Helaian rambut Arthur yang mulai panjang berantakan terkena semilir angin malam yang lumayan dingin. Rooftop yang terbuka lebar dengan sebuah sofa lusuh berada di pojok tempat. Arthur penasaran, siapa orang yang mau duduk di tempat seperti itu? Lagipula, itu hanyalah barang rongsokan yang diletakkan tidak tahu tempat. Harusnya tempat ini bersih—tidak mirip gudang seharusnya. Tetapi Arthur kembali menatap ke jalan raya. Tidak mau mempedulikan tentang sofa atau apapun yang ada di atas sini. Arthur memilih memandangi sorot lampu kendaraan yang menyala di jalanan. Terlihat padatnya jalan yang membuatnya kadangkala malas untuk sekedar keluar dari rumah. Arthur lebih suka kamarnya, terlalu nyaman untuk ditinggalkan selama dua bulan belakangan ini. Katanya, dia sudah koma selama enam puluh hari

