“Aku akan pulang jika aku ingin pulang, Mom! Kau tidak perlu bertanya setiap hari seperti ini!”
Teriakan marah itu menyambut Zac saat ia baru saja memasuki apartemennya. Ia menutup pintu dengan sangat pelan, meletakkan kopernya di dekat pintu dan berjalan tanpa suara ke arah mana ia mendengar itu. Sue sedang berada di kamar olahraga milik Zac. Gadis itu tampaknya baru saja menari dilihat dari keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Ia memakai celana senam panjang dan kaus singlet yang sudah basah kuyup.
“Kenapa aku harus pergi? Itu acara keluarga kalian,” kata Sue lagi masih dengan nada marah yang sama. “Jika kau terus merengek seperti ini, aku pastikan padamu, aku tidak akan pulang. Camkan itu!”
Sue melempar ponselnya ke atas handuk yang terhampar di lantai dan menghidupkan musik dengan keras. Lalu sesudahnya, gadis itu menari seperti orang gila. Sue berputar-putar dan bergerak mengikuti alunan musik yang menghentak keras. Tubuhnya meliuk lentur seakan memiliki kemauan sendiri untuk bergerak.
Sebelumnya, Zac sudah sering melihat adiknya menari. Namun kali ini, Zac merasa dirinya tidak bisa berpaling. Gerakan gadis itu membuatnya terpaku. Zac merasakan sengatan gairah dan nafsu melihat tubuh itu meliuk-liuk dengan anggun. Ia bahkan ingin bergabung dengan Sue dan meraih tubuh basah itu lalu menciumi setiap inci kulitnya.
Sial! Tidak seharusnya Zac merasakan hal seperti ini dengan mudahnya. Ia bukan lagi anak remaja yang dikuasai nafsu birahi. Namun setiap kali ia melihat Sue, rasanya ia dikuasai oleh belitan gairah yang menyerang sekujur tubuhnya.
Musik berhenti dan berganti dengan tempo yang sedikit lebih lambat. Namun hal itu tidak mengurangi semangat Sue untuk menari. Gadis itu sedang marah dan Zac tahu jika Sue butuh untuk melampiaskan amarahnya.
Kepala Sue tersentak ke belakang, dan akhirnya gadis itu menyadari jika ia memiliki penonton. Akan tetapi Sue tidak berhenti menari. Ia terus bergerak semantara matanya tidak pernah meninggalkan Zac. Dan bagi Zac, itu terasa sangat intim dan erotis. Gadis itu berputar, bergerak, meliuk, tetapi mata hijau itu selalu menatap ke dalam mata Zac. Seolah Sue sedang berbagi dunianya kepada Zac.
Zac membuka pintu lebih lebar dan melangkah masuk. Ia butuh berada dekat dengan Sue. Ia butuh menyentuh Sue meskipun ia tahu ini semua gila dan nyaris tidak masuk akal. Ia tidak pernah membutuhkan Sue sebelum ini. Sama sekali tidak pernah. Namun semenjak mereka mulai berciuman, Zac merasa ia begitu mendamba.
Sue sendiri tampaknya merasakan hal yang sama. Gadis itu mendekat padanya, menarik dasi yang masih terikat di leher Zac, dan membuang topi pilotnya ke lantai. Sue bergerak mengelilingi Zac, menyentuh setiap bagian tubuh Zac, tetapi tidak membiarkan Zac balas menyentuhnya. Zac memejamkan matanya dan bernapas dengan berat. Aroma tubuh Sue membanjiri kepalanya, membuatnya bereaksi lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Ketika ia membuka mata, Sue masih menari mengelilingi dirinya. Zac hendak membuka mulut untuk menyebut nama Sue, tetapi gadis itu mendekat dan menarik lehernya. Gadis itu menciumnya.
Zac mendesah kalah dan menarik pinggang Sue untuk lebih dekat dengannya. Ia mendesak bibir Sue agar lebih terbuka lagi padanya. Ketika gadis itu mengerang, Zac menyusupkan lidahnya memasuki mulut Sue dan mereka saling menggigit, mengecap, dan bertukar air liur dengan erotis.
Tangan Zac naik mengusap punggung Sue yang lengket dan menyusup ke balik kaus singletnya sementara tangan Sue menarik dasi Zac hingga terlepas. Mereka saling membelai dan membelit seakan hidup mereka bergantung pada satu sama lain. Dan memang hidup Zac tergantung pada hal ini. Ia harus meniduri Sue. Sekarang. Di sini.
Tangan Zac naik membelai p******a Sue yang menegang. Gadis itu terkesiap tetapi tidak melepaskan ciumannya pada bibir Zac. Justru, Zac merasakan sentakan nafsu yang kuat membanjiri seluruh tubuh Sue yang menegang. Putingnya kini sudah berdiri tegak di antara belaian jemari Zac.
Sue mengerang saat Zac melepas ciumannya hanya untuk berpindah menciumi leher Sue. Rasa asin keringat terasa di lidah Zac saat ia melumat leher itu. Gadis itu terengah dan bernapas dengan susah payah sementara lidah Zac menyusuri tulang selangkanya dengan jemari yang masih memainkan p******a Sue.
“Zac!”
Sue terkesiap saat lidah Zac menggantikan jemarinya. Zac berhenti sebentar untuk menatap Sue yang terengah-engah, dan kembali melanjutkan keasyikannya setelah melempar senyum miring. Rasanya menyenangkan mengulum p******a mungil ini. Bentuknya sangat pas dengan tangan Zac.
Sue menggeliat dan terengah-engah sementara tangan Zac menyusuri perut ramping milik Sue. Sudah berapa malam ia membayangkan membelai kulit telanjang Sue? Sudah berapa malam ia berharap bisa memuja setiap inci kulit Sue dengan lidahnya?
Jemari Zac semakin turun hingga ke ban karet celana senam Sue. Ia melirik Sue untuk meminta persetujuan, atau penolakan, tetapi tampaknya gadis itu tidak peduli. Matanya terpejam sementara bibirnya terus mengeluarkan desahan yang membuat Zac semakin terbakar. Tangan Zac menangkup lipatan basah itu dan ia tidak bisa menahan erangannya sendiri. Sue sudah sangat siap untuk dirinya.
Zac berlutut, menciumi perut ramping Sue, dan menurunkan celana itu. Tidak ada celana dalam hingga ia langsung dihadapkan pada gundukan mungil yang berkilauan itu. Milik Sue bersih tanpa bulu, dan sangat cantik. Mungkin, Zac tidak pernah melihat milik wanita secantik ini. Kepalanya mendekat dan Sue meremas rambutnya saat Zac mulai membelai c**t basah itu dengan lidahnya. Rasa Sue bahkan lebih enak lagi.
Lidah Zac terus membelai liang hangat itu sementara ibu jari Zac memainkan k******s Sue dengan lihai. Ia ingin Sue mencapai puncak dengan lidah dan jarinya. Ia ingin melihat bagaimana Sue meraih o*****e di bawah kendalinya. Gigi Zac menggigit pelan liang empuk itu sementara Sue menjerit. Zac tahu gadis itu sudah sangat dekat. Remasannya di rambut Zac semakin menguat dan pinggulnya bergerak-gerak dengan gelisah.
“Lepaskan untukku, Sayang.” Satu jari Zac memasuki liang hangat itu dengan gerakan maju mundur yang lihai. “Sekarang!”
Sue menjerit ketika semburan hangat o*****e itu membasahi jemari Zac. Zac mendongak menatap kepala gadis itu yang tersedak ke belakang saat kepuasan melandanya. Ia menarik jemarinya keluar dan menjilati bekas kepuasan Sue sementara gadis itu terengah-engah menatapnya.
“Kau mau lagi?” tanya Zac dengan suara serak. Pahanya sudah berkedut sakit dan ia sudah sangat ingin melepas celananya yang semakin sempit itu.
“Bolehkah?” Sue balas bertanya dengn suara linglung.
Zac tersenyum dan meraih tubuh Sue. Menggendong tubuh mungil itu keluar dari ruang olahraga dan memasukki kamarnya. Meskipun bukan hubungan seks pertama, ini yang pertama kalinya bagi mereka dan Zac tidak ingin meniduri Sue di atas lantai kayu.
Mata Sue membelalak menatapnya saat Zac melepas seragam pilotnya, dan celana yang sejak tadi menyiksanya. Bukti gairah Zac sudah terlihat tegak menanti giliran untuk dipuaskan. Ia tersenyum saat mata hijau Sue tidak beranjak dari miliknya.
“Suka dengan apa yang kau lihat?” Zac bertanya malas-malasan sambil menciumi p******a Sue. Tampaknya, ia ketagihan pada p******a mungil ini.
Tangan Sue terangkat untuk membelai dadanya. “Sudah sangat lama aku ingin menyentuhnya.”
Zac terkekeh dan meraih kedua tangan Sue, meletakkannya di atas kepala gadis itu. “Akan ada lain waktu untuk mengagumi bagian itu. Aku harus memasukimu sekarang atau aku akan mati.”
Bibir Zac kembali turun menyusuri perut ramping Sue dan berakhir di liang hangat itu. Ia menyesap sebanyak mungkin rasa yang Sue miliki hingga gadis itu mengerang penuh kenikmatan. Zac tahu ia tidak bisa menunggu lagi. Ia membuka laci, meraih kondom, dan mulai memasuki Sue.
Astaga! Sue bahkan terasa lebih nikmat lagi saat ia memasukkinya. Gadis itu terasa sempit, hangat, dan panas di saat yang bersamaan. Zac bergerak, terlalu perlahan karena ia takut jika ia bergerak semakin cepat, ia akan menyelesaikannya dengan cepat. Namun ketika ia mendengar Sue mengerang, dan bergerak berirama dengannya, Zac tahu ia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Mereka terus bergerak, terus mengerang, dan berteriak keras saat mencapai pelepasan mereka masing-masing.