bc

Kuambil Kembali Senjaku

book_age16+
645
FOLLOW
4.4K
READ
HE
fated
curse
tragedy
small town
like
intro-logo
Blurb

Lisa meninggalkan Alegra tanpa kata. Dia kembali ke kampung halaman dan menikah dengan Bisma, demi memenuhi wasiat terakhir ibunya. Bisma lelaki yang baik, tapi tidak sebagai suami. Bisma menikahi Lisa hanya untuk mendapatkan martabat keluarga itu.

Suatu ketika, Alegra muncul dalam hidup Lisa. Alegra yang sekian lama mencarinya, tak ingin kehilangan Lisa lagi. Dia bertekad merebut Lisa dari tangan Bisma, apalagi setelah tahu pernikahan mereka tidak berjalan dengan baik.

Kembalinya Alegra, membuat Bisma cemburu dan menyadari perasaannya kepada Lisa. Lantas siapa yang akan dipilih oleh Lisa?

"Dia baik. Dia tidak pernah berkata kasar atau main tangan. Hanya saja ...."

"Hanya saja apa, Lisa?" tanya Alegra. "Sudah jelas-jelas suamimu itu tidak bertanggung jawab. Dia tidak mampu mencukupi kebutuhanmu. Baik? Ya, dia terlalu baik sampai-sampai menyentuhmu saja dia segan. Apa itu yang disebut pernikahan? Apa alasanmu mempertahankan dia, sementara aku bisa memberimu segalanya? Bahkan sentuhan-sentuhan lembut yang senantiasa memanjakanmu."

"Hubungan pernikahan tidak sesimpel pacaran, Alegra. Aku gak akan ninggalin dia," tolak Lisa.

chap-preview
Free preview
Prolog
"Kalau seandainya hari itu aku nggak jadi ikut diklat, kita nggak akan ketemu dan bareng kayak gini," kata Lisa. "Kata siapa? Aku yakin kita akan tetap ketemu," sahut Alegra. Dia lalu memeluk Lisa dari belakang, "Karena aku percaya kamu adalah jodohku." Lisa tersipu malu. Berjuta kata indah telah didengarnya dari Alegra. Bagi orang lain, mungkin itu hanya rayuan atau bualan semata yang akan lekang oleh waktu. Namun, bagi gadis yang sedang kasmaran seperti Lisa, walau telah terucap berulang kali pun, kata-kata Alegra tetap saja terdengar manis. Serasa tak cukup hanya mendengarnya sekali atau dua kali. Lisa membalik badan, mengalungkan tangannya di leher sang kekasih, mengabaikan butiran tepung di ujung tangannya yang berjatuhan ke punggung Alegra. Lisa tersenyum seraya menatap dalam mata lelaki itu. "Seberapa yakin?" tanya Lisa, sedikit menggoda. "Seribu persen." "Gombal." Alegra menempelkan keningnya ke kening Lisa. "Lisa, cuma kamu yang bisa melengkapiku. Cuma kamu wanita yang akan kunikahi. Aku janji akan selalu ada di samping kamu. Nggak akan ada yang bisa misahin kita." Jantung Lisa berdebar, seperti saat pertama kali jatuh cinta pada Alegra. Setelah apa yang terjadi di antara mereka selama ini, tentu kalimat itu bisa dipercaya. Walau terkadang, rasa takut itu datang mengusiknya. "Kalau seandainya tiba-tiba kita harus berpisah?" pertanyaan itu melintas begitu saja di benak Lisa. Alegra menatap Lisa, lalu menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak masuk akal itu dengan sepenuh hati, "Maka aku akan menemukanmu. Aku pasti menemukanmu." Lisa tersenyum puas. "Terima kasih karena telah membuatku merasa sangat berharga." Alegra mengecup kening, hidung, dan bibir Lisa. Lebih dalam hingga dia bisa menjelajahi rongga mulut Lisa dengan lidahnya. Alegra mengangkat tubuh Lisa, mendudukkan wanita itu di meja dapur, masih mencumbunya. Hukuman dari Alegra untuk pertanyaan Lisa yang menyebalkan. Sungguh konyol. Kalau pun Lisa pergi, dengan seluruh harta dan kekuasaan yang dimiliki keluarganya, Alegra akan dengan mudah menemukan Lisa. Bila perlu, Alegra akan menyewa orang untuk mengawasinya siang dn malam. Ah, tidak. Itu tidak akan pernah terjadi. Alegra Tidak akan pernah. *** Lisa Anantari mungkin bukan satu-satunya gadis desa yang beruntung. Tidak hanya mendapatkan beasiswa dari salah satu pabrik rokok ternama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, di tahun pertamanya, Lisa juga mendapatkan bonus pacar kaya raya--Alegra Eka Darmawangsa, pewaris Grup Darmawangsa, incaran banyak wanita. Awalnya, hubungan asmara mereka digunjing banyak orang. Lisa dibully habis-habisan oleh wanita-wanita yang mengidolakan Alegra. Gold digger adalah sebutan yang melekat di dirinya kala itu. Lisa hampir menyerah, tetapi Alegra meyakinkannya berulang kali bahwa dia tidak akan membiarkan cinta mereka berakhir akibat ulah orang lain. Semakin sering ujian yang menerpa, semakin dalam cinta mereka. Sampai pada suatu ketika, Lisa mendapat telepon dari kampung, mengabarkan kalau ibunya sakit keras. Lisa buru-buru pergi dan lupa memberi kabar pada Alegra. Setibanya di rumah sakit, Lisa langsung mencari ruang rawat ibunya. Di sana sudah ada Kumala, sahabatnya, yang sedang berbincang dengan dokter. Pun Bisma, pengurus kebun keluarga, yang tampak kelelahan di kursi tunggu. "Itu dia, Dok," kata Kumala pada dokter. "Apa Anda wali dari pasien bernama Hani Setya?" Suara tegas wanita tua berkacamata itu membuat Lisa gemetar. "Ya, Dok. Sas putri kandungnya." "Bisa ikut ke ruangan saya? Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan mengenai kondisi ibu Anda." "Ba-baik." "Mau aku temani?" tanya Bisma. "Tidak perlu, Mas. Mas antar Kumala pulang aja. Biar aku yang jaga ibu," ucap Lisa. "Oke. Kalau butuh sesuatu, langsung telpon Mas." "Iya," jawab Lisa. "Kamu beneran nggak apa-apa sendirian, Sa?" tanya Kumala cemas. "Udah biasa, Mala. Besok kamu harus masuk kerja, kan. Mas Bisma juga udah kelihatan capek banget. Udah sana pulang." "Kalau ada apa-apa telpon lho." Kumala mengulangi perkataan Bisma. "Cerewet ih," cibir Lisa. Usai melihat kepergian Kumala dan Bisma, Lisa mengikuti langkah dokter menuju ruang kerjanya. Dr. Ayu Weda, spesialis penyakit dalam, sepasang kalimat yang pertama kali terbaca oleh Lisa sesaat sebelum memasuki ruangan wanita itu. Ketika duduk di kursi, dia membacanya lagi pada sebuah papan nama di meja. "Begini, Mbak ...." "Lisa," sahut Lisa cepat. "Lisa. Kondisi ibumu masih stabil. Tekanan darahnya naik cukup tinggi, sehingga kami akan mengupayakan untuk menormalkan tekanan darah ibumu terlebih dahulu. Detak jantungnya masih lemah. Entah karena terpengaruh oleh tekanan darah atau ada penyebab lainnya, kami masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut." "Baik, Dok." "Apa ada riwayat penyakit lain, selain darah tinggi, Mbak?" tanya dokter. Lisa menggelengkan kepala dan menjawab, "Saya belum tahu, Dok. Sepengetahuan saya, keluhan ibu selama ini hanya pusing dan kepala terasa berat. Saya tinggal di luar kota. Jadi, saya tidak tahu banyak mengenai kondisi ibu akhir-akhir ini. Saya akan tanyakan pada pengurus rumah." "Terima kasih, Mbak. Itu akan sangat membantu tim dokter untuk mengetahui penyebab kondisi pasien saat ini." Usai mendengar penjelasan Dokter Ayu, Lisa menemui ibunya. Mata Hani masih terpejam. Tubuhnya tampak lebih kurus dari terakhir kali bertemu dengan Lisa. Hani memang sering mengeluhkan pusing. Hani selalu menolak setiap kali Lisa menyuruhnya pergi ke dokter. Hani menganggapnya sekadar sakit kepala biasa, yang akan mereda setelah minum obat dari warung. Tidak disangka, sinyal-sinyal kecil yang diabaikan itu membawa Hani sampai di sana. Lisa tak pernah melihat tubuh ibunya serapuh itu. Hani selalu tampak bersemangat setiap hari. Jarang sekali mengeluh. Sehingga, ketika melihat Hani terbaring saat ini, jiwa Lisa serasa remuk. "Bu, maafin Lisa yang tidak bisa menjaga ibu selama ini. Maafin Lisa, ya, Bu," ucap Lisa sembari menggenggam tangan ibunya. "Lisa." Suara Bisma muncul dari belakang. Lisa menoleh. "Mas Bisma kok balik lagi?" "Mas bawa makan malam buat kamu," kata Bisma sambil meletakkan kantong keresek di kabinet "Makasih, Mas. Lisa belum lapar." "Gak apa-apa. Yang penting nanti dimakan." Lisa menganggukkan kepala. "Gimana kondisi ibu kamu?" tanya Bisma, duduk berseberangan dengan Lisa. "Alhamdulillah sudah cukup stabil, Mas. Sepertinya, ibu kelelahan." "Dan juga kesepian," celetuk Bisma. "Sejak kamu pergi, kadang aku lihat Bu Hani duduk bengong di pondok kayu. Dia pernah tanya padaku, Apa Lisa nggak kangen aku, ya, kok belum telepon?" Lisa menghela napas. "Salah Lisa juga, sih, yang udah tega ninggalin ibu demi meraih impian sendiri." "Tidak masalah aku rasa. Cuma, sering-seringlah berkunjung! Aku lihat, akhir-akhir ini kamu makin jarang pulang." "Bukannya nggak mau, tapi ...." Kalimat Lisa terhenti usai merasakan gerakan tangan ibunya yang tergenggam. "Bu." Lisa langsung berdiri setelah melihat mata Hani terbuka perlahan. "Aku panggil dokter, ya," ucap Bisma. "Tidak perlu, Le. Bulek sudah enakan," larang Hani lirih. Bisma mengurungkan langkahnya. Dia lalu kembali ke posisi semula, duduk berseberangan dengan Lisa. "Nggak apa-apa, Bu. Biar sekalian diperiksa," paksa Lisa. Hani menggeleng pelan. "Tidak. Ibu tahu bagaimana kondisi tubuh ibu. Mumpung kalian di sini, kebetulan ada Pak Marwan juga." Lisa dan Bisma menoleh ke belakang. Marwan, ayah Bisma, tampak linglung sebab kedatangannya beberapa detik lalu mendadak dianggap penting. "Pak Marwan, sini!" panggil Hani. "Nggeh, Bu," sahut Marwan, lalu berjalan mendekati ranjang pesakitan. "Pak Marwan, Lisa dan Nak Bisma, tolong simak baik-baik. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirku bicara pada kalian," ucap Hani. "Ibu ini ngomong apa, sih?" protes Lisa, cemberut. "Lisa, kamu dan Bisma sudah saling mengenal cukup lama. Bisma anak yang baik. Dia punya tanggung jawab dan pandai mengurus kebun kita. Ibu ingin kamu menikah dengan Bisma." Kalimat itu terdengar bak petir yang menggelegar di benak Lisa. "Ibu bercanda, kan? Lisa masih kuliah. Masih banyak mimpi Lisa yang belum tercapai, Bu." "Ibu tahu, Nduk. Ibu ingin ada seseorang yang bisa menjagamu. Waktu ibu sudah nggak banyak. Ibu mau lihat pernikahanmu," pinta Hani. "Iya, tapi ...." "Bisma adalah pria yang baik. Ibu akan tenang bila kamu bersamanya," potong Hani. "Pak Marwah setuju, kan?" Bisma memang pria yang seperti Hani katakan. Namun, Lisa sama sekali tidak memiliki perasaan padanya. Lisa pun yakin perasaan Bisma juga sama. Lisa sangat berharap Marwan dan Bisma menolaknya. Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan Alegra, apalagi dengan cara seperti itu. "Kalau itu keinginan Bu Hani, kami tidak bisa menolaknya," jawab Marwan. "Pak." Tampak jelas lewat matanya, Bisma menentang Marwan. Masalahnya, Bisa tidak pernah melawan orang tua. "Alhamdulillah," ucap Hani. Serasa hancur hati Lisa melihat senyum di wajah ibunya. Air mata perlahan jatuh membahasi pipi. Lisa tak kuasa menahan tangis. Dia mundur dan meninggalkan ruangan itu. Lisa duduk di bangku taman. Mendadak dadanya terasa sesak. Lisa menarik paksa gerombolan oksigen yang berkeliaran di udara masuk ke dalam rongga hidungnya, hingga memenuhi seluruh ruang paru-paru, lalu menghempasnya pergi. Ponsel Lisa berdering akibat panggilan masuk dari sang kekasih tercinta. Dalam situasinya, jangankan bicara, menatap wajah Alegra di ponselnya saja dia tak sanggup. Bisma yang telah berdiri di belakang Lisa melihat panggilan masuk itu untuk kedua kalinya. "Kamu sudah punya pacar?" tanya Bisma, lantas duduk di samping Lisa. "Aku juga tidak setuju dengan rencana ibumu, karena kita tidak sepadan. Kamu layak mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku. Contohnya: pacarmu itu. Kenapa kamu nggak bilang aja ke ibumu kalau sudah punya pacar?" Lisa mengusap air matanya. "Ibu nggak akan menerimanya." "Seyakin itu?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook