calvin sedikit kesal.
"Aku tau, aku akan mengambilnya sendiri, kau tidak usah khawatir" Alice tersenyum menatap Calvin. Calvin pun menatap Alice dan melihat senyumnya yang sangat manis.
"Kemarilah" Calvin menyuruh Alice mendekat lalu menarik gadis itu hingga duduk di pangkuan Calvin.
"Pak kita dikantor" Alice panik.
"Lalu kenapa?" Calvin berbisik di telinga Alice.
"Anda bukan orang yang seperti ini" ucap Alice lembut.
"Tak apa, mulai sekarang hal seperti ini akan sering aku lakukan." Calvin menaruh tangannya di tengkuk leher Alice lalu mencium bibi ranum kekasihnya itu, mereka melakukannya dengan sangat lembut Alice menaruh kedua tangannya di bahu Calvin sesekali meremas rambut bosnya itu. Setelah beberapa lama mereka melepas ciumannya dan saling menatap.
"Aku akan kesepian besok" ucap Alice mereka masih saling menatap
"Aku hanya sebentar, tidak seperti temanmu itu" jawab Calvin. Alice hanya berdehem dan mengangkat kedua alis nya. "Jika ada kesempatan aku pasti akan membawamu" Calvin mengecup bibir Alice singkat.
"Iya" mereka masih saling menatap, Alice merasa ada sesuatu yang keras mengganjal duduknya dan ia tau itu. Alice merasa tidak nyaman dan hendak berdiri dari pangkuan Calvin, tapi Calvin menahannya.
"Aku Belum selesai bicara"
"Aku berdiri saja, kurasa posisi ini tidak nyaman untukmu" Alice mengucapkan itu dengan wajah merah karena malu.
"Aku sangat nyaman baby" lagi Alice hanya berdehem mengiyakan.
"Sayang kau sangat menggoda" batin Calvin.
"Sejujurnya aku tak ingin kau menemui Jason, tidak bisa kah kau merelakan mobilmu itu, akan ku belikan yang baru" Calvin menatap Alice.
Alice menggeleng, "aku akan baik-baik saja, kau percaya padaku?, lagi pula kalian rekan bisnis, kau bahkan tau seluk beluk tentang nya, jadi tak usah khawatirkan"
"Aku percaya" meskipun di dalam hati Calvin ia sangat tidak setuju tapi ia tak bisa melarang Alice, ia tidak punya hak untuk sejauh itu, meskipun Jason bukan pria jahat, tapi jika dia bertemu Alice itu sama saja memberi Jason kesempatan lebih dekat dengan kekasihnya itu. Entah mengapa Calvin menjadi pria sangat pencemburu setelah bersama Alice. Calvin tak ingin Alice dekat apalagi berteman dengan pria manapun, Raka pengecualian tentunya.
"Beri tahu aku jika kalian akan bertemu" pinta Calvin pada kekasihnya itu, Alice hanya mengangguk mengiyakan.
"Aku harus kembali bekerja" Alice merapikan rambut Calvin dan menatap mata kekasihnya itu dengan penuh kasih sayang.
"One more kiss" pinta Calvin. Tanpa ragu Alice mencium bos kesayangan nya itu. Tak lama lalu bangkit dari pangkuan Calvin dan kembali melanjutkan pekerjaannya.