Selama perjalanan mereka terdiam, tidak banyak kata yang terucap, mereka hanya sedang menikmati moment. Ini kedua kalinya Mas Sumitro menyusuri jalan yang sama menuju rumah Aan, terakhir kali ketika mengantarkan KTP saat hujan gerimis itu. Mas Sumitro masih ingat betul detail jalan menuju rumah Aan dengan sangat baik. Bagaimana bisa lupa, ada seseorang yang ia rindukan tinggal di sana. “Sudah sampai, Neng!” Motor sudah terparkir di pekarangan rumah. “....” “Neng?!” “Eh, iya, Mas,” Aan baru tersadar, sedari tadi ia melamun. Ternyata sudah sampai rumahnya. “Sudah sampai,” Mas Sumitro mengulang, ia menahan senyum. Aan pun turun dari motor. Tak terduga tiba-tiba Aan menggenggam tangan Mas Sumitro dengan erat. Seketika tubuh Mas Sumitro terasa seperti tersengat listrik. Dengan refleks,

