bc

Es Dingin

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
kickass heroine
doctor
drama
bxg
witty
campus
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Alya pikir tantangan terbesarnya sebagai koas menghadapi pasien ternyata menghadapi Revan jauh lebih sulit.malam pertama Alya di IGD berantakan, salah menginput data , panik saat menghadapi pasien bahkan hampir menyerah ketika harus menjahit luka untuk pertama kalinya.lalu datang Revan senior koas yang terkenal dingin, galak dan mustahil di dekati.Alya siap di marahi.tapi justru Revan datang untuk mengajarinya.mulai dari cari menjahit yang benar, mengatur pasien di tengah kekacauan IGD, dan cara bertahan Melawati shift malam.Anehnya setiap teguran Revan selalu diikuti perasaan kecil yang tak pernah ia akui.secangkir kopi pukul jam empat pagi, jaket saat Alya kedinginan, pesan singkat saat shift dan kalimat sederhana setiap kali Alya ingin menyerah." jangan berhenti cuman karena kamu takut salah" semakin sering dia satu shift semakin sulit bagi Alya membedakan mana perhatian senior dan mana perasaan yang lebih dari itu ?yuk ikuti terus bagaimana kisah cerita Meraka apakah Alya dan Revan bisa bersama atau hanya sekedar senior dan junior?

chap-preview
Free preview
jam tiga pagi
jam tiga lewat dua belas menit pagi waktu yang aneh untuk jatuh cinta. setidaknya begitu pemikiran alya selama bertahun-tahun. pada jam segitu, orang normal seharusnya tidur , jam segitu lampu kamar di padamkan, selimut di tarik sampai dagu dan dunia berjalan tanpa dirinya. Bukan berdiri diruang tindakan IGD dengan tangan gemetar, sarung tangan penuh dengan darah, sementara seorang pasien laki-laki menatap dengan wajah meringis kesakitan. "Dok... ini di jahitkan ?" Alya menelan ludah. "iya, pak". "Dokternya yakin ? " Alya tersenyum kaku, seolah gigi yang terpaksa bekerja masih berada pada jadwal yang benar. Dalam hatinya , ia ingin menjawab: tidak. sama sekali tidak. ini malam pertamanya ia menjaga di IGD. Dan dalam waktu kurang dari tiga jam, ia sudah salah memasukkan nomor rekam medis. hampir memberikan formulir pasien kepada orang yang salah, lupa mengisi salah satu bagian status pasien, dan sekarang harus menjahit luka robek sepanjang hampir lima sentimeter. tangannya dingin. jarum jahit ditangannya terasa seperti benda asing. "Ayo, Dok" . suara itu membuat Alya menoleh cepat. seorang laki-laki berdiri di belakangnya. Tinggi,rambut sedikit berantakan. tapi semua itu justru membuat sosoknya tampak semakin rapi dengan cara yang sulit di jelaskan. Jas koas putih yang ia kenakan sudah tidak lagi bener-bener putih lebih mirip catatan perjalanan yang penuh roda kerja. Nama Tag yang tergantung di d**a. REVAN ADHITYA. Alya langsung mengenalinya siapa sih yang tidak kenal dengannya. Revan adalah senior yang nama selalu dipakai sebagai teror untuk menahan anak-anak junior tetap "pada jalur yang benar" reputasinya galak, Perfeksionisnya tidak pernah di tawar. Pernah satu kali, Revan membuat seorang koas mengulang anamnesis tiga kali hanya karena urutan tidak sesuai. Ia jarang tersenyum dan paling mengerikan Revan tidak pernah tampak panik. Alya mengalihkan tatapan kembali ke luka pasien, memaksa pikirannya mengikuti ritme yang tidak memberi ruang untuk gentar. "jarumnya masuk dari sini" kata Revan. Alya mengangguk. "terus ?" "tarik". Alya menarik benang terlalu cepat. "Pelan". "maaf". Revan tidak menahan nafas untuk memberi waktu pada penyesalan. "jangan minta maaf". Alya membeku pada sepersekian dekit. Revan berdiri lebih dekat bukan untuk menekan, melainkan memastikan arah yang tepat tidak hilang di tengah gugup. "Ulang". Alya menarik nafas dalam, mengizinkan udara dingin menenangkan tubuhnya yang mulai hilang kendali. kali ini ia bergerak lebih pelan. Jarum menembus kulit. masuk. keluar. tarik. simpul. Revan mengaannguk tipis. "Nah" hanya satu kata. Namun entah mengapa, Alya merasa seperti baru saja menerima mendali emas bukan karena ia sempurna, Melainkan karena ia akhirnya selamat dari momen nyaris menenggelamkannya. "kalau tanganmu gemetar, bukan berarti kamu tidak bisa". Alya menoleh. Revan Kembali memeriksa monitor pasien, seolah percakapan jadi hanyalah jeda setingkat di antara kewajiban-kewajiban yang tak boleh tertunda. "Berati kamu takut," lanjut datar. "takut itu boleh, tapi berhenti kerja karena takut, jangan. " untuk pertama kalinya malam itu, Alya tidak merasa ingin menangis. Dan untuk pertama kalinya ia juga merasa ia tidak meras sendirian. Tapi dia bertanya-tanya mungkin semua cerita tentang Revan selama ini tidak sepenuhnya benar.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
18.5K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.5K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
4.7K
bc

Orang Ketiga

read
36.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.4K
bc

Babysitter Canduku

read
20.2K
bc

Ranting Yang Patah

read
40.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook