kegelisahan Rianty

1101 Words
"cepet ceritain" Alice tak sabar. "Aku video call sama Raka seperti hari-hari biasnya, tapi hari ini tu ada yang aneh, di sela-sela video call aku denger suara cewek entah manggil siapa, dan aku denger dengan jelas dia sebut "honey", Raka kaya panik dia buru-buru matiin sambungan video call nya sama aku" rianty lesu "Bukan panggil Raka kali" Alice memberi komentar. "Aku tau Raka kaya gimana Lis" jawab rianty. "Wah, siapa ya?" Alice penasaran. "Nggak tau" rianty merengek. "Sumpah itu bikin aku gak semangat" "Kenapa kamu gak hubungin Raka lagi trus nanya" Alice memberi saran "Dia bakal hubungin aku nanti malam" jawab rianty. "Hmmm, sabar ya sayang" ledek alice "Alice!!!" Rianty berteriak. "Iya, iya, cuma bercanda kok, lagian gak usah di bawa lesu gitu toh Raka juga gak bakal ngapa2in aku jamin, kamu kan yang lebih tau calon suamimu itu" Alice menenangkan rianty. "Iya" rianty menaruh kepalanya di bahu Alice. "Mungkin itu masa lalu dia, setiap orang pasti punya masa lalu" Alice menyesap minumannya. "Udah cepetan abisin makannya". ~~~~~~~~~~~~~~ Rianty masih memikirkan kejadian itu, tak pernah ia merasa segelisah ini, ingin rasanya rianty menghubungi Raka lebih dulu, tapi ia mengurungkan niatnya itu, karena Raka bilang akan menghubunginya nanti. "Kenapa aku sangat gelisah, aku wanita cuek yang tak mudah terbawa suasana atas hal apapun tanpa mengetahui kebenaranya, Raka, cepatlah hubungi aku, aku bisa gila jika harus terus menunggu dengan kegelisahan ini!" Gumam rianty minggigit-gigit jarinya. "Lebih baik aku mandi mendinginkan pikiran" rianty menuju kamar mandi. Rianty masih menikmati ritual mandinya, ia terlihat rilex dengan posisi duduk bersandar di bathtub dan kepala yang mendongak ke atas sambil memejamkan mata. Satu jam lebih dari cukup untuk menyelesaikan mandi nya, rianty meraih handuk yang hanya menutupi sebagian paha dan memperlihatkan sedikit bukit kembarnya. Ia membuka lemari dan mengambil baju tidur yang akan ia kenakan. "Ternyata berendam air hangat bisa membuat pikiran ku tenang sedikit" gumam rianty. Blm sempat ia meraih baju tidurnya terdengar suara panggilan video masuk, rianti bergegas mengangkat panggilan yang dari tadi ia tunggu-tunggu. "Astaga, kau coba menggodaku hah" Raka terkaget melihat rianty yang hanya mengenakan handuk dalam sambungan video mereka. Bahkan bukit kembar rianty terlhat jelas walau tak seluruhnya. Ingin sekali Raka menyentuh nya "s**t" umpat Raka ia ingin sekali menerkam rianty saat ini juga. "ini hukuman karena kau membuatku gelisah seharian ini" rianty menggoda Raka, sebenarnya ia tak bermaksud seperti itu, ia memang lupa mengenakan baju karena teralihkan oleh panggilan video Raka. "Sayang, ingin rasanya aku menyentuh bagian itu saat ini juga" tanpa di jelaskan rianty pun paham apa yang di maksud kekasihnya itu. "Tunggu sebentar, aku akan berpakaian" rianty memakai baju yang tadi sudah ia siapkan, rianty memakai bra nya dengan gerakan menggoda ia melipat handuknya di bagian pinggang, ia beralih memakai segitiga berwarna pink dengan sedikit renda di bagian depan tentu saja di padukan gerakan yang tak kalah menggoda, Raka yang menyaksikan nya hanya bisa mengumpat "double s**t", ya Rianty sengaja mengenakan pakaian didepan Raka dengan tubuh yang membelakangi kekasihnya itu. Raka memegang pelipisnya kepala nya merasa pusing, junior nya sudah tegang melihat rianty mengenakan pakaian di hadapannya, meski hanya bagian belakang dan sebagian tertutup handuk tentu yang terlihat hanya punggung mulusnya saja. "I'm ready" rianty duduk kembali "Sayang, kau menyiksaku" rengek Raka. "Tidak, itu hadiah" oceh rianty. "Baiklah cukup basa basi nya, sekarang jelaskan" tegas rianty. "Bolehkah, hmm, dia di tenangkan dulu" Raka mundukan wajah dengan pandangan mengarah ke juniornya. "Tidak" rianty menolak tegas ia sengaja ingin menyiksa kekasihnya itu. "Kau sungguh kejam, dia merindukanmu" rengek Raka manja. "Aku akan memutuskan sambungannya" ancam rianty. "Jangan di matikan, aku akan jelaskan, tapi berjanjilah dulu kau tidak akan marah dengan apapun yang aku katakan?" Raka memastikan. "Baik" jawab rianty. Raka pun menjelaskan semuanya, dari awal pertemuannya dengan Yuki dan menjalin hubungan hingga Raka memutuskan untuk meninggalkan wanita itu, dan tentu saja tak ketinggalan dengan pertemuan tak sengaja ia dan Yuki di restoran, rianty terlihat serius mendengarkan kata demi kata yang kekasih nya itu ucapakan, ternyata benar yang di katakan Alice setiap orang memiliki masa lalu nya sendiri. Masa lalu memang tidak bisa di hapus bahkan serpihannya bisa kembali muncul saat kita sudah melangkah ke depan. Rianty terdiam tenggelam dalam pikirannya karena terlalu menikmati penjelasan dari Raka, menurut rianty itu hal yang menarik. "Hei, kau melamun" Raka menyadarkan rianty "Boleh aku bertanya?" "Of course" Raka mengiyakan "Apa kau sudah mencicipinya?, hmm kau tau maksudku" rianty to the poin "Tidak sekalipun" jawab Raka tegas, meskipun Raka dan yuki hampir melakukanya tapi Raka bisa menahannya, Raka tak ingin merusak Yuki, tapi kenyataan nya Yuki memang sudah rusak tanpa Raka melakukannya. "Kau puas dengan semua penjelasan ku" Raka berbalik tanya. "Iya" rianty tersenyum "Sekarang puaskan aku?" Pinta Raka menggoda. "Dia sudah tenang" ucap rianty "Belum sayang" Raka sedikit memperlihatkan celananya yang mengembung. "Oh Gosh" rianty kaget tak menyangka itu masih sangat tegang meski rianty dan Raka tidak membahas hal-hal yang menggairahkan. Mereka pun melanjutkan apa yang harus di selesaikan. ~~~~~~~~~~~~~~ Di kantor. Terlihat Calvin sibuk dengan laporan-laporan yang baru saja diserahkan sekertarisnya, ia membolak-balik dokumen dan menandatangani nya, sesekali mengecek banyak nya email yang masuk, kini ia terpusat dengan satu email yang dikirim dari cabang perusahan di Jepang, ya email itu dikirim oleh Raka. Tok tok tok. Alice mengetuk pintu ruangan Calvin. "Masuk" Calvin mempersilahkan. "Bapak memanggil saya?" Tanya sekertarisnya itu. "Aku baru saja menerima email dari Raka, seperti aku harus kembali kesana" ucap Calvin. "Apakah ada hal buruk lagi?" Tanya Alice penasaran. "Tidak, ini kabar baik" Calvin tersenyum menatap Alice. "Syukurlah" Alice menghela nafasnya. "Seperti sebelumnya, aku serahkan urusan disini kepadamu" "Kapan jadwal keberangkatan nya?" Tanya Alice menatap Calvin. "Besok" jawab Calvin. "Apa ada yang bapak butuhkan?" "Tidak aku sudah mempersiapkan semuanya, kau bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu" "Baiklah, saya permisi" Alice meninggalkan ruangan bosnya itu. Terlihat Seorang pria memasuki perusahaan Calvin, pria itu menarik perhatian para staf wanita dengan wajah tampannya, dia adalah Louis Pratama sahabat sekaligus partner kerja Calvin, Louis tak menanggapi tatapan menggoda para wanita itu ia terus melangkah kan kaki menuju lift. "Ting" Louis tiba di lantai dimana ruangan Calvin berada. "Morning Alice" sapa Louis yang sudah berada di depan meja Alice. "Morning Mr. Louis, apa anda ingin bertemu pak bos?" Tanya Alice riang. "Tentu saja, aku harus bergegas sebelum ia pergi besok" ucap Louis. "Mari saya antar" Ramah Alice. "Kau selalu saja terlihat cantik, apa bos dingin mu itu tidak tergoda" ledek louis "Silahkan masuk, anda bisa tanyakan sendiri kepada nya" Alice dengan senyum yang di paksakan. Louis pun langsung masuk kedalam, dengan senyum puas karena telah meledek wanita cantik itu, dan Alice juga melangkahkan kakinya yang jenjang menuju kembali ke meja kerja nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD