Rio Wijaya bahagia walau hanya bisa menatap Ulfa dari balik jendela dia selalu tidak berani menatap wajah cantik calon istrinya dari dekat. Rio Wijaya tidak tau sejauh mana Ulfa Kirana telah merebut hatinya,apakah nama Zahra Budiman yang merupakan cinta pertamanya telah hilang dihatinya? Rio Wijaya pun tak tau jawabannya, Zahra Budiman adalah pacar pertama dan cinta pertama Rio Wijaya, Zahra Budiman masih mempunyai hubungan keluarga dengan Rio, mereka berteman sedari kecil. Zahra Budiman mempunyai perbedaan umur dua tahun dengan Rio Wijaya, mereka berdua memutuskan menjadi pasangan kekasih ketika duduk dibangku SMA, mereka seperti pasangan muda pada umumnya sangat manis dan harmonis, ketika Zahra Budiman memilih melanjutkan pendidikan mereka pun menjalani LDR, tapi hanya beberapa bulan setelahnya Zahra Budiman meminta putus, ternyata Zahra telah memiliki kekasih lain selama mereka menjalani hubungan jarak jauh. Zahra Budiman yang selalu manja kepada Rio Wijaya sedari kecil membuat Rio Wijaya serasa seperti pahlawan dan sangat dibutuhkan oleh Zahra, perasaan yang dibutuhkan itu membuat ego Rio Wijaya sebagai seorang laki-laki terpenuhi, Zahra selalu bisa membuat Rio tertawa sikap manjanya bagaikan candu. Rasa sayang sedari kecil tumbuh menjadi cinta ketika mereka menginjak remaja dan dewasa namun pada akhirnya perpisahan harus terjadi membuat Rio Wijaya terluka. Setelah kejadian itu Rio Wijaya dengan mudahnya menyatakan cinta pada gadis cantik yang baru ditemuinya semua itu dia lakukan berharap bisa benar-benar jatuh cinta lagi dan menghapus nama Zahra dalam hati dan pikirannya. Tapi berbeda dengan Ulfa Kirana, sejak awal mengenal Ulfa, Rio Wijaya sendiri tidak tau perasaan apa yang dia rasakan kepada Ulfa, dia nyaman bersamanya tapi dia juga takut menyakitinya dan terlebih lagi dia takut akan mendapatkan kekecewaan yang sama. Tapi pikiran Rio Wijaya telah berubah, sekarang hati dan pikirannya mantap memilih Ulfa Kirana sebagai pendampingnya, dia akan menahan Ulfa Kirana untuk tetap disampingnya tanpa peduli Ulfa mencintainya atau tidak, dia tidak akan pernah membiarkan Ulfa Kirana meninggalkannya bagaimana pun caranya akan dia tempuh, Rio Wijaya akan memberikan semua yang wanita inginkan kepada Ulfa Kirana.
Dibalik kacamatanya dua mata indah Rio Wijaya masih mengawasi Ulfa Kirana yang ternyata nyaman berada di taman belakang, sepertinya Ulfa Kirana sudah berhenti menangis. Pria tiga puluh satu tahun tampak begitu tenang, kharismanya begitu kuat walaupun dia hanya seorang pria yang memerlukan bantuan kursi roda. Sibuk mengamati Ulfa Kirana, Rio Wijaya tiba-tiba tersentak sendiri karena tiba-tiba Ulfa menatap kearahnya, Rio seakan kedapatan sedang melakukan kesalahan walaupun sebenarnya Ulfa Kirana sama sekali tidak bisa melihatnya dari balik jendela, Ulfa hanya menatap kamar Rio Wijaya penasaran apa yang calon suaminya itu lakukan, kenapa dia betah sekali mengurung diri, untuk kesekian kalinya pertanyaan-pertanyaan itu mengelilingi benak Ulfa. Rio Wijaya menyadari ternyata tatapan mata Ulfa Kirana bisa sangat berbahaya dan membuatnya tak berdaya seperti yang terjadi barusan. Rio Wijaya mengusap mukanya berusaha mengembalikan kesadaran dan kekuatannya untuk menghadapi Ulfa Kirana.
"Gadis itu memang benar-benar unik, Fa....aku harap kamu bisa bersabar denganku!" Lirih Rio Wijaya dalam kesendiriannya.
Ketika Ulfa sedang menangis di tepi kolam dengan kaki yang terendam air kolam, tiba-tiba seekor kupu-kupu hinggap di pundaknya, seolah ayahnya mengirim pesan untuknya agar berhenti menangis jangan larut dalam kesedihan, langit yang indah diciptakan agar manusia mengagumi kebesaran sang pencipta, bukan untuk hanyut dalam rasa sedih, mengungkit luka yang telah kering, setiap manusia punya luka masing-masing tapi kita tidak boleh hanyut dalam kesedihan terus-menerus. Tersenyumlah akan selalu ada hari istimewa yang menunggumu.
Kupu-kupu yang tadinya hinggap di pundak Ulfa Kirana kini kembali terbang, Ulfa pun seolah terhipnotis dan mengikuti kemana kupu-kupu kecil itu terbang, dengan tanpa alas kaki Ulfa Kirana berjalan di rumput yang hijau sambil menatap kupu-kupu itu terbang dari satu pucuk bunga ke pucuk lainnya, ternyata banyak bunga yang sedang bermekaran, Ulfa Kirana seakan ingin menari di atas rumput hijau dan dikelilingi banyak bunga yang tertata rapi dan tampak sangat terurus itu. Ulfa Kirana merasa sangat bebas sudah lama dia tidak bermain di taman, biasanya ketika makan siang di sekolah dia hanya bisa memandangi pekarangan sekolah yang memang cukup indah tapi dia jarang mempunyai kesempatan untuk menghabiskan waktu di taman sekolah tempatnya mengajar tersebut. Ulfa Kirana seakan tidak puas berada di taman milik calon suaminya, dia sadar sudah menemukan tempat favoritnya di rumah tersebut. Tiba-tiba dia mengalihkan tatapannya ke arah jendela kamar Rio Wijaya.
"Apa Rio pernah menikmati taman indahnya ini? apa hari-harinya selalu dia isi dengan laporan? apa dia tidak tau orang bisa mendapatkan kebahagiaan dengan hal-hal kecil, seperti yang saya lakukan sekarang bermain di taman belakang rumahnya." Kata Ulfa Kirana pada dirinya sendiri.
Tanpa pikir panjang dia segera menuju kamar Rio Wijaya kalau perlu dia akan menyeret Rio Wijaya ke taman itu, Rio bisa tetap memeriksa laporannya di taman, Ulfa merasa jika ada Rio pasti kebahagiaannya bermain di taman akan bertambah berkali-kali lipat.
Rio Wijaya yang melihat gelagat Ulfa Kirana yakin jika Ulfa sekarang sedang menuju ke kamarnya, entah apa lagi yang akan Ulfa katakan berikutnya, entah kenapa bibir mungil Ulfa Kirana tak pernah kehabisan kata-kata, walaupun sebenarnya Rio sangat menyukai celotehan seorang Ulfa Kirana, tapi di lain sisi Rio sangat gugup dan dia khawatir Ulfa Kirana akan menertawakannya jika mengetahui dia gugup jika berada di jarak yang terlalu dekat dengannya. Rio segera membuka tablet ditangannya dan mengambil posisi seolah sedang sibuk, tak lama kemudian suara pintu terdengar diketok beberapa kali.
"Iyya masuk!" Ketika pintu terbuka tampak Ulfa Kirana dengan senyuman yang begitu ceria, sampai Rio Wijaya sendiri bingung karena dia yakin betul beberapa saat yang lalu Ulfa sedang menangis di tepi kolam kenapa tiba-tiba wajahnya seceriah itu dan tentu saja sangat cantik tanpa polesan apapun.
"Rio kamu sedang sibuk?"
"Seperti yang sedang kamu lihat!"
"Kita turun yuk di taman!"
"Buat apa?"
"Kamu lanjutkan baca laporannya disana, aku gak ada teman, kalau gak mau yah udah aku pulang!"
"Kamu sudah berani memerintah yah!"
"Gak gitu, aku kayak kambing congek tau sendiri main di bawah bentar lagi aku jadi kambing beneran merusak bunga-bunga di taman!"
Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya Rio setuju ikut dengan Ulfa Kirana, dia khawatir Ulfa Kirana akan menangis lagi walaupun dia tidak tau apa penyebab Ulfa Kirana menangis yang dia yakinii mungkin Ulfa Khawatir dengan pernikahan yang akan mereka jalani dan itu hal yang biasa buat seorang wanita.
"Ok saya ikut bukan karena saya patuh sama perintahmu yah!"
"Iyya aku tau ganteng, kamu takut bunga-bungamu di rusak olehku kan?" kata Ulfa yang berusaha menjahili Rio Wijaya. Rio Wijaya tidak membalas kata-kata Ulfa Kirana tapi segera menjalankan kursi listriknya untuk menuju ke taman belakang.
Rio tidak suka jika ada yang memegang gagang kursi rodanya karena dia merasa tidak butuh bantuan siapapun, hal itu sudah diketahui oleh Ulfa dari informasi para pelayan dan Pak Putra. Karena itu Ulfa memilih berjalan di samping kursi roda Rio Wijaya, dan sesekali memandangi wajah ganteng calon suaminya, Ulfa Kirana begitu terpikat dengan hidung mancung Rio Wijaya, tampak dari samping hidung Rio justru terlihat tambah menjulang tinggi, Ulfa tersenyum sendiri, dia menyadari ternyata wajah Rio Wijaya sangat ganteng, selama ini dia kemana saja kenapa dia baru sadar sekarang.