Rio Wijaya dan Ulfa Kirana menuju ruang makan dimana kedua orang tua Rio menunggu mereka, keduanya memasuki ruangan tersebut dengan beriringan tak lupa senyum ceria di wajah mereka.
"Jangan lupa senyum natural jangan kayak dipaksa gitu, emang kamu aku paksa untuk jadi istriku?"
"Iya gak gitu juga pak Rio, aku tuh gugup!"
"Pokoknya aku gak mau tau kalau mama papa gak ngasi restu itu salah kamu!"
Ulfa Kirana memegang teguh percakapannya dengan Rio barusan membuatnya berusaha semaksimal mungkin agar bisa tampak secantik mungkin dengan senyum yang menawan, dengan mengumpulkan seluruh tenaga dia akhirnya bisa berjalan menuju ruang makan sesuai apa yang Rio harapkan.
Bu Ajeng langsung berdiri dan menyambut calon menantunya, dia memegang tangan Ulfa dan menuntunnya duduk di samping Rio.
"Ulfa Kirana kan? cantik sekali!"
"Makasih tante." Jawab Ulfa dengan wajah yang memerah karena dipuji calon mertua di pertemuan pertama.
"Ulfa bisa panggil tante Ajeng kalau kalian udah nikah panggil mama dong!"
"Iiiii...iyya tante."
"Nah ini papanya Rio, panggil aja om Wijaya!"
Ulfa pun segera mengulurkan tangan kepada pak Wijaya yang disambut dengan senyum ramah pak Wijaya.
"Ulfa sepertinya kita pernah ketemu dimana yah?" kata pak Wijaya sambil masih terus memutar ingatannya.
"Saya ingat sekarang, bukannya kamu anak perempuan yang beberapa kali saya liat menangis di depan ruang perawatan Rio dua tahun yang lalu, jadi kamu nangis gara-gara pria pemarah ini, waktu itu om pikir keluargamu juga sedang sakit dan dirawat di salah satu ruangan yang lain, kalau tau kamu nangis untuk Rio pasti waktu itu saya suruh berhenti menangis, buang-buang air mata saja, orangnya juga bangun-bangun malah marah-marah terus."
Ulfa yang mendengar kata-kata pak Wijaya hanya bisa tersenyum aneh sangking gugupnya, dia tidak tau harus berkata apa, Ulfa pun mencuri pandang kepada Rio yang duduk di sampingnya, dia mengenang kembali masa lalu, waktu itu dia merasa sangat sedih takut Rio tidak bangun lagi walau bagaimanapun Rio sangat baik terhadapnya. Sementara itu Rio sama sekali tidak berekspresi apa-apa mendengar ucapan ayahnya, sebenarnya Rio sudah tau dari informasi pak Putra jika selama dia sakit hampir setiap hari Ulfa Kirana datang menjenguknya bahkan seminggu pertama Ulfa Kirana tidak bisa berhenti menangis. Karena hal itu pula ketika Rio melihat Ulfa setelah sekian lama, langsung tumbuh niat di hatinya untuk meminta Ulfa Kirana menikah dengannya. Sayangnya kakinya yang lumpuh menghancurkan kepercayaan dirinya, bahkan untuk tersenyum pun sangat sulit, menurutnya yang dia miliki hanya uang tidak ada hal lain yang berharga di dirinya. Rio sama sekali tidak pernah berfikir jika Ulfa wanita yang bisa diajak menikah hanya karena uang, Rio sangat yakin jika Ulfa bukan wanita yang tidak memandang harta, tapi karena Rio Wijaya saat ini sama sekali tidak bisa mengontrol emosi dan kata-katanya ketika dia berhadapan dengan orang lain tanpa berfikir panjang dia meminta Ulfa untuk menikah dengannya dengan imbalan uang, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Sayangnya justru Ulfa yang langsung meminta satu milyar sebagai syarat, hal ini cukup membuat hati Rio Wijaya kecewa dan terluka.
Melihat ekspresi muka Rio yang biasa saja, Ulfa pun segera mengalihkan pandangannya dari Rio.
"Udah pah jangan mulai lagi, udah nak jangan didengerin perkataan om!" kata Bu Ajeng kepada Ulfa yang berusaha menghentikan suaminya untuk melanjutkan kata-kata suaminya yang dari tadi menyindir Rio.
"Jadi gimana rasanya menjadi seorang guru?" tanya bu Ajeng kepada Ulfa Kirana.
"Cukup menyenangkan tente, cuman kadang banyak bicara dan menjelaskan di kelas membuat tenggorokan serak."
"Berarti cukup berat yah menjadi guru."
"Setiap profesi pasti ada tantangannya tante, tapi karena Ulfa memang suka mengajar jadi semuanya jadi menyenangkan."
"Wah jadi begitu? kalau keluarga kami kebanyakan pengusaha belum ada yang dari dunia pendidikan, semoga tidak ada halangan kalian bisa cepat menikah dan kami dapat mantu guru." Mendengar ucapan ibu Rio wajah Ulfa Kirana tak berenti tersipu.
"Udah mah pah kita mulai saja acara makan malamnya yah, Rio masih banyak laporan yang harus diperiksa."
"Ayo-ayo mari kita mulai makan!" kata Bu Ajeng dan langsung mengambil makanan untuk suaminya, melihat hal tersebut dengan sigap Ulfa Kirana melakukan hal yang sama dia mengambil makanan untuk Rio, sambil bertanya kepada Rio.
"Nasinya segini cukup?"
"Iyya cukup."
"Lauknya mau yang mana?"
"Mau ayam bakar!"
"Sayurnya mau yang mana?"
"Mau acar timun itu!"
"Ada yang lain?"
"Tolong kerupuknya!"
"Mau berapa?"
"Banyakin dikit!"
"Sebanyak apa?"
Melihat mata Rio yang mulai melotot, dengan cepat Ulfa mengambil kerupuk dengan takaran yang Ulfa kira-kira sendiri dan ternyata sesuai yang dimaksud Rio Wijaya.
"Mau yang lain?"
"Udah gak usah, ini sudah cukup!"
Setelah mengambil makanan untuk Rio, Ulfa Kirana pun mengambil makanan untuk dirinya sendiri, Ulfa memilih makanan seperti yang Rio pilih dia ingin tau makanan seperti apa yang Rio suka. Makan malam tersebut cukup nyaman bagi Ulfa Kirana ternyata pertemuan dengan orang tua Rio Wijaya tidak menakutkan seperti yang dia bayangkan. Walaupun pada makan malam tersebut Rio Wijaya sama sekali tidak banyak bicara, bahkan terkadang ketika ditanya jawabannya hanya iya dan tidak.
Setelah makan malam selesai Rio kembali ke ruang kerjanya meninggalkan Ulfa Kirana sendiri berbincang dengan kedua orangtuanya. Untungnya percakapan mereka cukup hangat jadi Ulfa sama sekali tidak kesulitan. Malam mulai beranjak dan sudah waktunya untuk Ulfa Kirana pulang ke rumah, ibunya pun sudah mengirimkan beberapa pesan dari beberapa menit yang lalu, menanyakan kapan anak gadisnya itu akan pulang.
"Om, tante Ulfa sudah mau pamit pulang dulu, sudah malam, takutnya ibu saya khawatir."
"Oh Iyya nak, pamit dulu gih sama Rio, yang sabar nak yah menghadapi Rio, tante minta tolong terima segala kekurangannya!"
"Iyya tante, Ulfa akan berusaha sebaik mungkin menghadapi Rio, dan terimakasih banyak om dan tante sudah mau menerima Ulfa."
"Iya sayang, tante menaruh harapan kepadamu, semoga kalian bisa bahagia sampai kakek nenek."
"Aamiin!"
Ulfa Kirana pun berjalan menuju ruangan tempat Rio Wijaya berada, seperti biasa jantung Ulfa kembali berdetak kencang, ternyata lebih mudah berhadapan dengan kedua orang tua Rio daripada berhadapan dengan Rio sendiri, membayangkan tatapan dingin Rio yang sama seperti jurus Elsa yang bisa membekukan apapun, membuat Ulfa merinding. Ulfa berusaha mengatur nafas kemudian mengetuk pintu, setelah terdengar suara Rio yang mengijinkannya masuk. Ulfa pun segera memutar gagang pintu dan berjalan dengan langkah pelan. Ulfa Kirana memainkan jarinya dia bingung bagaimana caranya berpamitan dengan manusia es ini.
"Pak Rio, aku mau pulang dulu yah udah dicariin ibu!"
"Deket-deket aku tidak dengar kamu bilang apa!"
Ulfa pun melangkah mendekati Rio dan berdiri tepat disamping kursi roda Rio.
"Tadi kamu bilang apa?" Rio bertanya kepada Ulfa sambil mendongak menatap wajah Ulfa. Dari posisi Ulfa yang berdiri dia dapat melihat wajah tampan Rio Wijaya yang tanpa kekurangan sedikit pun, hidungnya menjulang tinggi seindah gunung Mont Blanc di Eropa, gunung yang selalu tertutup salju. Menurut Ulfa Kirana gunung Mont Blanc memang menggambarkan seorang Rio Wijaya dingin tapi selalu tampak mengagumkan dilihat dari sudut manapun.
Mont-Blanc adalah puncak tertinggi Pegunungan Alpen dan merupakan bagian dari perbatasan Prancis dengan Italia. Mont Blanc mencapai ketinggian 4.810 meter, begitu tinggi sehingga selalu tertutup salju sehingga disebut "Mont Blanc/ gunung Putih." Bahkan nama Mont Blanc menjadi nama salah satu brand terkenal dunia, label ini dikenal dengan koleksi pena premium yang identik dengan maskulinitas dan bagi pecinta perfume pasti kenal dengan Mont blanc Perfume.
"Fa....aku nanya kamu bilang apa tadi!"
"Iiiitu aku udah mau balik, udah malam."
"Ok, nanti diantar sopir baliknya, hati-hati di jalan!"
"Iyya pak!"
Ulfa pun segera berbalik dan memulai langkah tapi ternyata sebelum melangkah tiba-tiba Rio menarik tangannya, dua pasang manik mereka saling beradu, hening sesaat sebelum Rio memulai kata.
"Makasih yah hari ini!" Kata Rio kepada Ulfa Kirana dan bukan hanya itu Rio bahkan mencium tangan Ulfa.
Ulfa yang mendapat perlakuan romantis dari Rio sang pangeran gunung es, seketika merasa seluruh badannya membeku.
Melihat Ulfa yang mematung justru Rio berbalik dan kembali ke kesibukannya tadi memeriksa tumpukan dokumen. Sebagai seorang CEO perusahaan besar tumpukan dokumen yang tak ada habisnya adalah hal yang biasa.
Ulfa Kirana kembali tersadar setelah beberapa saat mematung diapun akhirnya meninggalkan ruangan kerja Rio. Setelah suara pintu tertutup Rio Wijaya mengulum sebuah senyum, hatinya begitu bahagia melihat ekspresi Ulfa yang sangat imut menurutnya.