Bab 9 – Antara Aku, Kau, dan Sang Mantan

1139 Words
“Sheryl, beliin kopi di kafetaria lobby dong. Ini daftarnya, ini uangnya. Cepet, ya,” ujar Merisa seraya memberikan secarik kertas bertuliskan daftar berbagai jenis kopi dan sepuluh lembar uang seratus ribu rupiah kepada Sheryl yang terlihat duduk tenang di balik laptopnya. “Oke,” balas Sheryl seraya menerima kertas dan uang yang diserahkan supervisor timnya padanya itu. Seketika kedua matanya terbelalak saat membaca daftar minuman yang harus dibelinya. “Delapan?!” gumamnya. Diam-diam Merisa menyunggingkan seringainya ketika didapatinya Sheryl terkejut mendapati dirinya ditugaskan membawa gelas kopi yang cukup banyak dan harus membawa cemilannya pula. “Buat lo satu! Kurang baik apa gue? Lo gak ikut rapat juga tetap gue itung tuh kopi buat lo.” Mau tak mau, Sheryl pergi ke kafetaria yang berada di lantai dasar gedung kantornya untuk membeli pesanan supervisor-nya itu. Ya, sesaat lagi rapat bersama konsultan pajak dari XYZ Tax Solution akan dimulai. Ia tidak diikutsertakan dalam rapat tersebut, tetapi ditugaskan untuk membelikan cemilan siang agar rapat tidak berlangsung dengan para peserta rapat yang mengantuk di siang hari. *** “Kak Sheryl,” ujar salah seorang barista kafe setelah semua pesanan Sheryl tersedia untuk dibawa oleh konsumennya itu. Sheryl pun segera mengunjungi tempat diletakkannya pesanan para pelanggan. “Hati-hati ya, Kak,” ujar barista pada Sheryl karena ia turut prihatin melihat Sheryl membawa pesanan kopi dan kue cukup banyak. “Makasih,” balas Sheryl yang segera membawa semua cemilan siang itu keluar dari kafetaria tersebut. Di balik kesulitan, ada kemudahan. Siang hari itu, Radit baru saja kembali dari rapat di kantor kliennya. Ia mendapati Sheryl baru saja keluar dari dalam kafetaria dengan membawa banyak kopi dan kantong-kantong berisi berbagai kue. Ia pun bergegas merebut kantong-kantong berisi gelas kopi dan berbagai cemilan itu dari tangan Sheryl. “Eh? Bang Radit?!” seru Sheryl kala mengenali wajah pencuri kopi dan kuenya. “Kamu disuruh siapa beli sebanyak ini sendirian?” tanya Radit. “Eh, gapapa, Bang. Tim accounting mau meeting sama orang konsultan pajak makanya aku dimintain tolong bawa minuman ini.” “Kantor kita ada OB. Minta tolong ke mereka. Ini bukan tugas kamu!” “Gapapa, Bang. Gak berat.” “Biar gue aja yang bawa.” “T-tapi ….” “Lo mau balik ke kantor gak?” “Eh i-iya, Bang,” balas Sheryl yang segera mengikuti langkah Radit menuju deretan pintu lift. *** “Makasih ya, Bang,” ujar Sheryl begitu ia dan Radit tiba di depan pintu kantor XXX Law Firm. Ia pun bersiap untuk kembali mengambil gelas-gelas kopi dan cemilan dari tangan Radit. “Di mana ruang meeting-nya?” tanya Radit seraya terus melangkah memasuki area kantor tempatnya bekerja itu. “Eh … biar aku aja yang bawa, Bang.” “Gapapa. Biar gue aja.” “Aduh, Bang, jangan! Nanti aku dimarahin,” ujar Sheryl seraya meringis. “Gak bakal. Kalau lo dimarahin, bilang ke gue. Gue akan bela lo.” ‘Aduh, ini orang lebih keras kepala daripada Axel!’ ujar Sheryl membatin. Diam-diam ia memperhatikan Radit. Pria itu sangat tinggi. Tinggi Sheryl hanya 165 cm. Terbilang cukup tinggi untuk wanita Indonesia. Jika diperhatikan, seharusnya ia cocok berpasangan dengan Radit yang memiliki tinggi badan 185 cm. Pria itu pun sangat tampan dan sikapnya sangat baik. Benar-benar suami idaman! Itulah yang dipikirkan Sheryl hingga tanpa disadari ia tersenyum seraya membayangkan andai saja Radit belum memiliki kekasih atau istri. “Ruang meeting H ya?” tanya Radit karena terlihat dari balik kaca pintu ruang rapat tersebut bahwa ada beberapa orang berkumpul di sana. “Iya, Bang,” jawab Sheryl. Ia pun segera mengetuk pintu ruang rapat tersebut dan membuka pintunya secara perlahan. “Oh, sini, Sher,” ujar Setyo, manajer tim accounting ketika mendapati Sheryl terlihat dari balik pintu ruang rapat tersebut. Sheryl pun melangkah ragu memasuki ruang rapat tersebut dengan diiringi oleh pengacara tampan idola kaum wanita di kantor tersebut. Semua anggota tim accounting pun ternganga tak percaya saat dilihatnya Radit membawakan menu pesanan mereka. “Lho, Bang Radit?!” ujar Setyo dengan kedua mata terbelalak saking terkejutnya. Ia pun buru-buru berdiri dan mengambil gelas kopi dan cemilan yang masih dipegang Radit. “Lain kali minta tolong ke OB aja ya, Pak. Kasihan Sheryl kesusahan bawa kopi segitu banyak dari lobby. Itu saya lihat Mamet sama Joko lagi main hp waktu saya sama Sheryl lewat depan pantry,” balas Radit yang berhasil membuat semua orang terkejut melihat sikap tegas pria itu. Namun, di antara semua orang yang berada di ruangan itu, Sheryl adalah orang yang paling terkejut. Seketika seluruh tubuhnya terasa kaku. Ia mematung memandangi seorang pria dari kantor konsultan pajak yang akan berdiskusi dengan tim accounting tempatnya bekerja. Pria itu adalah Axel, mantan kekasihnya yang telah berpisah selama empat tahun lamanya. Axel pun lebih terkejut melihat Sheryl berada di hadapannya dibandingkan terkejut karena mendapati Radit yang memarahi orang-orang yang akan rapat bersamanya. “Eh iya, maaf, Bang. Lain kali kami akan langsung minta tolong ke Mamet atau Joko,” ujar Setyo. “Maaf Bang Radit, tapi tadi si Sheryl-nya sendiri yang bilang dia mau beli kopi ke bawah,” ujar Merisa setelah memberanikan diri untuk membela bosnya padahal dirinyalah yang melakukan kesalahan itu. Lagipula, mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan pria tampan idola kantornya itu sangatlah langka. Ia bukan dari tim pengacara hingga ia tak memiliki keperluan apa pun untuk berbincang dengan Radit. “Ya lo yang suruh kan? Mana berani anak baru melawan penindasan,” balas Radit seraya menatap Merisa dengan garang yang berhasil membuat gadis itu sedikit menundukkan kepalanya. Tadi Merisa diminta oleh Setyo untuk meminta tolong pada Mamet atau Joko untuk membelikan pesanan kopi dan kue untuk para peserta rapat, tetapi Merisa malah meminta Sheryl untuk melakukan tugas tersebut karena malas mencari para office boy yang mungkin saja masih sibuk makan siang. “Enggak kok, Bang. Memang kebetulan saya lagi gak ada pekerjaan mendesak makanya saya yang tadi menawarkan diri untuk beli kopi di bawah,” ujar Sheryl agar perdebatan itu segera berakhir. “Kalau kerepotan, minta tolong OB aja, ya. Jangan mau disuruh melakukan tugas yang bukan tugas kamu,” balas Radit. “Iya, Kak. Makasih, ya,” ujar Sheryl seraya tersenyum manis pada Radit. Sial. Rupanya senyuman Sheryl itu berhasil memercikkan api cemburu di hati seorang konsultan pajak. “Ya udah, saya pamit ya. Maaf udah ganggu meeting-nya,” ujar Radit pada Setyo dan tim accounting lainnya. “Makasih Bang Radit,” ujar Setyo sebelum mengantarkan Radit sampai ke ambang pintu ruang rapat. Setelah Radit dan Sheryl keluar dari dalam ruang rapat itu, Setyo kembali ke kursinya. Sungguh, ia merasa canggung di hadapan para konsultan pajak yang datang ke kantornya karena bisa-bisanya Radit yang memiliki jabatan tinggi di firma hukum tersebut menegurnya dan timnya secara terang-terangan di hadapan para tamu. “Ayo silakan diminum kopinya,” ujar Setyo untuk mengurangi rasa canggung sebelum kembali memulai rapat mereka hari itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD