Berkali - kali Aisha melakukan panggilan telepon ke nomor Yusuf, namun tidak ada satupun yang dijawab. Dadanya sudah berdebar tak karuan. Diusapnya keringat dingin yang menetes di keningnya. Tangan kanannya masih erat menggenggam tangan Radit yang terasa hangat. Sementara tangan kirinya digunakan untuk memencet nomor Yusuf. Akhirnya setelah beberapa menit tak kunjung mendapatkan jawaban, Aisha melempar ponselnya karena kesal dan panik. Radit semakin keras menangis, demamnya tidak kunjung turun padahal satu jam yang lalu sudah diberi obat penurun panas. Tiba-tiba otaknya terasa buntu tidak dapat berpikir. Aisha mengganti plester kompres demam di dahi Radit dengan yang baru. Dan baru terpikir di otaknya untuk memesan taksi online. Sungguh, kepanikan memang dapat membuat orang tidak bisa be

