Selama perjalanan dan ketika sampai di rumahnya pun Ulfa Kirana masih teringat momen romantis yang baru pertama kali dialaminya.
"Ternyata pangeran gunung es bisa juga seromantis itu...ahhh sebel kenapa aku jadi kepikiran terus sih, kan cuman cium tangan doang udah gitu langsung dicuekin lagi, tapi kenapa kok aku suka yah?" Kata Ulfa Kirana pada dirinya sambil berguling-guling di tempat tidurnya. Tempat membuang segala penat dari aktivitasnya seharian, tempatnya membuat laporan dan lain-lain, tempatnya menonton drama dan film-film terbaru, bisa dikata waktunya banyak dia habiskan di tempat tidur sederhananya itu.
Ulfa memilih untuk segera tidur dan tidak ingin menonton ataupun membuka sosial media dan lainnya, karena esok pagi adalah hari senin, mengajar di sekolah internasional memang memiliki gaji yang bagus bisa berkisar antara enam juta sampai puluhan juta tapi juga memiliki tanggung jawab kerja yang lumayan. Di tempat Ulfa mengajar dia masuk jam 07.15 WIB pulang jam 16.00 WIB dan harus diketahui jika tidak fasih bahasa Inggris maka akan sulit bisa menjadi tenaga pengajar di sekolah Internasional karena hal tersebut sangat berpengaruh dalam berkomunikasi baik dengan peserta didik, guru dan seluruh warga sekolah karena baik peserta didik, guru, staf banyak yang merupakan warga negara asing.
Ketika jam istirahat makan siang tiba-tiba ada panggilan telpon masuk dari Rio Wijaya.
"Ya halo!"
"Aku ada di depan sekolah bisa keluar gak, kita makan siang bersama?"
"Tunggu sebentar yah aku keluar!" panggilan telpon tersebut pun berakhir.
"Kenapa lama banget sih?"
"Kan harus laporan dulu, jadi kita makan dimana?"
"Makan di Cafe atau resto terdekat saja!"
"Gak masalah ayo jalan, aku gak bisa lama-lama nanti telat lagi, lagian kami tuh disediakan makan siang di sekolah jadi gak enak klo terlalu sering makan di luar!"
"Jadi kamu gak mau makan siang bareng!"
"Gak gitu juga pak Rio, maksudnya bisa tapi gak sering-sering gitu loh, gimana ya jelasinnya? pak Rio dikit-dikit marah aku jadi takut jadi susah menjelaskan!"
"Jadi aku menakutkan?"
"Ya enggaklah ganteng gitu masa menakutkan, ups...!" Ulfa Kirana spontan menutup mulutnya karena keceplosan yang membuatnya malu merasa dirinya terlihat seperti w*************a, memikirkan hal tersebut membuatnya ingin menghilang kemana saja yang penting tidak ada Rio Wijaya.
Mendengar kata-kata Ulfa membuat hati Rio jadi begitu melunak, awalnya dia sudah mulai merasa terluka dia merasa tidak diinginkan, sekarang berubah menjadi sedikit ada harapan bahwa dirinya berharga.
"Ok kita jalan sekarang, tapi bisa tidak jangan panggil pak Rio, panggil nama saja!"
"Rrrr Rio...! kok susah banget yah? gak enak panggil nama doang?"
"Ya udah panggil sayang saja kalau gitu!"
Ulfa Kirana tidak bisa membalas kata-kata Rio Wijaya seperti biasanya dia hanya bisa tersenyum aneh ditambah wajahnya yang berubah menjadi kemerahan karena malu, seumur-umur dia belum pernah pacaran tiba-tiba harus manggil sayang.
Sesampainya di tempat makan yang dimaksud mereka pun segera masuk ke dalam, bersama pak Putra yang membantu Rio Wijaya turun dari mobil, mobil tersebut sudah didesign untuk penyandang cacat sehingga mempermudah Rio dan kursi rodanya.
Ulfa Kirana merasa sangat aneh, walaupun ini jam makan siang tak ada satu pengunjung di restoran tersebut, hanya beberapa pelayan yang menyambut mereka dan langsung mengantar kemeja dimana mereka akan makan siang. Pak Putra memilih meja sendiri dan membiarkan atasnya bersama calon istrinya atau lebih tepatnya ingin menikmati makanannya tanpa melihat wajah beku bosnya tersebut. Restoran tersebut sudah dibooking satu hari sebelumnya tak boleh ada satu orangpun pengunjung selain mereka di jam makan siang pada hari ini, alasannya tidak lain karena Rio tidak menyukai keramaian.
Selama menunggu pesanan mereka datang, baik Ulfa Kirana maupun Rio Wijaya tak mengeluarkan satu katapun. Rio Wijaya menyibukkan diri dengan memeriksa email yang masuk di layar telpon genggamnya. Sementara itu Ulfa sibuk memperhatikan keadaan sekitar, cukup aneh baginya jam makan siang namun hanya mereka bertiga pengunjung di restoran tersebut, dia tidak kepikiran jika Rio sudah memesan satu restoran untuk mereka saja.
Akhirnya makanan mereka pun datang, melihat makanan yang terhidang membuat semangat Ulfa Kirana langsung terpancar, matanya begitu berbinar sementara itu Rio Wijaya masih sibuk dengan telpon genggamnya, dan ternyata melihat wajah Rio yang fokus bekerja lebih membuat mata Ulfa Kirana berbinar dibandingkan dengan melihat hidangan di meja tadi. Tanpa sadar dia bertopang dagu, posisi yang paling nyaman untuk menikmati pemandangan indah di depannya. Wajah yang sangat rupawan di balik kacamata yang sangat pas dengan bentuk wajah seorang Rio Wijaya. Bibir Rio yang berwarna merah muda dan selalu lembab terawat, bibirnya jauh lebih indah daripada anak gadis kebanyakan. Hidung mancung yang menjulang seperti gunung Mont Blanc, rambut hitam pekat yang tertata begitu rapi, jari-jari panjang yang sibuk dengan telpon genggam, lengan kemeja putih Rio yang di gulung hampir sampai siku memperlihatkan urat ditangan CEO tampan tersebut, walaupun harus menggunakan kursi roda, Rio masih rajin berolahraga di bawah bantuan instruktur tidak heran jika dia mempunyai urat tangan yang menonjol membuatnya tampak begitu maskulin.
Menyadari ada seseorang yang menatapnya Rio pun segera menyimpan telpon genggamnya.
"Kenapa menatap aku begitu? kamu udah laper banget yah?"
"Iyya, tapi pak Rio tampak sibuk jadi aku tidak mau mengganggu." Jawaban bohong Ulfa Kirana, yang sebenarnya terjadi dia sangat menikmati memandang Rio Wijaya sampai dia lupa untuk berkedip.
"Manggil pak lagi, bapak lagi emang saya kepala sekolah kamu? ya udah ayo makan!"
"Udah kebiasaan sa.. sa...sayang!"
Mendengar dipanggil sayang Rio tiba-tiba terbatuk, dia juga heran kenapa lehernya tiba-tiba terasa gatal begitu. Ulfa Kirana dengan sigap memberikan segelas air.
"Maksih yah!" kata Rio setelah meminum air tersebut yang membuat batuknya reda.
Mereka menikmati makan siang mereka dengan keheningan, tak ada satupun diantara mereka yang tau harus bicara apa, padahal dahulu mereka selalu tak kehabisan topik untuk dibahas, walaupun demikian jauh di dalam hati kedua anak manusia tersebut ada kebahagiaan dan kehangatan di sana, duduk bersama walaupun tak ada kata yang bisa terucap tapi jelas terlihat dari pancaran mata, mereka bahagia dan mereka sedang jatuh cinta.
Setelah makan siang mereka selesai, Ulfa Kirana diantar kembali ke sekolah tempat di mana dia mengajar. Seperti tadi pada saat di jemput makan siang, Rio dan Ulfa duduk di kursi penumpang bagian belakang, keduanya duduk berdampingan tapi karena rasa malu, keduanya berusaha menjauh. Rio sibuk dengan kerjaannya sementara Ulfa Kirana memilih untuk menatap keluar jendela. Mobil berhenti tandanya mereka telah sampai, tapi sebelum turun Rio Wijaya memegang tangan Ulfa Kirana.
"Tunggu dulu, aku cuman mau bilang sebentar dijemput pak Putra yah, kamu di tunggu papa dan mama di rumah mereka pengen ketemu kamu lagi dan kita makan bersama di rumah malam ini!"
"Ok, sampai jumpa nanti sore yah!" Ulfa Kirana pun tak lupa memberikan seutas senyum manis namun hanya dibalas anggukan oleh Rio Wijaya.
Ulfa melangkah masuk ke pekarangan sekolah walaupun senyumannya tak mendapatkan balasan dia tidak patah semangat menghadapi tembok es yang mengurung Rio Wijaya.
Akhirnya kelas terakhir pun berakhir sudah waktunya Ulfa untuk pulang, jam pulang sekolah memang selalu di tunggu bukan hanya siswa tapi gurunya pun demikian. Apalagi memikirkan dia akan bertemu Rio lagi entah kenapa dia semakin bersemangat meninggalkan kelas hari ini. Di depan gerbang sekolah mobil yang menjemputnya sudah tiba beberapa menit sebelum Ulfa keluar.
"Terimakasih pak Putra sudah jemput"
"Sama-sama mbak Ulfa, ini sudah tugas saya."
Tiba di rumah Rio Wijaya tentu saja dia disambut oleh ibu Ajeng ibunda Rio tercinta, dan satu lagi anak gadis yang sepertinya masih berusia delapan belas tahunan.
"Apa kabar Ulfa sayang?"
"Baik tante !"
"Bagaimana disekolah hari ini, lancar?
"Alhamdulillah lancar tante."
"Oh Iyya kenalin ini Aulia ponakan tante, anak dari kakak tante selama ini dia tinggal dengan ibu, neneknya Rio, tapi tahun lalu beliau berpulang jadi Aulia memilih ikut dengan tante."
"Hi, Aulia, panggil saja kak Ulfa." Kata Ulfa Kirana sambil menjabat tangan Aulia.
"Kak Ulfa pacarnya kak Rio ?"
"Iyya dong cantik kan calon kakak iparmu!" kata bu Ajeng.
Ulfa Kirana tersipu malu karena sikap calon mertuanya, Ulfa sangat bersyukur ternyata kedua orang tua Rio sangat baik kepadanya.
Mereka bertiga pun segera masuk ke rumah Rio, Bu Ajeng berencana akan mengajak Ulfa untuk ke dapur memeriksa masakan dan kue yang sedang disiapkan para asisten di rumah tersebut, dia sangat antusias ingin menunjukkan makanan favorit seluruh anggota keluarga Wijaya, sementara itu seperti biasa Rio sibuk dengan kertas laporan dan juga laptopnya selain di ruang kerjanya dia juga sering duduk di salah satu sofa panjang di ruang tamu utama seperti sekarang ini.
Mereka bertiga melewati ruangan di mana Rio sedang berada, Rio bahkan tidak peduli dengan kehadiran mereka bertiga, Ulfa pun berniat sekedar basa basi menyapa tuan rumah.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum Salam, Rio menjawab salam tanpa memandang ke arah Ulfa Kirana.
Ulfa merasa sebaiknya dia tidak mengganggu Rio yang sedang sibuk, dia pun ingin bergegas menyusul ibu Ajeng yang sudah berjalan di depan menuju ruangan lain, tiba-tiba dia merasa ada dorongan yang kuat membuatnya tidak bisa menjaga keseimbangan badannya, diapun terjatuh tepat di pangkuan Rio Wijaya, dan dengan sigap pula Rio menangkap badan Ulfa agar tidak terjatuh kelantai, adegan romantis seperti di drama-drama dan film India pun berlangsung, posisi wajah mereka yang begitu dekat membuat tatapan kedua anak manusia itu terkunci satu sama lain, denyut jantung keduanya pun saling memburu.
"Cie Cie, mama Ajeng liat Kak Rio dan Kak Ulfa romans-romantisan padhal masih sore, depan aku pula yang masih lugu ini!" kata Aulia yang setengah berteriak dan disusul dengan tawa kemenangan Aulia, ternyata Aulia sengaja mendorong Ulfa Kirana, dan terciptalah adegan romantis tersebut.