Bab 1. Malam Penuh Gairah
Suara desahan penuh kenikmatan terdengar memenuhi ruang kamar yang menjadi saksi bisu hilangnya keperawanan seorang wanita bernama Kayla Mahira Salim. Gadis cantik yang akrab dipanggil Kayla itu tampak sedang terbuai dalam permainan seorang pria yang sebenarnya tak pantas melakukan itu padanya. Namun, pria itu tak dapat menahan diri untuk menahan hasratnya dari godaan sang adik ipar. Ya, keperawanan gadis itu terenggut di malam itu dan pria yang mengambilnya justru Evan–kakak iparnya sendiri, bukan Dimas–calon suaminya–adik dari Evan.
***
Beberapa menit sebelumnya. Malam itu, tepat di sebuah club yang berada di tengah kota, tampak beberapa muda-mudi begitu antusias saat mendapati Kayla kalah dalam permainan yang mereka lakukan.
"Minum! Minum! Minum! Minum!" Teriakan terus menggema seiring dentuman lagu menggetarkan d**a.
“Argh!” Kayla mengangkat tinggi gelas itu dengan senyum mengembang bangga.
Sorakan dan tepuk tangan semakin riuh terdengar ketika gadis itu berhasil menenggak segelas vodka. Senyum kemenangan masih terukir di wajah Kayla sebelum sedetik kemudian dia tak sadarkan diri di atas sofa.
Setelah itu, teman-teman yang lain membiarkan tubuh mabuk Kayla terlelap di atas sofa, sedangkan mereka memilih kembali melanjutkan pesta.
Tanpa mereka sadari, dua teman Kayla yang selama ini menyimpan rasa padanya, justru mengambil kesempatan itu untuk menggerayangi tubuh molek gadis tersebut. Sentuhan tak senonoh itu ternyata mampu membuat sang pemilik tubuh sadar. Dia mengerjap kaget ketika melihat dua orang pria tengah bermain dengan bukit kembarnya.
“Menjauhlah dari tubuhku!” Dengan sisa tenaganya, Kayla menendang tubuh salah satu temannya hingga jatuh ke lantai.
Kejadian itu tentu saja membuat keadaan menjadi hening. Kayla segera bergegas pergi sambil menekan tombol panggilan darurat yang tertuju pada kakak iparnya.
Hanya butuh beberapa menit saja, Evan datang bersama dua bodyguardnya. Betapa kagetnya dia saat melihat beberapa kancing bagian atas Kayla sudah terbuka. Giginya bergemeretak menahan amarah dan langsung menyuruh dua bodyguardnya itu untuk mencari siapa yang sudah berani melecehkan adik iparnya.
“Cari dan urus mereka!” titahnya dengan penuh amarah.
“Baik, Tuan!”
Setelah itu, Evan langsung mendekati Kayla yang kini tengah menangis di pojok ruangan dekat dengan rest room, di mana gadis itu seorang diri dengan keadaan yang sangat acak-acakan.
“Kay, ini aku, Evan,” tuturnya sambil mengusap surai Kayla lembut.
Gadis itu langsung mendongak dan tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Tangannya langsung direntangkan dan kemudian berkata dengan manja, “gendong”.
Evan mengernyit saat bau alkohol langsung tercium oleh indera penciumannya. Dia yang anti dengan minuman beralkohol sedikit menggelengkan kepala, bahkan datang ke tempat hiburan malam saja baru dia lakukan hari ini.
“Sebaiknya kamu saya antar pulang!”
Gadis itu menggeleng. “Aku maunya digendong,” ujarnya seperti orang mengigau.
“Ok-ok. Saya akan menggendongmu.” Evan tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan dari Kayla, adik iparnya.
Gadis itu sendiri langsung tersenyum senang dan mengalungkan kedua tangannya ke tengkuk Evan dan membiarkan tubuhnya digendong ala koala. “Ah, tubuh kamu begitu hangat, Mas,” igaunya memanggil nama dari calon suaminya–Dimas.
Gadis itu lalu menyusupkan wajahnya di ceruk leher Evan.
Evan menelan ludah keras saat gadis itu mencium lehernya. “Sshh,” rintihnya kemudian ketika Kayla justru menggigitnya.
Gadis itu justru merasa senang saat mendengar rintihan dari Evan. Senyumnya masih mengembang begitu lebar kala pria itu terus membawanya keluar dari hingar bingar diskotik yang tengah dia datangi.
“Kenapa kamu bisa ada di sini, Kay? Bukankah tempat ini tidak bagus didatangi oleh gadis sepertimu?” tanya Evan saat mereka sudah sampai di dalam mobil. Tidak lupa dia juga memasangkan seatbelt pada tubuh mabuk Kayla.
Merasa percuma bicara dengan orang mabuk, Evan pun mengambil keputusan untuk mulai menjalankan mobilnya menuju apartemen Kayla. “Kita pulang oke!”
“Em! Tapi, Mas?” Gadis itu tiba-tiba menarik tangan Evan, padahal pria itu sedang mengemudi.
Pria itu langsung menginjak pedal rem agar mereka tidak kecelakaan. Jantungnya hampir lompat saat gadis itu hampir membuatnya celaka. “Ada apa, Kay?” tanyanya masih berusaha untuk bersabar.
“Mas, kamu sayang gak sama aku?”
Tiba-tiba raut wajah Evan berubah datar ketika gadis itu masih menganggapnya sebagai Dimas. Tanpa sadar dia mengeratkan cengkraman tangannya pada setir mobil yang sedang dikemudikannya. “Aku Evan, Kay. Bukan Dimas!”
“Ish, gak usah bercanda, deh, Mas. Gak lucu. Lagian, kamu kapan balik ke sini? Kok gak ngabarin, sih? Kan, aku bisa jemput kamu di bandara,” ucap Kayla yang semakin melantur.
Evan sendiri memilih untuk tidak menanggapi ucapan Kayla hingga mereka kini sudah sampai di gedung apartemen milik Kayla. Digendongnya tubuh itu sekali lagi dan masih ala koala. Hal itu tentu saja membuat banyak orang melihat mereka, tetapi Evan tidak peduli dan tetap membawa adik iparnya menuju unit kamarnya.
“Kartumu mana, Kay?” Evan berkata saat mereka sudah sampai di depan unit kamar milik gadis yang sedang digendongnya.
Akan tetapi, gadis itu hanya melenguh dan mau tidak mau Evan berinisiatif untuk berjongkok mencari card key milik Kayla yang ada di dalam tas, tanpa melepaskan gendongannya. Setelah berhasil, dia pun menempelkan card key tersebut dan pintu pun langsung terbuka.
Tubuh Kayla memang kecil, sedangkan Evan yang berpostur tinggi dan atletis mudah saja menggendongnya. Dia lalu menaruh tubuh Kayla di atas sofa panjang dengan pelan-pelan. Dirapikannya anak rambut Kayla yang mencoba menghalangi wajah cantiknya.
Tatapan pria itu begitu dalam, bahkan ada rasa kagum di sana yang selama ini selalu disembunyikan begitu rapi dari siapa pun. “Kay,” bisiknya di telinga gadis itu.
“Em ….” Kayla yang tadi sudah sempat tertidur tiba-tiba terbangun. Dia mengerjap sambil mencoba membiasakan pandangannya dari sinar lampu, tetapi dalam sekejap sinar lampu itu sudah terhalang karena sosok lelaki tampan yang membelakangi lampu itu. Bibinya kembali mengulas senyum. “Dimas!”
Evan hendak membalas senyuman Kayla, tetapi hal selanjutnya membuat tubuh pria itu menegang. Sebuah lumatan kecil kini tengah menyapa bibirnya yang kaku karena terlalu terkejut. Matanya membelalak saat memperhatikan bagaimana mata cantik itu terpejam sambil menikmati setiap panggutan yang dia lakukan sendiri.
Dirinya tersadar dan langsung mendorong tubuh Kayla. “Kay, ini gak boleh!” larangnya.
“Eung, kenapa kamu menolakku, Mas? Bukankah kamu juga merindukanku?” Gadis itu terlihat cemberut dan kembali menarik kerah kemeja milik Evan.
Akan tetapi, sebelum bibir itu kembali memanggutnya, Evan lebih dulu meletakkan telapak tangannya tepat di depan bibir Kayla. “Sadar, Kay! Ini aku … Evan!”
“Mas, gak usah bercanda, deh!” Kembali gadis itu merengek, bahkan kini dengan usil menjilat telapak tangan Evan yang berada tepat di depan mulutnya.
“Kay!” Pria itu menggeram tertahan. Sesuatu di balik celananya kini mulai bereaksi dan itu membuatnya tersiksa. “Sebaiknya kamu istirahat!”
Evan yang sadar jika gadis di depannya ini dalam keadaan mabuk, memilih untuk pergi. Dia ingat jika Kayla adalah calon istri dari adiknya dan dia tidak ingin mengecewakan sang adik yang sudah mengamanatkan si ipar kepadanya karena sekarang masih berada di Los Angeles, mengurus anak perusahaan orang tua mereka.
“Mas!” Kayla tidak begitu saja melepaskan tubuh pria itu. Dia langsung memeluk tubuh Evan dari belakang sambil menangis. “Aku kangen sama kamu, Mas? Kangen banget. Tapi, kenapa kamu nolak aku?”
Evan menggeleng. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan memegang bahu gadis itu. Dihapusnya bekas air mata di wajah Kayla dengan tatapan sendu. “Tapi, aku bukan Dimas, Kay. Ini aku … Evan,” jelasnya lagi.
Gadis itu tetap menggeleng, dia bahkan berjinjit untuk mencium bibir pria di depannya. Sepertinya alkohol sudah membuat Kayla tidak sadar jika pria di depannya bukanlah sang calon suami, melainkan kakak iparnya.
“Balas aku, Mas,” ucap Kayla di antara lumatannya. Namun, pihak lawannya justru tetap diam dan membuat gadis itu menggigit bibir pria itu dan saat pria itu membuat mulutnya, disitulah Kayla mulai menyusupkan lidahnya demi mengabsen setiap isi rongga mulut pria itu.
Evan yang tadinya tidak berniat untuk membalas, mulai terpancing. Imannya tidak sekuat itu untuk menolak setiap rangsangan yang diberikan oleh Kayla. Dia yang tadinya pasif, kini mulai mengambil alih.
Ciuman yang tadinya hanya dilakukan sepihak, kini mulai berbalas, bahkan semakin intens. Dua insan yang kini tengah diselubungi oleh nafsu mulai kehilangan kendali. Evan mengangkat tubuh Kayla dan membawanya menuju kamar tanpa melepaskan panggutan meraka.
Sebelum masuk ke inti, Evan menghentikan kegiatan itu. Ditatapnya gadis yang kini sudah berada di bawahnya tanpa sehelai benang pun dengan tatapan penuh cinta. Pria itu tahu jika perasaannya salah, tetapi setiap manusia tidak bisa menahan rasa yang datang padanya, sama seperti yang dilakukan oleh Evan.
“Kenapa berhenti?” tanya gadis di bawah sana dengan suara serak.
Evan tersenyum, lalu mengusap surai gadis itu dengan penuh cinta. “Bisakah kamu memanggil namaku, Kay?” pintanya terdengar begitu memelas.
Mata gadis itu lalu mengerjap dan kemudian mengulas senyum manis. Kini, tangannya menangkup rahang tegas milik Evan dan mengusapnya. “Ayo, lanjutkan lagi … Evan,” bisiknya tepat di telinga pria itu.
“s**t!” Evan sudah kehilangan kendali hanya mendengar Kayla menyebut namanya, bahkan di antara desahan kenikmatan. Debaran jantungnya langsung bertalu begitu cepat seperti tempo dirinya yang tengah menggagahi gadis di bawah sana.