Setelah dua tahun inilah kali pertama Rio Wijaya mau berlama-lama di taman belakang rumahnya, dia bahkan tidak suka bertemu dengan pelayan di rumahnya, rumah yang luas sangat sulit untuk tidak melihat pelayan di rumah tersebut, inilah juga salah satu alasan dia lebih memilih menghabiskan berdiam diri di kamar ataupun ruang kerja, dan ternyata memang benar kata Ulfa Kirana udara terasa lebih nyaman di taman tersebut. Rio sekarang benar-benar menyibukkan diri dengan laporan untuk mengalihkan pandangannya dari calon istrinya yang tampak sangat cantik,Ulfa Kirana duduk dikursi panjang dengan memejamkan mata dengan headset ditelinga mendengarkan musik favoritnya, walaupun sesekali dia membuka matanya hanya untuk mencuri pandang menatap wajah Rio Wijaya, Ulfa Kirana sangat menyukai ketika Rio Wijaya sedang serius karena karismanya naik jutaan level menurut Ulfa. Jika melihat mereka seakan mereka terpisah jarak oleh aktivitas masing-masing tapi sungguh hati mereka saling bertaut satu sama lain hanya mulut dan raga mereka yang masih belum mampu menunjukkan. Keduanya merasa sangat nyaman walaupun tak ada kata yang terucap.
Kamulah yang kuinginkan walau tak mampu aku ungkapkan, semoga rasaku tersampaikan dengan hembusan angin yang menyapamu, semoga rasaku tersampaikan oleh mentari yang menghangatkan pagimu.
Detik berlalu menit berlalu tidak terasa sudah berjam-jam mereka duduk di sana, dengan aktivitas masing-masing. Pelayanan pun tiba membawa nampan teh kesukaan Rio Wijaya dan cemilan. Melihat para pelayan membawa nampan berisi banyak cemilan membuat Ulfa Kirana tersenyum lebar dengan mata yang berbinar seperti anak kucing yang melihat mainan bola baru, tanpa sadar dia langsung berpangku tangan di meja, dimana cemilan itu disajikan bukan hanya itu kedua kakinya bergerak sendiri, tampak jelas jika dia kegirangan melihat kue-kue cantik di penuhi coklat dari toko kue terkenal dan paling mahal, memang Ulfa Kirana sangat menyukai hal-hal yang berbau coklat.
"Bu ini boleh saya makan?" tanya Ulfa Kirana kepada pelayan yang memang berusia lebih tua dari ibunya.
"Tentu saja mbak Ulfa ini semua buat mba Ulfa!"
"Buat saya?"
"Makasih Bu!"
"Sudah tugas saya mba, ibu pamit dulu yah!"
"Iyya silahkan!"
Tanpa sepengetahuan Ulfa, Rio Wijaya tak mengalihkan pandangannya dari Ulfa Kirana, karena liburan mereka ke Paris beberapa tahun yang lalu dia tau betul kesukaan Ulfa Kirana, dia sangat menyukai kue-kue dan coklat tapi walaupun demikian badannya sangat singset.
"Rio mau gak!"
"Enggak kamu makan aja sendiri!"
"Serius gak mau? ya udah aku makan nih yah!"
"Hmmm!" ciri khas jawaban Rio Wijaya yang pura-pura sibuk padahal beberapa saat yang lalu dia memandang Ulfa Kirana tanpa berkedip. Hati Rio Wijaya terasa begitu hangat dengan menghabiskan banyak waktu dengan Ulfa, dia tidak sabar dengan pernikahannya, dia membayangkan hari-hari manis seperti ini akan dijalaninya setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik. Membayangkan itu semua membuat senyum kecil di sudut bibir seksinya.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri? kalau ada yang lucu bagi-bagi dong!" tanya Ulfa Kirana yang membuyarkan lamunan Rio.
"Gak ada yang lucu, salah liat kamu!"
"Masa sih aku salah liat? ya udah buka mulut dulu aaaaaaa!!!" perintah Ulfa Kirana kepada Rio yang pada akhirnya Rio nurut saja dan membuka mulutnya.
"Enak kan?"
"Hmmm!"
"Mau lagi gak?"
"Udah cukup!"
"Udah jangan malu-malu, buka mulutnya lagi aaaaaa!" dan pada akhirnya Rio tetap menurut dan memakan kue yang disuapin oleh Ulfa. Ulfa Kirana sudah berhasil membuat wajah Rio Wijaya merah tersipu malu, tapi Ulfa Kirana sama sekali tidak menyadari hal tersebut, dia hanya fokus menyuapi Rio dan berharap Rio bisa menghabiskan sepotong kue itu. Rio menatap wajah cantik Ulfa Kirana dia bingung kenapa Ulfa bisa secantik tanpa polesan makeup sedikit pun, warna kulit Ulfa Kirana begitu putih bagaikan kapas dan warna iris mata yang coklat muda, bentuk hidung yang kecil tapi lumaya mancung dan bibir tipis berwarna pink muda. Wajah Ulfa Kirana cocok dengan warna hijab apapun dan model hijab apapun. Rio Wijaya seakan tak bisa berhenti memandang wajah cantik calon istrinya itu, merasa Rio memandangnya Ulfa pun menatap Rio, tatapan meraka terpaut membuat jantung Rio Wijaya berdetak dengan kencang, sementara itu Ulfa melihat mata indah Rio membuat bibir Ulfa Kirana tersenyum lebar dan dengan santainya dia mengedipkan mata kepada Rio, membuat Rio Wijaya terbatuk dan tersedak kue, sepertinya sudah kebiasaan Ulfa Kirana membuat Rio Wijaya tersedak.
"Minum dulu!" Ulfa Kirana segera memberikan segelas air.
"Kuenya terlalu manis?"
"Iyya!"
"Kalau gitu udah yah nanti kamu jadi batuk-batuk lagi, biar aku yang habisin sendiri."
Rio Wijaya menarik nafas dalam-dalam, dia heran dengan Ulfa Kirana kenapa Ulfa bisa tidak sadar kalau tindakannya membuatnya terbatuk dan tersedak kue.
'Ada apa dengan matanya kenapa harus dikedipin? kenapa dia bisa tersenyum sesantai itu dengan posisi yang sedekat ini,berbeda denganku yang yang sampai tidak bisa mengatur nafas.' Belum selesai dengan pikirannya yang melayang jauh tinggi di awan, tiba-tiba Ulfa Kirana mendekatkan wajahnya di wajah Rio.
"Ini ada cream coklat di bibir kamu!" kata Ulfa Kirana dan dengan cepat dia membersihkan bibir Rio dengan ibu jarinya, Rio merasakan sentuhan lembut jari Ulfa Kirana di bibirnya, Rio merasa ada sensasi listrik menghinggapi dirinya, jantungnya berdetak begitu kencang sekarang bukan hanya kakinya yang sulit dia gerakkan bahkan bibirnya pun sulit untuk berucap. Dengan tanpa rasa bersalah Ulfa Kirana kembali fokus memakan kue yang ada di piringnya. Sepertinya kue-kue coklat sudah memutus urat malu dan kesadaran calon istri Rio Wijaya itu. Setiap selesai menyendok satu sendok kue kedalam mulutnya, ada saja berbagai ekspresi wajah dan badan yang ditunjukkan Ulfa.
"Enak banget...!!!! makan ini tiap hari aku bisa gemuk gak yah?" Rio Wijaya tidak menanggapi pertanyaan Ulfa Kirana, dia masih berusaha menetralkan badan dan pikirannya karena kenakalan Ulfa Kirana terhadapnya yang menurut Rio sanggat berbahaya.
"Rio kalau aku gendut apa kamu bisa jatuh cinta sama aku?"
Rio hanya bisa memijat kecil bagian atas hidungnya tempat kaca matanya biasa bertengger menanggapi pertanyaan Ulfa kali ini.
'Hanya manusia satu ini yang bisa setenang ini berhadapan denganku, ketika awal-awal pertemuan kembali aku tau dia cukup takut denganku dia bahkan sulit berbicara karena gugup tapi sekarang hanya hitungan hari sikapnya tujuh tahun yang lalu kumat kembali, padahal setiap wanita yang memandangku akan terpesona hanya dia yang mengabaikan tampang dan hartaku dan sibuk membicarakan hal lain yang lebih menarik dari segala hal yang kumiliki.' Pikiran Rio Wijaya yang sekarang melayang ke masa lalu.
"Rio kamu lagi mikirin apa?"
"Gak ada!"
"Iku aku yuk!"
"Kemana lagi!"
"Kita jalan keluar sekali-sekali!"
"Gak mau, kamu saja kalau mau nanti di antar pak Putra!"
"Kamu di mobil aja aku gak akan lama, ini penting, ada hubungannya dengan janji antara sesama manusia. Please!"
Setelah berfikir beberapa saat Rio Akhirnya setuju lagi dengan permintaan Ulfa Kirana.
Karena merasa penasaran dengan janji yang Ulfa Kirana maksud, Rio Wijaya tanpa segan mengikuti permintaan Ulfa, dia khawatir Ulfa Kirana punya janji dengan orang yang lain atau mungkin janji bertemu dengan laki-laki lain, karena Rio tidak akan pernah rela jika Ulfa Kirana menghabiskan waktu dengan pria lain selain dirinya, walaupun itu hanya sebatas teman ataupun kolega di tempat kerja. Dia sadar betul calon istrinya cantik dia yakin banyak pria yang berusaha mendekati Ulfa Kirana.
Disarankan baca Ditinggal Nikah Tetanggaku, Cinta Pertamaku