Kematian Ana terasa seperti sebuah tembakan tepat di jantung Zac yang sudah hampir berhenti berdetak. Bagaimana Tuhan bisa sekejam ini dengan mengambil satu persatu orang yang Zac cintai dari sisinya? Dosa apa yang telah dilakukannya hingga harus menanggung penderitaan sebesar ini dalam hidupnya? Sama seperti hilangnya Sue yang tiba-tiba, kepergian Ana yang begitu mendadak, menimbulkan sebuah penyesalan yang sangat besar di dalam dirinya. Zac tidak sempat mengatakan lagi betapa ia sangat menyayangi Ana seperti ibunya sendiri. Betapa ia begitu ingi memanggil wanita itu dengan sebutan ‘Mom’ seperti yang selalu Ana harapkan selama ini. Lagi-lagi, Tuhan seakan menamparnya bahwa tidak ada musuh yang paling utama bagi setiap manusia di dunia ini selain waktu. Zac berpikir ia masih memiliki ban

