“Dit, Ga, … makan dulu, yuk,” ujar Arkan dari balik meja kerjanya ketika jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Seperti biasanya, mereka akan bekerja lembur sampai … hmm … mungkin sampai tengah malam. Hal yang sudah sangat biasa terjadi di kantor konsultan dan firma hukum mana pun.
“Gas!” balas Radit seraya mengunci layar laptopnya. Radit, Arkan, dan Yoga pun segera melangkah keluar dari dalam ruang kerja mereka.
“Mau makan di mana?” tanya Yoga setibanya mereka di depan pintu lift.
“Terserah,” jawab Arkan.
“Duh, mulai deh terserahnya,” ujar Yoga yang membuat Arkan terkekeh.
“Makan di mana, Dit?” tanya Arkan.
“Bottega, yuk, tapi bang Arkan yang bayar,” jawab Radit.
“Lah? Kok jadi gue yang bayar?!” protes Arkan.
“Kan tadi bang Arkan yang ngajak,” balas Radit seraya menampilkan senyum kudanya yang membuat Yoga tertawa dan menganggukkan kepalanya tanda setuju pada apa yang diucapkan adik jadi-jadiannya itu. Arkan pun mencebikkan bibirnya. Dasar sial. Hari apes tidak ada di kalender. Bisa-bisanya Arkan ketiban sial di sore hari. Radit pun melangkah riang gembira bersama kedua kakak tersayangnya menuju restoran favoritnya
***
“Jadi, … kamu apa kabar?” tanya Axel memecah keheningan antara dirinya dan Sheryl setelah ditinggalkan pelayan yang mencatat pesanan mereka.
“Baik. Kamu?” jawab Sheryl dengan wajah datar.
“Baik juga.”
“Sejak kapan kerja di XYZ?” tanya Sheryl setelah mereka kembali terdiam.
“Dua tahun lalu aku pindah kerja ke XYZ,” jawab Axel seraya tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu betapa Sheryl memimpikan dirinya dapat bekerja di kantor konsultan kenamaan dunia itu “Kamu sendiri udah lama kerja di XXX?”
“Baru-baru ini aja. Aku gantiin Stephanie. Dia lagi ambil cuti hamil.”
“Oh, I see.”
“Iya.”
“Tina?”
“Tina masih di kantornya yang dulu.”
“Udah nikah?”
“Belum, tapi dia udah tunangan.”
“Kamu?”
Sheryl terdiam sejanak seraya memandangi Axel dalam-dalam. Ia tak mau Axel merasa menang karena sumpahannya dulu terwujud. Hingga usianya mencapai kepala tiga tak seorang pria pun datang mendekatinya. “Belum,” jawabnya singkat. Ya, tak mungkin kan ia harus berbohong mengenai status pernikahannya?
“Oh, … jadi benar yang dibilang teman-teman.”
“Apa?”
“Kamu belum move on dari aku.”
“Hah?! Siapa yang bilang begitu?!” protes Sheryl dengan raut wajah tegang.
“Bercanda,” jawab Axel seraya terkekeh yang membuat Sheryl berdecih kesal.
Sheryl dan Axel segera menyantap hidangan makan malam mereka begitu pesanan mereka datang. Sheryl ingin sekali buru-buru menghabiskan makan malamnya dan berlalu dari hadapan Axel. Semakin lama bersama pria itu hatinya terasa semakin sakit. Mereka makan bersama tanpa bisa hidup bersama.
“Aku udah punya anak. Namanya Jonathan. Dia lucu banget,” ujar Axel tanpa mempedulikan perasaan Sheryl.
“Oh, … selamat, ya,” balas Sheryl diiringi usaha untuk tersenyum dengan tulus. Ya, ia turut berbahagia atas kehidupan Axel yang tampak sempurna, tetapi ia merasa bahwa ia juga berhak mendapatkan kebahagiaan itu. Axel bisa mendapatkan hidup bahagia itu berkatnya. Karena dulu ia telah melepaskannya untuk kebahagiaan kekasihnya itu. Tentu Sheryl merasa bahwa ia juga berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
“Jadi, … sejak kita putus kamu belum ada pacar lagi? Mau aku kenalin ke temen aku gak? Dia duda sih. Anaknya dua, tapi dua-duanya ikut tinggal sama ibunya. Gimana?”
Sheryl memberengutkan wajahnya. Rasanya Axel seperti sengaja meledeknya dengan menjodohkannya dengan seorang duda. “Aku udah punya pacar.”
Seketika Axel mengerutkan dahinya dan menatap Sheryl dengan curiga. “Oh, … siapa?”
“Ada deh.”
“Cowok yang tadi siang bawain kopi kamu?”
Sheryl tampak mematung sejenak setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Axel. Sungguh ia menginginkan Radit sebagai pendamping hidupnya. Namun, mana mungkin ia berani berkhayal menjadi pasangan hidup seorang pengacara terkenal dan pewaris perusahaan besar. Namun, bayang-bayang akan bagaimana ibu pria di hadapannya itu memperlakukannya dulu terlintas di benaknya. Ibu Axel tak sudi anaknya yang ia besarkan dengan susah payah dan tumbuh sebagai pria cerdas bermasa depan cerah bersanding dengan seorang gadis dengan ayah seorang pensiunan guru yang hanya mewarisi sebuah rumah yang dilengkapi dengan sebuah toko klontong. Sheryl pun dengan percaya diri menjawab, “Iya.”
Axel tampak menunjukkan seringainya. “No! You lie!” Ia sangat yakin Sheryl berbohong padanya.
“Dih. Kenapa? Kamu jealous karena dia lebih ganteng daripada kamu?”
“Kamu bilang gak ke dia kalau sekarang kamu lagi ketemu mantan pacar kamu?” tanya Axel curiga karena tiba-tiba saja ia mendapati sosok Radit bersama kedua orang temannya yang baru saja memasuki restoran yang ia kunjungi.
“Bilang kok,” jawab Sheryl dengan penuh percaya diri.
“Dia tau kamu ke Bottega?”
“Tau! Aku gak pernah bohong ke pacar aku, … termasuk waktu sama kamu dulu.”
“Oh …,” balas Axel sebelum terdiam sejenak. Otaknya masih mencerna bagaimana hubungannya dengan Sheryl dulu. “Itu pacar kamu dateng ke sini,” ujarnya.
“Hah?!”
“Itu dia kan si bang Radit?” ujar Axel seraya menunjuk ke arah di mana Radit berada.
Sheryl menolehkan kepalanya secara perlahan. Ia pun ternganga mendapati Radit yang datang ke restoran itu bersama Yoga dan Arkan. ‘Mampus! Gimana kalau Axel ngomong ke Radit gue baru aja ngakuin dia jadi pacar gue?!’
Dari jarak kurang lebih tiga meter, Yoga mendapati Sheryl yang menatap Radit dengan raut wajah sangat terkejut. “Dit, Sheryl tuh,” ujarnya pada Radit. Radit dan Arkan pun menoleh pada arah yang ditunjuk Yoga. Radit segera melambaikan tangan seraya tersenyum pada Sheryl yang membuat Sheryl menunjukkan seringai kudanya seraya membalas lambaian tangan pria tampan yang mendadak diakui sebagai kekasihnya itu.
“Si Sheryl kenapa tegang begitu mukanya?” celetuk Arkan.
“Malu karena ketangkep basah lagi sama pacarnya kali,” timpal Yoga yang membuat Arkan tertawa.
Setelah menyapa Sheryl, Radit mengajak kedua abang kesayangannya itu untuk segera duduk di kursi yang dipilihkan pelayan restoran untuk mereka dan memilih hidangan makan malam yang akan mereka pesan.
“Yah, sabar ya, Dit. Kalau emang Sheryl jodoh lo, bentar lagi juga mereka putus,” ujar Yoga.
“Jir, jahat banget sih abangnya Radit!” timpal Arkan seraya mengejek Radit yang selalu menganggap Yoga adalah saudara kandungnya.
“Kalau gak salah cowoknya Sheryl itu konsultan pajak kantor kita deh,” ujar Radit.
“Hah? Kok lu tau?” tanya Yoga.
“Tau dong. Tadi siang ketemu di ruang meeting,” jawab Radit. “Kasian deh Sheryl. Masa dia disuruh bawa kopi sama kue gitu. Mana banyak pula yang harus dibawa. Untung ketemu gue di lobby, jadi gue bantuin bawa deh ke ruang meeting. Sekalian aja gue tegur si pak Setyo. Bisa-bisanya dia nyuruh cewek semanis Sheryl bawa barang sebanyak itu. Apa gunanya kantor kita ada Mamat sama Joko?!”
“Yah, Dit, lo gak usah ikut campur sama urusan tim mereka dong. Kan jadi gak enak kalau sampai kedengeran sama tim lain,” protes Arkan.
“Gak ikut campur, tapi masa gue diem aja ada penindasan di depan mata gue?” balas Radit membela diri.
Sementara itu, di kursinya, Sheryl mendadak merasakan sekujur tubuhnya terasa keringat dingin. Kakinya terus bergerak saking gugupnya. Ia benar-benar khawatir Axel nekat memberikan salam pada ‘pacar barunya’.
“Kamu gak kenalin aku ke pacar kamu?” tanya Axel.
“E-enggak usah,” jawab Sheryl.
“Dia gak salah paham kan? Aku jadi gak enak lho sama pacar kamu. Apalagi ada kejadian kopi tadi siang.”
“S-santai aja … B-bang Radit bukan orang yang gampang marah kok.”
“Bang Radit? Kamu manggil pacar kamu abang?”
“Eh … i-iya. S-soalnya … kebiasan di kantor aku untuk pengacara cowok dipanggilnya pakai sebutan abang, jadi kebiasaan aja sampai sekarang.”
“Oh ….”
Keadaan menjadi hening. Sheryl dan Axel sama-sama sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Axel yang memikirkan apakah Sheryl dan Radit benar-benar sepasang kekasih dan Sheryl yang memikirkan bagaimana jadinya jika Radit tahu tentang kebohongannya.
Axel melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jam itu menunjukkan pukul setengah tujuh malam. “Sher, aku pulang dulu, ya,” ujarnya memecah keheningan.
Sheryl pun melirik jam tangannya untuk mengetahui jam berapa saat ini karena Axel sudah pamit pulang. “Kamu mau balik ke kantor?”
“Enggak. Aku lanjut lembur di rumah aja.”
“Oh, … udah berubah, ya.”
“Berubah?”
“Biasanya jam segini belum malam buat kamu, tapi sekarang kamu cepat pulang.”
“Nanti kamu juga akan ngalamin hal yang sama kalau udah nikah sama bang Radit,” ujar Axel seraya tersenyum yang membuat Sheryl kembali menunjukkan seringai kudanya.
Axel memanggil pelayan untuk meminta tagihan pesanannya. Sheryl terus memandangi Axel saat pria itu melakukan pembayaran. Ia berpikir seharusnya saat ini ia sedang makan malam bersama suaminya dan sebentar lagi mereka akan kembali pulang ke rumah untuk bermain bersama anak mereka, tetapi takdir berkata lain. Pria yang dicintainya itu tak ditakdirkan untuknya.
“Sher, temenin aku pamit ke pacar kamu, yuk,” ujar Axel yang berhasil membuyarkan lamunan Sheryl.
“Hah? Eh, a-apa?” tanya Sheryl untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
“Aku mau pamit ke pacar kamu,” jawab Axel.
“Eh, gak usah!” ujar Sheryl dengan nada tegas hingga membuat Axel mengerutkan dahinya karena berpikir sikap Sheryl sedikit aneh. “Kamu langsung pulang aja.”
“Aku gak enak sama pacar kamulah, Sher. Apalagi dia kan kerja di kantor klien aku. Jabatannya udah tinggi pula.”
“Tapi …,” ujar Sheryl seraya berpikir keras untuk menemukan alasan tepat agar mereka tak perlu menghampiri Radit, “kita backstreet!”
“Backstreet? Dari siapa?”
“Orang-orang kantor.”
“Oh, … ya udah gapapa. Aku gak akan kasih tau orang kantor kamu kok.”
“Tapi bang Radit lagi sama temen-temen kerjanya.”
“Oh, yang tadi sama Radit itu pengacara XXX juga?”
“Iya! Udah deh kita langsung pulang aja, yuk. Aku gak enak sama Radit kalau sampai hubungan aku sama dia kesebar di anak-anak kantor.”
“Oke deh, yuk balik,” ujar Axel yang membuat Sheryl dapat bernapas lega.
Sheryl dan Axel sama-sama bangkit dari kursinya lalu melangkah keluar dari dalam restoran tersebut dengan diiringi tatapan Radit yang masih sibuk menyantap hidangan makan malamnya di ujung sana.
“Mau aku anter?” tanya Axel.
“Gak usah. Aku bisa naik bis,” jawab Sheryl.
“Radit gak anter kamu pulang?”
“Dia mau lembur.”
“Oh ya udah bareng aja yuk.”
“Gak usah. Gak enak sama bang Radit. Kamu duluan aja.”
“Serius gapapa?”
“Serius!”
“Ya udah, aku duluan, ya.”
“Ya, hati-hati.”
Sebelum keluar dari area restoran, Sheryl memastikan dulu Axel masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan area restoran tersebut. Ya, ia ingin berjaga-jaga agar Axel tak kembali ke dalam area restoran dan menghampiri Radit untuk membongkar kebohongannya.