Rio Wijaya yang merasa canggung dengan tatapan Ulfa ditambah senyum yang tidak pernah pudar di Wajah Ulfa Kirana, Rio pun memilih untuk kembali ke kamarnya.
"Aku balik kamar dulu!"
"Aku boleh ikut?"
"Enggak?"
"Dikamar mu ada tv kan?"
"Iyya ada, kenapa?"
"Numpang nonton yak?"
Rio hanya menggelengkan kepala dan berlalu pergi, kata-kata Ulfa memang tidak masuk akal bagaimana tidak, ada Tv besar berlayar datar yang tidak jauh dari ruang makan dimana mereka menyantap makan siangnya barusan. Dia tau Ulfa memang hanya ingin mengganggunya, dia tau betul bagaimana sikap Ulfa Kirana, karena itu pula dia selalu merasa hidup ketika sedang bersama Ulfa. Mereka sudah saling mengenal lebih dari tujuh tahun sejak awal pertemuan pertama mereka, walaupun beberapa tahun mereka sempat tidak saling berkomunikasi. Ada banyak alasan mengapa Rio Wijaya selama ini tidak pernah berusaha mendekati Ulfa Kirana untuk menjalin hubungan seperti anak mudah pada umumnya, selain karena sibuk dalam kariernya ingin menunjukkan pada dunia jika dia bisa diandalkan walaupun tanpa bayang-bayang papanya tercinta walaupun kenyataannya sangat sulit untuk menjauhkan kesuksesan Rio dari nama besar papanya "Wijaya", dan juga alasan utamanya Rio Wijaya masih menyimpan sebuah nama di dalam hatinya, dia sendiri tidak tau apakah nama itu bisa terhapus atau tidak, walaupun dia merasa nyaman dan bahagia jika dekat dengan Ulfa Kirana tapi dia justru takut akan menyakitinya, tapi kali ini dia memilih Ulfa Kirana menjadi pendamping hidupnya pada pertemuan kembali mereka Rio Wijaya langsung memantapkan hati memilih Ulfa Kirana tentu saja karena Ulfa gadis yang spesial walaupun Rio tidak yakin apa itu cinta atau bukan, menurutnya sekarang tidak ada siapapun dihatinya semuanya sudah terhapus oleh rasa ketidakpercayaan diri dan putus asa karena fisiknya.
Setelah ditinggal oleh Rio ke kamarnya, Ulfa Kirana sibuk membersihkan meja walaupun para pelayan memintanya untuk tidak melakukan apa-apa, hari ini para pelayan lumayan cukup terbantu. Kerena Rio Wijaya suka menolak makanan yang sudah disiapkan terkadang sampai beberapa menu harus disiapkan hanya untuk sekali makan. Rio Wijaya sangat pemilih dalam hal makanan.
"Mbak Ulfa pintar sekali memasak, pak Rio makanannya sampai habis begini!" puji salah seorang pelayan.
"Ahhh biasa aja, memang dulu banyak pengalaman kerja di Cafe dan restoran."
"Awww gitu yaah mba, pantes jago masak."
"Apaan sih gak jago B aja."
Setelah semua beres Ulfa sedikit berjalan menyusuri beberapa ruangan, sudah beberapa kali Ulfa ke rumah Rio tapi dia belum hafal ruangan-ruangannya, sangking luasnya rumah tersebut kita bisa tersesat, selain karena bentuk dan design setiap ruangan hampir sama.
"Selera Rio memang keren! Apa pantas berdampingan denganku ini?"
"Mbak Ulfa!" Salah seorang pelayan memanggil Ulfa Kirana, yang membuat lamunannya sirna.
"Iyya ada apa?"
"Ayo ke Mushallah kita sholat berjamaah! pak Rio bisa marah kalau para pekerja dan semua orang yang di rumah tidak sholat berjamaah."
"Oh gitu, ayo bareng aku gak tau tempatnya dimana!"
"Ikut saya mba, di mushallah sudah dipersiapkan perlengkapan sholat kok."
Ulfa Kirana berjalan mengikuti pelayan tadi, yang mengantarnya kesebuah Mushallah yang terletak di taman belakang rumah Rio Wijaya. Sama seperti design rumah Rio, Mushallah tersebut pun tak kalah estetikanya, Ulfa Kirana benar-benar yakin jika hasil rancangan Rio Wijaya bernilai seni tinggi. Ulfa Kirana mematung memandang Mushallah tersebut tiba-tiba Rio muncul di sampingnya bersama pak Putra.
"Kenapa masih berdiri di situ, cepat wudhu sana!"
Ulfa Kirana tidak membalas kata-kata Rio, dia hanya memberikan senyum dan kemudian berlalu menuju tempat wudhu wanita.
Ruangan sholat untuk pria dan wanita terpisah tidak bisa saling melihat, Rio Wijaya walaupun terkadang suka bertindak semaunya dia masih ingat melaksanakan kewajiban walaupun harus sholat dalam keadaan duduk.
Ketika berjalan meninggalkan mushallah Ulfa Kirana bertemu dengan Rio, tapi lagi dan lagi Rio mengabaikannya dia sibuk menelpon. Walaupun demikian Ulfa Kirana tetap tersenyum kepada Rio walaupun tidak mendapatkan balasan.
Ulfa Kirana yang tidak tau harus melakukan apa lagi di rumah tersebut akhirnya memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat pekarangan belakang yang sangat luas dan sama seperti bagian depan yang terdapat rumput hijau terhampar, Ulfa berjalan menyusuri taman belakang tersebut yang tampak di ujungnya ada sebuah kolam renang besar, Ulfa sedikit sedih memikirkan sebenarnya sampai kapan Rio akan seperti itu tidak tau caranya membalas senyuman orang lain, Ulfa sangat berharap Rio bisa seceriah Rio dahulu yang dikenalnya.
"Apa aku gak usah aja senyum sekalian?" Kata Ulfa yang sepertinya sedikit kehilangan kesabarannya.
Ulfa Kirana membuka alas kakinya dan memainkan air di kolam renang dengan kedua kakinya sambil menatap langit biru, tempat yang begitu indah tapi justru membuat pikiran Ulfa Kirana terbang kemana-mana, kali ini dia memikirkan penyakit ibunya, dia sudah menghubungi pihak rumah sakit tapi belum ada informasi pendonor yang cocok dengan ibunya. Ulfa meneteskan air mata ingatannya kembali ketika dia harus bersimpuh di atas pusara sang ayah, sungguh sangat sakit kehilangan orang yang kita sayang bagaimana jika ibunya juga tidak bisa disembuhkan? Ulfa Kirana merasa benar-benar belum siap, tangisnya semakin deras, dadanya begitu sesak.
Rio yang memperhatikan Ulfa seperti biasanya dari balik jendela menyadari jika Ulfa Kirana sedang menangis. Dia sangat ingin menenangkan Ulfa Kirana tapi entah kenapa dia tidak tau caranya, dia pun tetap di sana memilih untuk melihat Ulfa Kirana menangis sendiri , Rio Wijaya sempat berfikir apa mungkin Ulfa menangis karena dirinya? apa Ulfa menyesali pilihannya untuk menikah dengannya? Rio Wijaya merasa tidak melakukan kesalahan apapun, apa karena kondisi kakinya Ulfa menangis? apa Ulfa tidak bisa menerima kekurangannya? apakah semua senyum keceriaan yang diberikan Ulfa kepadanya itu palsu? walaupun demikian Rio tetap kekeh dengan pendiriannya dan tidak akan berubah pikiran, dia akan tetap menjadikan Ulfa Kirana istrinya, kedua belah pihak keluarga sudah setuju dan tidak ada kendala, kalaupun pada akhirnya Ulfa merasa menyesal dan bersedih itu harus Ulfa selesaikan sendiri pikir Rio, dan satu lagi Rio sempat berpikir pada akhirnya harta bisa membuat Ulfa tenang dan lupa dengan kesedihannya, karena pada umumnya wanita suka belanja Rio bertekad akan memberikan salah satu mall yang dimilikinya kepada Ulfa Kirana, asalkan Ulfa tidak menangis lagi. Rio Wijaya segera menghubungi pak Putra asistennya untuk segera mengurus hal tersebut. Pak Putra yang berada di ruangan lain segera menemui Rio Wijaya. Bunyi ketukan pintu terdengar Rio yakin itu adalah asistennya karena tidak ada orang lain yang berani mengetuk pintunya selain pak Putra dan Ulfa Kirana, dan jelas Ulfa masih ada di taman belakang, Rio masih mengamatinya sedari tadi.
"Masuk!"
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Aku ingin memberikan hadiah pernikahan kepada Ulfa, dan aku ingin memberikan salah satu mall yang kita punya. Pilih yang paling dekat dari rumah ini, tolong siapkan surat-suratnya!"
"Baik pak!"
"Lakukan secepatnya!"
"Baik pak Rio!"
Setelah pak Putra meninggalkan kamarnya, Rio segera mengembangkan senyum puas, dia yakin setelah mendapatkan hadiah tersebut Ulfa tidak akan lagi bersedih. Rio Wijaya sengaja memilih mall yang dekat dari rumahnya agar kelak Ulfa bisa pulang tepat waktu tidak terkendala macet.
Sebaiknya baca juga Ditinggal Nikah Tetanggaku, Cinta Pertamaku dalam cerita tersebut akan dipaparkan bagaimana kecelakaan bisa menimpa Rio Wijaya.