Ulfa Kirana dan Dunianya

1073 Words
"Udah jalan yuk, kamu gak perlu ganti baju lagi kan? udah ganteng begini, atau mau ganti baju aku bantuin!" "Fa berhenti godain aku, apa kamu genit begini pada semua orang?" "Tergantung asalnya!" "Asal?" "Asal lebih ganteng dari kamu!" Kata Ulfa Kirana dengan senyum tak berdosa. Rio Wijaya memilih bergerak lebih dahulu setelah menghubungi paka Putra untuk mengantar mereka, Rio Wijaya berfikir untuk mencari celah aman daripada mendengarkan gombalan maut Ulfa Kirana kepadanya. "Tungguin aku di mobil yah, aku mau ambil sesuatu dulu di motor!" "Hmmm!" Ulfa Kirana pun segera menuju dimana motor maticnya terparkir berjejer dengan belasan koleksi mobil sport Rio Wijaya yang sudah lama tidak pernah digunakan oleh tuannya. Ulfa Kirana membawa dua kantongan berukuran lumayan besar, dengan senyum yang selalu mengembang dia membuka pintu mobil dan duduk di samping Rio Wijaya calon suaminya. Sebenarnya Rio Wijaya ingin bertanya apa yang ada di dalam kantongan tersebut tapi Rio Wijaya sekarang lupa caranya bertanya dia lebih memilih diam dan menyimpan rasa penasarannya. "Maaf yah aku harus ambil ini dulu, soalnya ini penting sudah janji sama orang!" Mendengar perkataan Ulfa Kirana membuat kening Rio Wijaya jadi berkerut, rasa penasarannya semakin memuncak tapi mulutnya tak sanggup berucap untuk hanya sekedar bertanya pertanyaan sederhana. Selama perjalanan Rio Wijaya hanya terdiam sesekali Ulfa berbicara banyak hal, ketika Ulfa Kirana berhenti bicara justru Rio menunggu kata dari Ulfa Kirana tapi tak satupun dibalasnya kecuali dengan kata "Iyya" dan "hmmmm". Ulfa Kirana yang merasa lawan bicaranya tidak tertarik dengan bahasanya terkadang Ulfa pun memilih untuk diam dia takut dianggap terlalu cerewet atau bahkan membuat kuping Rio Wijaya budek, tanpa tau hal yang sebenarnya jika sebaliknya Rio Wijaya sangat menyukai jika Ulfa Kirana banyak bicara, karena dengan begitu dia bisa tau hal-hal apa saja yang menarik untuk seorang Ulfa Kirana, Rio Wijaya senang menjadi pendengar yang baik, tidak membalas bukan berarti dia tidak suka, setiap kalimat yang keluar dari bibir indah Ulfa Kirana bagaikan mantra cinta di telinganya, dan memang kenyataannya Ulfa Kirana memang selalu mengatakan hal-hal yang berbobot tak jauh-jauh dari bidang ilmu pengetahuan yang dia ajarkan berbeda dengan banyak perempuan pada umumnya yang suka bercerita soal fashion dan produk-produk kecantikan terbaru. Lelah menunggu kata yang tak kunjung keluar dari bibir Ulfa Kirana, akhirnya Rio Wijaya mengalihkan pandangannya ke luar jendela, dia berfikir Ulfa mungkin lelah berbicara sendiri dia berniat akan belajar untuk membalas setiap kata yang keluar dari bibir indah yang sudah tidak sabar ingin dikecupnya itu. "Rio...!" "Hmmmm!" Rio Wijaya pun segera berbalik kearah Ulfa, yang ternyata Ulfa Kirana sedang mendekatkan wajahnya ke arahnya hidung mancung Rio tinggal beberapa senti saja jaraknya dengan jidat Ulfa Kirana. "Kamu lagi ngapain sih?" "Penasaran aja hidung semancung ini boros oksigen gak sih? lagian serius amat sih senyum dong kayak aku!" "Kalau senyum terus entar disangka gila!" "Pak Putra emang aku kayak orang gila yah?" "Enggak lah, mba Ulfa cantik begitu mana mungkin dibilang gila!" "Nah dengar sendiri kan kata pak Putra aku tuh cantik karena apa coba? yah karena aku suka senyum jangan manyun mulu!" Rio Wijaya yang mendengar pak Putra memuji Ulfa cantik didepannya ada rasa sedikit tidak terima untungnya pak Putra mempunyai usia yang jauh lebih tua darinya jika tidak Rio benar-benar akan marah besar. "Masih jauh?" "Gak kok sepuluh menitan lagi kita udah sampai, nikmatin aja perjalanannya!" "Hmmmm!" "Rio Rio ingat gak?" "Ingat apa?" "Waktu kita jalan-jalan ke Paris sambil jengukin Ayunda, ingat gak mata biru bersaudara?" "Iya ingat Adam dan Maryam." Jawab Rio dengan alis ynag langsung terangkat satu 'Jangan sampai dia bilang kalau Adam ganteng, langsung saya suruh turun biar dia jalan kaki pulang.' Pikir Rio Wijaya. "Iyya Maryam, kayaknya dia suka deh sama kamu, keliatan banget deh! Menurutmu dia cantik gak?" "Hmmmm!" "Cantik mana dia atau aku?" "Hmmmm!" "Aku nanya siapa yang lebih cantik?" "Gak ada!" "Masa sih gak ada yang cantik di antara kami?" Kata Ulfa lagi tapi tidak ada balasan dari Rio. 'Kayaknya jalanku bakalan sulit.' Kata Ulfa Kirana dalam hati sambil menarik nafas panjang, Ulfa merasa putus asa sendiri berharap membuat Rio bisa mencintainya seperti seorang pria mencintai wanita tapi jika dia yang merasa cantik tapi menurut Rio tidak, artinya jalannya bakalan sulit. Dia sudah tau pasti selama ini banyak wanita bangsawan, wanita pintar lulusan universitas ternama dari luar negeri, bahkan selebritis yang mengitari Rio Wijaya tentu saja jika dibandingkan dengan dirinya yang selalu menggunakan pakaian yang dia beli secara online berbahan standar akan sulit dibandingkan. Sebenarnya banyak tanya yang selalu ingin Rio sampaikan tapi kesan tidak peduli dengan orang lain mendominasi otak dan perilakunya sekarang, tepatnya setelah kecelakaan tersebut. Setelah beberapa saat, baik Rio Wijaya maupun Ulfa Kirana tak berucap apapun, Ulfa tiba-tiba membuka kedua kantongan besar miliknya, dia memeriksa dan kemudian tampak menghitungnya dengan teliti. Melihat hal tersebut Rio Wijaya yang dari tadi penasaran dengan isi dari kedua kantongan milik Ulfa Kirana akhirnya merasa penasarannya kini hilang. Jadi kedua kantongan tersebut berisikan alat tulis,buku tulis, beserta buku cerita untuk anak. sore ini dia ada janji dengan anak-anak di salah satu perkampungan padat penduduk di salah satu sudut kota Jakarta. Melihat isi dari kantongan tersebut Rio Wijaya kembali teringat tujuh tahun yang lalu Ulfa Kirana pernah meminta barang-barang yang sama kepada dirinya sebagai bayaran karena telah memberikan nomor Ayunda, karena waktu itu Rio Wijaya sedang berusah mendekati Ayunda yang tak lain sahabat Ulfa Kirana namun pada akhirnya Rio Wijaya justru terpukau dengan keceriaan dan kesederhanaan Ulfa Kirana. Sekarang Rio Wijaya kembali bingung sebenarnya barang-barang ini untuk apa, tapi karena sangat tidak ingin bertanya walaupun sangat ingin tau Rio Wijaya hanya bersabar ingin melihat sendiri apa yang akan dilakukan Ulfa Kirana dengan barang-barang tersebut. "Pak Putra berhenti di depan!" Akhirnya mereka sampai juga, Rio Wijaya tambah tidak sabar Ulfa Kirana mau ngapain, tampak jelas disana tidak ada panti asuhan barang-barang yang tadi buat anak siapa. "Rio tunggu di mobil aja yah aku mau memberikan hadiah buat anak-anak kampung sini karena minggu lalu mereka sudah berhasil membaca dengan lancar." Rio Wijaya hanya mengangguk mengiyakan Ulfa Kirana. Setelah turun dari mobil Ulfa berjalan beberapa meter dan memanggil satu anak yang sedang bermain di tanah lapang tak lama kemudian anak tersebut memanggil anak-anak lainnya, tampak sekitar dua puluh anak berbaris rapi menunggu giliran untuk mendapatkan hadiah dari Ulfa Kirana. Rio Wijaya tampak terkejut dengan sisi lain dari Ulfa Kirana, dia bukan hanya ceria dan sederhana tapi dia benar-benar indah itulah penilaian Rio Wijaya kepada Ulfa Kirana, dari balik jendela mobil dia dapat melihat tawa ceria yang tak lekang dari wajah cantik seorang Ulfa Kirana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD