Nomor Handphone

977 Words
AKU menengok ke arah jendela yang mulai mengembun akibat hujan lebat. Bising televisi tengah bertarung hebat dengan dentingan atap yang dijatuhi air. Aku tersenyum senang saat muncul sambaran petir dari langit lalu disusul bunyi guntur yang menggelegar, membuat ayah mematikan televisinya. Yah, sekali-kali dia harus belajar apa itu mengalah. Atap rumahku terbuat dari genteng. Hal itu membuat rumah seperti diberikan sound noice alami dengan kualitas paling baik ketika hujan turun. Sedangkan jika siang hari rumah terasa menyengat, tanpa berjemurpun kulitku mencoklat dengan baik. Sudah sangat sering pula aku mengeluh minta dibuatkan plafon rumah untuk meredam konduksinya. Namun sebanyak itu pula ibu bilang, ‘Anggap saja sebagai simulasi padang mahsyar’. Aku kembali mengulang latihan soal olimpiade yang diajarkan Pak Yahya di buku catatan. Setelah diulang beberapa kali, barulah aku mengerti langkah penyelesaiannya. Ini mulai terasa menyenangkan. Tiba-tiba pencahayaan kamar terasa berubah, sepertinya ayah sudah mematikan lampu di luar. Apa sekarang sudah waktunya tidur? Pintu kamarku diketuk. Wajah ayah muncul didepan sana begitu pintu kubuka. “Kenapa belum tidur?” dia menelisik kamarku yang minim pencahayaan. “Masih belajar, Yah” kataku. “Sudah larut, jangan terlalu diporsir. Nggak baik, lagipula daripada mengejar ilmu dunia jauh lebih baik mempelajari ilmu akhirat. Urusan dunia itu seadanya saja” Ayah mulai menggurui hal yang sama, seperti kaset yang diulang-ulang.. “Iya” kataku mengalah. Aku langsung mematikan lampu belajar dan menutup buku-buku catatan yang terbuka. Begitu kamarku ditutup, aku segera menguncinya kemudian pergi ke tempat tidur. Padahal kalau diingat-ingat, ayah juga sering mengelu-elukan Nabila. Membanggakan betapa cerdasnya anak oranglain. Tapi reaksinya akan berbeda begitu aku belajar hingga larut. Bukannya mendapat perhatian, aku justru diberikan ceramah. Ayah tidak tahu saja, kalau Nabila bahkan belajar hingga dini hari! *** “Pagi!” sapa orang yang akhir-akhir ini menggangguku. Dia meninggalkan roti dan s**u coklat di atas mejaku. “Apa ini?” kuangkat kedua makanan pemberiannya. “Sogokan” Zade cengengesan. Aku berjalan ke mejanya kemudian menaruh roti dan minuman itu ke mejanya, “Maaf banget, aku menolak segala bentuk sogokan” sahutku angkuh. Dia hendak membuka suara namun terhenti karena bel sekolah berbunyi, dan kelas pertama dimulai. Setelah membaca do’a Bu Neneng memulai kelas, pelajaran bahasa inggris. Aku mencoba fokus ke depan, namun pemandangan di luar jendela kaca samping kananku terlalu mengganggu. Sedari tadi dia terus melambai kearahku, meminta diperhatikan. “Kenapa sih, Yat?” Bu Neneng akhirnya menegur kelakuan Ayat yang berasal dari kelas IPS. Bu Neneng itu salah satu guru favorit satu sekolah, karena pembawaannya yang santai dan ramah. Tak jarang para siswa bersikap sesuka hati untuk bercanda dengannya. Bahkan Ayat yang bukan berasal dari kelas kami pun berani bersikap seenak jidatnya. “Eh, gak papa Bu. Teruskan Bu penjelasannya” dia kemudian menengok ke dalam kelas dan menunjukku. “Ei gadis pojok! Salam kenal, ya” Ayat tersenyum miring, bergaya sok keren kemudian pergi meninggalkan kelas. Sontak membuat gaduh seisi kelas. Bu Neneng tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dan Zade, dia adalah orang yang paling kencang tertawa diantara semua orang. Dia bahkan sampai menarik kursinya mendekat ke mejaku, hanya untuk meledek mukaku yang masam. “Sudah, sudah. Perhatikan ke papan tulis semuanya” Bu Neneng berusaha mengembalikan suasana belajar yang kondusif. “Hebat, padahal baru sehari ketemu Ayat, sudah dideketin aja. Gercep juga Ayat!” dia berbicara seolah bangga dengan kelakuan temannya tadi. “Situ bangga?” “Tuh kan, marah lagi. Kurang-kurangin lah Hana sifat sensiannya. Nggak punya temen baru tahu rasa!” Zade menasehatiku. Lah, dia belum tahu? Dari awal aku memang menghindari hubungan pertemanan. Merepotkan! Teman itu sebuah kemewahan diluar jangkauanku alias kemustahilan. Mengapa tidak? Berdasarkan pengalamanku, agar punya teman kamu harus bisa meluangkan waktu untuk nongkrong. Saat punya teman kamu harus loyal untuk berbagi. Jika tidak, selamat kamu akan ditinggalkan. Dan aku tidak punya waktu untuk menjalani hubungan palsu seperti itu. Aku menatap Zade dingin. “E…. Tadi kayanya omonganku kepeleset lagi” ujarnya kemudian menutup mulutnya. “Kalau gitu aku kembali ke tempat duduk ku lagi” lagi katanya yang tak pernah kuhiraukan. Meski sudah kembali ke tempat duduknya dia tidak membiarkanku tenang. Ada saja hal alasan untuknya melibatkan namaku di dalam pembicaraannya saat Bu Neneng memberi umpan balik. “Kenapa sih Zade ibu perhatikan suka sekali gangguin Hana?” akhirnya Bu Neneng salah fokus. “Nggak papa Bu” sahutnya sambil nyengir. “Hati-hati lho, yang seneng gangguin temennya lama-lama jadi suka” Bu Neneng menatap kami bergantian. Aku yakin itu hanya sebuah gurauan. Tapi gara-gara itu, seisi kelas kembali memberi sorakan yang tak kuinginkan. Kulihat Zade justru tertawa tak peduli dengan reaksi teman-teman sekelas. Seakan menikmati seluruh perhatian yang tertuju padanya. Aku menepuk jidat. Hancur sudah semua impianku bersekolah dengan tenang. Setelah mengatakan hal yang tak menyenangkanku, Bu Neneng memberikan tugas kelompok sebagai PR untuk minggu depan. Kemudian menutup pembelajaran. Sekeluarnya Bu Neneng, tiba-tiba gadis yang duduk di depanku berbalik, “Sejak kapan kalian dekat?” tanyanya antusias. Dan sejak kapan pula kita dekat hingga kamu bertanya seperti itu padaku? Ingin sekali kulemparkan balik pertanyaannya. “Siapa bilang kami dekat?” seketika senyum di wajahnya menjadi kaku. Ah, apa kalimatku tadi terlalu sinis? Kadang aku menyesali sikapku yang sulit bermulut manis. “A-ah, iya. Maaf” sahutnya gelagapan. “Soal tugas bahasa inggris tadi, kamu mau nggak sekelompok sama kita?” tawarnya. Aku melirik sekitar. Anak-anak yang lain seperti sudah memisah dengan kelompoknya secara alami. Sepertinya hanya aku yang tidak punya teman di kelas ini. “Oke” putusku membuatnya lega. “Buat detailnya, nanti kita bicarain di grub w******p, ya. Boleh minta nomor kamu nggak?” dia menyodorkan kertas dan pulpen padaku. Begitu selesai menuliskan nomer handphoneku disana, seseorang menarik paksa kertas itu dan membawanya kabur. “Hei!” teriakku kesal. Zade, lagi-lagi berulah. “Nggak papa, catat lagi saja disini, Hana” Bilqis meringis kemudian menyerahkan bukunya. Aku mendengus kesal. Memangnya mau diapakan nomor handphone itu tadi oleh manusia hyperaktif itu! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD