Yakin

1080 Words
Melalui pesan singkat Rio meminta agar Ulfa Kirana memasak untuknya di akhir pekan, dia ingin makan siang dengan masakan yang dimasak oleh Ulfa, sehari sebelum hari masak memasak tersebut Ulfa Kirana terlebih dahulu menelpon calon suaminya itu, untuk menanyakan makanan apa yang Rio inginkan. "Halo Assalamu Alaikum!" "Walaikum salam, Iyya kenapa?" "Kamu mau dimasakin apa besok?" "Apa aja!" "Berarti terserah aku yah!" "Hmmmm!" "Tadi makan malam menunya apa?" "Lupa!" "Kok bisa lupa sih?" "Ya lupa namanya!" "Kamu lagi ngapain?" "Sedang menjawab telepon kamu." "Maksud aku tuh pada saat aku nelpon, kamu lagi ngapain?" "Gak ada!" "Gak mikirin aku?" "Gak!" "Trus mikirin siapa?" "Gak ada!" "Tapi aku mikirin kamu!" "Aku tau, kamu pasti mikirin menu apa yang mau aku makan buat makan siang besok." "What?" "What what...udah kalau gak ada yang penting aku mau tidur!" "Ada yang penting!" "Apa yang penting?" "Kamu!" "Oh!" "Oh doang? ya udah kalo gitu mimpi yang indah!" "Hmmm!" Panggilan telpon pun berakhir. "Rio kenapa tiap saat kamu ngeselin tapi kok saya jadi gemes gini?" "SADAR ULFA SADAR!!!" Sibuk dengan pikiran dan perasaannya yang mulai tidak karuan karena Rio Wijaya. Tiba-tiba suara pesan masuk. SMS banking, ternyata masuk transferan dua puluh lima juta dari Ayunda. "Halo Assalamu Alaikum!" "Walaikum salam, Yu kamu transferin aku banyak banget dalam rangka apa atau salah transfer? "Enggak salah transfer kok, emang buat kamu, tadi aku tuh ketemu mba Tantri, jadi dapat info kalau ibu lagi sakit, itu bantu-bantu siapa tau butuh, tapi ibu sakit apa? soalnya tadi mba Tantri buru-buru gitu jadi gak ngobrol banyak." "Makasih yah tapi banyak banget!" "Gak apa-apa Fa, trus keadaannya ibu bagaimana?" "Ibu gagal ginjal, harus cuci darah." "Ya Allah, jadi ibu sekarang di mana?" " Ada di rumah kok, rawat jalan untuk sementara." "Oh gitu, soal pernikahan kamu gimana lancar?" "Alhamdulillah lancar!" "Kamu yakin dengan Rio?" "Aku yakin dengan perasaanku!" "Emang sejak kapan kalian dekat kok aku gak tau?" "Kami emang gak pernah pacaran tapi dekatlah!" "Kamu gak bohong kan? apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" "Emang apa yang harus disembunyikan?" "Iyya gak ada sih, cuman kenapa tiba-tiba?" "Gak tiba-tiba kok, lagian aku udah dua puluh limah loh emang sudah paslah buat nikah!" "Jadi karena umur?" "Ya gak juga sih, emang ada yang salah sama Rio?" "Gak ada yang salah, dia orang yang baik, kalian cocok kok, cuman kamu gak pernah bahas-bahas dia, tiba-tiba ngomong mau nikah sama Rio, jadi kaget aja gitu, yang jelas do'a terbaiklah buat kalian berdua, bahagia dunia akhirat, saling sayang sampai kakek nenek!" "Aamiin!" "Ya udah yah, kayaknya anakku ada yang terbangun deh, lain kali dilanjut." "Ok emak-emak rempong !" "Tungguin aja kamu juga bakalan rasain rempongnya jadi emak-emak!" Panggilan dari Ayunda Sucipto berakhir, Ayunda adalah sahabat Ulfa dari bangku SMP yang juga merupakan ibu sambung dari keponakan Rio Wijaya. Ulfa kembali terkenang momen indah ketika dia berlibur ke Prancis ditraktir Rio Wijaya, pengalaman yang indah di usia muda memang tak pernah terlupakan. Ayunda, Rio Wijaya di tambah teman-teman terbaik Ayunda dari negara +33 ada Kenzo, dan kakak beradik bermata biru Adam dan Maryam OUSSADI. Yang Ulfa Kirana tidak ketahui ternyata dari perjalanan tersebut Rio mulai menyadari jika dia merasa nyaman dengan keberadaan Ulfa, setiap saat Rio Wijaya selalu mencari kesempatan agar bisa bertemu dengan Ulfa Kirana. Ulfa Kirana dan Rio Wijaya pertama kali bertemu di acara pernikahan kakak perempuan Rio. Sejak saat itu Rio Wijaya dan Ulfa Kirana sering bertemu di beberapa kesempatan dan keduanya pun jadi teman yang cukup baik dan cocok satu sama lain, walaupun awalnya Rio Wijaya menyukai sahabat Ulfa yaitu Ayunda Sucipto pada pandangan pertama, namun pada akhirnya Rio Wijaya merasakan perasaan yang berbeda terhadap Ulfa bukan sekedar naksir atau semacamnya tapi ada rasa yang berbeda, Rio merasa jika Ulfa melengkapi hidupnya, pertemanan mereka cukup harmonis, tapi pada suatu hari Ada kejadian yang membuat Ulfa Kirana menjauh. Pada hari itu Rio Wijaya yang tidak pernah menyentuh alkohol, mabuk karena dicekokin oleh teman-teman bisnisnya. Rio yang mabuk berat meminta Ulfa Kirana menemuinya, pada saat bertemu justru Rio mendaratkan ciuman di bibir Ulfa Kirana dengan tiba-tiba dan tanpa persetujuan dari Ulfa, sejak saatnya itu Ulfa tidak ingin berhubungan lagi dengan Rio Wijaya, dia selalu menghindar dan sampai saat ini Rio tidak tau apa yang telah diperbuatnya pada waktu itu. Tapi berbeda dengan dulu yang ingin menjauh dari Rio Wijaya karena merasa telah dilecehkan atau apapun itu justru sekarang Ulfa Kirana berharap bisa meruntuhkan tembok es yang mengurung Rio Wijaya, Ulfa berharap dia bisa memenangkan hati Rio Wijaya, dia tidak tahan melihat Rio yang selalu menyendiri menghabiskan masa mudanya yang cemerlang dengan kesendirian dan tanpa kepercayaan diri, usia tidak selamanya muda jika Rio Wijaya hanya bisa bersembunyi dia tidak akan bisa menikmati kebahagiaan yang sebenarnya. Ulfa Kirana yakin pada hatinya jika dia bisa menjadi seperti apapun yang Rio butuhkan, apa pun itu Ulfa akan melakukannya. Karena tidak mendapatkan jawaban dari pangeran gunung es tentang menu apa yang dia inginkan, Ulfa Kira langsung menelpon ibu Ajeng, walaupun beberapa hari yang lalu sempat membahas soal masakan tapi dia ingin berkonsultasi kira-kira menu apa yang tepat dia siapkan untuk makan siang Rio Wijaya. Keramahan yang diberikan Bu Ajeng membuat Ulfa Kirana mudah dekat dengan Bu Ajeng bahkan hanya hitungan hari mereka berdua sudah seperti ibu dan anak. Sebelum ke rumah Rio Wijaya, Ulfa Kirana singgah untuk membeli bahan makanan yang akan dia masak yang lumayan memakan waktu dan pastinya hal tersebut membuat Rio Wijaya uring-uringan. "Iyya halo!" "Kamu dimana jangan bilang kamu tidur sampe jam segini? lima puluh menit lagi udah jam sebelas siang, saya makan siang sebelum jam dua belas, sebelum masuk waktu Dzuhur aku biasanya udah makan, kalau gak bisa yah udah!" "Astaga Rio jam sepuluh lewat sepuluh menit, jam sebelas kurang lima puluh... penyebutannya gitu amat! aku udah di jalan." "Yang jelas udah mau jam sebelas siang, jangan sampai telat! berapa menit lagi kamu nyampai?" "Udah hampir nyampe tenang aja kamu pasti gak akan telat makannya!" "Ok!" Jawaban singkat Rio dan langsung memutuskan panggilan telponnya. "Kenapa sih takut banget kelaparan dasar pangeran gunung es!!!" Rio Wijaya sebenarnya tidak masalah dengan makanan untuk makan siangnya yang dia takutkan Ulfa tidak menepati janjinya untuk membuat makan siang untuknya, Rio tidak akan menerima jika Ulfa ternyata lebih memilih untuk bermalas-malasan atau bangun telat, dibandingkan datang kerumahnya dan menyiapkan makan siang untuknya. Rio sangat berharap Ulfa bisa menjadikannya sebagai hal yang penting bagi Ulfa kalau bisa mejadi prioritas, tapi alih-alih bersikap manis selayaknya orang yang jatuh cinta ataupun menyatakannya langsung.Tindakannya kepada Ulfa Kirana malah justru terlihat seperti bos galak dan karyawan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD