Bab 14 - Kemarahan Pras

1113 Words
Ara terbangun dari tidurnya karena mendengar suara El meracau saat tertidur. Ia pun kaget ketika menyentuh kening El. "Astaga, badan El panas." Ara beranjak dari tempat tidurnya. Ia pergi mengambil kompres dan obat penurun panas untuk El. Hati Ara merasa bimbang dengan keadaan El, setelah beberapa saat memberi obat panasnya pun sama sekali tidak menurun. Ara pun tak berpikir panjang, dia beranjak pergi ke rumah sakit. Karena tidak ingin merepotkan Reno, ia sama sekali tidak memberitahu Reno, apalagi pria itu sudah banyak membantunya. Sesampainya di rumah sakit, Ara memanggil dokter dan meminta menangani El dengan baik, sementara dirinya mengurus rumah sakit. Bruk! Saking paniknya Ara tanpa sengaja menabrak seorang gadis. "Astaga, maaf ya saya nggak sengaja. Saya tadi buru-buru." "Iya nggak pa-pa!" Wanita itu mendongak dan betapa terkejut melihat Ara yang selama ini selalu dicari abangnya. "Kak Ara? Kak Ara, ini beneran Kak Ara?" Ara menelan ludahnya, rasanya panik seakan bertambah. 'Rahma' Bagaimana bisa Rahma berada di sini? Untuk apa? "Rahma, kamu di sini? Ngapain?" Apalagi ini larut malam, Ara tak percaya bisa bertemu Rahma di tempat ini. Rahma memeluk Ara dengan erat. "Kak Ara kemana aja? Selama ini mas Pras mencari Kak Ara," ujar Rahma jujur. Pras ya Pras, sosok yang mungkin sangat dirindukannya. "Ma, kamu tunggu di sana ya nanti kita bicara, aku harus urus administrasi sebentar," ucap Ara. Rahma pun menurut dan menunggu Ara. Setelah mengurus administrasi, Ara mengajak Rahma ke ruangan El dirawat, mereka bisa mengobrol banyak di sana. "Ayo, Rahma!" "Ikut aja!" Rahma pun merasa heran saat berada di ruangan El, terbaring sosok tampan anak kecil yang sedang ditangani dokter. "Bagaimana keadaan El, Dok?" tanya Ara pada dokter. "Kemungkinan El terkena gejala tipes untuk lebih lanjut nanti kita melakukan pemeriksaan lagi setelah El sadar." Ara mengangguk. Dia menghela napas panjang. Rahma terus menerus menatap anak ini, dia memperhatikan Ara tampak khawatir, ia pun mendekat dan berkata, "Siapa anak ini Kak?" Ara melirik adik iparnya, dan mengajak duduk di sofa, agar El tidak terganggu. Entah apa yang harus dikatakannya saat ini, jika dia mengatakan yang sebenarnya apa Rahma percaya, namun ada rasa takut, Rahma akan langsung menceritakan kepada Pras. Mendadak kepala Ara terasa pening, tapi dia harus tetap kuat demi El, berusaha tidak membuat Rahma curiga. "Dia El, ana—--" "Anak kami!" Ara terkejut akan kedatangan Reno. "Reno? Kamu kok bisa di sini?" Ara menatap wajah Rahma yang tampak bingung. "Kamu itu kok nggak bangunin aku, syukur tadi aku keluar, dan melihat kalian pergi." "Terus gimana ceritanya bisa tahu aku di sini?" "Lupa mobil kamu terpasang gps." Astaga, Ara benar-benar lupa. "Kebetulan kamu di sini, aku titip El ya, aku mau bicara dengan Rahma di luar." Rahma dengan perasaan penasaran dia tanpa henti menatap El, entah kenapa dia pernah melihat anak ini, tapi tak tahu dimana. Ara menarik Rahma keluar dari ruangan itu, jangan sampai gadis ini curiga wajah El mirip sekali dengan Pras. "Kita bicara di sini aja ya." Ara mengajak Rahma duduk di luar. "Kak Ara sudah menikah lagi? Tapi Kak Ara sama mas Pras belum cerai." Ara mendengus. "Mereka siapa Kak?" "Biar aku yang menjawab!" Suara itu, Ara tak berani menoleh ke arah sumber suara yang terdengar bass. Rahma memang menghubungi Pras sebelumnya, karena dia tanpa sengaja menabrak seseorang, takut ada apa-apa, ia pun menghubungi Pras. "Anak itu namanya El!" ucap pria yang sudah berdiri tegak di hadapan Ara. Ara menatap pria itu dengan rasa takut, jantungnya berdegup kencang. Berhadapan dengan Pras sekian lama benar-benar membuat Ara tak berdaya. "Benar bukan nama anak itu El?" ucap Pras lagi. Rasa kecewa terus menghantam wajah Pras, masih tidak percaya jika Ara sanggup mengkhianatinya. "Ba— bagaimana kamu tahu Mas?" tanya Ara sedikit gugup. Ara menduga tatapan Pras yang sinis penuh luka, sepertinya pria ini salah paham. Pasti dia mengira El bukan anaknya. "Aku tahu semuanya, Ra. Kamu selama ini menghilang ke Kalimantan!" Ara menelan salivanya susah payah, bagaimana mungkin Pras bisa mengetahui semua ini. "Mas, ak—-" "Cukup! Kita akan bicarakan di rumah setelah aku urus masalah Rahma." Ucapan Pras hanya mampu membuatnya terdiam. Mau lari atau pergi sejauh manapun, namun Ara tidak bisa menghindari kenyataan. Ara tidak mau kembali, dia tidak bisa membiarkan El masuk ke dalam keluarga suaminya, apalagi ada Dona dan mertuanya yang jahat. Dua wanita itu sudah seperti ular yang dapat memberikan racun pada putranya. *** Wanita itu tak menyangka setelah sekian dia kembali ke rumah ini lagi, rumah yang selalu menemani sepi saat Pras berangkat ke kantor. Tidak seharusnya Ara kembali ke rumah ini, namun dia tak bisa menolak permintaan Pras. Setelah mengantar Rahma pulang, mereka segera pulang tanpa bertemu Sari. Pras menatap Ara dengan sinis, semua rasa kecewa dan marah ia pendam, bahkan kerinduan yang dia rasakan tidak penting lagi. "Bagaimana bisa kamu mengkhianatiku? Apa selama ini kau pergi untuk laki-laki itu?" Ara terdiam mendengar tuduhan Pras yang sama sekali tidak benar, selama ini meski jauh dari Pras, ia selalu menjaga diri sebagai istri Pras. "Jawab Ara! Kenapa kau diam?!" teriak Pras. "Mas, apa yang kamu maksud? Aku nggak ngerti!" Pras tertawa renyah. "Haha. Sungguh? Kau tidak mengerti? Kau tinggal bersama Reno selama ini, bahkan kalian memiliki anak." Ara masih diam tanpa membela dirinya. "Aku di sini seperti orang gila, menunggu istri yang sama sekali tidak mengharapkan pernikahan ini lagi," erang Pras seraya menggebrak nakas di hadapannya. Keributan Pras membuat Dona terbangun, dia bangkit dari ranjang melihat Pras yang belum pulang, namun suara berisik itu sangat mengganggu tidurnya, Dona keluar mencari tahu apa yang terjadi, masih subuh juga. "Itu nggak benar!" "Kurang bukti apa? El itu anak kamu dan Reno kan? Kalian bersama setelah kau pergi meninggalkanku," ujar Pras yang masih marah, dia tak bisa menahan emosi di dadanya. "Jadi kamu pikir aku berselingkuh, Mas." "Lalu hubungan seperti apa yang pantas untuk kau dan Reno." Ara benar-benar merasa terpojok, satu sisi ingin sekali dia mengatakan jika El itu darah daging Pras bukan Reno. "Cukup Mas! Kau telah merendahkanku." Ucapan Ara tidak membuat Pras berhenti pria, kini Pras justru mencengkram kuat pergelangan tangan Ara. "Mas, sakit!" Ara meringis kesakitan, Pras sama sekali kasar padanya. "Kau tidak pernah sadar atas kesalahanmu, kau menikah dengan Reno tanpa bercerai. Kau masih istriku." Ara semakin takut melihat kemarahan Pras. Ia terduduk saat pria itu telah menghempaskan cengkramannya. "Kenapa kau menyalahkanku? Kenapa kau tidak tanya dengan mami? Aku tidak pernah ingin semua ini terjadi, tapi mami memaksaku, bahkan memintaku untuk pergi meninggalkanmu." Deg! Dona yang sejak tadi memperhatikan mereka hanya dapat kaget mendengar ungkapan Ara. Bagaimana tidak, faktanya Ara mengungkapkan kebenaran yang selama ini disembunyikannya. 'Kenapa dia kembali lagi?' Padahal jelas Dona dan Sari memintanya untuk jangan pernah kembali dalam kehidupan Pras, tapi sekarang wanita itu akan merusak pernikahannya dan Pras. "Kenapa kau sembarang menuduh?" #tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD