ANGIN dari arah barat bertiup kencang, menabrak wajah kesalku dengan lembut juga menerbangkan hijab yang sedikit menjuntai. Aku kabur, meninggalkan perdebatan dua orang dewasa yang bertingkah remaja labil.
Aku lelah, setiap hari selalu ada saja hal yang membuat orang tua itu marah. Hari ini, dia marah hanya karena stok kopi hitam di rumah habis dan ibu lupa untuk membelinya. Bayangkan saja, kira-kira bagaimana keadaan mentalku sekarang?
Seandainya ada tes psikologi sekarang juga, mungkin kesehatan jiwaku dinyatakan terganggu. Sebab, aku sering membayangkan, bagaimana kalau orang tua itu menghilang saja? Pastilah kehidupanku dan ibu jauh lebih baik. Setidaknya kami tidak lagi menelan kekesalan hati bulat-bulat.
Beberapa teriakan anak-anak yang sedang beradu layang-layang di lahan kosong milik pak Hasbullah mengalihkan perhatianku sesaat. Sudut bibir sedikit terangkat saat melihat salah satu tali layangan diantaranya putus. Mereka saling mengejar, memperebutkan layangan yang dianggap tak lagi bertuan.
Drrt.. drrtt…
Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal muncul.
‘Selamat sore’ sapanya.
Keningku mengernyit, ‘Bukannya grub untuk membahas tugas bahasa inggris sudah dibuat, ya? Lalu siapa pemilik nomor baru yang tiba-tiba masuk ini?’ pikirku.
‘Siapa?’ ketik ku seadanya.
Aku kembali memperhatikan kegiatan anak-anak ditanah lapang tadi, keadaan disana terlihat seperti sedang terjadi keributan. Sepertinya layangan tadi sudah berhasil direbut oleh salah satu anak yang larinya paling kencang. Sudah bisa dipastikan, mantan pemilik layangan akan merasa dongkol.
Layar handphoneku kembali menyala, aku menerima balasan dari nomor tak dikenal itu lagi.
‘Tebak! :)’ balasnya.
Dia memberikan emoticon tersenyum, yang entah mengapa justru membuatku kesal. Sudahlah, aku terlalu malas untuk meladeni percakapan yang tidak penting, buang-buang waktu.
‘Hei’ ketiknya.
Lagi, dia mengirimiku pesan singkat yang tadinya hanya k****a.
‘Cuek sekali’ tambahnya.
‘Sayang kuota ya? >_< ’ dia tidak berhenti mengirimiku pesan.
Kali ini isi pesanya semakin menyebalkan dan terasa mirip dengan seseorang.
“Ah, iya!” Gumamku menemukan ingatan, hari dimana Zade mengambil catatan nomor handphone yang ingin kuberikan pada Bilqis.
‘Hei pencuri!’ balasku geram. Aku yakin, orang ini adalah Zade!
Handphoneku kembali bergetar, aku menerima balasannya lagi. Namun saat hendak membuka pesan itu, suara teriakan ibu yang melengking menghentikan pergerakanku.
“Pulang!” perintahnya.
Kulihat sebagian langit sudah berubah menjadi jingga. Suara radio dari surau sudah berbunyi, sebentar lagi adzan magrib berkumandang.
Bergegas kumasukkan handphone ke dalam saku celana kemudian berjalan cepat menuju rumah. Aku tidak ingin memberi peluang pada ayah untuk berceramah ‘lagi’ perihal anak gadis yang tidak boleh berkeliaran diluar rumah saat petang.
***
“Kalau sudah magrib itu jangan dibiasakan berkeliaran diluar rumah!” ucap Ayah setiba ku dirumah. Padahal masih ada tiga puluh menitan hingga adzan magrib berkumandang.
“Jendela rumah juga ditutup, jangan nunggu disuruh” tegurnya lagi dengan nada yang amat sangat tidak bersahabat.
Harus sekali ya menasehati anak seperti mengajak orang berkelahi?
Aku memilih diam lantas mengerjakan apa yang diperintahkan. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu mengulanginya beberapa kali. Tentu saja hal itu tidak membantu banyak. Karena ayah kembali bersuara.
“Percuma sekolah kalo dirumah nggak bisa diandalkan” Mataku meliriknya sinis. Emosiku kembali naik. Andai saja aku tidak ingat kalau dia adalah ayahku, mungkin sudah keluar nada yang meninggi dari mulutku.
Setelahnya kulangkahkan kaki untuk mengambil air wudhu. Menjauhi sumber pemicu marah adalah cara terbaik agar pasokan sabarku tidak pernah habis.
Kadang pernah terpikir, apa sikap mudah marahku juga merupakan hasil turunan dari ayah? Bisa saja, kan? Karena kenyatannya sebagian dari badanku tertanam genetik darinya.
Cepat-cepat kugelengkan kepala. Tidak! Aku amat sangat tidak ingin mewarisi sifat buruknya itu!
Aku memang tidak bisa menolak apa saja yang diwariskan pada tubuhku, sebab itu bukan ranahnya manusia. Tapi, perihal sikap? Aku yakin, hal itu bisa dikontrol dengan cara membiasakan. Ya, ini hanya soal habits. Aku hanya cukup membiasakan untuk tidak menurutkan bisikan setan.
Karena itu, aku memilih membungkam bibir rapat-rapat kemudian mecurahkannya pada tuhan, menengadahkan tangan dengan tangis yang tersedu, berharap sikap ayah bisa berubah menjadi lebih lembut.
Usai shalat magrib aku menemui ayah dan ibu yang sudah berada didapur. Sebuah aturan yang memiliki hukum wajib, yaitu makan malam bersama. Aku terpaksa melangkahkan kaki memenuhi panggilan ibu yang tidak pernah berhenti.
Katanya dengan makan bersama bisa menambah nikmat saat menyantap makanan. Tapi, tidak berlaku untuk situasiku sekarang. Yang ada justru kehilangan selera makan lantaran suasana tegang yang dibuat ayah.
Iya, selalu ada saja yang dijadikan masalah olehnya. Seperti saat ini, masakan ibu terasa kurang asin, menurutnya. Bukannya berterima kasih karena sudah dimasakkan, dia justru memberi komentar yang tidak mengenakkan hati.
“Garam didapur habis ya, bu? Atau ibu memang nggak nyicipi dulu sebelum disajikan?” dengan nada kesal, dia mendorong piringnya yang belum habis dengan kasar. Aku berhenti mengunyah, tiba-tiba tenggorokanku sulit menelan makanan.
“Hambar! Hilang selera makan ayah” ucapnya kemudian mencuci tangannya.
Aku menatap ibu yang sedang terdiam. Bagaimana mungkin ibu bisa bertahan hingga selama ini dengan laki-laki seperti ayah?
“Enak kok masakan ibu” kataku kemudian kembali menyuapkan nasi yang tersisa dipiring. Aku ingin memvalidasi bahwa memang tidak ada yang salah dengan masakan ibu. Yang salah itu ada pada lidah ayah, suka banyak tingkah.
Selepas mencuci peralatan makan, aku langsung masuk ke dalam kamar.
Quality time bersama orang tua? Jangan harap!
Tidak akan ada suara tawa renyah yang menyenangkan keluar dari rumah ini. Yang ada topik ringan biasa akan berubah menjadi perdebatan baru lagi. Begitu seterusnya hingga hari berlalu. Bagiku bisa menutup hari dengan kesenyapan adalah sebuah hal yang patut disyukuri.
Baru saja punggungku tersentuh kasur, ayah memanggilku. Beberapa kali dia mengetuk-ngetuk bagian atas televisi tua itu. Aku menghembuskan nafas kasar kemudian keluar dengan raut wajah yang masam.
“Yaa?” sahutku seadanya. Aku benar-benar jengkel namaku dipanggil olehnya.
“Ini… Kenapa ya dari tadi tvnya hidup sebentar trus mati lagi” dia terlihat kebingungan mengatasi televisi yang sudah tidak layak pakai.
Aku mengamati bagian kabel-kabel yang sekiranya membuat aliran listriknya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Beberapa diantaranya memang sudah berkali-kali disambung menggunakan lakban agar tidak terputus dan beberapa bagian besinya juga sudah pernah dilas oleh montir otodidak kepercayaan ayah.
“Nggak ada yang salah sama kabelnya” monologku sendiri setelah memeriksa dengan seksama.
Televisi ayah masih belum bisa menyala. Aku mencoba untuk menghidupkannya beberapa kali dan sebanyak itu pula televisinya kembali mati. Nampaknya kerusakan kali ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
“Coba dibiarkan dulu beberapa hari, Yah. Kayanya mesinnya udah capek, kepanasan gara-gara kelamaan nyala” usulku pada ayah. Kulihat dia mengangguk. Tumben?
“TVnya sudah tua juga sih, minta diganti sama yang baru kalo begini ceritanya” katanya yang tidak kutanggapi.
Mudah sekali ayah berbicara untuk mengganti televisi yang baru! Dia lupa ya kalau uang sekolahku sudah menunggak beberapa bulan?
Aku berjalan cepat-cepat menuju kamar kemudian masuk ke dalam selimut. Kubiarkan ayah bermonolog sendiri dengan keinginan-keinginan yang mencekik orang sekitarnya.
Perlahan namun pasti mataku terkantuk hingga decitan handphone bergetar, menggesek permukaan meja belajar. Itu pesan dari nomor tidak dikenal tadi sore, masih belum kusimpan.
‘Gak ada pencuri yang menghubungi korbannya secerewet ini’ katanya
“Tumben sadar!” komentarku. Tanpa sadar bibirku tersungging dengan sendirinya saat membaca pesannya.
‘Lagi latihan soal OSN, ya?’ tanyanya,
‘Gak mungkin sudah tidur, kan?’ lagi, masih tidak berhenti mengirimiku pesan.
‘Kalo iya, pak Yahya pasti sudah salah pilih orang’
Hei, apa maksudnya? Dia meremehkanku? Apa hubungannya tidur lebih cepat dengan memilih perwakilan OSN? Anak itu benar-benar kompor! Buru-buru kuketik balasan.
‘Situ pindah profesi jadi pengawas latihan OSN? Eh, tapi kayanya bukan deh. Mana ada pengawas lupa ngerjakan PR diri sendiri! :P’ sengaja kutambahkan emoticon untuk mengejeknya.
‘T_T Teganya!’ dia mengirimkan emoticon menangis lalu mengetikkan pesan lagi.
‘Eh? Kamu sudah tahu ini aku?’
‘Buset, kamu nggak punya indera ke enam, kan?’ tanyanya beruntun.
Aku menggelengkan kepala, “Sepertinya hidup anak ini terlalu menganggur” komentarku dan membiarkan pesan terakhirnya tanpa balasan kemudian beranjak tidur.
***