Tawa Rio Wijaya

1483 Words
"Darimana saja nak, tiba-tiba ngilang tempat tidurmu pun masih berantakan begitu anak gadis gak boleh jorok begitu!" "Kan Ulfa udah titip pesan sama Bu Ida kalau Ulfa ada urusan penting dan mendesak!" "Maksud ibu gini loh nak kalau memang mau ada urusan ya cepat bangun dong rapikan kamar dulu!" "Dadakan Bu urusannya!" "Tapi gak lupa sarapan kan?" "Udah bu aman." "Tapi kamu cantik sekali pake baju baru pula, sepertinya mahal, baru beli?" "Enggak bu dikasih!" "Dikasih sama siapa?" "Sama seseorang, bu...Ulfa mau bicara serius sama ibu." "Ada apa nak, ada masalah di sekolah?" "Begini buk Ulfa pengen minta restunya ibu, ada seorang pria yang berniat melamar aku, dia orangnya baik bu, Ulfa sudah lama kenal dengannya." "Kok tiba-tiba banget, kamu kan gak punya pacar, apa selama ini kamu punya pacaran diam-diam gak pernah bilang ke ibu? "Adu ibu gimana sih bukannya seneng anaknya laku malah pikiran negatif sama anak sendiri, anak ibu itu cantik jadi wajarlah banyak yang mau ajak nikah, emangnya yang pacaran aja bisa nikah, lagian ngapain pacaran kalau belum tentu jodoh iya kan?" "Anak ibu memang yang terbaik, jadi baju ini dikasih sama seseorang itu?" "Iyya Bu!" "Siapa namanya?" "Rio Wijaya" "Rio Wijaya yang omnya Khadijah itu?" "Nah itu ibu kenal!" "Iya pernah ketemu pas nikahnya Ayunda dia sempat menyalamin ibu memperkenalkan diri trus ibu sempat liat fotonya ada di koran kota berita Ekonomi tapi terakhir liat di berita dia kecelakaan, dan bukannya kecelakaan itu ada Ayunda juga kan?" "Iyya Bu, dua tahun lalu dia kecelakaan dan sekarang dia harus menggunakan kursi roda, apa ibu gak keberatan putri ibu menikah dengan orang yang menggunakan kursi roda?" "Ibu akan mendukung apapun keputusanmu nak, ibu hanya bisa memberikan restu dan berdo'a untuk kebahagiaanmu nak, jadilah istri yang baik dan banyak-banyak bersabar!" "Makasih Bu!" Ulfa Kirana pun segera memeluk ibunya, dalam pelukan ibunda tercinta Ulfa Kirana menangis, dia begitu terharu dengan kata-kata ibunya, dia juga memikirkan bagaimana dia tidak siap jika sesuatu terjadi dengan ibunya. "Pernikahan itu penuh tanggung jawab nak, jalankan tanggung jawabmu dengan baik, dan sebaiknya kamu juga bicara dengan kakakmu dia juga berhak memberikan pendapat. "Iyya Bu Ulfa sudah kirim pesan agar kak Tantri datang kerumah, paling gak sampai sejam kakak udah nyampai." Setibanya sang kakak, Ulfa pun segera menariknya kedalam kamar untuk berbicara empat mata dengannya, sementara itu ibunya sibuk dengan cucunya. "Kak Tantri, aku di lamar pak Rio!" "Serius? emang kalian saling suka apa gimana?" "Enggak juga sih!" "Trus maksudnya gimana?" "Dia ingin menikah karena ingin dirawat, kakak tau kan kondisinya setelah kecelakaan itu?" "Iyya kakak tau, tapi kenapa harus kamu?" "Mana aku tau, kami kebetulan bertemu di rumah sakit dari situlah kami mengobrol dan memutuskan untuk menikah." "Menikah itu bukan mainan dek, kalau kamu tidak yakin sebaiknya jangan!" "Ulfa yakin kak awalnya Ulfa lakuin buat ibu, karena dengan menikah dengan pak Rio saya bisa dapat uang buat pengobatan ibu, kita bisa mendapatkan biaya untuk operasi donor ginjal ibu." "Tidak bisa begitu dek, caranya kurang tepat, umur ditangan sang pencipta, niat menikah harus benar-benar karena ingin berumah tangga menjalankan tugas dan kewajiban!" "Tapi kak sekarang alasanku bukan hanya ibu, Ulfa benar-benar ingin bersama Rio, aku ingin mendampingi dan merawatnya, masalah cinta akan tumbuh dengan sendirinya lagian dia ganteng banget kak." "Jadi sekarang alasanmu karena dia ganteng?" "Yah....itu bukan alasan yang utama, kenapa gak paham banget sih maksud Ulfa!" "Adekku udah gede sekarang udah ngebet pengen nikah!" "Kan kan tambah gak bener ngomongnya, yang benar dong kak, kasih wejangan kek nasehat pernikahan dan lain-lain." "Kakak sih setuju-setuju saja, tapi ingat yah harus siapkan hati dan mental, pernikahan itu berat banget loh, kakak saja menikah dengan laki-laki yang sabar, terkadang masih aja ada yang membuat kakak merasa jika berumah tangga itu melelahkan dan tak seindah cerita-cerita novel, tapi pernikahan juga memberikan kebahagiaan yang luar biasa, yang bisa kakak katakan pernikahan yang indah jika suami dan istri faham dengan tanggung jawab dan kedudukan masing-masing, saling mendukung dan mengisi setiap saat!" "Makasih kakakku sayang pesan-pesannya!" "Sama-sama, jadi kapan rencana pernikahan kalian?" "Bulan depan." "Bulan depan? apa gak kecepatan, banyak yang harus diurus loh!" "Kata pak Rio dia yang akan mengurus semuanya, dan dia pastikan semua akan siap sebelum hari H, dia juga mengatakan minggu ini orang tuanya akan datang melamar secara resmi." "Kok kakak yang deg-degan yah?" "Nah kan, apa lagi aku kak jangan dibilang tapi untungnya nafsu makan dan tidurku masih sama gak berubah." "Nah itu dia yang bikin kakak deg-degan, pak Rio itu bos besar punya istri gitu tukang tidur dan rakus, di sekolah kamu sering ketiduran gak sih?" "Enggak dong kak, cuman kalau sudah tidur susah bangun, dan lagian aku gak pernah tidur telat dan malam hari harus tidur delapan jam kalau gak gitu pasti ambruk lah, masa sih kakak gak tau adek sendiri ?" "Yang aku tau kamu tukang tidur untuk detailnya kakak sudah lupa, kakak menikah udah lama, mana tau kebiasaan kamu yang sekarang!" Kedua kakak beradik pun larut dalam pembicaraan dari satu tema ke tema yang lain. Sementara itu Rio Wijaya juga membicarakan tentang rencana pernikahannya kepada kedua orang tuanya. "Kenapa tiba-tiba kamu meminta kami datang kerumah kamu, biasanya kamu selalu menolak untuk dikunjungi?" tanya pak Wijaya. "Gini pah mah, Rio sudah menemukan calon menantu yang tepat untuk kalian!" "Kamu tidak sedang bercanda kan nak, mama senang banget mendengarnya!" "Rio serius, nanti malam dia akan datang untuk makan malam bersama kita, papa dan mama ada waktu kan? "Pasti nak!" Jawab pak Wijaya dan istrinya dengan bersamaan. Sebelum jam lima sore, Ulfa dijemput oleh pak Putra dan diantar ke salah satu mall berkelas di Jakarta. Pertama-tama ke salon dan langsung ke toko baju yang ternyata Rio Wijaya sudah memilih semua baju ini semata-mata dilakukannya agar bisa menghemat waktu jangan sampai karena lama memilih baju Ulfa terlambat untuk makan malam dan sekaligus perkenalan Ulfa dengan calon mertuanya. Pada saat di salon karena nyamannya pelayanan yang didapatkan oleh Ulfa Kirana membuatnya tertidur ketika didandanin. Tapi tanpa sepengetahuan Ulfa ternyata semua tingkahnya direkam oleh salah satu karyawati salon dan dikirimkan ke Rio Wijaya, ternyata Rio Wijaya meminta untuk mengirimkan semua gerak gerik Ulfa kepadanya. Melihat rekaman video tersebut membuat seorang Rio yang tidak pernah tersenyum justru tertawa. Mendengar suara tawa anaknya betapa bahagianya kedua orang tua Rio, serasa matahari bersinar begitu cerah sampai kedalam hati mereka, keduanya pun saling melempar senyum, akhirnya kebahagiaan bisa dirasakan kembali dalam keluarga tersebut. Setelah menjalani segala hal yang diintruksikan Rio Wijaya akhirnya Ulfa Kirana siap untuk makan malam bersama kedua orang tua Rio, tampilannya sekarang sudah seperti artis-artis ataupun influencer beauty, tapi jangan ditanya bagaimana perasaan Ulfa sekarang. Jantungnya terasa akan melompat, Ulfa merasa sedang sport jantung, setiap detiknya jantungnya seolah berdetak beberapa kali lebih banyak dari biasanya. Dia hanya gadis dari perkampungan di salah satu sudut kota Jakarta dan hari ini akan diperkenalkan kepada orang tua Rio Wijaya sebagai calon menantu. 'Mimpi apa aku minggu lalu kenapa bisa-bisanya cuman dalam hitungan hari bisa jadi calon mantu pak Wijaya yang kaya melintir? aku gak ada cocok-cocoknya dengan pak Rio, walaupun otakku lumayan pintar tapi makan pakai garpu dan pisau aku gak bisa, emang pernah sih tapi cuman satu atau dua kali itupun karena ditraktir Ayunda. Aku cuman pandai menggunakan sendok itupun kalau di luar, di rumah lebih sering pakai tangan, ya Tuhan jangan-jangan omongan asalku beberapa tahun lalu jadi kenyataan? apakah setelah orang tua Rio melihatku dan mengetahui asal usulku mereka akan menyuruhku untuk meninggalkan anaknya sambil memberikan segepok uang sebagai gantinya? tapi kata-kata itu tidak serius aku bukan cewek matre, sekarang aku benar-benar berniat merawat Rio berharap dia bisa berjalan kembali setelah itu apapun keputusan Rio akan kuterima, aku merasa jika Rio benar-benar kesepian dia membutuhkan seorang teman atau apapun untuk berbagi cerita dan rasa setiap saat, kalaupun aku tidak dianggap sebagai istri tidak apa-apa, aku tidak akan sakit hati toh aku pun tidak mencintainya.' Pikiran Ulfa yang terbang melayang kemana-mana. Setelah pintu rumah terbuka betapa kagetnya Ulfa Kirana ketika ada Rio yang menyambutnya dengan senyum yang sangat menawan, menampilkan gigi putihnya yang berbaris rapi, setelah sekian tahun inilah pertama kali Ulfa Kirana bisa melihat senyum indah itu lagi, senyum seorang pangeran itulah julukan yang tepat menurut Ulfa. Dengan gugup dia berusaha senyum secantik mungkin untuk membalas senyuman Rio Wijaya. "Jangan gugup dong sayang, ini hari penting buat kita, buat orang tuaku terpukau agar kita dapat restu!" Mendengar Rio Wijaya memanggilnya sayang seolah telinganya berdengung, dan badanya seolah tersengat listrik. Pangeran yang biasanya ngamuk sekarang berubah menjadi pangeran berkuda putih yang manis penuh cinta kasih. "Itu berarti jika saya gak bisa membuat mereka terpukau, kita gak dapat restu dan kita gak jadi menikah?" "Makanya berusaha sebaik mungkin!" "Trus saya harus bagaimana?" "Ya gak harus bagaimana-bagaimana, dan biasakan ganti kata saya jadi aku!" Kata Rio dengan entengnya. Ulfa Kirana hanya bisa menatap Rio Wijaya dengan pasrah setelah mendengar jawaban Rio yang ambigu itu. "Gak harus bagaimana-bagaimana katanya! itu apa apa maksudnya? bagaimana jika calon mertuaku galak?" Celoteh Ulfa Kirana yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD