"Kamu jangan kemana-mana, tunggu disini."
"Baik pak!"
Rio meninggalkan ruangan di mana Ulfa Kirana sedang duduk dan masuk keruangan kerjanya. Tak lama berselang beberapa asisten kecantikan datang mendekati Ulfah.
"Mba ikut kami yah!"
"Mba Ulfa mandi dulu, siap-siap, setelah itu sarapan dengan pak Rio."
"Jadi saya belum boleh pulang?"
"Sepertinya begitu mba,. sebaiknya mba Ulfa nurut saja kami takut kalau pak Rio marah semua bisa dipecat."
Mendengar semua itu akhirnya Ulfa pun memutuskan ikut saja daripada ada yang dipecat gara-gara dia. Ulfa Kirana dibawah ke ruangan yang seperti salon tapi salon ini berada di dalam rumah Rio Wijaya, lagi-lagi Ulfa dibuat kagum benar-benar tempat ini adalah sarang seorang sultan, ya sarangnya Rio Wijaya.
Kurang lebih satu jam akhirnya Ulfa selesai mandi dan didandani, masih dalam balutan handuk mandi salah seorang dari pelayan tersebut mengantarkan pakaian dan ada pula yang membawa puluhan hijab dengan berbagai warna. Celana panjang satin dan kemeja lengan panjang berbahan sama dan warna senada, kemudian Ulfa disuruh memilih warna hijab sendiri dan terakhir dipasangkan sepatu heels. Ulfa merasa bingung sendiri dengan yang dialaminya sekarang entah kejutan apalagi yang akan diberikan Rio Wijaya kepadanya, katanya hanya sarapan kenapa harus serapi ini belum lagi setelah menghitung semua harga barang itu mencapai seratus juta membuat Ulfa Kirana merinding sendiri.
"Pak Rio suka orang yang berpakaian rapi mbak, pelayan saja dipecat kalau tidak rapi sedikit saja, katanya kepalanya sakit jika melihat sesuatu yang tidak rapi." Kata salah seorang pelayan yang sepertinya paling muda diantara yang lainnya, salah satu pelayan lainnya melarangnya untuk terlalu banyak bicara apa lagi membahas pak Rio.
Ulfa Kirana berusaha memahami Rio sekarang, ternyata dia benar-benar orang yang berbeda seperti yang dikenalnya selama ini. Rio yang dulu memang perfeksionis tapi tidak memasakan orang yang disekitarnya harus seperti dia.
"Ayo mba Kirana kita keruangan makan dulu, jangan sampai pak Rio yang duluan tiba di sana, mba Ulfa jangan lupa berdiri yah kalau pak Rio sudah masuk keruangan makan, sambut dia dengan senyum walaupun mungkin tidak dibalas, soalnya dia tidak pernah membalas senyum siapapun."
"Siapa pun?"
"Iya mba, kecuali Khadijah keponakannya usianya sembilan tahun kalau gak salah, sekian informasi dari saya mba Ulfa, dan semoga suka dengan pelayanan kami."
"Makasih banyak yah!"
"Sama-sama mba Ulfa, ayo mba Ulfa ikuti kami." Mereka pun berjalan menuju ruangan makan yang melewati beberapa ruangan yang luas, membuat Ulfa Yakin kalau rumah tersebut lebih cocok disebut museum.
Ulfa Kirana duduk di kursi yang ditunjukkan dan menunggu Rio Wijaya untuk sarapan bersama. Sampai akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang juga, sepertinya Rio pun baru saja mandi pagi, tampilannya setelah mandi memang luar biasa semua pelayan perempuan selalu dibuatnya melayang kadang sampai lupa jika tuannya adalah manusia es, manusia es tapi mampu mencairkan semua hati wanita.
Seperti yang dikatakan oleh pelayan tadi, Ulfa Kirana pun berdiri menyambut Rio Wijaya dengan senyum termanisnya.
"Berhenti tersenyum palsu seperti itu!" Kata-kata Rio barusan menusuk jantung seorang Ulfa raut kesedihan langsung tersirat di wajah cantiknya apalagi telah didandani sedemikian rupa.
Rio segera menyantap sarapannya seperti biasa tanpa sepatah kata. Kesunyian meliputi suasana sarapan tersebut, Ulfa bahkan tak berani memandang calon suaminya, entah kenapa dia merasa terintimidasi seperti itu, ini bukan Ulfa ini bukan dirinya tak pernah sekalipun dia merasa seperti itu. Para preman pun selalu berani dihadapinya untuk bernegosiasi terakait anak-anak jalanan yang diajarinya baca tulis. Jadi Ulfa Kirana selain sebagai guru di sekolah swasta juga mengajar baca tulis di perkampungan dan gang-gang sempit buat anak jalanan dan anak-anak yang tidak bisa bersekolah seperti yang lainnya karena desakan ekonomi, banyak diantara anak-anak didiknya merupakan anak buah dari preman-preman mereka diperintahkan untuk mengamen dan mengemis. Berbeda dengan kali ini entah kenapa dia merasa sangat tidak punya nyali menghadapi Rio Wijaya. Sarapan pagi itu berjalan begitu lambat menurut Ulfa.
Rio bahkan meminum kopinya sambil membaca berita Ekonomi dan segala hal yang berkaitan dengan itu melalui tabletnya. Walaupun sarapan pagi itu sangat membosankan dan sulit untuk Ulfa tapi tetap dia sering mencuri pandang kepada Rio, benar-benar mahakarya yang luar biasa. Wajah Rio Wijaya seperti AI generation di dunia nyata, Rio mempunyai bentuk wajah yang sangat simetris.
Setelah selesai dengan bacaannya, Rio pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Ulfa yang sedari tadi memandangnya. Dengan cepat Ulfa Kirana mengalihkan pandangannya tapi tetap Rio tau jika Ulfa suka mencuri pandang kepadanya, hanya saja Rio tidak berekspresi apapun, dia tidak tau apa yang dipikiran Ulfa dan tidak mau menghabiskan tenaganya untuk memikirkannya hal tersebut.
"Jadi bagaimana tanggapan ibumu? jangan lupa minggu depan orang tuaku akan datang melamarmu untukku secara resmi."
"Iiiitu pak saya belum sempat memberitahukan ibu saya tentang rencana lamaran dan pernikahan kita."
"Apa maksudmu Ulfa, kamu berani mempermainkan aku?"
"Tidak begitu pak!"
"Terus apa???"
Bruk!!!! Suara keras menggelegar di seluruh ruangan, semua barang yang ada dimeja makan jatuh berserakan karena perbuatan Rio Wijaya.
Ulfa tak tahan untuk menangis, dia tidak punya kekuatan untuk menjelaskan semuanya. Kedua telapak tangannya digunakannya untuk menutupi wajahnya yang bercucuran air mata, suara tangisannya berusaha diredamnya membuat dadanya terasa sakit. Melihat Ulfa menangis sebenarnya Rio Wijaya tidak tahan melihatnya tapi karena otak dan badannya tidak selaras apa yang harus dilakukan justru dia malah memilih meninggalkan Ulfa yang tengah menangis. Rio Wijaya sangat kecewa dia merasa Ulfa tidak serius dengan rencana pernikahan tersebut, itulah yang membuatnya kehilangan kendali alih-alih berbicara baik-baik dia malah memilih untuk melupakan emosinya.
Ulfa Kirana memerlukan waktu untuk menikmati tangisnya, karena sikap Rio barusan membuat hati Ulfa begitu sakit dia belum pernah mendapatkan sikap kasar seperti itu apalagi di meja makan, sedari bangun tadi pagi dia bagaikan bermain roller coaster, kadang menanjak kadang menuruni turunan yang terjal, keduanya membuat perut dan jantung Ulfa Kirana terasa dikucek, seperti itulah kira-kira emosi yang dirasakannya pagi ini.
Setelah berhasil menenangkan diri dan menghentikan tangisnya Ulfa memungut semua benda yang berhamburan di lantai karena pelayan tidak diizinkan masuk sampai jam tertentu. Setelah beberapa saat Ulfa Kirana berhasil mengumpulkan semua pecahan kaca dan piring alhasil telah memberikan luka di jari putihnya, luka ditangannya sama sekali tidak dirasakannya.
Sementara itu di ruangan lain Rio Wijaya yang beberapa saat lalu terbakar emosi justru merasa kacau karena air mata Ulfa Kirana, entah mengapa jantung Rio begitu sakit melihat Ulfa menangis apalagi dialah penyebab Ulfa menetaskan air mata.
Ulfa berusaha mencari keberadaan Rio Wijaya, sekarang dia hanya ingin bertemu Rio dan menjelaskan alasannya kenapa dia belum menyampaikan rencana tersebut kepada ibunya. Cukup lama Ulfa berkeliling mencari di setiap ruangan, sampai akhirnya dia bisa menemukan keberadaan Rio. Rio sedang berada di teras atas rumahnya memandang langit biru yang menyatu dengan halaman rumahnya. Perlahan Ulfa pun mendekatinya.
"Pak Rio, bisakah bapak mendengarkan kata-kataku sebentar saja?" Rio Wijaya tak bersuara mendengar pertanyaan Ulfa dia masih duduk diam memandang langit.
Tak mendapatkan jawaban dari Rio, Ulfa mengambil kesimpulan Rio mau mendengarkan penjelasannya setidaknya Rio tidak mengusirnya.
"Kemarin ibu saya dari rumah sakit karena kondisinya memang sedang tidak sehat dan sesampainya di rumah sudah malam sudah saatnya untuk beristirahat dan ibu saya terlihat sangat lelah karena itu saya berniat membahas rencana pernikahan kita hari ini, tapi saya belum ketemu ibu hari ini, karena saya dijemput pagi-pagi sekali."
Mendengar penjelasan Ulfa membuat amarah dan kesedihan Rio mulai menghilang, walaupun tak bersuara dapat terlihat wajah Rio tak mengerikan lagi seperti beberapa saat yang lalu. Rio berbalik menatap Ulfa dilihatnya salah satu jari Ulfa meneteskan darah segar, dengan cepat Rio meraih tangan Ulfa dan membalut luka Ulfa dengan sapu tangannya.
Sentuhan tangan Rio membuat jantung Ulfa berdebar, setelah mengamuk Rio sekarang bertingkah begitu manis. Ditatapnya wajah Rio Wijaya yang begitu serius membalut luka di tangannya. Setelah membalut luka di tangan Ulfa lagi dan lagi Rio Wijaya meninggalkan Ulfa tanpa sepatah kata pun. Entah keruangan mana lagi perginya, tak lama setelah itu pak putra dan seorang asisten lainnya datang membawa kotak P3K.
"Sepertinya gak butuh jahitan, gak perlu dibawa kerumah sakit tapi kalau mba Ulfa mau ke rumah sakit kami antar."
"Gak usah pak Putra, kalau memang saya boleh pulang saya ingin pamit pulang saja, saya ingin berbicara kepada ibu saya membahas tentang rencana kami, karena saya belum sempat bicara dengan ibu saya, pak Putra tolong bantu jelaskan lagi, sampaikan pada pak Rio saya bukannya tidak serius tentang rencana pernikahan kami, tapi ibu saya sedang sakit jadi saya butuh waktu yang tepat untuk bicara dengan beliau tidak dadakan."
"Baik mba Ulfa saya akan sampaikan kepada pak Rio, karna saya masih ada kegiatan lain anda akan diantar sopir."
"Gak apa-apa pak Putra saya bisa pesan taksi online saja."
"Jangan mba Ulfa kami bisa kena marah, mba diantar sopir saja!"
"Baik kalau begitu, terimakasih banyak pak Putra!"
"Sudah tugas saya mba!"
Sebelum meninggalkan pekarangan rumah Rio Wijaya, Ulfa Kirana menatap kelantai atas berusaha mencari sosok Rio, walaupun sempat bercucuran air mata karena sikap kasar Rio, Ulfa Kirana tidak sakit hati ataupun marah kepada Rio, justru dia kasihan melihat Rio, yang dapat dilihatnya adalah Rio yang sedang terluka fisik dan mentalnya. Ulfa berfikir kalau memang Rio membutuhkannya dia tidak akan pernah menyesali pernikahan ini walaupun dia dianggap hanya sebagai suster ataupun teman, Ulfa tidak akan peduli dia ingin membantu Rio melewati hari-harinya dan berusaha semampunya agar Rio bisa sehat seperti dulu. Tanpa sepengetahuan Ulfa ternyata Rio Wijaya menatapnya dibalik jendela yang tampak gelap dari luar, Rio menatap gerak gerik Ulfa sampai akhirnya mobil yang membawa Ulfa menghilang dari pandangan.