Mendengar suara Aulia yang setengah berteriak membuat Ulfa cepat-cepat berdiri dari pangkuan Rio Wijaya.
"Maaf kamu gak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa." Jawaban singkat Rio tanpa memandang wajah Ulfa.
Karena malu Ulfa pun segera meninggalkan Rio.
"Kamu gak apa-apa nak, kakimu kesandung?" tanya bu Ajeng.
" Aku yang dorong kak Ulfa mah!"
"Ckckckck, jangan usil-usil, nanti Kak Rio marah, mau diamuk sama kak Rio?"
"Habis udah bertahun-tahun kak Rio gak pernah ngomong sama Aulia, jangankan ngomong diliatin aja enggak sebel kan!"
Aulia adalah anak yatim kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan pesawat saat itu Aulia masih berusia lima tahun, kemudian dia dirawat oleh neneknya, setelah neneknya meninggal setahun yang lalu kemudian dia ikut dengan ibu Ajeng yang merupakan adik kandung dari ayahnya. Dia bisa saja tinggal sendiri tapi Bu Ajeng memintanya untuk tinggal bersamanya dan tinggal di Jakarta untuk melanjutkan kuliah setidaknya sampai usianya 21 tahun kalaupun nanti dia ingin hidup mandiri bu Ajeng baru bisa melepasnya jika usianya sudah sedikit lebih dewasa. Bu Ajeng adalah ibu yang baik selama ini, ia sudah memberikan semua perhatian untuk anak-anaknya tapi entah kenapa bisa putri tertuanya Dinda Wijaya mengalami hidup yang kelam hanya karena pernah dipatahkan oleh satu orang yang tidak bertanggung jawab. Tapi setidaknya sekarang Bu Ajeng sudah bisa sedikit tenang karena Dinda Wijaya sudah bersama Kevin pria baik yang selalu ada untuk Dinda, kesehatan mental Dinda dalam satu tahun bisa pulih kembali setelah dirawat oleh Kevin, tapi sampai sekarang Dinda masih takut bertemu dengan Khadijah anak kandungnya dia merasa bersalah terhadap putri kandungnya dan juga dia tidak pernah berani menemui Rio Wijaya, karena dialah penyebab kecelakaan yang menyebabkan adik semata wayangnya itu harus duduk di kursi roda. Kevin dan Dinda menjalankan bisnis pariwisata jauh dari ibu kota. Mereka mempunyai resort di pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Jauh dari hiruk pikuk kota dan pemandangan laut serta pantai yang indah membuat Dinda Wijaya bisa pulih lebih cepat dan ini merupakan keajaiban bagi keluarga Wijaya dan tentu saja bagi Kevin suami Dinda Wijaya. Karena apa yang di alami Dinda tersebut, Bu Ajeng begitu melindungi Aulia walaupun hanya keponakan bukan anak kandungnya, dan Aulia yang ceria membantu mengisi hari-hari Bu Ajeng yang mulai senja. Bagi Bu Ajeng hari yang selalu dinantikannya adalah akhir pekan di hari Sabtu biasanya bu Ajeng diizinkan untuk membawa cucu kesayangannya Khadijah untuk menginap di kediaman keluarga Wijaya.
Entah kenapa yang awalnya rencana makan malam bersama tapi akhirnya hanya bu Ajeng, Aulia dan Ulfa Kirana yang makan malam bersama. Rio Wijaya memilih untuk makan di ruangan lain sendiri tanpa siapa pun, sementara pak Wijaya harus makan malam dengan para petinggi perusahaan.
Rio Wijaya sebenarnya hanya terlalu bahagia bisa sedekat itu dengan Ulfa Kirana hanya saja dia tidak ingin ketahuan, entah apa yang dipikirkannya, tak ada satu orang pun yang tau jalan pikirannya. Yang jelas dia hanya selalu merasa dia tidak berharga yang dimilikinya hanya uang dan harta, jika dia tidak memiliki itu semua dia yakin tak akan ada yang mau berada di sampingnya.
Kekecewaan tumbuh di hati Ulfa Kirana, sejak siang tadi dia berfikir dia akan banyak melihat wajah Rio Wijaya hari ini tapi kenyataan Rio Wijaya mengurung diri lagi.
'Apa dia marah karena insiden tadi? apa dia kesakitan karena aku tindih waktu jatuh, mungkin saja dia kesakitan tapi dia tidak mengatakannya, aku yakin itu!' Batin Ulfa.
Setelah makan malam dan berbincang-bincang yang selalu diselingi gelak tawa antara Ulfa, Bu Ajeng dan Aulia akhirnya ketiganya pun memilih kembali ke rumah masing-masing. Aulia dan Bu Ajeng yang terlebih dahulu berpamitan pada Rio yang dia jawab hanya dengan satu kata "Iya" oleh Rio.
Ulfa pun masuk keruangan di mana Rio Wijaya berada.
"Aku juga pamit pulang yah!"
"Iyya!"
"Kamu sakit waktu aku tindih tadi?"
Rio Wijaya tidak mau menjawab pertanyaan Ulfa Kirana, karena tidak mendapatkan jawaban Ulfa memeriksa sendiri kondisi Rio.
"Kakimu sakit, disini? di sebelah mana?" Tanya Ulfa dalam keadaan berlutut, matanya mulai berkaca-kaca dan akhirnya air matanya terjatuh dalam hitungan detik.
"Jangan menangis aku tidak apa-apa, aku hanya ingin sendiri!"
"Tapi kenapa kamu mau sendiri? apa enaknya makan sendiri, kalau memang suka kesendirian kenapa memintaku masuk dalam kehidupanmu? apa benar-benar aku hanya sebagai perawat, kalaupun demikian kenapa tidak memberiku kesempatan kepadaku untuk memastikan kamu makan dengan benar?". Pertanyaan yang bergejolak di hati dan pikiran Ulfa Kirana.
"Fa... jangan cengeng aku tidak suka air mata tolong keluarlah sekarang!"
Ulfa masih tak bergeming dia masih di sana dan tetap menangis. Rio yang sudah tidak tahan lagi melihat air mata Ulfa Kirana akhirnya meraih dagu Ulfa Kirana. Rio pun mencium kening Ulfa Kirana, ciuman yang lembut tapi menusuk sampai ke jantung mereka.
"Jangan menangis lagi atau mau snaku cium di tempat lain?"
Tangis Ulfa langsung mereda.
"Aku balik yah, selamat malam!"
"Hmmm!" jawaban singkat Rio.
"Aku pulang yah!"
"Iya! kenapa gak pulang-pulang dari tadi sih? Emang mau nginap di sini?"
Mendengar pertanyaan menohok Rio Wijaya, Ulfa Kirana langsung pergi setengah berlari meninggalkan ruangan tersebut. Menghadapi Rio Wijaya memang tidak mudah, Ulfa Kirana harus bersabar tidak boleh terbawa emosi jangankan marah menangis pun tidak boleh, harus memilih kata yang tepat.
Di jam istirahat makan siang tiba-tiba telpon genggam Ulfa Kirana berdering, dan terpampang jelas nama Rio Wijaya disana.
"Aduh ngapain dia nelpon? apa mau ngajak makan siang lagi? gimana nih gak enak sama pihak sekolah klo makan diluar walaupun sebenarnya boleh, tidak mungkin juga aku menolak Rio."
"Assalamualaikum!"
"Walaikum Salam! Fa pulangnya aku jemput yah, aku mau ketemu dengan ibu kamu, sebaiknya sebelum orang tuaku datang menemui ibumu ada baiknya aku menemui ibumu terlebih dahulu!"
"Oh iyya."
"Itu aja yang mau kusampaikan."
"Ok, sampai jumpa bentar sore yah!"
"hmmm!" panggilan telpon Rio Wijaya pun terputus.
"Hmmm...doang!!! dasar si manusia gunung es!
Bel sekolah berbunyi akhirnya jam mengajar telah selesai, walaupun Ulfa Kirana tau belum tentu perjumpaannya dengan Rio Wijaya akan selalu diisi momen yang manis tapi sering diisi drama-dramanya si pangeran es itu tapi seperti biasa Ulfa merasa begitu bahagia.
"Udah lama nunggu?"
"Gak!"
"Ok kita langsung jalan aja, oh Iyya ibu dan kak Tantri udah nyiapin makan malam, kita makan malam di rumahku yah!"
"Iyya!"
"Bener mau?"
"Iyya!"
"Makasih yah!"
"Iyya!"
"Kamu paling suka makan apa?"
"Apa aja!"
"Apa aja gimana? perasaan kamu pemilih makan deh!"
"Iyya!"
'Anjrit ini orang kenapa cuman bisa iya iya doang sih!!! sabar sabar... untung kamu ganteng Rio kalau enggak aku sudah guling-guling'. Kata hati Ulfa Kirana.
Karena lelah dengan jawaban iyya-iyya Ulfa Kirana pun memilih diam selama di perjalanan, dia memilih menatap keluar jendela tapi sebenarnya yang dia perhatikan adalah pantulan Rio Wijaya di kaca mobi, walaupun tidak jelas dia masih bisa melihat wajah tampan rupawan calon suaminya.
'Apakah ada celah untuk aku di hatimu? apakah selamanya aku hanya perban yang menutupi lukamu? sedalam apa lukamu? kamu itu berkilau bagaimanapun kondisimu, tapi sepertinya aku yang salah, berharap terlalu banyak padahal ini masih sangat awal, sepertinya aku yang memang tidak pandai bersabar, semangat Ulfa... semangat!'
Mobil yang mereka kendarai akhirnya berhenti dan sampai di depan rumah tempat tinggal Ulfa Kirana dan ibunya tinggal selama ini.
"Mbak Ulfa duluan aja masuk, entar saya nyusul sama pak Rio!"
"Baik pak Putra!"
Dan pada akhirnya Rio Wijaya bertemu dengan ibu Ulfa Kirana dan juga kakak perempuan Ulfa. Rio pun segera mencium tangan calon ibu mertuanya. Setelah beberapa lama dimulai dengan obrolan ringan akhirnya Rio memulai pembicaraan yang serius.
"Ibu saya berniat meminang Ulfa Kirana menjadi istri saya, saya harap ibu dan juga mba Tantri memberikan restu pada kami!"
"Nak Rio pertama-tama ibu hanya ingin mengingatkan perbedaan status kalian sangat berbeda, saya berharap kamu bisa memahami Ulfa dengan latar belakang keluarga kami yang kamu bisa lihat sendiri.
"Itu tidak ada masalah bagi saya, juga kedua orang tua saya bu, justru saya yang berharap kalian menerima kondisi saya yang cacat ini."
"Nak jangan bicara begitu kamu jangan berputus asa! tentu saja kami menerimamu, kamu tidak kekurangan apa-apa nak, hanya do'a restu yang bisa kami berikan, semoga kalian bisa bahagia dunia akhirat..Aamiin!"
"Terimakasih kasih Bu!"
"Iyya nak!"
Pada pertemuan dengan keluarga Ulfa Kirana tersebut Rio juga menyampaikan jika pada hari lamaran resmi dia tidak bisa hadir, dia jujur mengatakan jika dia tidak bisa bertemu dengan orang banyak. Yang datang hanya kedua orangtuanya dan keluarga besar mereka. Ibunda Ulfa pun bisa memahaminya walaupun ada sedikit kekhawatiran terhadap anaknya tapi karena yang dia berfikir anak gadisnya menyukai Rio Wijaya maka tentu saja dia memberikan restu.
Tiba hari lamaran resmi Rio Wijaya kepada Ulfa Kirana, pertemuan antara dua keluarga, acara pertemuan tersebut berupa makan siang, pak wijaya membopong keluarga besarnya dan juga keluarga dari ibu ajeng, walaupun ini masih acara lamaran tapi hadiah yang dibawah oleh pihak mempelai pria untuk calon pengantin, luar biasa banyaknya sebagai bukti penghargaan kepada calon mempelai wanita dan keluarganya. Walaupun semua berasal dari keluarga terpandang tak ada satupun yang keberatan harus menyusuri gang sempit tempat tinggal Ulfa Kirana dan ibunya. Acara berlangsung cukup lancar.
Karena acara lamaran telah dilaksanakan, kini mereka resmi jadi calon manten, walaupun tidak akan menyelenggarakan pesta besar-besaran hanya acara ijab kabul yang di hadiri pihak keluarga saja. Tapi tetap Rio memesan gaun ijab kabul yang mahal untuk Ulfa Kirana, dia percaya setiap perempuan pasti menginginkan gaun pengantin yang terindah di hari spesial mereka.