11

1042 Words
Ketika gelombang kepuasan itu akhirnya mereda, Sue baru menyadari hawa panas lain yang menyerangnya. Bukan karena gairah, melainkan rasa malu yang teramat sangat. Bagaimana ia bisa melakukan ini??? Ia bangkit dari ranjang Zac dan memunguti pakaiannya. Terlalu malu untuk memakainya dan berada di kamar itu lebih lama lagi meskipun juga terlalu malu untuk tetap telanjang sementara Sue tahu jika Zac mengamatinya. “Sue…” “Jangan sekarang, please,” katanya sambil keluar dari kamar Zac untuk pergi ke kamarnya sendiri. Sue menutup pintu kamarnya dengan pelan dan bersandar di sana seraya memejamkan matanya. Sial, itu pasti gara-gara ia terlalu marah pada ibunya. Setiap kali ia marah, hanya ada dua cara untuk pelampiasan kemarahannya. Menari, atau berhubungan seks. Dan karena ia sudah sangat lama tidak menjalin hubungan dengan seorang pria, seks yang ia lakukan adalah dengan kekasih berbaterainya. Namun tentu saja, ‘berhubungan seks’ dengan vibrator dan manusia sangat berbeda. Terlebih jika manusia itu bernama Zac. Oh, itu adalah percintaan terpanas yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Entah berapa kali ia merasakan o*****e dan semuanya terasa selalu nikmat. Zac begitu lihai dan pintar membuatnya merasakan gelombang kepuasan itu lagi dan lagi. Terlebih ketika pria itu mendesaknya masuk. Milik Zac yang besar memenuhi dirinya, membuatnya ingin mengklaim bahwa itu adalah miliknya. Sue mendesah ketika merasakan keinginan untuk bercinta lagi dengan Zac. Ia bukan orang yang maniak seks, bahkan bisa dibilang, ia bukan orang yang mudah tergoda untuk hal itu. Namun dengan Zac, rasanya begitu berbeda. Setelah hari ini, ia tidak akan melihat Zac dengan cara yang sama lagi seperti dulu. Ia akan selalu mengingat hari ini saat menatap mata hijau Zac. Atau saat ia melintasi kamar pria itu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Pergi dari rumah ini dan mencari flat sendiri? Atau berkata pada Zac bahwa apa yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahan dan ia sangat menyesali itu dan memastikan hal itu tidak akan terjadi lagi? Mereka bukan lagi anak kecil. Mereka adalah dua orang dewasa yang memiliki kebutuhan dan hal seperti itu sangat wajar terjadi. Zac pasti menyadari hal itu sama seperti dirinya. Bahwa ini adalah sebuah risiko yang harus mereka tanggung karena tinggal bersama. Lagipula, pria itu akan jarang berada di rumah. Bisa saja sekarang Zac pulang dan malam nanti pria itu sudah pergi lagi. Jadi ia tidak perlu merasa canggung. Ia hanya perlu berada di dalam kamar dan memasang telinga kalau-kalau pria itu keluar. Namun sialnya, ia tidak mendengar Zac keluar setelah dua jam berlalu. Sejak tadi, Sue sudah memasang telinga di depan pintu, berharap ia mendengar pintu sebelah terbuka, lalu Zac pergi. Akan tetapi, ia bahkan tidak mendengar suara apapun dari sebelah. Apa kamarnya memiliki peredam suara? Apartemen semewah ini pasti memiliki kualitas kamar yang ekstra dan bisa saja itu termasuk peredam suara. Ia lapar dan sangat ingin makan. Menari selalu membuatnya lapar. Menari dan berhubungan seks membuatnya dua kali lebih lapar. Sue sangat ingin memasak dan makan dengan sangat banyak. Namun apa yang harus ia lakukan sekarang? Keluar dari kamar dan bersikap seolah tidak apa-apa? Ya, ia akan bersikap seolah tidak ada apa-apa. Lagipula, makan jauh lebih penting daripada harga dirinya. Sue membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati dan hidungnya segera diserang oleh harum semerbak itu. Seseorang sedang memasak sesuatu yang sangat lezat. Dan seseorang itu pasti Zac karena tidak ada orang lain di rumah ini. Lalu apa sekarang? Ia pergi ke dapur dan bertanya apa yang pria itu masak? Atau, dan ini yang akan Sue pilih, ia akan makan di luar hari ini. Sue berjalan dengan sangat pelan, berharap ia tidak menimbulkan suara apapun. Ia hampir mencapai pintu ketika mendengar suara itu tepat di belakangnya. “Kau mau ke mana?” Sue menoleh dan melihat ada dewa yang sedang berdiri di depannya. Zac mengenakan apron merah muda milik Sue, yang sialnya, itu membuat Zac terlihat seperti kue yang sangat manis. Satu tangannya memegang spatula dari kayu sementara tangan yang lain memegang pisau. Zac pasti baru saja keluar dari acara masak memasak di televisi. “Aku…aku mau ke studio sebentar. Ada yang harus kuambil dan itu sangat penting.” “Kau tidak membawa kunci mobil.” Mata Zac melirik kunci yang terletak di mangkuk kaca di atas meja. “Eh, itu…” “Lagipula ini sudah malam. Apa yang akan kau ambil dan tidak bisa menunggu sampai besok, Sue?” Sue menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Ada daftar yang Zoe kirim dan harus aku periksa atau ia akan marah karena aku sudah lama menundanya,” dustanya pelan. “Aku akan mengantarmu nanti. Sekarang kau makan dulu.” “Tapi…” “Aku memaksa, Sue.” Sue menahan erangannya saat mendengar Zac kembali menyebut namanya. Tubuhnya memanas seketika hanya karena panggilan itu. Dulu, panggilan itu sudah memengaruhinya. Sekarang, panggilan itu membuat sekujur tubuhnya merasakan panas yang ia tahu apa itu artinya. “Aku harap kau tidak sedang diet.” Sue melirik apa yang sedang Zac buat. Steak wellington dengan salad yang tampak lezat. “Makanlah. Aku tahu kau lapar.” Zac meletakkan piring yang berisi potongan daging steak dan salad. Sue meraih pisau dan memotong irisan daging berbalur pastry itu dengan pelan. Dan ketika irisan daging itu masuk ke mulutnya, Sue tidak bisa menahan erangannya. Sial, pria ini pandai memasak! Dagingnya begitu lembut dan sangat berbumbu, paduan gurih dari pastry membuatnya memiliki rasa yang unik dan Sue menyadari ia tidak bisa berhenti makan. “Sue, tentang apa yang terjadi tadi…” Sue berhenti mengunyah ssat mendnegar Zac berbicara. Tidak bisakah pria itu menunggu sampai ia selesai makan? Sue tidak suka menyia-nyiakan makanan, tetapi apa yang Zac katakan sudah membuat nafsu makannya hilang seketika. Ia membanting garpunya hingga menimbulkan suara berdenting di piring, dan menatap Zac yang juga tengah menatapnya. “Tidak ada yang perlu kau jelaskan padaku soal itu.” “Bukan begitu, Sue. Itu…” “Itu adalah kesalahan dan aku pastikan padamu tidak akan terjadi lagi. Jadi kau tidak perlu merasa canggung atau merasa tidak enak padaku.” “Bukan itu yang…” “Tidak usah merasa bersalah padaku. Aku menikmatinya. Terima kasih untuk makan malamnya yang lezat, Zac. Selamat malam.” Sue bangkit dan keluar dari dapur lalu masuk kembali ke kamarnya. Apa yang terjadi tadi adalah yang pertama dan terakhir di antara mereka berdua. Hal itu tidak akan terjadi lagi, ia pastikan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD