Kamar Ulfa Kirana

1854 Words
Hari ini merupakan hari libur untuk keduanya baik Rio Wijaya dan Ulfa Kirana, jauh-jauh hari Rio sudah meminta Ulfa agar dia bisa makan siang bersama Ulfa dan ibunya, yah Rio ingin berkunjung kerumah sederhana Ulfa. Walaupun ada sedikit rasa tidak percaya diri untuk menyambut calon suaminya itu di rumah kecilnya, dia takut Rio akan merasa sesak jika lama-lama berada dirumahnya yang sangat sederhana rumah yang berada di dalam gang yang hanya bisa dilalui satu mobil dan itu pun harus dengan perjuangan karena jika ada kendaraan lain walau itu hanya sepeda motor maka salah satu harus mengalah minggir kesisi jalan. Rio Wijaya memasuki rumah calon istrinya dengan wajah yang sangat tenang walau tak ada senyum disana tapi wajahnya tetap meneduhkan. Rio baru tersenyum kecil ketika melihat calon ibu mertua. Dia langsung meraih tangan calon ibu mertuanya untuk salim. Tak ada keraguan bagi Rio Wijaya sang CEO handal untuk mencium tangan calon ibu mertuanya dengan sangat sopan dan patuh. Melihat hal tersebut membuat hati Ulfa menghangat, ibunya hanya seorang ibu yang sangat sederhana bahkan sekarang karena sakit wajah ibunya selalu tampak pucat. Setelah beberapa saat ketiganya mengebrol di ruang tamu dengan suasana yang hangat walaupun tak ada tawa dan canda tapi obrolan antara Rio, Ulfa dan ibunya sangat menyenangkan mereka membahas banyak hal, walaupun sesekali Ulfa harus mengecek masakannya di dapur. Dia keluar masuk dapur karena tidak ingin ketinggalan obrolan antara Rio dan sang ibu tercinta. "Rio kamu bisa istirahat di kamar Ulfa sambil menunggu dia masak, ibu mau ke kamar sebentar agak pusing sedikit." "Ibu baik-baik saja? apa kita perlu ke dokter?" Kata Rio. "Tidak nak, hanya mau baring sebentar saja mungkin karena semalam ibu telat tidur mata agak susah terpenjam semalaman." Rio pun tersenyum kecil dan menggangguk mendengar jawaban calon ibu mertuanya. "Ayo aku antar ke kamar!" Kata ulfa yang entah kenapa pipinya tiba-tiba merah mendengar kata kamar. Ulfa segera membuka pintu kamarnya dan terlihatlah kamarnya yang sangat sederhana tapi sangat rapi dan wangi semunya tersusun pada tempatnya ada banyak buku yang berkaitan dengan ekonomi dan akuntansi. Rio merasa sangat senang bisa melihat kamar Ulfa, dia merasa telah masuk ke dunia calon istrinya tersebut dan bisa menjadi bagian dari dunia Ulfa Kirana adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Rio, ada senyum kecil terukir diwajahnya tapi tak sepat terlihat oleh Ulfa. "Apa aku boleh baring di tempat tidurmu kakiku sepertinya harus diluruskan?" "Tentu saja Rio tapi maaf yah kasurnya tidak empuk." Tak ada jawaban dari Rio, dia bangkit dari kursi rodahnya pindah ketempat tidur tanpa bantuan siapa pun, lengannya yang kokoh mampu membawa bobot badannya. Melihat hal tersebut lagi-lagi ulfa kirana merona. 'Tuh otot kuat amat buset!" Ulfa Kirana membatin. "Ok aku ke dapur yah!" "Hmmm." Jawaban andalan dari sang CEO handal itu. Setelah lebih dari tiga puluh menit Ulfa Kirana Pun menyelesaikan kegiatannya di dapur, menu sederhana tapi Ulfa yakin Rio bakalan suka, Ulfa Kirana sudah mengantongi daftar jenis makanan kesukaan Rio berdasarkan informasi yang diberikan oleh calon ibu mertuanya tercinta. Ulfa Kirana berjalan menuju kamarnya di mana Rio Wijaya sedang beristirahat, dia pun membuka pintu kamar dengan pelan dilihatnya Rio sedang berbaring menyamping membelakanginya, Ulfa Kirana yakin calon suaminya itu kelelahan hanya bisa duduk di kursi roda, ia pun berjalan mendekat ingin memastikan apakah Rio Wijaya sedang tertidur atau cuma berbaring saja. Dilihatnya mata Rio terpejam, untuk beberapa saat Ulfa Kirana menatap wajah Rio dengan rasa yang sepertinya sudah mulai mendamba, Ulfa Kirana selalu saja merasa gemes belakangan ini ketika menatap wajah Rio. Ulfa Kirana menyodok pipi Rio Wijaya dengan ujung telunjuknya dengan pelan tapi Rio tidak memberikan respon apapun, sekarang Ulfa yakin jika Rio sedang tertidur. Menatap wajah Rio dari samping membuat Ulfa Kirana fokus pada hidung Rio Wijaya yang menjulang tinggi, tingkah anehnya pun muncul dia mengambil penggaris kecil dia ingin mengukur tinggi hidung calon suaminya yang selalu dipanggilnya ganteng itu. Dengan perlahan dia mendekatkan penggaris kecil itu di dekat hidung Rio, butuh beberapa saat untuk menentukan posisi yang tepat agar tidak salah ukur, karena posisi Ulfa yang berdiri disamping tempat tidur dan Rio berbaring membelakanginya sehingga Ulfa perlu membungkuk sedikit agar dapat melihat dengan jelas, sayangnya belum sempat mendapatkan angka dari hasil pengukurannya tiba-tiba Ulfa merasa tangan Rio bergerak, tangan dan lengan kokoh milik Rio Wijaya melingkar di pinggangnya, Ulfa Kirana merasakan badannya terangkat dan dalam hitungan detik sekarang Ulfa Kirana berada diatas ranjang berbaring disamping Rio Wijaya, jarak mereka begitu dekat, begitu pula dengan wajah mereka yang hanya berjarak satu jengkal, Ulfa Kirana hanya bisa berkedip-kedip berusaha mencerna apa yang barusan terjadi. "Apa akau barusan dibanting olehnya?" Tanya Ulfa Kirana dalam benaknya. "Kamu lagi ngapain pegang penggaris?" Ulfa Kirana sepertinya tidak mendengar pertanyaan Rio dia fokus menatap lengan Rio Wijaya yang masih melingkar di badannya, Ulfa Kirana bisa melihat urat tangan Rio yang menyembul menggambarkan kejantanan dan keperkasaan seorang pria menurut Ulfa. "Hei aku nanya kamu, lagi ngapain pegang penggaris segala?" "Oh itu, iya gak pa pa, emang gak boleh ini kan punya aku!" Jawaban konyol Ulfa membuat Rio Wijaya tersenyum lebar menampilkan giginya yang putih dan berjejer begitu rapi. Tangan Rio Wijaya yang sedari tadi masih melingkar di badan Ulfa Kirana kini bergerak dengan cepat menyentil jidat Ulfa Kirana. "Auhhhh... Aduh sakit, kenapa jidatku disentil?" "Biar gak berpikiran jorok dan jahil lagi!" "Mana ada aku berpikiran jorok!" kata Ulfa Kirana dengan wajah yang bersemu merah. "Udah gak usah bohong, You're blushing, ayo cepat bangun!" Kata Rio Wijaya sambil bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Sementara Ulfa Kirana belum bergerak juga dia hanya sibuk menggosok pipinya yang memerah, Rio Wijaya membantu Ulfa untuk bangun dari posisinya yang masih berbaring. Rio Wijaya mengulurkan tangannya, Rio Wijaya yang hanya menggunakan baju kaos lengan pendek sehingga menampilkan seluruh tangan dan lengannya, Ulfa Kirana tak bisa melepaskan tatapannya dari tangan Rio entah kenapa tangan itu begitu mengganggu pikirannya, setelah membantu Ulfa bangun dengan gesit dan lincah Rio pindah dari tempat tidur ke kursi rodanya, tangannya benar-benar kokoh mengangkat bobot badannya, maka tidak heran jika Rio Wijaya tidak butuh banyak bantuan. Melihat hal itu Ulfa Kirana hanya bisa mematung dia tidak habis fikir bagaimana bisa lengan Rio sekuat itu. "Ayo keluar mau di situ terus? masakanmu udah jadi kan?" "Ohhh ituuu .... Iyya sudah ayo!" kata Ulfa Kirana yang sepertinya terhipnotis oleh tangan dan lengan Rio Wijaya. Mereka berdua pun menuju ruang makan yang tersambung dengan dapur, walaupun rumah Ulfa Kirana begitu sederhana dan kecil tidak seperti rumah Rio yang seperti musium, tapi tampak jelas Rio merasa nyaman berada di rumah tersebut. Mereka makan bertiga bersama dengan ibunda Ulfa, pak Putra sendiri pergi dari tadi dan akan kembali menjemput Rio Wijaya, dan seperti yang Ulfa Kirana pikirkan Rio menyukai masakannya, tak banyak obrolan bersama dengan Rio dimeja makan karena Rio menyukai ketenangan saat makan berbeda dengan Ulfa dan ibunya, sesekali masih bercakap walaupun sedang di meja makan. Ibu Kirana bisa memahami hal tersebut menurutnya memang budaya orang kaya berbeda dengannya, dia berusaha memahami segalanya walaupun Rio Wijaya sangat pendiam tak banyak kata yang keluar dari mulutnya tapi dia bisa melihat gerak gerik Rio yang sangat sopan kepadanya tak lupa juga Rio selalu menyalaminya dan mencium tangannya ketika bertemu. Karena hal itu ibunda Ulfa Kirana yakin jika Rio hanya pendiam bukannya sombong. Setelah makan dan setelah selesai membersihkan dapur Ulfa Kirana kembali ke ruang tamu. Rio Wijaya sekarang duduk di kursi tamu, tampak dia sedang memeriksa laporan lagi. "Rio mau makan sesuatu?" "Gak usah?" "Ok!" Jawab Ulfa yang langsung duduk di samping Rio, kursi itu memang muat untuk tiga orang. Ulfa mulai menyalakan Tv tapi tidak ada acara yang menarik kemudian Ulfa membuka sosial media juga tidak ada yang menarik untuknya, akhirnya dia membuka aplikasi novel online Ulfa pun mulai membacanya setelah beberapa menit kaki Ulfa merasa keram dia ingin membaca novel sambil tiduran seperti yang sering dilakukannya tapi berhubung Rio belum pulang jadi tidak enak jika dia meninggalkannya duduk sendiri di ruang tamu, sementara sang ibu sudah masuk ke dalam kamar, ibu Ulfa Kirana memang gampang lelah. "Rio aku bisa nyender gak di bahu kamu?" "Gak!" "Pelit amat sih!" Rio kembali menghembuskan nafas panjang dan menggeleng kecil, memang tingkah Ulfa selalu aneh-aneh. Karena tidak nyaman membaca novel online dengan posisi duduk akhirnya Ulfa memilih untuk menyimpan telpon genggamnya, dan sekarang beralih menatap Rio Wijaya dengan kedua tangan di dagu. "Emang kamu hobi banget yah liat cowok sambil berpangku tangan?" "Ya tergantung asalnya!" "Iyya aku tau, asal ganteng kan seperti Kenzo!" "Kenzo siapa yah? Perfume?" "Kenzo teman Ayunda siapa lagi?" "Kapan aku natap Kenzo, jangan ngadi-ngadi Rio ganteng!" "Emang benar kok aku pernah liat waktu pembukaan Cafenya Ayunda!" "Ya Tuhan.... berapa tahun yang lalu itu?" "Kamu pernah suka sama Kenzo atau masih?" "Ya Tuhan... ngadi-ngadi lagi! kamu cemburu?" "Enggak maksud aku kalau kamu suka yah harusnya kamu perjuangkan tapi sekarang tidak boleh lagi karena kamu sudah tanda tangan kontrak!" "Ya Tuhan.... apanya yang mau diperjuangkan? pak Rio cemburu sama orang yang hanya dua tiga kali bertemu denganku, kalaupun aku natap si Kenzo itu karena dia mirip idol korea bukannya karena ada rasa yang harus diperjuangkan, emang gak ada artis yang menjadi idolamu yang ketika melihat cewek yang mirip otomatis kamu liatin?" "Gak ada!" "Kalau gak ada emang susah sih di jelasinnya kamu gak akan faham, aku serius nanya jadi waktu itu kamu cemburu sama Kenzo?" "Enggaklah aku cuman tidak mau aja suatu saat kamu ketemu Kenzo lagi trus kamu menatapnya masih kayak gitu lagi gimana nanti kata orang lain?" "Tapi emang kalau dipikir-pikir gak mungkin banget kan kamu cemburu, tapi tenang saja Rio ganteng, aku akan berusaha menundukkan pandanganku dari cowok ganteng sekalipun itu beneran idol korea idolaku yang ada di depanku, mungkin menurutmu kita hanya perjanjian di atas kertas tapi aku telah menutup hatiku untuk yang lain dan berusaha menjadi calon istri dan tentunya istri yang baik nanti, aku janji!" "Aku juga tidak pernah menganggap hubungan kita sebatas perjanjian di atas kertas kok!" " Serius?" Ulfa Kirana pun dengan manjanya menyadarkan kepalanya di bahu Rio Wijaya yang memang dari tadi sudah ingin dilakukannya sayangnya belum ada kesempatan. Belum beberapa detik kepala Ulfa Kirana menyender di bahunya, Rio segera memindahkan kepala Ulfa Kirana dengan mendorong pelan jidat Ulfa dengan telunjuknya. Mendapatkan perlakuan seperti itu Ulfa hanya memanyunkan mulutnya sebagai tanda protes. Hari itu Rio Wijaya meminta dijemput pada sore hari sehingga dia punya banyak waktu mengobrol dengan Ulfa Kirana. Ulfa Kirana bercerita banyak hal tentang sekolah tempatnya mengajar dan juga tentang kebiasaannya mengajar anak-anak jalanan yang tidak bisa bersekolah, dia juga mengatakan dahulu Ayunda sering ikut ketika mereka SMA tapi kehadiran Ulfa justru mengundang banyak pengemis jalanan yang minta-minta uangnya Ayunda karena penampilan Ayunda orang-orang itu tau darimana Ayunda berasal, karena hal tersebut hanya mengganggu proses belajar mengajarnya Ulfa pun melarang Ayunda ikut lagi. Ulfa bercerita banyak sementara Rio hanya menjadi pendengar dan sesekali tersenyum kecil yang hampir tidak terlihat, ketika ada bagian cerita Ulfa yang lucu. "Fa.... kalau tidak salah kamu tadi bilang ibu sakit, emang ibu sakit apa?" "Gak apa-apa kok, emang cukup parah tapi saya yakin dia akan segera sembuh." Ulfa Kirana tidak bermaksud berbohong Ulfa Kirana hanya tidak ingin merepotkan Rio Wijaya, dia berfikir Rio sendiri masih butuh bantuan untuk sembuh dia tidak ingin menambah beban Rio dengan penyakit ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD