Seperti janjinya, sore hari itu Radit menjemput Sheryl di kantornya. Mereka sengaja pulang lebih awal untuk mampir ke butik milik Yunita sebelum kembali pulang ke rumah. “Hai, Sayang,” ujar Radit menyapa Sheryl yang baru saja masuk ke dalam mobilnya. “H-hai,” balas Sheryl terbata-bata. Ia sedang ragu apakah ia harus segera memberi tahu Radit tentang janjinya pada Janice untuk mencabut tuntutannya terhadap Axel. Radit mengecup dahi Sheryl sebelum kembali melajukan mobilnya. “Kamu tegang banget.” “E-eh, e-enggak, kok,” balas Sheryl. “Kita langsung ke butiknya mbak Yuni, ya. Habis itu kita makan malam bareng. Aku udah ajak mbak Yuni untuk makan malam bareng kita aja.” “Oh, …,” tiba-tiba saja Sheryl teringat sesuatu. “Eh! Maksud kamu mbak Yunita kakaknya bang Yoga kan?!” “Ya iya, Sayang.

