Dari mejanya, Radit dapat mengamati Sheryl yang bangkit dari kursinya dan melangkah keluar dari dalam restoran bersama seorang pria tampan yang berprofesi sebagai konsultan pajak. Pria itu tampan dan masih muda. Rasanya mereka tampak akrab, tetapi ada sorot mata sedih dari sang wanita saat menatap pria tampan itu. Intuisi Radit mengatakan ia tidak terlalu menyukai pria itu walau tak tahu apa alasannya. Intuisinya mengatakan pria itu tak cocok bersanding dengan Sheryl.
“Heh, jangan bengong! Buruan habisin makanan lo! Kerjaan gue masih banyak nih,” ujar Arkan ketika mendapati Radit berdiam diri.
“Gue bingung nih, Bang,” balas Radit.
“Bingung kenapa?” tanya Yoga.
“Hari Sabtu besok gue mau nge-date sama cewek yang dikenalin Ezra di pesta ulang tahun HTK Group,” jawab Radit.
“Ya udahlah, gas aja. Siapa tau dia jodoh lo,” ujar Arkan.
“Tapi … feeling gue yang kuat ini mengatakan dia bukan jodoh gue. Kan sia-sia aja gue pergi nge-date padahal udah tau dia bukan jodoh gue,” balas Radit.
“Ya terus feeling lo yang kuat itu mengatakan siapa jodoh lo?” tanya Yoga setelah menghela napasnya dengan berat dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Radit.
“Gak tau,” jawab Radit seraya kembali sibuk menyantap sirloin steak-nya.
“Tapi … feeling lo yang kuat itu mengatakan lo akan nikah gak nih?” goda Arkan.
“Ih, Bang Arkan, gue tusuk pake garpu lo ya!” protes Radit yang membuat Arkan dan Yoga menertawakan raut wajah Radit yang cemberut.
***
Hari yang telah ditunggu-tunggu itu pun akhirnya tiba. Hari itu Radit khusus mengenakan kemeja dan celana berwarna hitam. Chalya pun mengenakan gaun hitam yang menonjolkan keseksian tubuhnya dilengkapi dengan selendang sutra yang juga berwarna hitam. Penampilan keduanya benar-benar elegan untuk menghadiri konser piano klasik.
“Eh, kita foto dulu yuk,” ajak Chalya.
“Ayo,” balas Radit seraya tersenyum ramah. Hari itu tampaknya Chalya sangat gembira. Bagaimana tidak? Hari itu adalah hari yang telah lama dinantikannya. Seorang pemain piano idolanya akan tampil tepat di hadapan matanya. Tentu saja Chalya berdandan maksimal untuk menghadiri acara konser itu. Oleh karena itu, Radit tak ingin membuat suasana hati Chalya menjadi buruk. Biarlah waktu nanti yang akan menjawabnya apakah intuisi hati Radit mengenai Chalya benar atau tidak.
Setelah menghadiri acara konser piano, Radit membawa Chalya ke sebuah restoran yang berlokasi tak jauh dari lokasi konser tersebut. Rupanya Chalya cukup ketat dalam mengatur menu makanannya. Gadis itu mengikuti menu diet yang disarankan oleh personal trainer-nya.
“Maaf ya, Dit, aku emang agak cerewet kalau soal menu makanan. Sejak lulus kuliah, aku emang bertekad banget untuk jaga bentuk tubuh aku. Dulu aku gendut lho. Aku seneng banget bisa konsisten nurunin berat badan aku sampai ke angka ideal,” ujar Chalya setelah pelayan selesai mencatat menu pesanan mereka dan kembali ke dapur.
“It’s ok. Aku paham,” balas Radit seraya tersenyum untuk mengatakan pada gadis di hadapannya bahwa ia memahami keputusan Chalya untuk menjaga asupan gizinya. Namun, batinnya sungguh berisik, ‘Gile sekurus itu dibilang gendut?! Ini cewek apa gak bisa bedain antara berat ideal sama kurus?!’ ujarnya membatin. Radit telah melihat semua foto yang diunggah Chalya ke berbagai akun media sosialnya. Di sana terdapat foto-foto yang diunggah Chalya ketika gadis itu berusia 20an awal. Menurut Radit, dulu Chalya memiliki tubuh ideal dan tidak termasuk ke dalam kategori gendut. Sepertinya gadis itu memang terlalu berlebihan, pikirnya.
Tak perlu menunggu terlalu lama, menu pesanan Radit dan Chalya pun mendarat di atas meja sepasang muda-mudi yang sedang menjajaki pendekatan sebelum memutuskan untuk membawa hubungan mereka ke hubungan yang lebih serius.
“Oh ya … aku denger dari Ezra, katanya kamu suka kucing,” ujar Chalya di saat ia sibuk menyantap hidangan sehatnya.
“Iya, kamu suka kucing juga?” tanya Radit bersemangat. Setelah ia kecewa pada Chalya akibat gadis itu yang terobsesi memiliki tubuh sangat kurus, kini ia kembali bersemangat. Ia berharap dapat menemukan pasangan hidup yang dapat menerima kehadiran kucing-kucing kesayangannya.
“Suka juga. Dulu waktu kecil aku punya kucing, tapi kucingnya mati, ya udah deh aku males piara hewan lagi.”
“Oh gitu. Kucing kamu mati kenapa?”
“Aku lupa kasih makan.”
‘Hadeh,’ ujar Radit membatin seraya memasang raut wajah malasnya yang membuat Chalya terkekeh.
“Aku merasa bersalah banget gak rawat kucing aku dengan baik. Kalau kita memang gak bisa jaga mereka dengan baik bukannya lebih baik gak usah piara sama sekali?” lanjut Chalya.
“Iya, kamu benar,” balas Radit dengan raut wajah kecewa. Baru saja harapannya tumbuh, tetapi seketika sudah dihancurkan kembali.
“Tapi, kalau kamu memang sayang sama kucing-kucing kamu, aku mau kok belajar rawat mereka dengan baik. Sekarang aku kan udah gede. Udah tau tanggung jawab.”
Radit pun tersenyum mendengar ucapan Chalya itu. “Gak usah dipaksain kalau kamu memang gak suka ngurusin kucing.”
“Gak terpaksa kok. Lagipula kan ada ART yang bisa bantu aku jaga kucing-kucing kita nantinya. Oh ya, aku denger katanya kamu punya kucing kesayangan yang kamu jadiin istri,” ujar Chalya yang berhasil membuat Radit tertawa. Radit dapat menebak bagaimana reaksi Chalya saat Ezra memberi tahunya tentang kucing betina kesayangannya yang bernama Gemoy.
“Iya,” balas Radit.
“Nama kucing kesayangan kamu itu siapa?” tanya Chalya.
“Sheryl,” jawab Radit tanpa menyadari ucapannya.
“Sheryl?” ujar Chalya tampak berpikir sejenak. Seingatnya Ezra mengatakan kucing betina kesayangan Radit itu bernama Gemoy, bukan Sheryl. “Bagus ya namanya.”
Seketika Radit mematung. Sejak kapan ia punya kucing bernama Sheryl?
***
Akhir pekan yang sibuk bagi sepasang suami istri muda yang menghabiskan hari Sabtu mereka yang cerah. Sang suami sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya, sang istri sibuk mengurus anak mereka yang masih berusia satu tahun. Rumah tangga mereka berjalan dengan baik. Mereka tak pernah bertengkar. Tak pernah mereka mengalami masalah ekonomi maupun perselisihan akibat orang ke tiga. Namun, rasanya Janice tak merasakan indahnya berumah tangga. Axel selalu sibuk bekerja. Di kala tak sedang dikejar deadline pun Axel tetap bekerja. Ada saja yang diurusnya. Entah itu pekerjaan kantor atau mengurus bisnis distro miliknya.
Hari itu berjalan sebagaimana biasanya. Axel terjaga di pagi hari lalu pergi ke tempat fitness langganannya. Setelah itu, ia pergi ke sebuah kafe untuk menyantap roti dan secangkir kopi sebelum pulang ke rumah untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda akibat dini hari yang tadi malam tiba.
Setibanya di rumah, Axel mendapati Janice diam-diam menangis di kamar tidurnya. Axel menebak Janice menangis karena istrinya itu ingin lebih diperhatikan oleh sang suami. Suaminya bukan orang yang kejam, tetapi menjadikan dirinya istri di atas kertas sangatlah menyakitkan. Oleh karena itu, Axel bergegas mandi dan berpakaian rapi lalu membawa istri dan anaknya, serta seorang babysitter untuk berjalan-jalan ke mall sekadar untuk membuat istrinya merasakan bahwa ia memiliki suami yang menyayangi keluarganya. Janice tampak bahagia. Wajahnya memancarkan senyum semringah yang membuat kecantikannya semakin menjadi-jadi. Ya, Janice sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik jika dibandingkan dengan Sheryl. Sayangnya, cinta yang diberikan Axel pada Sheryl menetap di gadis itu dan tak dibawanya kembali walau hubungan mereka telah lama berakhir.
“Mas, kita makan malam, yuk. Aku laper,” ujar Janice setelah lelah berjalan-jalan mengelilingi mall serta membeli beberapa pakaian dan keperluan rumah tangga.
“Yuk. Mau makan di mana?” tanya Axel.
“Terserah,” jawab Janice.
Karena jawaban terserah yang diucapkan Janice, tibalah Axel dan keluarga kecilnya, serta sang babysitter di sebuah restoran di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kedua matanya seketika terbelalak saat mendapati pria tampan yang berprofesi sebagai pengacara berstatuskan kekasih baru mantan kekasihnya sedang tertawa riang gembira dengan seorang gadis cantik dengan gaun seksi yang menonjolkan keseksian pundaknya. Pria tampan itu terlihat sangat menikmati makan malamnya yang sepertinya adalah sebuah kencan. Axel pun merasa curiga. ‘Jangan-jangan itu cowok selingkuh dari Sheryl. Awas aja sampai dia berani nyakitin Sheryl, gue gak akan tinggal diam!’ ujar Axel membatin.
“Mas, kamu kenapa?” tanya Janice ketika didapatinya raut wajah suaminya tampak marah.
“Eh, s-sorry, gapapa kok. Di sana kayaknya ada teman aku,” jawab Axel.
“Oh, kamu mau sapa dia?”
“Gak usah deh. Kayaknya dia lagi asyik sama pacarnya. Takut ganggu.”