“Aduh aku tidak sabar, ingin cepat-cepat liburan!” teriak Elia sangat antusias. “Sabar, De, bagi rapornya aja baru hari jumat,” respon Deva. Mba Ipah hanya tersenyum, sejujurnya ia pun sudah tidak sabar ingin mengunjungi kampung halaman yang sudah sangat lama ia tinggalkan. Meskipun sejatinya, pulang kampung pun hendak mengunjungi siapa? Kerabat yang ia kenal hanya pamannya, itu pun sudah merantau ke Malaysia, pindah memboyong keluarganya. Keluarga inti maksudnya, karena kalau dibilang keluarga, bukankah Mba Ipah pun keluarganya. “Mba Ipah, mau bawa apa saja nanti?” “Bawa apa, ya? Mungkin biasa aja, De. Baju, celana, rok, sepatu, hmm... apa lagi ya?” Mba Ipah berpikir. “Bawa bunga, Mba...” saran Elia “Hah? Bunga buat apa, De?” tanya Mba Ipah heran. “Kan buat ke makan Emak Mba,” jawa

