Bab 10 – Etdah, Sombong Amat!

1348 Words
Sheryl duduk terdiam menatap layar laptopnya yang sedang dalam keadaan mati. Jantungnya masih berdebar tak karuan. Bagaimana bisa siang hari itu ia bertemu kembali dengan mantan kekasih yang masih menjadi kekasih hatinya itu? Apalagi pertemuan mereka itu diwarnai dengan sedikit ketegangan akibat Radit yang membelanya di hadapan para tikus kantor yang menyebalkan. Ting! Dering notifikasi ponselnya berhasil menyadarkan Sheryl dari lamunannya. From: Axel Irwanto [Selesai meeting aku tunggu di kafetaria lobby] Sheryl terpaku memandangi pesan singkat yang dikirimkan oleh Axel. Sudah empat setengah tahun lamanya ia tak lagi menerima pesan singkat dari mantan kekasihnya itu setelah hubungan mereka resmi berakhir. To: Axel Irwanto [Gak ada yang perlu kita omongin. Kalau ada masalah pekerjaan, kirim via email aja ke spv atau manajer aku] Sheryl mengembuskan napasnya dengan berat setelah berhasil mengirimkan pesan balasan yang ia ketik dengan penuh perjuangan karena hatinya masih terpaut dengan pria yang kini telah menjadi pria beristri itu. Baru saja Sheryl akan kembali menenggelamkan diri dengan pekerjaannya, Axel kembali mengirimkan pesan singkat. From: Axel Irwanto [Aku akan tetap menunggu kamu] *** Jam di layar laptopnya menunjukkan waktu sudah pukul empat sore. Sesuai jadwal, setengah jam lagi rapat antara tim accounting XXX Law Firm dengan para konsultan pajak dari XYZ Tax Solution akan berakhir. Sheryl belum jua membalas pesan singkat Axel, tetapi Axel tahu Sheryl sudah membaca pesannya. Sheryl tak ingin lagi bertemu dengan Axel, tetapi hatinya selalu merindukan pria itu. Ia berupaya tak lagi melihat Axel secara langsung maupun dari media sosial agar perasaannya tidak lagi memaksanya untuk bersama pria itu lagi. Waktu berlalu dengan cepat. Jam sudah menunjukkan tepat pukul setengah lima sore. Mungkin sedang diadakan salam penutupan rapat hari itu, pikir Sheryl. Sekitar lima menit kemudian, Setyo, Marlina, dan Merisa kembali ke meja kerja masing-masing. Ya, rapat telah resmi berakhir. Ting! Lagi-lagi ponsel Sheryl membunyikan dering notifikasi. Diam-diam, Merisa menatap Sheryl dan berdecih kesal. Berani-beraninya si perawan tua itu mempermalukannya di hadapan Radit, pria yang diincarnya sekian lama. From: Axel Irwanto [Aku tunggu di Bottega. Jangan di kafe kantor kamu. Gak enak kalau tim kamu lihat kita] Sheryl mengembuskan napasnya dengan kasar. Mantan kekasihnya itu termasuk keras kepala. Ia yakin Axel akan terus menunggunya hingga malam tiba. Mau tak mau Sheryl sudah mulai membereskan meja kerjanya dengan memasukkan segala barangnya ke dalam tas karena tepat pukul lima sore nanti ada pertemuan dengan orang penting. Tepat pukul lima sore, Sheryl menonaktifkan laptopnya. Ia bergegas menyampirkan tas di pundaknya dan segera berpamitan dengan rekan kerjanya. “Mbak Mar, saya duluan, ya,” ujarnya pada sang asisten manajer. “Pak Setyo, duluan.” “Buru-buru amat,” ujar Setyo. Sebenarnya ia ingin menegur Sheryl karena perdebatan di ruang rapat yang diakibatkan oleh Sheryl yang tidak menolak saat Radit ingin membawakan pesanannya. “Ada janji dengan keluarga saya,” balas Sheryl. Ia sengaja mengatakan keluarga, bukan teman, agar menekankan bahwa pertemuan itu adalah pertemuan penting. “Oh, oke. Hati-hati, ya,” ujar Setyo. “Makasih, Pak,” balas Sheryl lalu bergegas pergi dari ruang kerja tim accounting. Merisa memutar kedua bola matanya dan mendengus kesal karena Sheryl tidak dimarahi oleh Setyo maupun Marlina. Junior yang usianya lebih tua darinya itu pun tak berpamitan padanya. Tanpa segan ia bangkit dari kursinya dan melangkah dengan cepat untuk menyusul Sheryl yang baru saja keluar dari ruang kantor mereka dan saat ini sedang menunggu pintu lift terbuka. “Heh, Sheryl!” panggil Merisa. Sheryl menoleh pada orang yang memanggilnya. “Ya?” “Eh, lo tuh bisa kenal bang Radit dari mana?” ‘Aduh, harus banget apa ngomongin hal gak penting itu sekarang?!’ teriak Sheryl membatin. “Waktu awal aku masuk sini bang Radit gak sengaja nabrak gue, ya udah diajak kenalan deh.” “Nye nye nye,” balas Merisa seraya memonyongkan bibirnya. “Lo seakrab itu sampai berani minta dia bawain kopi?!” “Oh, itu … gue udah nolak, tapi dia maksa.” “Ya lo paksa jugalah!” ujar Merisa dengan nada membentak hingga membuat semua orang yang berada di sekitarnya memandanginya. “Cie, lagi tatar junior nih, ye,” celetuk Yunov yang baru saja menyelesaikan panggilan alamnya di toilet. “Anjir lo,” timpal Merisa seraya terkekeh untuk membalas celetukan sahabatnya di kantor itu sebelum kembali menasehati Sheryl. “Lain kali kalau gue atau mbak Marlina atau pak Setyo nyuruh lo beli kopi ya harus lo yang beli! Lo sendiri yang beli ke kafe dan bawa sendiri kopinya ke kantor! Jangan manja! Awas lo ya, sekali lagi lo nyusahin orang lain ….” Ucapan Merisa itu pun tak sempat diselesaikannya karena Sheryl seketika tampak menantangnya. “Mau lo apa?” “Heh! Sopan lo ya!” “Lah? Kan gue nanya, mau lo apa?!” “Lo itu cuma karyawan temporer, bukan kartap!” “Maaf ya Mbak Merisa supervisor yang umurnya lebih muda dari saya, oke, saya tau kok saya cuma karyawan temporer bukan tetap, tapi itu lift-nya udah sampai. Saya pulang dulu. Bye!” ujar Sheryl seraya melambaikan tangannya pada Merisa yang membuat wajah Merisa semakin tampak merah padam. Di dalam lift, Sheryl terpaksa menahan tawanya, karena berhasil membuat Merisa terdiam, sebab ada karyawan dari kantor lain yang juga sedang menumpangi lift tersebut. ‘Dasar bocil lulusan kampus akreditasi E!’ ujarnya membatin. Saat tahu bahwa Sheryl adalah teman kuliah Stephanie, Merisa kembali merasa senang karena posisi staf diisi oleh orang yang usianya lebih muda daripada dirinya yang menandakan bahwa karirnya sangat sukses karena berhasil menyalip orang-orang yang lulus kuliah lebih dulu dibandingkan dirinya. Apalagi Merisa merupakan lulusan universitas dengan akreditasi C hingga membuatnya sering merasa rendah diri karena para karyawan di XXX Law Firm rata-rata lulusan top ten PTN dan PTS terkenal dengan biaya kuliah fantastis. Mendapati Stephanie dan Sheryl yang merupakan lulusan universitas negeri terbaik dan hanya menduduki posisi staf membuat Merisa merasa riang gembira. *** Sheryl melangkah ragu menuju restoran mewah di mana pria yang dicintainya menantikan kehadirannya. Ia mencengkeram erat tasnya dan terus melangkah maju walau hatinya berantakan. Baiklah, ia akan bersikap sebaik dan senormal mungkin di hadapan Axel. Ia akan buktikan bahwa dirinya tetap bahagia walau belum menemukan tambatan hati baru setelah putus hubungan dengan pria itu. Ia masih ingat dengan baik kata-kata sumpahan Axel padanya saat ia memutuskan hubungannya dengan Axel, ‘Kamu gak akan pernah bisa dapetin cowok lain yang sebaik aku!’ Dasar sial! Sampai detik ini pun Sheryl tak jua menemukan tambatan hati yang pas. Yang tak pas di hati pun tidak ditemukannya. Apakah Sheryl sedang dipersiapkan untuk bersanding dengan pria terbaik di muka bumi ini? Ah, sudahlah. Tak apa tak punya pasangan hidup asalkan bisa hidup bahagia lahir dan batin. Bukankah yang terpenting adalah menjalani hidup dengan hati yang gembira? Setibanya di Bottega, Sheryl mendapati Axel sudah menantinya seraya menyesap kopi. ‘Lagi-lagi kopi. Apa dia mau cepat mati?!’ pikir Sheryl. “Hai,” sapa Sheryl. “Duduk, Sher,” balas Axel. Pria itu pun segera meminta pelayan restoran untuk membawakan buku menu setelah Sheryl duduk di hadapannya. “Mau pesan apa, Sher?” tanya Axel saat pelayan menghampiri mejanya. “Strawberry Orange Squash,” ujar Sheryl pada pelayan. “Makanannya?” tanya Axel lagi. “Itu aja,” jawab Sheryl. “Truffle mushroom ravioli dua, ya, Mas. Untuk minumnya Strawberry Orange Squash juga,” ujar Axel pada pelayan restoran yang mencatat pesanannya, yang membuat Sheryl ternganga. “Untuk Strawberry Orange Squash-nya dua juga, Kak?” tanya sang pelayan. “Iya, dua Strawberry Orange Squash. Oh ya, Mas, saya juga pesan dessert, ya. Dua tiramisu.” “Baik, Kak.” Setelah pelayan memastikan bahwa catatannya akan pesanan pelanggannya itu sudah benar, pria muda itu segera pamit ke dapur untuk memberikan informasi pada chef bahwa ada dua orang yang sedang berkencan yang ingin menikmati makan malam di restorannya. “Aku tau kamu suka menu itu makanya aku pesan itu aja,” ujar Axel. “Aku kan cuma mau minum aja,” balas Sheryl. “Masa aku undang kamu ke sini gak aku kasih makan,” ujar Axel seraya menunjukkan seringainya. “Oh ya, tasnya awet, ya,” lanjutnya. Sheryl pun ternganga. Ia baru menyadari hari itu ia membawa tas pemberian Axel sebagai tas kerjanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD