“Saya barusan habis dari pasar,” kata Andin membuka pembicaraan. “Aduh, Bu. Padahal biar sama saya aja,” “Kenapa? Biar bisa mark up harga?” ucap Andin dingin. Mulai menggunakan istilah-istilah yang mungkin sudah biasa ia gunakan kepada para Bankir, yang sama sekali tidak dipahami Mak Iroh, meskipun ia sudah tahu apa maksudnya. “Bukan gitu, Bu. Takutnya Ibu capek, kan sengaja cuti buat istirahat,” “Oh gitu,” Andin memang sangat dingin pada pembantunya. Padahal seorang Teller Bank biasanya sangat ramah di depan nasabah, kalau ada Teller yang ekpresinya seperti Andin pada Mak Iroh mungkin nasabah akan kabur. Tapi tentu saja di kantornya, Andin super ramah dan supel, hanya karena tuntutan profesi. “Baiklah, Mba, karena Mba pasti masih banyak tugas yang lain, jadi saya langsung aja. Tadi

