Bab 7 – Jangan Galak-galak Dong, Bang Radit!

1498 Words
Jam menunjukkan pukul 2 siang. Sheryl datang ke pantry untuk mengambil jus yang ia simpan di kulkas. Saat berbalik badan, ia sangat terkejut mendapati Radit yang berdiri di belakangnya dan menatapnya dengan tajam. Pria itu mengunci tubuh Sheryl dengan menempelkan telapak tanggan kanannya di kulkas. “H-hai, Kak,” sapa Sheryl. “Hari Jumat kemarin lo lembur di kantor?” ujar Radit dengan sangat dingin. Seketika kedua bola mata Sheryl tampak terbelalak. Tak mungkin Radit tahu ia membohonginya, pikirnya. “Oh, i-itu … aku gak jadi lembur,” balas Sheryl. “Gue lihat waktu lo keluar dari lobby dan lo bawa tas kerja lo setelah lo nolak ajakan gue. Kalau lo gak mau pergi sama gue, tinggal bilang aja, gak perlu bohongin gue!” “E-enggak begitu, Kak. Aku ngerasa badan aku demam, jadi aku gak jadi lembur.” “Jadi, sekarang lo bohong dua kali?” “Enggak, Kak.” Tanpa disadari, Arkan menyusul Radit ke pantry dan mendapati juniornya yang tampak seperti orang yang akan segera melumat bibir seorang gadis di hadapannya. “Dit? Ngapain lo?” Radit memutar kedua bola matanya karena kesal pembicaraannya dengan Sheryl diinterupsi. “Laper. Mau makan orang!” jawab Radit seraya tetap menatap tajam pada mata Sheryl. Arkan tampak melangkah maju menghampiri Radit. Ia pun mendapati Sheryl yang ketakutan di depan pintu kulkas. “Lo mau makan Sheryl?” “Pergi,” ujar Radit pada Sheryl. Sheryl pun melangkah keluar dari area pantry setelah Radit mengangkat telapak tangannya dari dinding pintu kulkas. “Lo kenapa sih, Dit? Kasihan Sheryl sampai ketakutan gitu.” “Ya masa gue dibohongin?” Arkan menghela napas dan memutar kedua bola matanya. Saat jam istirahat kemarin Radit telah menceritakan bagaimana Sheryl menolak ajakannya dengan mengatakan harus lembur, tetapi nyatanya kedapatan pergi meninggalkan kantor tak berapa lama setelah gadis itu menolak ajakannya. “Mungkin dia emang lagi ada urusan lain. Lo jangan paksa dia dong. Hak dia untuk nolak ajakan lo.” “Kenapa juga harus bohong?” “Ya tanya baik-baik ke orangnya langsung. Masa nanya ke gue? Mana gue tau!” Arkan pun duduk di salah satu meja pantry dan membuka bungkus makan siangnya yang ia pesan melalui pesan antar sebuah restoran cepat saji, disusul Radit yang membawa dua botol jus yang ia ambil dari dalam kulkas. Ya, mereka baru akan menyantap makan siangnya karena saat jam istirahat tadi ada pekerjaan yang harus segera mereka selesaikan. Sementara itu, sahabat mereka, Yoga, sedang ada rapat dengan kliennya. “Ada baiknya lo mulai buka hati lo. Untuk Sheryl, misalnya. Jangan hidup di masa lalu terus,” ujar Arkan saat ia dan Radit sudah mulai menyantap hidangan makan siang mereka. “Gue udah buka hati kok. Silvi, Elsa, Citra. Mereka aja yang gak bisa menerima kelebihan gue yang terlalu ganteng ini.” “Iye, tapi sebenarnya lo masih mikirin Erica. Mereka merasa cinta lo udah habis di Erica.” “Sok tau.” “Gue kan abang lo juga. Gue mau yang terbaik buat lo.” “Kalau cuma bisa punya satu adik, lo pilih gue atau Renata?” Arkan tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Radit. Renata adalah adiknya yang menikah dengan Yoga, yang sering kali membuat ulah dan mau tak mau ia harus membantu adiknya itu untuk menyelesaikan masalah yang dibuatnya. “Gak dua-duanya. Sama aja lo berdua. Bisanya cuma bikin gue pusing!” jawabnya yang membuat Radit terkekeh. *** “Sher, lo manggil bang Radit tuh pakai panggilan ‘kak’ ya?” tanya Hanny saat mereka sedang melangkah keluar gedung karena jam kerja mereka telah berakhir. “Iya,” jawab Sheryl. “Kenapa?” “Gapapa, tapi di law firm kita untuk cowok biasanya dipanggil abang, bukan kakak atau mas, kecuali untuk tim back office kayak kita gini.” “Oh … jadi, bang Radit, ya.” “Cie mikirin abang ganteng lo?” “Ih, enggak! Cuma kan dari tim lawyer biasanya gue ngobrolnya sama dia.” “Udah ada kemajuan belum nih?” “Kemajuan apanya? Pendekatan aja enggak.” “Yah, Sher. Jangan sia-siakan kesempatan emas.” “Kesempatan emas apanya? Tadi siang dia marahin gue.” “Hah? Marahin kenapa?” “Jumat kemarin dia ngajak gue ke acara ulang tahun perushaan bokapnya, tapi gue nolak. Gak enaklah. Gue kan gak diundang. Gue alesan harus lembur. Eh, gak taunya dia lihat gue pas keluar dari lobby gedung.” Hanny pun tertawa hingga membuat Sheryl berdecih kesal. Sudah tahu ia sedang sedih malah ditertawakan. “Aduh, Sher, itu perusahaan kan punya doi juga. Doi salah satu pemegang saham Hadiputro Kimia. Ya berarti lo diundang langsung sama yang punya hajat! Lo sih cari gara-gara.” “Huh!” “Udah minta maaf?” “Ya belumlah. Dia galak banget, gue jadi takut. Untung tadi ada bang Arkan. Gak jadi deh dia makan gue.” “Wah, Sher, lo semanis itu lho sampai Radit mau makan lo. Ah, lo beruntung banget sih!” *** Sheryl baru saja kembali ke meja kerjanya setelah menyantap makan siangnya bersama Stephanie dan Hanny di pantry dan mampir ke minimarket untuk membeli beberapa keperluan. Baru saja ia mendarat di kursinya, satu kotak kue dan segelas matcha latte mendarat di mejanya. Kedua matanya terbelalak mendapati sebuah tangan berkulit putih terawat melewatinya. Ia pun mendongakkan kepalanya dan mendapati Radit berdiri di sampingnya. “Maaf untuk yang kemarin,” ujar Radit seraya tersenyum. “M-makasih, Kak … eh, Bang,” balas Sheryl gelagapan. Ia masih sangat terkejut dengan apa yang sedang dialaminya. “Gue balik dulu.” “Iya, Kak … eh … Bang.” Radit terkekeh mendapati Sheryl yang bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa. “Senyamannya kamu aja mau panggil kakak atau abang. Mau panggil Radit aja juga boleh.” “Kalau panggil Sayang boleh gak nih?” celetuk Herry yang ikut mendengar percakapan antara Radit dan Sheryl. Semua orang di ruang kerja tim accounting itu pun bersorak-sorai riang gembira hingga membuat Radit terkekeh dan Sheryl menunjukkan seringai kudanya. Sheryl khawatir Radit marah padanya. Namun, Merisa, seorang gadis cantik berusia 28 tahun yang menjabat sebagai Accounting & Tax Supervisor menunjukkan raut wajah tegang. Ia menatap tajam Sheryl yang tampak tersenyum manis pada Radit. Radit adalah pria pujaan hatinya. Tak seorang gadis pun yang boleh dekat-dekat dengannya, apalagi gadis itu memiliki jabatan yang lebih rendah daripada jabatannya. Radit adalah pria tampan bermasa depan cerah sehingga Merisa tak rela pria kesayangannya jatuh ke tangan gadis lain. “Ya udah, Sher, aku balik dulu, ya,” ujar Radit pada Sheryl sebelum benar-benar kembali ke ruang kerjanya. “Iya, Bang,” balas Sheryl seraya tersenyum manis yang membuat hati Merisa semakin memanas. “Cie Sheryl dapet jodoh,” celetuk Marlina setelah Radit keluar dari ruang kerjanya. “Cie cie,” timpal Herry. “Akhirnya ada lagi karyawan business support yang jadi sama pengacara sini,” ujar Setyo seraya mengetik di keyboard laptopnya untuk membalas email yang dikirimkan oleh salah seorang Partner kantor firma hukum mereka. “Dulu pernah ada yang pacaran sama lawyer sini, Pak?” tanya Yunov, salah satu sahabat Merisa. “Malah sampai nikah dan punya anak. Lah itu si bang Herman. Dulu istrinya tim finance kita, sekarang kerja di XYZ,” jawab Setyo. “XYZ?” ujar Sheryl dengan semangat. “Iya, tapi bukan tim audit. Back office-nya,” jawab Setyo lagi. “Semoga beneran jadi ya sama Radit,” ujar Herry pada Sheryl dengan senyum semringah. “Amin!” seru Stephanie, Marlina, dan Setyo dengan senyum terkembang. Yunov hanya berani terkekeh mendapati timnya sangat bersemangat menjodohkan Sheryl dengan Radit karena ia tahu Merisa menyukai Radit. Sementara itu, Rosidah, salah satu sahabat Merisa dan Yunov, hanya fokus pada pekerjaannya karena ia tak mau Merisa marah-marah sepanjang sisa hari itu. “Semoga bisa juga keterima di XYZ,” bisik Stephanie pada Sheryl. “Amin. Makasih, Steph,” balas Sheryl seraya tersenyum pada Stephanie. Ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Stephanie yang selalu mendukung cita-citanya. “Buka kuenya, Sher,” ujar Stephanie. Sheryl pun menuruti permintaan Stephanie itu. Rupanya Radit memberikannya strawberry cheesecake. Sheryl tersenyum memandangi kue cantik itu. Stephanie pun segera memotret kue cantik itu dengan kamera ponselnya. “Ya udah dimakan dong, jangan dilihatin aja,” ujarnya yang membuat Sheryl tersipu malu. *** Hari menjelang malam. Di sebuah kantor konsultan pajak, seorang pria baru saja kembali dari kantor pengadilan pajak untuk mengurus keperluan pajak kliennya. Sebelum kembali bekerja, pria itu menyempatkan diri beristirahat di pantry untuk menyeruput secangkir kopi. Saat menunggu suhu kopinya menurun, pria itu membuka akun media sosialnya di ponsel. Ia mendapati unggahan Stephanie berupa foto sepotong strawberry cheesecake. Di foto itu Stephanie memberikan caption ‘Cie Sheryl uhuy! ❤😆’. Seketika perasaan pria itu menjadi kacau. Benarkah mantan kekasihnya itu sudah memiliki kekasih? Ya, kini Sheryl memang hanya sekadar mantan kekasihnya. Namun, masih belum bisa hilang dari ingatannya bagaimana gadis itu mengakhiri hubungan mereka. Rasanya ia masih belum ikhlas sepenuhnya menerima jika mantan kekasihnya itu bersanding dengan pria lainnya, apalagi jika pria baru itu jauh lebih tampan dan jauh lebih mapan daripada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD